Tangan Kanan Tuan Muda Mafia

Tangan Kanan Tuan Muda Mafia
Episode 61 : Pagi Bersama Lanlan


__ADS_3

Semalam aku benar-benar mengantuk jadi bisa tertidur dengan nyenyak tidak seperti biasanya. Aku membuka kedua mataku dan melihat wajah Lanlan yang sangat tampan, wajahnya pagi ini benar-benar berbeda dengan wajahnya yang dingin dan menyebalkan semalam. Di sudut mata kanannya terlihat ada robekan tipis di kulitnya, aku mengusap robekan itu ternyata itu bekas robekan yang sangat dalam. Aku berusaha terbangun dari pelukan Lanlan tapi Lanlan memelukku erat yang membuatku tidak bisa melakukan apapun.


"Selamat pagi suamiku..." gumamku pelan, Lanlan membuka kedua matanya dan menatapku dengan mata merahnya.


"Pagi juga, kamu sudah bangun ya ternyata..." gumam Lanlan dingin


"Masa menyapa istri sendiri sedingin itu sih..." gumamku pelan.


"Aku memang seperti ini, lalu kenapa?" tanya Lanlan dingin.


"Oh benarkah? Bukannya semalam kamu mengigau tidak jelas sambil nangis terus memanggil namaku ya terus masa paginya berakting dingin sih..." sindirku dingin.


"Si...siapa yang melakukannya? Aku tidak mungkin melakukan itu!" protes Lanlan dingin.


"Oh benarkah? Bahkan saat aku tertidur tanganmu terus memainkan rambutku dan sesekali mencium pipiku loh."


"Enggak ya mana ada!" protes Lanlan kesal.


"Benarkah? Tuh mata kamu sembab dan rambutku masih tergulung di jarimu loh..." gumamku mengangkat jari tangan Lanlan, Lanlan menarik tangannya yang membuat rambutku ikut tertarik.


"A...aaauu sakitlah rambutku!" rengekku kesal.


"Eeehhh...ma...maaf...sakitkah?" tanya Lanlan khawatir.


"Cie yang khawatir hahaha!" tawaku kencang yang membuat wajah Lanlan memerah. Lanlan segera beranjak sambil memakai topeng wajah yang ada di meja depannya. Aku menarik pakaian Lanlan yang membuatnya terlepas dan terlihat bekas cambukan yang sama sepertiku di punggung Lanlan.


Melihat bekas cambukan itu membuatku teringat seorang anak kecil yang memelukku dari belakang berusaha melindungiku, aku ingat bagaimana rintihan anak kecil itu sambil menahan tangisnya pelukannya tidak terlepas sama sekali sampai keluarga besarku pergi meninggalkan kami berdua.


Mengingat kejadian itu membuatku sangat sedih, ternyata Lanlan dulu pernah berusaha melindungiku sampai punggungnya juga banyak bekas cambukan dan di sudut mata kanannya juga ada bekas robekan.


Melihat pakaiannya terjatuh, Lanlan segera menutupinya dan tanpa berkata masuk ke dalam kamar mandi. Saat Lanlan di kamar mandi, aku mengambil handphone Lanlan dan membaca diary milik Alan yang lainnya, disalah satu diary Lanlan aku membaca keluh kesah Lanlan yang sangat menderita semenjak menikah denganku, luka ditubuhnya benar-benar sakit selain luka cambukan keluarga Shin tapi juga luka akibat hukuman yang diberikan kedua ayahnya karena meninggalkanku sendiri di keluarga Shin, seharusnya dia yang melindungiku bukannya dia yang melarikan diri dari tanggung jawabnya sebagai suamiku.


"Hmmm..." desahku meletakkan handphone milik Lanlan. Aku mengambil handphoneku dari dalam tas, di layar handphone aku melihat notifikasi beberapa pesan dari Alan dan beberapa mafia yang mengirimiku pesan. Aku menghapus notifikasi itu dan mengganti kode kunciku menjadi gabungan tanggal lahirku dengan Lanlan.


Aku beranjak dari tempat tidur dan mengambil beberapa botol wine dan gelas kosong yang ada di meja. Aku berjalan kearah balkon dan terduduk di kursi balkon sambil meminum wine. Mengetahui pengorbanan Lanlan selama ini bahkan aku yang tidak pekapun Lanlan tetap berkorban demi aku benar-benar membuatku sangat sedih dan merasa bersalah.


Di taman aku melihat beberapa saudara tiriku yang sedang asik bermain, menyadari aku mengamati mereka, mereka hanya menundukkan badan mereka sambil tersenyum ke arahku dan aku hanya terdiam dan berusaha tersenyum.


"Hmmm.." desahku menuangkan wine di botol ketigaku ke dalam gelas.


"Alan meneleponmu dari tadi, tidak kamu angkat?" gumam Lanlan dingin.


"Biarkan saja..." gumamku meminum wineku. Tiba-tiba Wan berdiri di sampingku, dia sedikit menundukkan tubuhnya ke arah Lanlan dan memberikanku sebuah gulungan.


"Mohon maaf nona muda, nona dapat pesan dari petinggi mafia..." gumam Wan pelan.

__ADS_1


"Tentang apa? Bacakan saja..." tanyaku pelan.


"Mmm tapi ada tuan muda..."


"Tidak apa bacakan saja..." gumamku dingin.


"Ba...baik nona muda, mmm begini kata petinggi mafia hari ini anda disuruh menghadap ke petinggi mafia karena ingin memberikan anda tugas khusus..."


