Tangan Kanan Tuan Muda Mafia

Tangan Kanan Tuan Muda Mafia
Episode 77 : Hamil Anak Pertama


__ADS_3

Selama beberapa jam kami berdiskusi akhirnya kami menemukan beberapa rencana yang tingkat keberhasilannya tujuh puluh persen. Musuh tuan X saat ini bisa dikatakan benar-benar berbeda dengan saat perang mafia yang lalu apalagi musuhnya orang-orang yang benar-benar kuat.


"Kau akan menggunakan rencana yang belum tentu berhasil?" tanya Fiyoni mengangkat alisnya.


"Semua itu tergantung mereka juga sih lagi pula kita tidak akan diterjunkan langsung oleh tuan X...betulkan ketua?" gumamku menatap pria bertopeng yang sedang duduk di jendela sambil menatap keluar.


"Eeh siapa dia?" tanya Fiyoni terkejut.


"Aku bukan siapa-siapa..."


"Apa maksudmu kamu bukan siapa-siapa! Kau tiba-tiba datang menguping pembicaraan orang!" protes Fiyoni kesal.


"Sudahlah kak, dia ketua agen A."


"Tunggu... ketua agen A? Ngapain kamu disini?" tanya Fiyoni dingin.


"Tidak ada, hanya memastikan kalau dia benar-benar Sani Shin saja. Lagi pula... aku juga diutus mengawasi Sani Shin."


"Mengawasi? Kenapa?" tanyaku bingung.


"Ya kau salah satu ketua mafia terkuat yang bersekutu dengan Tuan X dan juga kau menjadi incaran semua mafia musuh sampai sekarang, tuan X memintaku untuk mengawasimu!" gumam pria itu berjalan kearahku.


"Aku tidak perlu pengawasan orang lain dan juga aku sudah mengatakannya kepada tuan X saat perang mafia yang lalu!" ucapku serius.


"Apa kau tidak percaya kalau aku di utus tuan X?" gumam pria itu mengangkat daguku tinggi.


"A...aku percaya, tapi kan..." gumamku bingung, tiba-tiba ada seseorang yang menarikku ke dalam pelukannya dan saat aku lihat ternyata Lanlan yang terlihat kesal dengan pria bertopeng itu.


"Kau masih saja ya licik mengambil apapun yang aku punya Elang!" gerutu Lanlan kesal tapi pria itu tersenyum dingin.


"Kamu mengenalnya?" tanya Fiyoni terkejut.


"Bisa dibilang begitu..." gerutu Lanlan memelukku sangat erat.


"Aah tidak aku sangka bisa bertemu dengan pria kecil disini..." gumam pria bertopeng itu tersenyum dingin.


"Dia istriku jadi kau tidak usah sok-sok mencari perhatian dengannya!" gerutu Lanlan kesal.


"Sudah pernah aku katakan kan apapun yang menjadi milikmu tentunya akan menjadi milikku juga."


"Heeh kau kira aku akan membiarkan istriku menjadi milikmu juga? Semua boleh dibagi tapi kalau istri...jangan harap aku akan memberikanmu juga!" gerutu Lanlan dingin.


"Kenapa juga? Lagi pula kau sangat membenci Sani karena dia membunuh ibu kan? Kenapa tiba-tiba kau mencintainya?"


"Mau aku mencintainya atau tidak itu... bukan urusanmu!" gerutu Lanlan kesal.


"Tung...tunggu dulu, kalian saling kenal?" tanyaku terkejut.


"Dia kakak tiriku, bagaimana aku tidak mengenalnya. Walaupun memakai jubah dan topeng tidak membuatku salah mengenal orang itu!" gerutu Lanlan dingin.


"Kakak tiri?" tanyaku terkejut.


"Ya, ibu kami sama tapi hanya berbeda ayah saja. ayahku dari keluarga Kim sedangkan dia dari..."


"Dari keluarga Shin!" ucap Tian yang berjalan masuk ke dalam ruang pertemuan kami.


"Tunggu...Shin?" tanyaku terkejut.


"Aaah datang juga nih pengrusuh! Ku kira kau sudah mati Tian!" sindir pria itu dingin.


"Aku lebih hebat dari pada kamu, lagi pula kamu masuk ke mafia yang terpercaya saja hanya karena kebetulan saja."


"Hilih kau masih saja suka berkata seperti itu..." gumam pria itu kesal.

__ADS_1


"Jadi dia kakak tiriku juga?" tanyaku terkejut.


