Tangan Kanan Tuan Muda Mafia

Tangan Kanan Tuan Muda Mafia
Episode 84 : Menenangkan Lanlan


__ADS_3

Tetua dan Lanlan melangkahkan kaki melewati lorong, wajah Lanlan yang marah membuatku sedikit ketakutan bahkan saat aku menciumnya, Lanlan tidak ada respon sama sekali yang membuatku sedih dan aku hanya terdiam menyembunyikan wajahku di dada Lanlan.


"Kalian istirahatlah, aku akan berbicara dengan pria tua itu!" Ucap tetua dingin dan berjalan pergi sedangkan Lanlan menghela nafas panjang dan membuka pintu di depan kami.


"Sudah malam istirahatlah..." guman Lanlan membaringkanku tapi aku terus menggenggam pakaian Lanlan dan berusaha menutupi wajahku.


"Istirahatlah!" Ucap Lanlan dingin tapi aku terus menyembunyikan wajahku.


Lanlan terduduk dan berusaha melepas genggamanku yang membuat tangisku terdengar keras.


"Kamu menangis?" Tanya Lanlan terkejut dan mengangkat wajahku yang penuh dengan air mata.


"Kenapa kamu menangis?"


"L-Lanlan a-aku ..."


"Ya, ada apa?"


"Aku takut kamu marah Lanlan, aku takut kamu..."


"Marah?"


"I-iya gara-gara Elang tadi a-aku takut kamu marah dan mencampakkanku aku..."


"Kenapa kamu takut? Bukannya kamu sudah melihat wajah asli Elang seharusnya kamu jatuh cinta padanya dong!" Ucap Lanlan dingin yang membuatku menangis kencang.


"Huuuaaaa!!!" Tangisku kencang dan mengambil senjata Lanlan yang tersembunyi di balik jubahnya.


"Lebih baik aku mati kalau kamu marah dan mengusirku Lanlan! Huuuuaaa!" Tangisku kencang yang membuat Lanlan merebut senjatanya dan membuangnya ke lantai.


"Kamu kenapa menangis? Kamu tidak jatuh cinta padanya?"


"Tidak! Aku mencintaimu Lanlan, kau suamiku! Tidak mungkin aku menyukai pria lain!"


"Tapi dia sangat tampan dariku apalagi kau tahu wajah asliku pastinya kamu..."


"Tidak! Aku tidak mau! Aku mau kamu Lanlan!" Teriakku kencang dan Lanlan menghela nafas pelan.


"Baiklah apa yang kamu inginkan?"

__ADS_1


"Aku ingin kamu Lanlan... Aku..." gumamku pelan, Lanlan langsung membuka pakaiannya dan berbaring di tempat tidur.


"Baiklah lakukanlah yang kamu inginkan asalkan jangan menangis!" Ucap Lanlan dingin dan aku kembali menangis kencang.


"Haish apa yang kamu inginkan istriku?" Gumam Lanlan memelukku dan mengusap rambutku lembut sedangkan aku hanya terdiam sambil terus sesenggukan.


"Sudah jangan menangis, aku tidak akan marah, hanya tidak percaya kamu tidak tergoda dengan ketampanan Elang itu?"


"Aku tidak tertarik ketampanan, aku hanya tertarik padamu Lanlan..." gumamku pelan dan Lanlan mendekatkan dahinya ke dahiku.


"Benarkah?" Tanya Lanlan pelan dan langsung menciumnya lembut sambil mendorongnya ke tempat tidur.


"Tentu saja, kamu milikku Lanlan..." gumamku pelan dan aku sedikit mengangkat tubuhku.


"Benarkah aku uugghhh..." rintih Lanlan pelan saat aku terduduk di atas tubuh Lanlan.


"Ya untuk apa aku berbohong." Aku mengusap pipi Lanlan dan mempermainkannya.


"K-kamu tumben sangat bersemangat istriku? Apa gara-gara perilaku Elang tadi?"


"Ya, dia memancing nafsuku tapi aku memilih melakukannya denganmu..." bisikku pelan yang membuat Lanlan tertawa.


"Ya, kamu suamiku tentu aku akan melakukan itu."