"Bilang saja, Sani menolak!"


"Tapi nona muda..."


"Bilang saja suruh ganti orang lain, aku ada urusan..." gumamku meminum wineku.


"Kalau petinggi marah bagaimana nona muda?"


"Baguslah, aku sudah lelah juga..."


"Nikmati saja liburan kalian bertiga... kalau mau bermain dengan saudara tiriku juga tidak masalah..." gumamku meminum wineku kembali.


"Ba...baik nona muda, saya permisi..." gumam Wan segera pergi dari sampingku.


"Hmmm..." desahku meletakkan gelasku dan melingkarkan tanganku di kakiku sambil menyembunyikan wajahku. Mengingat pengorbanan Lanlan membuatku sangat sedih, aku terus menerus meneteskan air mataku dan sesekali sesenggukan pelan.


Tiba-tiba aku merasa Lanlan memelukku lembut dan mengusap rambutku pelan.


"Tidak apa, pergilah. Aku akan bilang kepada ayah kalau..."


"Aku menangis bukan karena itu tahu!" protesku kesal, aku mengusap air mataku dan menundukkan wajahku.


"Bukan? lalu karena apa?" tanya Lanlan terkejut.


"Aku sedih melihat pengorbananmu melindungiku, aku tahu kamu melarikan diri agar aku di tolong kedua ayahmu kan tapi bukannya mendapatkan bantuan malah kamu juga di hukum oleh kedua ayahmu..." gumamku menundukkan wajahku.


"Ke...kenapa kamu tahu?"


"Aku sedih kak Lanlan seperti sangat membenciku, apa kak Lanlan ingin mengusirku dan membunuhku juga karena aku selalu menyakiti hatimu kak Lanlan?" tanyaku pelan.


"Bu...bukan begitu Sani...a...aku..."


"Apa kak Lanlan sudah tidak mencintaiku lagi? Apa kak Lanlan membenciku sampai berusaha agar aku membencimu dan kembali ke pelukan Alan?" tanyaku pelan.


"Dengarkan aku Sani, aku..."


"Apa kak Lanlan ingin mencari wanita lain karena kak Lanlan capek menghadapiku? Apa kak Lanlan...mmppphhh..." gumamku pelan, mendengarkanku protes tanpa henti, Lanlan menarik bahuku dan menciumku yang membuatku terkejut.

__ADS_1


"Eeeheeemm bukannya tadi kalian ribut ya tapi saat didatangi ternyata asik berciuman disini!" gerutu Fiyoni kesal tapi Lanlan tidak melepaskan ciumannya.


"Heeeiii aku bertanya kepada kalian berdua!" protes Fiyoni kesal.


"Diamlah kau!" gerutu Lanlan kembali menciumku.


"Hei beraninya kau memarahiku Lanlan!" protes Fiyoni kesal tapi Lanlan tidak memperdulikannya dan terus menciumku.


"Astaga gak di pedulikan lagi dong!" gerutu Fiyoni bersandar di pagar balkon.


"Untuk apa kau disini?" tanya Lanlan dingin.


"Ini rumahku jadi terserah aku mau apa!" gerutu Fiyoni dingin.


"Ini rumah istriku jadi terserah aku mau apa!" gumam Lanlan mengikuti ucapan Fiyoni.


"Astaga kau mengikuti ucapanku lagi..." desah Fiyoni menepuk dahinya sendiri.


"Aku tanya padamu...apa yang kau lakukan disini?" tanya Lanlan dingin.


"Tidak ada, mendengar kalian ribut dari semalam membuat aku disuruh ayah melihat kalian berdua tahu!"


"Kami tidak ribut kok kak..." gumamku memberikan Fiyoni sebuah gulungan dari Wan tadi.


"Tunggu dulu, gulungan ini kan?"


"Ya tapi aku menolak."


"Menolak mendapatkan tugas khusus itu? Apa kau gila Sani!" protes Fiyoni kesal.


"Aku capek, aku butuh liburan. Kalau petinggi ingin mencari orang lain juga silahkan saja..." gumamku pelan.


"Tapi tugas ini hanya kau yang bisa menyelesaikannya Sani!"


"Aku tahu dan kak Fiyoni juga sangat menginginkannya kan? Kalau tidak ada yang sanggup pasti kak Fiyoni juga mendapatkannya lagi..." gumamku menghabiskan botol wine yang terakhir.


"Astaga kau menghabiskan seluruh wine di kamarmu Sani!!" protes Fiyoni kesal.


"Ya..."


"Astaga sudah aku bilang kan jangan kebanyakan wine! Kamu dibilangin selalu susah Sani membuatku kesal!!" protes Fiyoni kesal, mendengar ocehan Fiyoni yang pasti tidak akan berhenti, aku menyembunyikan wajahku di pelukan Lanlan dan Lanlan memelukku erat.


"Sudahlah kau ngomel mulu nanti kau tua Fiyoni!" sindir Lanlan dingin.


"Au ah kalian berdua sama-sama keras kepala membuat kepalaku pusing mikirnya. Kalau kalian sudah selesai berduaannya, cepat turun ayah sudah menunggu kalian berdua untuk sarapan bersama!" gerutu Fiyoni turun dari balkon.

__ADS_1


Melihat Fiyoni sudah pergi, aku melepaskan pelukan Lanlan dan terduduk di sampingnya. Tanpa berkata apapun aku hanya menatap sepasang burung yang sedang terbang bersama di bawah sinar matahari sedangkan Lanlan kembali memelukku sambil memegang handphone milikku.


__ADS_2