Tangan Kanan Tuan Muda Mafia

Tangan Kanan Tuan Muda Mafia
Episode 34 : Menerima Alan Liu


__ADS_3

Peperangan terus terjadi di dalam hutan lebat ini tapi aku belum sama sekali menyerang seseorang selain Mohi, kalau bukan Ryuki yang mencarinya aku tidak akan menggunakan senjataku


Sudah hampir seminggu kami berada di hutan ini dan perang masih terus berlanjut, targetku hanya mafia tertinggi dan mafia pemberontak tapi nampaknya akan sulit aku tangani dengan cepat


Di sela istirahat kami, semua anggota mafia sedang asik dengan bakar - bakar hasil perburuan kami sedangkan aku lebih memilih merenung di tempat yang sepi sendirian. Aku terduduk di pinggir sungai kecil dan menatap bayangan bulan di atas permukaan air di depanku


"Hmmm..." desahku melihat semua anggota sedang bersenang - senang dan kembali menatap bayangan bulan di depanku


"Sayang kenapa kamu menyendiri setiap kita beristirahat?" gumam Sann Liu terduduk di sebelahku


"Tidak ada, aku hanya ingin sendirian aja" gumamku pelan


"Apa yang kamu fikirkan?"


"Tidak ada"


"Benarkah?"


"Ya..."


"Kamu kenapa disini?" gumamku pelan


"Aku hanya ingin menemanimu saja"


"Tidak perlu menemaniku" gumamku pelan


"Tapi kan..."


"Sann Kemarilah!!" teriak Nanda melambaikan tangannya


"Kamu gak ingin kesana?"


"Tidak..."


"Baiklah, aku kesana dulu ya" gumam Sann Liu pergi meninggalkanku


Aku memang seperti ini orangnya, tidak bisa bergaul dengan orang lain apalagi bersenang - senang seperti mereka bermain api unggun dan menyanyi bersama


"Roy, Zaki, Wan..." gumamku pelan dan datanglah ketiga bawahanku


"Bagaimana perkembangan selanjutnya?"


"Siap nona, laki - laki yang nona ceritakan itu sudah tidak kelihatan lagi nona" gumam Roy pelan


"Mafia pemberontak juga telah menyebar nona" gumam Zaki menundukkan badannya


"Dan para mafia tertinggi masih dengan strategi yang sama nona" gumam wan pelan


"Hmmm bagaimana dengan kembar keluarga Kim itu?"


"Mafia senior barat belum keluar sama sekali nona..."


"Oh ya? Hmmm ..."


"Apa ada informasi lainnya?"


"Ya kemungkinan perang ini akan lebih lama dari perang asia pasifik nona, dan itu sedikit menguntungkan kita"


"Menguntungkan bagaimana maksudnya?"


"Perang asia pasifik hanya orang - orang yang dari asia dan pasifik saja yang ikut dan semua sudah nona sendiri yang membunuhnya, jadi kalau mereka menggunakan strategi itu dengan bantuan tuan Sony itu akan menguntungkan kita karena semua prediksi mereka terhadap nona salah besar" gumam Wan pelan


"Dan juga akan ada pertarungan antara 50 besar mafia tertinggi dengan mafia pemberontak nona"


"Kenapa bisa?" tanyaku penasaran


"Karena mafia pemberontak sangat menginginkan nona bergabung dengan mereka sedangkan mafia tertinggi ingin membunuh nona"


"Bukannya ketua mafia pemberontak itu dalang dari pembunuhan keluarga Shin?"


"Kami belum mendapatkan informasi yang jelas nona hanya saja kami mendapatkan informasi itu saja" gumam Wan pelan


"Oh baiklah, ini makanan untuk kalian" gumamku memberikan beberapa daging untuk mereka


"Tidak perlu nona, itu makanan nona"


"Tidak apa, ambil saja semua. Aku sudah kenyang" gumamku pelan


"Terimakasih nona" gumam Wan menerima makanan dariku


"Kalian boleh istirahat" gumamku pelan


"Baik nona" gumam ketiga anak buahku pergi meninggalkanku, walaupun aku belum makan apapun di hari ini tapi aku tidak mau anak buahku kelaparan karena aku, minum air saja sudah cukup buatku


"Kemana makananmu?" gumam Sann Liu menatapku


"Ku berikan buat bawahanku" gumamku pelan


"Semuanya?"


