
Aku terus membaca satu persatu berita yang sudah membuat kepalaku dan mataku pening melihatnya, berita yang hampir menembus 10 ribu berita tapi aku sendiri belum mendapatkan berita yang aku inginkan.
Berita yang menyangkut kepala polisi militer pasti hanya sedikit yang menerbitkan apalagi mereka akan takut kalau sampai salah menggunakan kata dan membuat salah pemikiran dari orang lain.
"Sa...Sani..." gumam Alan pelan, suaranya seperti seorang pria yang benar-benar menahan tangis.
"Ya, ada apa?" tanyaku pelan.
Setelah mencari sekian banyak berita yang memusingkan akhirnya aku berhasil menemukan berita itu dan membacanya.Ya berita yang dikatakan tetua memang benar, Alan membunuh seluruh wanita yang berani bermain dengannya dan alasannya..."Karena dia tidak ingin mengecewakan seorang wanita yang dicintainya, saat ditanya siapa wanita itu dan Alan menjawab kalau wanita itu istrinya dan dia memang sudah memiliki istri yang bernama Sani Shin?" gumamku dalam hati terkejut.
"Maaf Sani aku mengecewakanmu berulang kali..." desah Alan pelan.
"Mengecewakanku kenapa?" tanyaku terus membaca beberapa berita lain yang memiliki inti sama kalau Alan memang tidak ingin mengecewakanku.
"Aku...aku berulang kali menyakitimu Sani, aku...aku tidak pantas menjadi suamimu. Maka...bunuhlah aku."
"Mau pantas atau tidak aku yang menentukan, aku belum memberikanmu hukuman loh Alan enaknya kau meminta aku membunuhmu." gerutuku kesal.
Tiiiinnggg
Tiba-tiba ada dua pesan masuk ke dalam handphone, aku membacanya dan ternyata pemimpin petinggi mafia memintaku menanyakan tentang dimana Alan menyembunyikan surat militer yang ditulis oleh ayahnya, pertanyaan itu adalah hal sensitif bagi Alan karena ayahnya dan keluarganya mati di depannya setelah menulis surat yang tidak diketahui isinya dan jika ada yang bertanya tentang isi surat itu maka dia tidak segan-segan membunuh orang itu.
Pesan yang satunya dari tetua mafia pusat yang mengatakan kalau aku benar-benar mencintai Alan dan tidak ingin tetua yang menghukumnya maka aku harus memiliki anak dengan Alan apalagi aku memang sudah terikat pernikahan awal dengan Alan sejak kecil, di dunia mafia pernikahan awal bisa di katakan sebagai suatu pernikahan sah oleh beberapa orang di dunia, jika mereka terikat tapi tidak memiliki anak maka pasangan itu boleh membatalkan pernikahan awal atau bisa disebut menceraikan pasangannya.
"Aku dan pemimpin petinggi mafia ada di depan kamar mengawasi kalian." gumamku membaca pesan yang baru masuk.
"Astaga apa si tua bangka itu benar-benar gila, aku disuruh melakukan itu dan diawasi orang terpenting di mafia, apa dia benar ingin mengancamku!" gerutuku dalam hati kesal, aku melihat Alan yang benar-benar sangat sedih membuatku tidak memiliki cara lainnya.
"Oh baiklah.." desahku mengambil obat di dalam tasku lalu meletakkan handohone dan tas kembali di atas meja.
"Tapi bisa mati di tanganmu aku merasa sangat terhormat Sani." gumam Alan terus bergumam tidak jelas.
"Ya lalu aku disalahkan petinggi mafia karena sudah berani membunuh kepala polisi militer mafia dan aku dihukum hukuman paling berat, kamu mau aku mengalami itu?" protesku kesal.
"Bu...bukan begitu, walaupun kamu membunuhku aku bisa saja beralasan kalau musuh mafiamu yang melakukannya jadi kamu bisa hidup tenang." gumam Alan pelan mendengar kata Alan yang membuatku sangat kesal. Aku menarik tangan Alan dan mendorongnya ke tempat tidur.
"Kamu kira hidupku akan tenang Alan? Tidak ada kata tenang di dalam hidupku, aku berbeda denganmu, kamu hanya menghukum mafia sesuai perundangan mafia sedangkan aku...aku yang harus menghukum banyak mafia yang cara mengeksekusinya. Merebut kalung dari Putri kau kira aku tenang? Aku kembali ke Sani yang dulu Alan, muak tahu gak melihat mafia yang menambah-nambah beban hidupku!" gerutuku menatap Alan kesal.