"Seharusnya, tapi dia menolak mengakui Shin sebagai keluarganya setelah dia dan ibu diusir dari keluarga Shin sebelum kakakmu yang bodoh itu kabur dari rumah..." gumam Lanlan dingin.


"Jadi...ibumu bermain dengan ayahku sudah lama?" tanyaku terkejut.


"Yaah bisa dikatakan seperti itu, tuan Shin dari dulu sangat senang bermain dengan berbagai wanita cantik dari kalangan atas seperti ibumu dan ibuku."


"Ohh...mmm..." desahku membenamkan wajahku di dada Lanlan.


Tiiitt...ttiiitt...ttiiittt...


Terdengar suara alarm jam tangan berbunyi dengan keras, pria bertopeng itu membalikkan tubuhnya dan melirik kami dingin.


"Yaah tidak aku sangka aku malah bertemu dengan kalian disini, tapi tidak apalah sedikit mengurangi kerinduanku. Oh ya sampai bertemu lagi gadis kecil..." gumam pria itu pergi menghilang.


"Huuhhh..." desah Lanlan mengusap rambutku lembut.


"Bagaimana kalian bisa tahu kalau Sani disini?" tanya Fiyoni terkejut.


"Dia istriku jadi aku tahu dimanapun istriku berada."


"Hilih alesan saja!" gerutu Fiyoni kesal.


"Fiyoni dan kalian bertiga ikutlah denganku..." gumam Tian berjalan keluar.


"Eeh mereka bertiga juga? Ada apa?" tanya Fiyoni penasaran tapi Tian hanya terdiam dan berjalan pergi.


"Haish baiklah... Roy, Zaki, Wan mari.." gumam Fiyoni beranjak dari tempat duduknya dan bersama dengan ketiga bawahanku mengikuti Tian pergi.


"Kak Lanlan Pria tadi...namanya siapa?" tanyaku menatap Lanlan serius.


"Untuk apa kamu ingin tahu?" tanya Lanlan menatapku dingin.


"Menurutmu? Aku baru saja mendapatkanmu selama bertahun-tahun, aku tidak rela jika..."


"Sayang dengar, aku istrimu dan kamu suamiku, kata kamu kita sudah menikah resmi dahulu jadi buat apa kamu cemburu?"


"Dia selalu mengambil apa yang menjadi milikku! Aku tidak mau dia mengambilmu dariku!" protes Lanlan kesal.


"Ya aku tahu, aku tidak akan meninggalkanmu kok suamiku..." gumamku memeluk Lanlan erat.


"Hmmm baiklah aku percaya padamu istriku. Kalau begitu aku akan memberitahukan namanya, namanya Elang...entah dia marga mana tapi dia termasuk marga Kim dan marga Shin sih."


"Haah maksudnya?" tanyaku bingung.


"Aku tidak tahu dia ikut marga mana soalnya Elang tidak pernah datang ke keluarga Kim atau Shin setelah di usir oleh ayahmu dan ayahku."


"Diusir?" tanyaku terkejut.


"Ya, sudah pernah aku katakan kan kalau saja ibuku tidak bermain dengan pria lain pasti dia tidak mati seperti itu. Ibu tidak hanya sekali bermain dengan tuan Shin tapi dia selalu bermain dengan tuan Shin saat ayah pergi bertugas. Tapi saat itu mungkin karena ibu tidak menggunakan obat jadinya dia hamil. Di hamilnya Elang itu, ibu masih hidup dan tidak dibunuh tuan Shin karena tuan Shin menganggap Elang bukan anak kandungnya dan ayah juga tidak menganggap Elang karena bukan anak kandungnya sehingga ibu membesarkan Elang seorang diri..."


"...Tapi saat hamil yang kedua itulah kesalahan ibu yang paling fatal yakni mencemarkan nama baik tuan Shin karena tuan Shin berulang kali mengusirnya. Tidak hanya di keluarga Shin saja tapi di keluarga Kim, Liu dan keluarga lainnya ibu juga diusir. Karena tidak bisa membesarkan seorang diri maka ibu memutuskan datang kembali ke keluarga Kim tapi ditolak lalu ibu datang kembali ke keluarga Shin yang membuatnya terbunuh olehmu..." gumam Lanlan pelan.


"Mengusirnya? Kenapa mengusirnya?" tanyaku pelan.