"Ya..."


"Dan kamu belum makan?"


"Udah.."


"Jangan bohong!!"


"Aku tidak butuh. Biar bawahanku yang makan"


"Kamu harus makan tahu!!"


"Nanti saja..."


"Kamu beberapa hari gak makan tahu!! Semua makananmu kamu berikan kepada bawahanmu" Protes Sann Liu kesal


"Tidak apa, aku tidak mau bawahanku kelaparan" gumamku pelan


"Kamu harus makan!!"


"Nanti saja"


"Aku suapin ya"


"Gak perlu, makanlah"


"Kalau kamu gak makan seperti itu, aku juga gak makan!!"


"Kamu kenapa selalu ikut - ikut aku!!" gerutuku kesal


"Kamu istriku, apapun yang kamu rasakan aku harus rasakan"


"Heeh Mending kamu makan saja"


"Beberapa suapan saja, aku suapin ya" gumam Sann Liu menatapku


"Enggak"


"Kamu mau aku marah!!"


"Hmm baik - baik, satu saja" gumamku pelan


"Ditambah nol, 10 suap"


"Enggak mau!!"


"Sayang makan gak!!" gerutu Sann Liu menatapku dengan dingin


"Hmmm baik - baik dasar bawel" desahku mengalah


Sann Liu menyuapiku dengan beberapa daging di piring yang dari daun pisang itu


"Enak?"


"Lumayan" desahku pelan


"Hmmm kamu harus makan tahu, jangan sampai gak makan berhari - hari seperti itu"


"Ya.."


"Ya mulu tapi gak dilakuin" gerutu Sann Liu kesal


"Ya kalau gak mager" gumamku pelan


"Hmmm dasar kamu ini..."


"Oh ya makasih ya sayang" gumam Sann Liu menatapku


"Makasih untuk apa?"


"Ya berkat strategimu, kami bisa bertahan selama seminggu. Perang asia pasifik dulu saja kami hanya bertahan selama tiga hari saja"


"Emang kalian salah strategi"


"Ya, ngomong - ngomong kamu dapat strategi bagus seperti ini dari siapa?"


"Dari mantan pacarku"


"Siapa namanya?"


"Al..."

__ADS_1


"Al? Al siapa?"


"Alan"


"Alan Liu? Kepala polisi militer mafia?" tanya Sann Liu terkejut


"Ya, dia mantanku dan dia juga yang mengajariku semua senjata" gumamku pelan


"Dan kamu pasti tahu itu kan?" gumamku pelan


"Ya, dia kakak kandung kami" gumam Sann Liu pelan


"Tidak aku sangka dia mantanmu, tapi apa benar dia mantanmu?"


"Kalau tidak percaya tanyakan sendiri kepada dia" gumamku menunjuk seseorang di balik pohon


"Kamu masih hebat seperti biasanya ya, wanitaku" gumam Alan Liu keluar dari balik pohon dan berdiri di pinggir sungai


"Menurutmu?"


"Yaaah tidak sia - sia aku mengajarimu dulu wanitaku" gumam Alan dingin


"Tunggu jadi wanita yang kakak bilang itu?" tanya Sann Liu terkejut


"Ya memang, wanita itu Sani Shin" gumam Alan santai


"Ada urusan apa seorang jenderal di hutan lebat seperti ini?" gumamku dingin


Tiba - tiba Alan melompat ke atas pohon dibelakangnya dan menyeberangi sungai dengan melompati dahan pohon di belakangku. Alan berdiri di belakangku dan mengangkat daguku ke atas sehingga aku bisa menatap wajahnya yang tampan dari atasku


"Menurutmu?"


"Apa aku tahu kalau tidak kamu beritahu aku?" gumamku mengambil senjataku dan mengarahkan ke Alan dan senjata Alan juga mengarah ke arahku


"Kamu masih seperti biasanya ya sangat hebat"


"Tidak aku biasa saja"


"Heeh kamu masih saja suka merendah wanitaku"


"Apa kamu tidak bosan memanggilku wanitamu?" gumamku dingin, tiba - tiba Alan menciumku dan menatapku dengan tatapan sayang


"Tidak, sampai kapanpun kamu wanitaku"


"Kakak!!!" protes Sann Liu kesal


"Tuh adikmu marah - marah" gumamku dingin, Alan melepaskan daguku dan memasukkan senjatanya kembali


"Aku tidak peduli, kamu tetap wanitaku" gumam Alan dingin


"Kakak dia istriku!!"


