
Panas matahari yang terasa sangat menyengat diatasku ditambah angin panas menerpa tubuhku benar-benar seperti membakar tubuhku. Aku terus menatap hutan di depanku dengan tatapan kosong, walaupun aku masih terpikir tentang siapa pembunuh ayah, ibu kandung dan ibu tiriku secara jelasnya tapi otakku benar-benar ngeblank tidak bisa berfikir tentang apapun bahkan tentang rencana.
Sudah hampir menjelang malam aku bertahan duduk di kursi balkon kamar, keringat yang membasahi tubuh benar-benar tidak aku pedulikan. Disaat aku asik melamun tiba-tiba Lanlan memelukku dari belakang yang membuatku tersadar dari lamunanku.
"Kenapa kamu berjemur disini istriku?" gumam Lanlan pelan.
"Hanya...ingin saja."
"Apa kamu tidak kepanasan? Kamu habis mandi jadi kembali berkeringat loh!"
"Kalau sudah tahu aku berkeringat kenapa kamu tetap memelukku?" gumamku pelan.
"Tidak masalah kamu istriku jadi aku tidak keberatan."
"Janganlah kamu tadi sudah mandi, nanti kamu terkena bau badanku tahu!" gumamku mengusap keringatku yang menetes di pipiku, Lanlan menggendongku masuk ke dalam kamar dan merebahkanku di tempat tidur.
"Ini sudah hampir malam jadi aku juga bau keringat..." gumam Lanlan menatapku dari atas. Saat melihatku wajahnya terlihat tampak memerah.
"Kita tidak jadi ke pesta ulang tahun ayahmu?"
"Nanti, menunggu wakilku datang dulu..."
"Oh..." desahku pelan.
"Kamu sangat cantik istriku..." gumam Lanlan menekan kedua tanganku.
"Oh...mmm benarkah?" tanyaku pelan.
"Ya, aku sangat bersyukur bisa memiliki istri secantik kamu..." gumam Lanlan menciumku lembut.
"Mmm aku juga senang memilikimu suamiku... mmm oh ya mmm...aku boleh tanya sesuatu tidak?" gumamku pelan.
"Kamu ingin tanya apa sayang?"
"Kamu...mmm...kamu...mmm..."
"Ya, aku kenapa?" tanya Lanlan bingung.
"Mmm... gimana ya bilangnya...mmm kamu tidak ingin punya anak gitu?" tanyaku menahan maluku.
"Kamu ingin?"
"Ti...tidak, aku hanya bertanya saja..." gumamku membuang mukaku.
"Apa itu yang kamu pikirkan dari tadi?"
"Mmm ti...tidak kok aku tidak memikirkan itu!" protesku kesal.
"Lalu kenapa kamu bertanya?"
"Aku...aku hanya penasaran saja, ya takutnya kak Lanlan menganggapku tidak melakukan kewajibanku sebagai istri..." gumamku pelan.
"Aku akan melakukannya kalau kamu siap menjadi ibu sayang, lagi pula aku melihat kamu masih belum seluruhnya menerimaku menjadi suamimu jadi aku tidak akan melakukannya untuk sekarang."
"Aku menerimamu kok, aku menerimamu menjadi suamiku!" ucapku serius.
"Oh benarkah? Tapi kamu nampak ragu sayang."
"Aku benar-benar menerimamu, sebenarnya aku wanita yang bodo amat masalah cinta karena di dalam pikiranku hanya memikirkan untuk membalaskan dendam atas kematian keluarga besarku tapi tidak aku sangka suamiku sendiri yang membunuh mereka dengan alasan yang bisa aku terima. Jadi ya karena kamu hanya membunuh keluarga Shin jadi yang aku pikirkan sekarang...siapa yang membunuh ayah, ibu kandung dan ibu tiriku?" gumamku pelan.
"Ibu kandungmu dibunuh oleh ibu tirimu sedangkan ibu tirimu sampai sekarang masih hidup dan masih bersembunyi sedangkan ayahmu...mata-mataku bilang ibu tirimu yang membunuhnya."
"Tunggu dulu! Ibu tiri?" tanyaku terkejut.
"Ya, wanita yang kamu sangka ibu tiri itu adalah kembaran dari ibu tirimu yang aku bunuh. Ibu tirimu sangat membencimu, membenci kembarannya, membenci ibu kandungmu, dan membenci ayahmu sayang. Umurmu dengan ibu tirimu hanya selisih beberapa tahun saja karena ibu tirimu melahirkan adik tirimu disaat umurnya kalau tidak salah 10 tahun."
"Tunggu? Kenapa bisa? Kan dia terlihat tua?" tanyaku terkejut.
"Itu wajah buatan sayang, dia hamil adik tirimu karena ayahmu memperkosanya yang membuatnya hamil dan harus menanggung malu di usia mudanya. Saat tahu ayahmu lebih menyayangi ibumu membuat ibu tirimu yang labil itu cemburu dan menghasut seluruh keluarga Shin dan akhirnya membunuh ibumu dan menyiksamu," jelas Lanlan serius.