"Ya ibu mencemarkan nama baik semua keluarga di media dan juga ibu memang dikenal suka bermain dengan banyak pria yang membuat banyak keluarga tertinggi merasa jijik dengan ibu. Saat itu kesalahan ibu memberikan pernyataan menjatuhkannya di media dunia yang membuat tuan Shin sangat malu dan kesal, lalu tuan Shin menyuruhmu untuk membunuhnya, itulah kenapa aku tidak seutuhnya menyalahkanmu sekarang karena jika dipikir-pikir kalau ibu tidak suka bermain dengan pria keluarga tertinggi pasti dia masih hidup..." gumam Lanlan menggenggam erat tanganku.


"Oh begitu ya..." desahku pelan. Saat aku memejamkan kedua mataku, tiba-tiba aku merasa mual. Aku terus mual-mual di depan Lanlan.


Hoooeeekk...Hhhoooeekkk...


"Sayang kamu kenapa?" tanya Lanlan khawatir.

__ADS_1


"Ti...tidak tahu, perutku terasa tidak enak..." gummaku pelan.


"Mari kita ke dokter..." gumam Lanlan menggendongku kembali ke keluarga Shinju dan segera menelepon dokter pribadinya.


Saat dokter datang, aku melihat Lanlan terus menggenggam erat tanganku. Dari wajahnya dia nampak khawatir kalau terjadi sesuatu padaku sedangkan Tuan Shinju dan Tuan Kim berdiri disebelah Lanlan. Dokter menghala nafas panjang dan menatap kami berdua serius.


"Bagaimana dokter dengan keadaan istriku?" tanya Lanlan serius.


"Nona muda dalam keadaan baik-baik saja tuan muda."


"Lalu kenapa dia dari tadi mual tidak berhenti?" tanya Lanlan bingung.


"Ya itu hal yang wajar tuan, apalagi nona muda sedang hamil muda..."


"APA HAMIL? BENARKAH?" teriak Tuan Kim dan Tuan Shinju terkejut.


"Ya benar tuan, nona muda sedang hamil muda jadi wajar saja kalau dia mual-mual. Karena masih awal jadi nona muda harus menjaga kesehatannya, tidak boleh capek dan harus makan makanan yang bergizi tuan. Ini obat yang akan menjadi penunjang kehamilan nona muda..." gumam dokter itu memberikan secarik kertas kepada tuan Shinju.


"Oh baiklah, terimakasih dokter.."


"Baiklah, saya permisi dulu tuan.." gumam dokter itu berjalan pergi.


"Shinju...kau dengar?" gumam tuan Kim senang.


"Ya aku mendengarnya.." gumam tuan Shinju tersenyum senang.


"Baiklah mari melakukan persiapan kelahiran cucu kita Shinju!!" teriak tuan Kim senang dan berjalan pergi dari kamar.


"Ya kau benar, aku tidak sabar melihat seorang cucu!" teriak Tuan Shinju senang dan berjalan mengikuti tuan Kim.


"Mmmm..." desahku menatap Lanlan yang tersenyum senang kearahku.


"Kak Lanlan...kenapa kamu...tersenyum sendiri?" tanyaku bingung. Lanlan menciumku dan memelukku erat.


"Bagaimana aku tidak tersenyum mendengar kalau aku akan menjadi seorang ayah..." gumam Lanlan senang.


"Oh benarkah? Apa kamu sesenang itu?" tanyaku pelan.


"Ya pastinya, baiklah kamu mulai sekarang tidak boleh pergi kemanapun jika tidak bersamaku, kamu harus makan banyak, dan kamu harus mengurangi minum wine!"


"Eeeh mana bisa begitu!" protesku kesal.


"Aku suamimu dan kamu harus menuruti ucapanku sebagai istri yang baik, apa kamu mengerti!"


"Tapi kak Lanlan, aku harus pergi ke Amerika...mana mungkin bisa dibatalkan!" ucapku serius.


"Tidak boleh!"


"Tapi kak Lanlan..."


"Kalau kamu mengotot ikut aku akan ikut juga denganmu!"


"Tapi kan kamu harus memimpin perusahaanmu kan dan juga bagaimana dengan mafiamu!"


"Kamu dan anakku lebih penting dari pada mafia, aku tidak mau tahu!"


"Haish, baiklah kalau begitu tanyalah kepada tetua apa kamu boleh ikut."


"Ya nanti aku akan mengaturnya, istirahatlah dulu sayang..." gumam Lanlan berbaring di sebelahku.


"Hmmm..." desahku pelan.


Percuma juga berdebat dengan Lanlan, dia memiliki pangkat dua kali lebih tinggi dari Alan. Apapun yang dia mau pasti bisa didapatkannya, dan dengan keadaan hamil seperti ini...mana bisa aku melakukan tugasku?

__ADS_1


__ADS_2