"Aku tidak peduli..."


"Kakak dia istriku!!!"


"Bodo amat"


"Kakak selalu seperti itu!!" gerutu San Liu kesal


"Udahlah kalian berdua" desahku pelan


"Apa yang kamu lakukan disini?"


"Aku? Aku ingin bertemu wanitaku saja"


"Oh benarkah? Pasti ada hal lainnya" gumamku dingin


"Hmmm kamu memang sama seperti dulu bisa menebak apa yang akan aku lakukan" gumam Alan terduduk di sebelahku


"Oh kakak ya?" gumam Hassan Liu menatap Alan


"Hai adikku, sudah bertambah besar ya sekarang"


"Emang kakak kira kami masih anak kecil apa?" gerutu Hassan Liu kesal


"Kalian berdua tetap anak kecil bagiku" gumam Alan pelan


"Hmmm pertanyaanku belum kamu jawab Alan" desahku kesal


"Kenapa kamu ingin tahu wanitaku?" gumam Alan menatapku


"Wanita kak Sani?" gumam Hassan dan Sain terkejut


"Kakak mengenal dia?" tanya Sain masih terkejut


"Ya, dia mantan pacarku" gumamku pelan


"Lalu?"


"Kamu istriku" gumam Alam menciumku kembali


"Kakak!!!" protes Sann Liu kesal


"Apa sih bawel!!" gerutu Alan dingin


"Dia istriku!!" protes Sann Liu menarikku


"Dia istriku"


"Dia istriku"


"Aku bilang dia istriku!!" protes Alan Liu menarikku


"Hei kalian berdua, sakit tahu!!!" teriakku kesal


"Mmm ngomong - ngomong kenapa kakak bisa putus dengan dia?" tanya Sain penasaran


"Aku tidak putus dengan Sani, hanya kami tidak pernah bertemu saja setelah perang asia pasifik.." gumam Alan mengacak rambutku


"Heleh kamunya saja yang sok sibuk" sindirku kesal


"Kamu juga sibuk dengan mafiamu dan berpindah - pindah tempat mulu" gerutu Alan mencubit pipiku


"Aaauu sakitlah, kamu suka banget sih nyubitin pipiku" gerutuku kesal


"Biarinlah..."


"Jadi jawablah ngapain kamu datang kemari?" gerutuku dingin


"Nih..." gumam Alan memberiku sebuah foto


"Siapa mereka?" gumamku bingung saat melihat tiga anak kecil di dalam foto itu


"Itu kamu, Sain dan Sina Shin"


"Sina Shin? Siapa itu?"


"Dia adik keduamu"


"Jadi? Aku punya dua adik?" tanyaku terkejut


"Ya, Sina adikmu kedua dan Sain adikmu yang terakhir"


"Kak Sina bukannya sudah meninggal ya?" tanya Sain terkejut


"Tidak, dia masih hidup..."


"Tunggu sebentar, kenapa aku jadi pusing sendiri sih. Aku tidak ingat apapun!!!" protesku kesal


"Coba jelasin pelan - pelan.." gerutuku kesal


"Kamu lahir dengan tiga saudara kembar, anak pertama kamu, kedua Sina dan ketiga Sain. Saat kalian anak - anak kalian berpisah saat itu kamu tinggal dengan tetua mafia pusat, Sain bersama dengan keluarga Liu sedangkan Sina menjadi bagian mafia pemberontak. Dan kamu menjadi tidak ingat apapun karena penyakitmu dulu parah saat umur 8 tahun dan membuatmu tidak ingat apapun, apalagi kalian sudah berpisah bertahun - tahun" gumam Alan pelan


"Bagian mafia pemberontak? Kenapa dia ikut dengan mereka?"


"Dia ikut mafia pemberontak hanya ingin diakui sepertimu di mafia senior pusat tapi saat rumah kalian kosong tidak ada orang dia punya tujuan mencari kalian berdua" gumam Alan mengelus rambutku dengan lembut


"Kenapa kamu tahu?"


