
Belum saja aku tertidur tiba-tiba aku mendengar suara ketukan di depan pintu, Lanlan langsung memakai topeng wajahnya dan menyelimuti tubuh kamu berdua, pintu terbuka lebar dan aku melihat Fiyoni yang masuk ke dalam kamar dan diikuti di belakangnya ada dua orang pria bertopeng.
"Lanlan kau dicari...astaga kalian berdua!!" gerutu Fiyoni terkejut melihat kami.
"Ada apa? Istriku sedang tidur jangan berisik kau Fiyoni!" gumam Lanlan dingin sambil terus mengusap lembut rambutku.
"Aku hanya terkejut ternyata kau bisa membuat wanita dingin dan tidak berperasaan itu luluh kepadamu!" gerutu Fiyoni dingin.
"Siapa yang kau bilang wanita dingin yang tidak berperasaan itu?" gerutuku melirik Fiyoni yang membuat Fiyoni terkejut.
"Oh mmm tidak ada, itu anak tetangga sebelah..." gumam Fiyoni cengengesan.
"Jangan buatku menghukummu kak Fiyoni!" gumamku menyembunyikan kembali wajahku di balik selimut.
"Ja..janganlah...hukumanmu sangat menyakitkan Sani!" gumam Fiyoni pelan.
"Makanya jangan mengejek orang sesuka hatimu kak Fiyoni!" gerutuku kesal.
"Hehehe maaf...maaf nih kamu dapat surat..." gumam Fiyoni melemparkan surat kearahku, aku segera menangkap surat itu dan membacanya.
"Oh ya ada apa kamu kemari Fiyoni?" tanya Lanlan dingin.
"Tuh kedua wakilmu mencarimu."
"Kenapa kalian menjemputku sore sudah aku katakan kan beberapa jam sebelum pesta dimulai?" tanya Lanlan dingin.
"Ma...maaf tuan muda, kami mendapatkan surat dari petinggi militer dunia."
"Bacakan saja."
"Mmm akan ada beberapa pertemuan kedepannya dan juga anda dan beberapa jenderal lainnya mendapatkan beberapa tugas tuan muda."
"Tugas apa?"
"Mmm tugas pertama membunuh ketua mafia yang bernama Han Lee dan menangkap ketua mafia darah biru yang bernama Steven..."
"Mereka sudah mati!" gumamku dingin.
"Tunggu...benarkah?" tanya Lanlan terkejut.
"Ya, aku yang membunuhnya bertahun-tahun yang lalu..."
"Tidak mungkin, dia sangat kuat dan licik!" gumam Lanlan tidak percaya.
"Yang dia katakan memang benar, dia yang membunuhnya ..." gumam Fiyoni serius.
"Oh astaga kenapa kamu melakukannya sendiri sih sayang untung kamu bisa melawan mereka..." desah Lanlan menarik pipiku.
"Aaauuu sakitlah!" protesku kesal tapi Lanlan hanya tersenyum manis.
"Oh ya apa tugas yang lainnya?" tanya Lanlan serius.
"Tugas yang lain mencari orang yang bernama Tian dan Yani tuan muda..."
"Mencarinya kenapa?" tanya Lanlan terkejut.
"Karena mereka melakukan penyelundupan senjata secara ilegal dan melakukan korupsi yang membuat banyak negara rugi besar..." gumamku pelan.
"Ke...kenapa nona muda bisa tahu?" tanya salah satu bawahan Lanlan terkejut.
"Aku mendapatkan tugas itu juga."
"Benarkah Sani? Kau mendapatkannya lagi?" tanya Fiyoni terkejut.
"Ya...begitulah..."
"Oohh astaga akhirnya!!" gumam Fiyoni senang.
"Tunggu sebentar itu tugasku sayang!" protes Lanlan kesal.
__ADS_1
"Mau ambil atau tidak tanyakan pada pria itu..." gumamku menunjuk Fiyoni.
"Ini bagian kami Lanlan!" protes Fiyoni kesal.
"Tapi kan kalau tugas kami kalian ambil aku tidak memiliki tugas lainnya tahu!" protes Lanlan kesal.
"Mmmm tuan muda, ada beberapa tugas lainnya..."
"Apa itu? tanya Lanlan penasaran.