__ADS_1
"Jadi alasanmu memberikan Putri kalungmu?"
"Ya aku memberikannya sebelum perang mafia, aku memang berencana pensiun dari mafia tapi aku kembali terjebak di dunia mafia lagi, aku muak berurusan dengan mafia bau bawang Alan, dibandingkan kamu aku yang sudah banyak membasmi para mafia itu!" protesku kesal tapi Alan hanya menghela nafas panjang.
"Ya, aku tahu Sani. Kamu lebih hebat dari pada aku, aku hanya pria lemah yang tidak pantas hidup jadi bunuh aku, anggap saja membunuhku adalah huiuman untukku dan jadilah kepala polisi militer mafia."
"Menjadi kepala polisi militer mafia? Heeeh siapa yang mau melakukannya!" gerutuku membuka kancing pakaian Alan.
"Lalu kamu ingin menghukumku dengan hukuman apa?" tanya Alan penasaran.
"Apa ya...kenapa kamu begitu sangat ingin tahu suamiku?" bisikku mengigit leher Alan.
"Apa kamu membutuhkan darahku?"
"Tidak, aku tidak memiliki penyakit yang sama denganmu. Lagi pula aku lebih menyukai wine dari pada darah, aku sudah muak melihat darah."
"Lalu apa yang kamu inginkan Sani?"
"Menurutmu apa yang aku inginkan suamiku..." gumamku mempermainkan Alan.
"Uuugghhh, ja...jangan bilang kamu ingin..."
"Tu...tunggu jangan bilang itu obat..."
"Mmm tidak juga, aku hanya ingin melihat kejujuranmu saja. Ya...anggap saja ini pertanyaan para petinggi..." gumamku dingin.
"Pertanyaan para petinggi jangan bilang kamu ingin tahu...mmmppphh..." aku segera menciumnya dan memasukkan obat itu kedalam mulut Alan.
"Udah tidak perlu protes...anggap saja ini hukuman terindah untukmu..." gumamku tersenyum dingin.
"Hu...hukuman terindah apa maksudmu?" tanya Alan terkejut.
"Kamu sangat menginginkan bermain denganku kan? Aku akan meladenimu suamiku..." bisikku pelan yang membuat wajah Alan memerah.
"Ta...tapi kita kan belum menikah..."
"Aku sudah terikat pernikahan awal denganmu, kalau tidak aku sudah menolak ikut bersamamu tahu!" protesku kesal.
__ADS_1
"Jadi pernikahan awal kita sudah kamu anggap pernikahan kita yang sebenarnya Sani?"
"Menurutmu? Walau aku melupakan pernikahan awal itu tapi cincin kita tidak pernah berbohong...kamu milikku seutuhnya Alan..." bisikku pelan.
"Oh baiklah hukumlah aku Sani..."
"Ya memang seharusnya begitu. Oh ya aku ingin bertanya kepadamu..."
"Bertanya apa?"
"Apa isi surat militer yang ditulis ayahmu?" gumamku terus mempermainkan Alan.
"Ke...kenapa kamu ingin tahu?"
"Kan sudah aku katakan, anggap saja pertanyaanku itu pertanyaan petinggi militer."
"Tidak, aku tidak akan memberitahukannya."
"Oh benarkah, kamu tidak mau memberitahukan kepada istrimu sendiri?"
"Aaaakkhh ba..baik-baik aku akan mengatakannya, tapi jangan beritahu siapapun."
"Tidak masalah, jadi katakanlah."
"Apa hal yang ingin kamu ketahui Sani?" tanya Alan serius.
"Apapun isinya."
"Itu bukan surat penting, percayalah." gumam Alan meyakinkanku.
"Apa kamu kira aku bisa dengan mudah kamu bohongi Alan Liu!" protesku kesal.
"Aku mengatakan sebenarnya bukan surat yang di tulis ayah tapi surat di..."
"Udah beritahu saja kenapa!!" protesku memotong perkataan Alan.
"Haish bqik-baik aku akan mengatakannya kepadamu jadi dengarkan baik-baik Sani!" gumam Alan menatapku serius.
__ADS_1
"Ya aku mendengarkannya..." gumamku menatap Alan dan berusaha untuk mendengarkan apalagi mengingat apa yang akan dia katakan, dilihat dua orang penting di luar kamar membuatku sedikit canggung bahkan terkesan aku sedang mengintrograsi mafia sebelum aku bunuh karena kesal.