"Aku polisi militer mafia, apa yang tidak aku ketahui"


"Heeh sombong" gerutuku kesal


"Kak Alan, berarti kak Sina ada disini dong?" tanya Sain penasaran


"Ya, besok kalian akan bertemu dengannya"


"Benarkah?" tanya Sain senang


"Ya, tapi untuk membujuknya agak susah, kalian harus membunuh orang - orang yang ada di sekitar Sina dulu" gumam Alan serius


"Oh baiklah, selama ada kak Sani itu akan sangat mudah" gumam Sain senang sedangkan aku hanya terdiam menatap bulan purnama di permukaan air


"Ada apa Sani?" tanya Sann Liu menatapku


"Tidak ada apa - apa" gumamku pelan


"Kalian istirahatlah dulu, aku ingin mendiskusikan sesuatu dengan Sani" gumam Alan merangkulku pelan


"Hei rangkul - rangkul, dia istriku tahu!!" protes Sann Liu kesal

__ADS_1


"Anak kecil tidur sana!!" gerutu Alan dingin


"Kakak dia istriku tahu!!" protes Sann Liu kesal


"Bodo amat, kamu tahu sendiri siapa bagianmu itu" gumam Alan dingin


"Hmmpp dasar pelakor" gerutu Sann Liu pergi


"Baiklah kami istirahat dulu kak" gumam Hassan Liu dan menggandeng Sain kembali keperkemahan


"Apa yang kamu pikirkan?" gumam Alan menatapku


"Tidak ada"


"Kamu selalu memendam sendiri masalahmu" gumam Alan pelan


"Ya, aku tidak mau orang lain tahu"


"Kamu istriku jadi aku berhak tahu!!" protes Alan kesal


"Semua saja bilang aku istri mereka, aku bosan mendengarnya" gerutuku kesal


"Sani aku bersungguh - sungguh" gumam Alan menggigit bibirku


"Sakitlah!!" protesku kesal


"Salah kamu sendiri tidak percaya suamimu"


"Apa kamu punya bukti kalau aku istrimu?"


"Ada... Nih" gumam Alan memberikan handphonenya


"Apa?"


"Ntar dulu napa" gumam Alan membuka galerinya dan memencet sebuah video di galerinya.


Di video itu aku melihat ada tiga bayi perempuan dan ada tiga anak laki - laki tampan di depan bayi itu.


"Jadi kesepakatannya bagaimana tuan Shin?"


"Ya apa kita jodohkan dengan urutan lahir saja. Jadi Sani dengan Alan, Sina dengan Sann, dan Sian dengan Hassan bagaimana?"


"Mmm boleh setuju saja aku"


"Ayah, bayi ini cantik" gumam seorang anak laki - laki tampan menunjuk seorang bayi perempuan di depannya


"Ya dia akan menjadi istrimu suatu saat nanti" gumam laki - laki paruh baya itu tersenyum


"Istriku? Aku mau" teriak anak laki - laki itu dengan wajah senang dan akhirnya video itu berakhir


"Dia kamu?"


"Ya anak kecil itu aku, aku sudah tahu dari dulu. Aku sudah mengerti masalah itu karena aku saat itu aku seorang anak - anak sedangkan kedua adikku masih balita" gumam Alan serius


"Itulah kenapa aku pacaran denganmu dan tidak memutuskan hubungan denganmu sayang walaupun kita tidak pernah bertemu setelah itu"


"Oh..." desahku mengembalikan handphone Alan dan termenung kembali


"Ada apa sayang apa kamu tidak senang?"


"Tidak kok..."


"Apa yang kamu pikirkan?"


"Banyak hal..." desahku pelan


"Coba cerita"


"Banyak hal, kepalaku sangat pusing" gumamku pelan


"Hmmm..."desah Alan memelukku erat


"Apa kamu memikirkan dengan cara membalaskan dendam?" gumam Alan mengelus lembut rambutku


"Iya..."


"Hmmmm aku akan membantumu?"


"Kenapa kamu mau membantuku?"


"Kamu kira aku kemari hanya ingin menunjukkan foto itu saja? Itu hanya untuk mengelabuhi adikku dan adikmu saja" gumam Alan menatapku


"Lalu apa yang akan kamu lakukan?"


"Aku dan anak buahku ingin menangkap ketua mafia pemberontak dan beberapa mafia tertinggi"


"Kenapa?"


"Karena mereka melakukan kesalahan besar pasal 10 undang - undang mafia"


"Jadi kamu ingin aku membantumu juga?"


