Tangan Kanan Tuan Muda Mafia

Tangan Kanan Tuan Muda Mafia
Episode 75 : Perintah Pemimpin Mafia Tertinggi


__ADS_3

Aku menundukkan kepalaku dan berjalan pelan meninggalkan gedung itu melewati beberapa mafia yang terluka sedangkan pria berjubah itu langsung mundur beberapa meter saat melihatku.


Krriiiinnnggg


Terdengar bunyi ponselku berdering keras, aku mengambil handphoneku dan melihat Wan yang sedang meneleponku.


"Halo..." gumamku dingin.


"Nona, anda mendapatkan tugas dari pemimpin mafia tertinggi."


"Tugas? Tugas apa?"


"Belum tahu nona muda, ini saya akan segera datang dengan pemimpin mafia tertinggi secara langsung nona."


"Oh...baiklah..." desahku pelan dan menutup teleponku.


"Haish, sekarang tambah apa lagi ini..." gumamku pelan desahku pelan.


Pemimpin mafia tertinggi adalah mafia pertama yang berkuasa sampai sekarang, pemimpin mafia tertinggi memiliki beberapa anggota mafia terpercaya dan berkuasa yang tersebar di seluruh dunia, salah satunya mafiaku. Mafiaku diakui dan di percaya pemimpin mafia tertinggi karena berhasil mengalahkan musuh saat perang mafia ataupun perang-perang lain yang bersifat mendesak.


Biasanya pemimpin mafia tertinggi akan datang jika ada kebutuhan mendesak dan benar-benar darurat apalagi tidak ada yang tahu wajah pemimpin mafia tertinggi kecuali kami anggota mafia terpercaya, apalagi pemimpin mafia tertinggi dijuluki sebagai raja dari segala mafia di dunia ini.


Tidak beberapa lama kemudian datanglah ketiga bawahanku dengan seorang pria yang hanya menyebutnya dengan nama Tuan X bersama dengan beberapa mafia terpercaya lainnya yang memakai topeng hitam, ya mungkin karena aku tidak pernah bertemu jadi sedikit asing bagiku. Saat melihat pemimpin mafia tertinggi, aku langsung berlutut dan sedikit membungkukkan badanku.


"Aaah astaga aku mencarimu kemanapun Sani, ternyata kamu ada di negara ini!" ucap Tuan X berjalan kearahku.


"Mmm...mohon maaf tuan, ada perlu apa anda jauh-jauh datang ke Asia?" tanyaku pelan.


"Ada urusan penting!"


"Urusan penting?" gumamku bingung, Tuan X memberikanku sebuah gulungan dan aku membacanya.


"Itu situasi saat ini dan eee dimana wakilmu?" tanya Tuan X bingung.


"Saya disini tuan.." gumam Fiyoni berlutut di sebelahku.


"Aah baguslah, kamu baru saja dapat informasi dari agen A kan?" tanya Tuan X serius.


"Ya saya baru dapat tuan."

__ADS_1


"Baguslah, beberapa hari lagi kamu harus kembali ke Amerika, kamu bergabung dengan Agen A. Tugas lebih jelasnya aku akan memberi tahukan tugasmu saat pertemuan nantinya."


"Eee... mmm ba...baik tuan..." gumamku dan Fiyoni bersamaan.


"Tunggu!!" teriak seorang pria di belakang kami, aku melihat tetua berjalan kearah kami dengan terkejut.


"Aah kamu masih saja hidup ya pak tua..." ucap Tuan X dingin.


"Kau juga masih saja hidup, apa ada yang mendesak?" tanya tetua serius.


"Ya bisa dikatakan seperti itu, kalau ingin tahu...kau boleh ikut Sani datang ke markas."


"Oh baiklah, kau sudah tua jaga kesehatanmu..." ucap tetua tersenyum lebar.


"Baiklah, kau juga jaga kesehatanmu pak tua..." ucap Tuan X pergi bersama mafia lainnya.


"Haish..." desahku pelan.


"Ada apa Sani?" tanya tetua pelan, aku memberikan gulungan itu kepada tetua.


"Aaah aku sudah tahu kalau ini, seperti yang aku katakan beberapa tahun lalu kan?" gumam tetua mengembalikan gulungan itu.


"Husstt sudahlah, jangan dibahas disini. Lebih baik kamu istirahat dan pulang Lanlan dan Tian sudah menunggumu di dalam mobil.


"Tapi tetua..."


"Jangan bilang kamu ingin aku temani?"


"Ya, aku... aku agak canggung saja."


"Baiklah, aku mengerti apa yang kamu pikirkan..." desah tetua berjalan mendahuluiku.


"...Ya walaupun kamu dulu sangat menderita tapi itu mendorongmu semakin kuat dan dipercaya oleh siapapun bahkan tuan X itukan. Semua penderitaan pasti akan ada akhir yang indah Sani..."