"Ti...tidak mungkin..." gumamku masih terkejut.
"Ini foto yang didapatkan mata-mataku..." gumam Lanlan memberikanku beberapa foto saat ibu tiri membuka wajah palsunya dan menggunakan wajah palsunya.
"Oh astaga..." desahku pelan.
"Banyak kepalsuan di keluarga Shin sayang, dan kamu harus berhati-hati, apa kamu mengerti?"
__ADS_1
"Ya aku mengerti, ibu tiriku sangat licik ditambah mafia tertinggi di tambah Linshi ditambah orang-orang yang menginginkanku mati...astaga bagaimana aku melawannya!" gumamku pelan.
"Tenang saja sayang, aku akan melindungimu."
"Tidak, kamu sudah terlalu sering melindungiku,, sekarang waktunya aku melindungimu!"
"Dengar sayang, ini tugasku sebagai suamimu jadi aku akan melindungimu!"
"Tidak mau, kamu tidak perlu...mmmpphh..." Lanlan menciumku dan menggenggam erat tanganku.
"Sayang, aku tidak peduli. Aku akan melindungimu! Apa kamu mengerti!" ucap Lanlan serius.
"Tapi, aku tidak ingin melihatmu menderita!"
"Aku tidak menderita, aku..."
"Tidak boleh! Aku tidak akan mengizinkan kamu melakukannya sendiri, aku juga bisa melindungimu jadi aku juga akan melindungimu! ucapku serius.
"Baiklah kalau kamu menginginkan itu, aku akan mengizinkanmu melakukannya. Tapi sebelum itu..." gumam Lanlan menatapku dengan wajah memerahnya.
"Eeee...mmm ada apa?" tanyaku terkejut.
"Aku ingin..." gumam Lanlan pelan.
"Kalau kamu ingin lakukan saja, aku istrimu Lanlan!" ucapku pelan.
"Oh baiklah, beneran nih?"
"Ya, terserah kamu..."
"Oh mmm baiklah tapi jangan marah ya! Mmm aku masih belum ingin memiliki anak kok, aku hanya..." gumam Lanlan berusaha menutupi wajah merahnya.
"Ya, aku tidak akan memarahimu juga kok..." gumamku pelan.
"Oh mmm baiklah.." gumam Lanlan menciumku lembut, tangannya benar-benar bergetar seperti ketakutan tapi aku hanya terdiam saja.
"Mmm apa yang ayah katakan kepadamu saat aku pergi tadi?" tanyaku pelan.
"Ya...mmm, ayahmu ingin punya cucu."
"Hanya itu?"
"Kenapa?" tanyaku terkejut.
"Fiyoni suka bermain wanita Sani dan Fiyoni sering menolak menikah yang membuat ayahmu tidak terlalu berharap lagi."
"Aku tahu kok, dia lebih suka bermain dengan wanita saja dan bahkan banyak wanita yang tidak menyesal malah mereka menginginkannya lagi..." gumamku pelan.
"Ya benar...aku tahu akan hal itu."
"Mmm apa kamu ingin punya anak?" tanyaku serius.
"Ya lah...aku menunggumu selama lebih dari dua puluh tahun dan menahan nafsuku demi memiliki anak denganmu kok masa aku menolaknya!... eeeh astaga aku keceplosan..." gumam Lanlan menyembunyikan wajahnya di leherku.
"Kalau kamu ingin dan kamu benar-benar suamiku, aku tidak keberatan kok..."
"Be...benarkah?" tanya Lanlan terkejut.
"Ya aku mengatakan yang sebenarnya.."
"Ta...tapi apa kamu yakin sayang?"
"Ya aku yakin!"
"Eee mmm...baiklah..." gumam Lanlan menatapku senang.
"Oh ya, kalau kamu sudah mendapatkanku seutuhnya apa kamu akan meninggalkanku?" tanyaku pelan.
"Kalau aku hanya ingin bermain denganmu buat apa aku menunggu bertahun-tahun demi melakukannya denganmu...aku bisa saja seperti Fiyoni bermain dengan wanita lain lalu meninggalkan mereka dan datang lagi kalau aku membutuhkannya, dan kamu tahu kan banyak wanita cantik yang menginginkanku istriku..." gumam Lanlan mempermainkanku.
"Ya...aku paham kok sayang..." gumamku pelan.
"Tenang saja sayang, aku benar-benar milikmu kok. Kamu boleh menghukumku kalau aku menyakitimu!"
"Apa kamu yakin? Nanti kamu menyesal!"
"Ya aku yakin. Aku benar-benar menginginkanmu, jadi aku akan menerima semua hukumanmu ..." gumam Lanlan serius.
__ADS_1
"Uuuggghhh ba...baiklah kalau begitu kita sepakat..." gumamku pelan.
"Istriku apa kamu mencintaiku?" tanya Lanlan serius.
"Ya, aku mencintaimu."
"Benarkah? Padahal kan..."