"Tugas lainnya akan di katakan saat pertemuan besok malam tuan muda..."
"Pertemuan ya?" gumam Lanlan menatapku.
"Kenapa kamu menatapku..." gumamku pelan.
"Apa kamu tidak keberatan?"
"Kalau ada pertemuan penting ya lakukan saja tidak masalah...Lagi pula tetua dan petinggi mafia memintaku bertemu dengan mereka kalau tugas ini aku ambil..." gumamku pelan.
"Kapan?"
"Besok malam juga..."
"Ohh mmm baiklah, kalau pergi hati-hati ya..."
"Ya tenang saja..." gumamku pelan.
"Astaga...kau sangat khawatir banget sama adikku Lanlan? Tidak seperti kamu yang dahulu..." gumam Fiyoni menepuk dahinya.
"Dia istriku jadi wajarlah kalau aku khawatir!"
"Memangnya kamu sudah memberitahukan Sani?" tanya Fiyoni terkejut.
"Masalah pernikahan kami? Ya aku sudah memberitahukannya..." gumam Lanlan terus mengusap rambutku.
"Oh ya kalian berdua tunggu di balkon ada sesuatu hal yang ingin aku bicarakan..." gumam Lanlan dingin.
"Baik tuan muda..." gumam dua pria itu berjalan menuju balkon.
"Heei kau Fiyoni tutup matamu biar kan istriku memakai pakaian!" gerutu Lanlan kesal.
"Buat apa? Dia adikku dan aku sudah tahu tubuhnya dari kecil jadi aku tidak akan mimisan juga!" gumam Fiyoni meminum wine dengan santai.
"Tapi kan!!"
"Biarkan, dia tidak akan peduli juga mau bagaimanapun aku...kalau aku luka parah apapun dia yang mengobatinya..." gumamku menarik pakaianku tadi dan memakainya.
"Aku tidak memiliki nafsu dengan adikku sendiri. Yang ada aku dibunuh olehnya...tidak ada yang berani berbuat macam-macam kepada Sani. Bahkan keempat adik tirimu yang ingin bermain dengan Sani saja tidak berselera saat melihat lirikan mata merahnya yang menyebalkan itu. Tapi mungkin Alan yang berani bermain dengan dia kayaknya dulu mereka bermain bersama..." gumam Fiyoni pelan.
"Tidak...dia menolak...dia bilang dia tidak mau dan aku sendiri tidak mau juga, para petinggi dan tetua menyaksikan kami jadi gila saja aku melakukannya di depan mereka!" gerutuku mengikat rambutku.
"Lalu dimalam itu apa yang kalian lakukan?" tanya Lanlan serius.
"Memangnya kamu tahu?"
"Kakek yang memberitahukanku."
"Memang bermuka dua tetua itu...hmmm...tidak ada, aku hanya melakukan apa yang harusnya aku lakukan..." gumamku pelan, Lanlan menarikku dan menatapku serius.
"Beritahu istriku? Apa kamu.."
"Sudah aku katakan kan aku tidak melakukannya...dan aku sudah membuktikan padamu kalau aku tidak pernah bermain dengan pria manapun..."
"Tapi apa yang kalian lakukan saat itu?"
"Petinggi memintaku mencari informasi masalah surat militer saja dan Alan tidak mengetahuinya katanya surat militer itu ayahku yang menulisnya."
"Ohh...aku kira kamu bermain dengan adikku yang lemah itu..." gumam Lanlan menggigit bibirku
__ADS_1
"Iiihh kamu genit ya Lanlan!" protesku kesal.
"Ya kamu hampir membuatku sangat cemburu sayang, kamu istriku jadi..."
"Ya aku tahu, aku hanya milikmu kok..." gumamku pelan.
"Eheeemm bisa tidak kalian tidak meromantis di depan pria jomblo di depan kalian!" protes Fiyoni kesal.
"Ya sudahlah menikahlah sana!" sindir Lanlan dingin.
"Kau enak kali ya ngomongnya. Kau enak bisa menikah langsung dengan wanita hebat sedangkan aku? Boro-boro menikah, mencoba mendekati wanita untuk diajak serius malah berakhir di ranjang!" gerutu Fiyoni kesal.
"Ya kau saja yang nafsuan.."