"Yupps benar sekali"


"Hmmm baiklah aku akan membantumu, tapi apa yang akan aku dapatkan darimu" gumamku pelan, Alan mendorongku dan menatapku dengan serius


"Apapun yang kamu inginkan aku akan memberikanmu secara cuma - cuma" gumam Alan menatapku dari atas


"Hanya itu? Aku tidak mau"


"Kalau begitu, kita menikah bagaimana?" gumam Alan menatapku dengan wajahnya yang memerah


"Menikah?" tanyaku terkejut


"Ya kita menikah, apapun yang terjadi kamu istriku..."


"Tapi kan aku menerima Sann Liu" gumamku pelan, Alan menarik cincinku dan memasukkannya di saku celananya


"Sudah kan?"


"Tapi kan nanti Sann marah bagaimana?"


"Tidak, dia dijodohkan dengan Sina dan dia tahu akan hal itu. Kamu tetap milikku"


"Kalau hanya melepaskan cincin itu di tanganku kamu kira tidak banyak yang menginginkanku?" gumamku dingin dan mendorong Alan kuat


"Ya aku tahu banyak yang menginginkanmu. Dasar wanita sukanya ngode" gumam Alan mengambil kotak merah di sakunya


"Sani maukah kamu menikah denganku dan menjadi ibu dari anak - anakku" gumam Alan menatapku dengan wajah memerahnya


"Haah cincin nikah? Apa kamu melamarku?" tanyaku terkejut.


Cincin nikah di gunakan untuk pasangan yang siap untuk menikah dan kalau memakai cincin nikah itu sama saja pasangan itu dianggap sudah menikah


"Ya kamu akan menjadi istriku setelah memakai cincin ini" gumam Alan serius


"Kenapa kamu ingin menikah denganku? Bukannya kamu menyukai Dewi ya?" sindirku dingin


"Tidak, Dewi yang menyukaiku. Apa kamu cemburu?"


"Ya.. Eehh tidak tidak, buat apa aku cemburu" gumamku membuang mukaku


"Hmmm Dewi sudah mati di hatiku dan tidak ada wanita lain selain kamu di hatiku selama bertahun - tahun ini..."


"Aku benar - benar ingin menikah denganmu, aku sudah tahu kamu dari dalam hingga luar tanpa terlewat sedikitpun. Aku benar - benar mencintaimu"


"Aku tidak ingin kehilangan istriku lagi, sudah berapa laki - laki yang kamu terima Sani dan menciumimu Sani, itu membuatku sangat sakit"


"Ka... Kamu tahu?"


"Ya bawahanku selalu mengawasimu tanpa kamu sadari, selama bertahun - tahun aku memendam sakit hanya untuk menunggu waktu yang tepat untuk menikahimu" gumam Alan menundukkan kepalanya


"Kenapa kamu lakukan itu?"


"Aku mencintaimu dari saat kamu masih bayi dan kamu tahu itu kan di video yang aku beritahukan kepadamu. Bertahun - tahun aku hidup menjomblo karena aku hanya ingin menikah denganmu. Aku benar - benar mencintaimu Sani, aku gak mau kehilanganmu lagi" gumam Alan sedih


"Apa kamu mau menikah denganku?"


"Hmmm baiklah aku bersedia" desahku pelan


"Apa? Serius?" tanya Alan menatapku terkejut


"Ya, kalau ayah memang merestui aku menikah denganmu. Aku tidak masalah" gumamku tersenyum manis


"Benarkah? Aaaah aku sangat senang..." teriak Alan memelukku erat


"Hei aku tidak bisa bernafas tahu!!" protesku kesal


"Eeh maaf, aku sangat senang Sani" gumam Alan mengambil cincin itu


"Apa kamu yakin?"


"Ya..." gumamku pelan


"Baiklah" gumam Alan memasangkan cincin di tanganku dan aku memasangkan cincin di tangan Alan


"Aku akan menjagamu, melindungimu dan mencintaimu sayang. Aku akan membunuh siapapun yang berani melukaimu" gumam Alan memelukku erat


"Terimakasih sayang" gumamku pelan


Aku tidak tahu apa pilihanku saat ini sudah benar, cuma di dalam hatiku aku masih punya rasa cinta dengan Alan dan aku tidak bisa berbohong tentang perasaanku saat ini

__ADS_1


__ADS_2