"Kalau aku tidak mencintaimu aku akan menolak melakukan ini denganmu!"
"Oh mmm..." desah Lanlan pelan, aku mendorong Lanlan dan menatap Lanlan dari atas.
"Apa kamu masih mencintaiku suamiku?" gumamku serius.
"Ya...aku masih mencintaimu istriku...uuugghhh..." rintih Lanlan saat aku menggigit lehernya.
"Ke...kenapa kamu menggigit leherku?" tanya Lanlan terkejut.
"Hanya...ingin saja..." gumamku pelan.
"Kamu sangat nakal ya sayang..." gumam Lanlan pelan.
"Apa kamu capek?"
"Ya aku sangat capek tahu..." desah Lanlan pelan.
"Ihhh kamu gitu saja capek..." gumamku mempermainkan Lanlan.
"Sayang jangan gelitikin aku...aku tidak tahan gelinya!!" gumam Lanlan pelan.
"Kalau geli ya ketawalah..." gumamku tersenyum dingin tapi Lanlan mendorongku dan menatapku dingin.
"Kamu ini gadis yang bandel ya sayang..." gerutu Lanlan menciumku lembut.
"Ya aku nakal hanya kepadamu... uuugghhh a...apa itu salah?" tanyaku pelan.
"Tidak masalah, aku malah suka kamu nakal hanya kepadaku..." gumam Lanlan terjatuh diatasku dan menciumku lembut.
"Sayang...terimakasih..." gumam Lanlan kembali menciumku.
"Terimakasih untuk apa?" tanyaku bingung.
"Ya kamu bersedia menjadi istriku, jadi tidak sia-sia aku menunggumu lebih dari dua puluh tahun..." gumam Lanlan pelan.
"Mmm maafkan aku yang tidak pernah tahu masalah pernikahan kita sayang..." gumamku mengusap rambut Lanlan yang dipenuhi keringat.
"Tidak apa, sekarang kamu benar-benar jadi istriku. Aku tidak sabar menjadi seorang ayah...astaga seperti bermimpi saja aku..." gumam Lanlan tertawa pelan.
"Aku yang seharusnya bilang begitu..." gumamku pelan.
"Kenapa?"
"Ya...memiliki suami yang sangat melindungiku, mencintaiku dan sangat setia menungguku selama bertahun-tahun adalah impian setiap wanita. Dan aku mendapatkannya saat ini suami yang benar-benar idaman setiap wanita, padahal kan kamu bisa mencari wanita yang lebih baik dariku apalagi kita hanya terikat pernikahan awal..." gumamku pelan.
"Sayang...kita tidak hanya melakukan pernikahan awal tapi kita benar-benar menikah secara resmi di altar terbesar dimasa lalu, danau yang menjadi tempat pernikahan kita itu adalah danau yang berada di depan altar. Ayah kita memberikan tempat pernikahan berbeda dengan adik tiri kita. kita mendapatkan tempat pernikahan yang sangat mewah dan tentunya sangat megah karena kita benar-benar menikah berbeda dengan ketiga adik tiri kita yang hanya melakukan pernikahan awal saja..." gumam Lanlan memberitahukan beberapa foto pernikahan kami yang tidak aku lihat sebelumnya.
"Apa itu alasanmu setia menungguku?" tanyaku terkejut.
"Ya...Kita sudah menikah sayang dan aku sudah benar-benar terikat denganmu jadi aku tidak mungkin bisa melepaskan ikatan kita tanpa persetujuan darimu."
"Oh mmm benar juga sih..." desahku mengusap rambut Lanlan kembali.
"Tapi apa kamu tidak takut menyesal terikat denganku?" tanyaku pelan.
"Tidak, walaupun sebelumnya aku pernah berfikir seperti itu tapi sekarang penantianku tidak sia-sia, aku memilikimu dan kamu akan mengandung anak kita jadi aku tidak akan pernah menyesal!" ucap Lanlan menatapku serius.
"Oh mmm baiklah..." desahku menutup kedua mataku.
"Apa kamu mengantuk sayang?"
"Ya aku sangat mengantuk..." gumamku pelan.
"Baiklah tidurlah sayang..." gumam Lanlan berbaring di sampingku dan memelukku erat.
"Mmm sayang... bolehkah nanti aku meminta lagi?" tanya Lanlan pelan.
"Ya...kamu suamiku jadi lakukan saja kalau kamu ingin..." gumamku pelan.
__ADS_1
"Baiklah..." gumam Lanlan senang.
Melihat kenyataan kalau aku benar menikah dengan Lanlan membuatku sangat terkejut tapi ya mau bagaimana lagi bukti yang Lanlan punya benar-benar menunjukkan aku sudah menikah dengannya. Sebenarnya aku tidak keberatan bisa bersenang-senang dengan Lanlan saat ini tapi mendengar kalau ibu tiri yang melakukan semua itu membuatku sangat dendam, aku harus mencari informasi lebih lanjut sebelum aku memikirkan rencanaku.