"Hmmm aku kira kamu akan tergoda kepada Elang itu."


"Aku tidak akan melakukannya Lanlan, aku sudah berjanji pada diriku sendiri kalau aku akan setia kepadamu..." desahku terbaring di atas tubuh Lanlan.


"Benarkah? Kamu tidak mencintai pria lain?" Tanya Lanlan pelan yang membuatku menatapnya dingin.


"Tidak ada."


"Dengan Alan?"


"Tidak."


"Benarkah?" Ucap Lanlan mengerutkan dahinya.


"Jika kamu tidak percaya kamu bisa membunuhku!" Ucapku mengarahkan tangannya di leherku dan Lanlan mencengkeram leherku kuat.

__ADS_1


"Uuugghhhh..." rintihku pelan dan tidak lama Lanlan melepaskan cengkeraman leherku.


"Walaupun aku tidak percaya denganmu dan ingin membunuhmu saat kamu bersama dengan pria lain tapi kini aku sadar kamu milikku Sani, tidak mungkin aku membunuh istriku sendiri. Tapi disisi lain aku takut kalau kamu tergoda dengan pria lain."


"Seharusnya aku yang takut kamu tergoda wanita lain Lanlan, kamu kuat dan hebat pasti banyak wanita yang tergila-gila padamu apalagi kamu juga akan tergila-gila kepada wanita yang hebat diluar sana Lanlan."


"Tidak ada, aku tidak bisa tergoda wanita lain. Pernikahan kita tidak bisa dibatalkan sampai kapanpun!" Ucap Lanlan pelan.


"Apa kamu ingin membatalkan pernikahan denganku?" Tanyaku pelan dan Lanlan menjentikkan dahiku kuat.


"Pertanyaan bodoh macam apa itu? Aku tidak akan melakukannya, selamanya kamu milikku Sani!" Ucap Lanlan memelukku erat.


Tookk..Tookk...Toookkk


Terdengar suara ketukan pintu yang sangat kuat, aku merapikan pakaianku dan membuka pintu kamar. Di depan aku melihat Elang yang berdiri menatapku dingin.


"Eehh mmm ketua, ada apa?" Tanyaku pelan.


"Aku hanya ingin..."


"Apa yang kau inginkan dari istriku?" Ucap Lanlan dingin dan memelukku erat dari belakang.


"Ciihh kau lagi! Seharusnya kau tidak bisa berada disini, bisa-bisanya kau menempati markas mafia tertinggi!" Ucap Elang dingin.


"Lalu kenapa? Dimanapun ada istriku disitu aku ada dan lagi aku... Tidak akan membiarkan siapapun mengambil kesempatan selama istriku jauh dariku!" Ucap Lanlan dingin dan Elang terdiam tersenyum dingin sambil melempar sebuah gulungan kepadaku.


"Itu sebuah tugas dari tetua dan keputusan antara kamu mau mengambilnya atau tidak ada padamu..." gumam Elang dingin dan berjalan pergi.


"Oh ya dengarkan baik-baik Lanlan... Apapun dan siapapun yang kau suka dan kau milikki maka aku juga akan suka dan akan menjadi milikku!" Ucap Elang dingin dan berjalan pergi. Aku menatap Lanlan yang terlihat wajah marahnya kembali membuatku bingung.


Apa aku harus benar-benar menjaga jarak dengan Elang agar Lanlan tidak marah seperti ini? Batinku. Aku mencium pipi Lanlan dan menariknya masuk ke dalam kamar kembali


"Ada apa?" Tanya Lanlan dingin tapi aku hanya terdiam membaca gulungan di tanganku.


Tugas untuk menyelidiki mafia musuh telah di terima tetua X sehingga aku bisa memulai penyelidikanku. Batinku.


"Sani!" Teriak Lanlan kencang yang membuatku menatap dingin Lanlan dan mendorongnya ke tempat tidur.


Aku langsung menciumnya dan kembali mempermainkannya. Aku berpikir tentang rencana apa yang akan aku lakukan untuk menyelidiki mafia musuh apalagi aku juga sedang hamil beberapa bulan saat ini jadi aku harus memikirkan rencana yang lainnya.

__ADS_1


__ADS_2