"Kayak kau tidak saja! Dulu sama tuh wanita yang kemarin sekamar denganmu..." sindir Fiyoni dingin.
"Sekamar?" tanyaku terkejut.
"Tidak...mana ada! Jangan percaya perkataan Fiyoni sayang, kalau tidak percaya tanyakan wakilku itu loh!" gumam Lanlan menatapku serius.
"Lanlan!!!" protesku kesal tapi Fiyoni hanya tertawa melihat aku marah kepada Lanlan.
"Iih serius sayang, aku tidak melakukan apapun dengan wanita lain, serius!!"
"Awas saja kalau kau ketahuan bermain dengan wanita dibelakangku Lanlan Kim!!" gerutuku menatap Lanlan kesal.
"Ya kau boleh menghukumku atau bahkan membunuhku kalau aku melakukannya istriku..." gumam Lanlan menciumku lembut.
"Astaga kalian gak jadi bertengkar nih? Padahal seru loh kalau kalian bertengkar.." sindir Fiyoni tertawa keras.
"Diam kau Fiyoni, jangan buat istriku salah paham kepadaku!" gerutu Lanlan kesal.
"Hahaha salah sendiri membuatku yang jomblo ini merana melihat keuwuan kalian!" gerutu Fiyoni kesal.
"Sudahlah kak Fiyoni, kenapa kau tetap disini?"
"Tunggu Lanlan pergi dulu baru ada yang aku katakan padamu penting."
"Awas saja kau kalau kau melakukan aneh-aneh Fiyoni!" gerutu Lanlan memakai pakaiannya dan berjalan menuju ke balkon.
"Ada apa kak?" tanyaku pelan.
"Aku mendengar dari wakil Lanlan kalau ibu tirimu yang membunuh ayah dan ibu kandungmu ya?"
"Ya Lanlan juga bilang begitu."
"Tadi aku tanya ayah dan ayah jawab memang ibu tiri yang melakukannya. Dulu ada satu pria yang dilahirkan ibu kita sebelum kamu, saat pria itu lahir... pria itu sangat disayangi oleh tuan Shin karena tuan Shin menginginkan seorang anak laki-laki, karena tuan Shin menginginkannya lagi Tuan Shin melakukannya dengan ibu lagi dan ternyata ibu mengandung anak perempuan dan itu kamu. Karena kecewa dia memperkosa ibu tirimu tapi ternyata ibu tirimu mengandung tiga kembar yang semuanya wanita juga. Ya karena ayahmu lebih menyayangimu membuat ibu tirimu kesal...itu cerita ayah.." guamm Fiyoni santai.
"Benarkah? Aku punya kakak kandung?" tanyaku terkejut.
"Seharusnya punya, tapi ayah tidak yakin dimana. Kakakmu meninggalkan keluarga Shin setelah bertengkar hebat dengan tuan Shin karena Tuan Shin ketahuan memperkosa keponakannya sendiri. Ibu tahu dimana keberadaannya, tapi ibu meninggal terlebih dahulu sebelum memberitahukan dimana tempatnya."
"Oh dan ayah tahu?"
"Ayah tahulah! Dia berusaha mencarinya. Kalau kamu bisa mencari kakak kandungmu aku yakin dia akan membantumu mengalahkan ibu tirimu!"
"Tapi kan aku tidak tahu wajahnya!"
"Kamu ingat lukisan di depan?" tanya Fiyoni serius.
"Ya, kenapa dengan lukisan itu?"
"Itu ada gambar kakak kandungmu, apa kamu tidak sadar ada lima orang di dalamnya?" gumam Fiyoni serius.
"Tunggu... lima?" gumamku segera keluar kamar dan melihat benar ada lima orang, padahal seingatku hanya ada empat orang tapi ternyata ada seorang anak laki-laki tampan yang terduduk dengan tuan Shinju jadi tidak terlihat apalagi pakaian mereka berdua sama-sama berwarna putih. Aku memotret foto itu dan menatapnya serius.
"Aku tidak pernah bertemu dengannya selama ini..." gumamku pelan.
Melihat kebenaran aku memiliki seorang kakak kandung membuatku sangat senang, aku benar-benar ingin bertemu dengannya dan tidak sabar untuk bertemu dengan kakak kandungku sendiri.
__ADS_1