"Tapi tetua, kenapa...kenapa harus aku saja! Kenapa saudaraku yang lain tidak mendapatkan penderitaan yang sama? Kenapa...kenapa aku bisa mendapatkan kasih sayang saat ayah menikah dengan ibu tiriku yang baru itu? kenapa tidak dari dulu!!" teriakku kencang.


"Haish, dengar Sani. Itu sudah masa lalu jangan dipikirkan, sekarang kamu sudah memiliki Lanlan jadi..."


"Jadi apa tetua? kalau kak Lanlan sudah muak denganku dan tergoda dengan wanita lain...aku akan kembali menderita seperti dulu, dihina, di caci maki, di..." tangisku kencang, tiba-tiba Lanlan memelukku dari belakang sambil mengusap rambutku lembut.

__ADS_1


"Tidak akan sayang, kamu istriku, kamu milikku, aku tidak akan melepaskanmu walaupun sejengkal. Aku sangat menyayangimu dan mencintaimu istriku..." gumam Lanlan memelukku erat, mendengar ucapan Lanlan aku hanya terdiam dan menangis di pelukan Lanlan.


"Hmmm sudahlah, jangan menangis sayang. Aku benar-benar janji akan menjagamu dan mencintaimu setulus hatiku, aku tidak akan meninggalkanmu lagi istriku..." gumam Lanlan terus mengusap rambutku.


"Ayo sudah hampir pagi lagi, kalian harus segera istirahat!" ucap tetua masuk ke dalam mobil dan Lanlan membantuku masuk ke dalam mobil.


Di dalam mobil aku melihat wajah Tian yang terus menatapku dingin, aku memeluk Lanlan dan terus menyembunyikan wajahku.


"Jadi bagaimana hasilnya?" tanya tetua serius.


"Status tersangka pada Tian dicabut oleh pemimpin militer kakek."


"Benarkah? Kenapa bisa?"


"Wakil dari Hasan di tangkap oleh bawahan Sani dan dia mengakui apa yang di ucapkan Sani itu benar, jadi mungkin pria berjubah itu berupaya menyelamatkan wakil itu..." jelas Lanlan serius.


"Tunggu maksudmu Hanlee?" tanya Fiyoni terkejut.


"Ya Roy, Zaki dan Wan menangkapkan saat Sani mengusir mereka pada saat dia bertengkar Tian, LinShi dan Soni. Tidak aku duga ketiga bawahan Sani sangat kuat dan kekuatannya begitu menakutkan."


"Ohh kalau mereka aku tidak terkejut, mereka bertiga mengajarkan Sani bertarung dan berpedang jadi itulah kenapa Sani sangat kuat saat ini, ya bisa dibilang ada banyak pencapaiannya setelah dia keluar dari penderitaannya di masa lalu..." gumam Fiyoni santai.


"Hmmm, aku tidak akan membiarkan istriku kembali menderita. Aku sangat mencintai istriku dan mencintai calon anakku nantinya..." gumam Lanlan mencium keningku.


"Sani sudah hamil?" tanya Fiyoni terkejut.


"Baru saja bikin beberapa hari yang lalu bagaimana bisa cepat jadi Fiyoni!" gerutu tetua dingin.


"Ya mungkin saja kan..."


"Kau juga Fiyoni sudah tua juga masih saja bermain wanita untung adik tirimu tidak kau embat sekalian..." gumam tetua pelan.


"Tidak ada yang berani dengan Sani, bahkan pria yang dulu mendekati Sani saja tidak berani bermain dengan Sani. Walaupun ya tubuh Sani sangat bagus tapi... melihat tatapannya yang seperti itu bagaimana aku nafsu dengannya!" gumam Fiyoni ketakutan saat aku meliriknya dengan tatapan dingin.


"Ya karena perlakuan keluarganya di masa lalu dan kejadian Soni dengan Sasha dulu yang membuat Sani sangat benci pria, kalaupun Sani luluh dengan seorang priapun pasti Sani akan di tinggal dengan wanita lain juga, jadi aku tidak heran kalau Sani saat ini takut kehilangan Lanlan..." gumam tetua pelan.


"Tenang saja kakek, aku akan menjaga istriku, aku tidak akan membuatnya terluka, aku sudah berjanji kepadamu di depan seluruh keluarga Kim dan Shinju kan..." gumam Lanlan terus mengusap rambutku.


"Hmmm..." desahku menghembuskan nafas panjang dan memejamkan kedua mataku.

__ADS_1


Perkataan tetua mafia memang benar, apa yang aku lakukan sekarang apa yang menjadi diriku sekarang adalah akibat dari perlakuan keluarga Shin terhadapku di masa lalu ditambah hinaan, cacian, dan penderitaan yang aku alami dari pria lain membuatku menjadi keras kepala dan tidak mau tahu . Tapi saat mendengar kalau Lanlan adalah suamiku dan dia yang selalu melindungiku membuatku luluh dan jatuh hati kepadanya, dan aku benar-benar mencintai Lanlan.


__ADS_2