Tangan Kanan Tuan Muda Mafia

Tangan Kanan Tuan Muda Mafia
Episode 29 : Bertemu Kembaran Liu


__ADS_3

Selama menjadi juri aku melihat banyak sekali ornag - orang yang bertarung di bawah kami dengan serius. Kenaikan lencana sangat dibutuhkan di dunia mafia sebagai pengakuan dari seluruh mafia di dunia ini jadi tidak heran seluruh ketua mafia berlomba - lomba untuk bisa berada di lencana level SSS itu.


"Sani mau kemana kamu?" teriak Hasan di belakangku


"Aku tidak kemanapun, aku hanya menjalankan tugasku saja"


"Kamu tidak boleh terpisah deri kami"


"Kenapa juga, aku bisa mengatasinya sendiri"


"Haish dasar ..." desah Hasan mengacak rambutku


"Apapun yang terjadi kamu harus selalu bersamaku, paham!!"


"Ya terserah kalian berdua saja" gumamku pelan


"Yang penting jangan ganggu mangsaku" gumamku dingin


"Heeh sombong" gerutu San dingin


"Suka - suka aku lah... Iri banget sih!!" gerutuku kesal


"Udahlah kalian berdua berantem mulu" desah Hasan menggelengkan kepalanya


"Tuh adikmu ngeselin"


"Adikmu juga ngeselin"


"Udah lah kalian berdua, hmmm kalau kalian dulu bener - bener di jodohkan pasti perang dunia ke lima" desah Hasan pelan


"Iihhh ngurusin kembarannya aja membuatku muak apalagi nenek sihir ini" gerutu San dingin


"Siapa juga yang mau sama kamu, ngadepin kembaranmu aja bikinku kesal apalagi ngadepin si serigala tua ini" gerutuku dingin


"Hmmm kalian berdua ini" desah Hasan berdiri di tengah - tengah aku dan San lalu merangkul kami dengan tatapan dingin


"Kalian bisa diem sekarang? Jangan dikira aku tidak bisa marah!!!" gerutu Hasan dengan tatapan sangat menakutkan


"Eee... Ba.. Baik" desahku dan San bersamaan


"Hmm baguslah.." desah Hasan melepaskan rangkulannya


"Kita harus waspada tahu!!"


"Serigala tua ini yang memulainya kak!!" protesku


"Nenek sihir ini loh yang memulainya kak!!" protes San kesal


"Kalian berdua ini!!!" teriak Hasan mengayunkan pedangnya dan membuat beberapa pohon di depan kami tumbang tanpa aku sadari aku dan San saling berpelukan


"Me...Menakutkan..." gumam kami berdua terkejut


"Mau membuatku marah lagi!!!" protes Hasan kesal


"Ti... Tidak, am... Ampun ketua mafia senior" gumamku dan San pelan


"Huufftt... Untung kalian orang yang ku sayang, kalau tidak ku potong kalian seperti pohon itu!!" desah Hasan


"Kak San, kakakmu menakutkan sekali sih.." gumamku pelan


"Ya memang dia seperti harimau kelaparan kalau marah"


"Kalau dia tidak dijodohkan denganku apa ada yang mau dengan dia?"


"Mmm sepertinya tidak ada, dia kan udah tua siapa juga yang mau dengan orang tua"


"Hmmm ya benar juga, kalau aku gak dijodohkan aku juga gak mau sama dia"


"Apa lagi aku juga gak mau dengan adikmu yang menyebalkan itu"


"Kenapa ya hidup kita menderita" bisikku pelan


"Lebih menderita akulah punya kakak seperti harimau kelaparan seperti itu"


"Sama saja aku juga menderita punya suami seperti itu..." bisikku pelan


"San... Sani apa yang barusan kalian katakan kepadaku!!!" gerutu Hasan berdiri di depan kami dengan wajah kesal


"Kak San sepertinya dia marah"


"Ya, kalau begitu kita harus kabur!!!" teriak San berlari dan aku juga ikut berlari

__ADS_1


"Hahaha" tawa kami kencang


"Kembali kemari kalian anak nakal!!!" teriak hasan kesal


"Hahaha ..." tawaku dan San berusaha berlari menghindari Hasan. Di saat aku berlari menghindari Hasan aku tidak sengaja menabrak seseorang di depanku dan membuatku terjatuh ke tanah


Brrruuuuukkkk


"Ma... Maaf..." gumamku pelan tapi laki - laki itu hanya terdiam di depanku, aku menatap laki - laki yang sangat tampan di depanku, matanya berwarna merah seperti mataku


"Kita bertemu lagi Sani Shin" gumam laki - laki itu tersenyum dingin kearahku


"Siapa kamu?"


"Oh kamu sudah melupakan aku ya? Sangat menyebalkan seperti adikmu itu..." gumam laki - laki itu menunjuk ke arah tubuh Sain yang terluka di tanah


"Sain!!!" teriakku berlari ke arah Sain


"Sain kamu tidak apa - apa?" gumamku khawatir tapi Sain tidak bergerak sama sekali, denyut nadinya masih ada mungkin dia sedang pingsan


"Apa yang kamu lakukan kepada adikku?" gerutuku kesal


"Aku hanya memberinya pelajaran saja, emang salah?" gerutu laki - laki itu dingin


"Kamu masih bertanya, ya jelas salah lah... Dia adikku tahu!!" gerutuku kesal


"Lalu?"


"Kamu harus mati di tanganku!!!" teriakku kesal


"Hahaha mati di tanganmu?" tanya laki - laki itu menarikku dan mendorongku di pohon belakangku


"Lalu apa yang bisa kamu lakukan untuk membunuhku wanitaku?" gumam laki - laki itu menekan kedua tanganku yang membuatku tidak bisa menyerangnya


"Siapa kamu sebenarnya?" gumamku dingin


"Kamu tidak perlu tahu siapa aku... Jadilah wanita penurut untukku kamu akan tahu siapa aku sebenarnya" bisik laki - laki itu pelan


"Katakan siapa kamu?"


"Kenapa kamu ingin tahu wanitaku?" bisik laki - laki itu di telingaku


"Yang melukainya bukan aku..."


"Lalu siapa lagi kalau bukan kamu!!"


"Yang melakukannya kembaranku bukan aku" gumam laki - laki itu menunjuk ke salah satu laki - laki bermata biru yang terduduk di atas pohon


"Kenapa juga kakak memberitahukan dia sih"  gerutu laki - laki bermata biru itu dengan kesal


"Kenapa kamu melukai adikku!!" gerutuku kesal


"Aku tidak melukainya, dia istriku jadi aku hanya ingin dia saja emang gak boleh?.."


"A... Apa? Istri katamu?" teriakku terkejut


"Ya apa yang dikatakan adikku benar, adikmu adalah istri adikku sedangkan kamu adalah istriku"


"Sejak kapan aku punya suami sepertimu?"


"Hmmm sepertinya chip di tubuh kalian membuat kalian lupa ingatan ya..." desah laki - laki itu pelan


"Kamu tahu masalah chip itu?"


"Ya kami tahulah, keluarga Kim yang memberikannya kepada kalian berdua ... Ckckck kasihan juga ya hidup kalian..." desah laki - laki bermata merah itu menyibakkan rambutku yang ada di leher


"Kamu ingin tahu apa yang adikku lakukan kepada adikmu kan?"


"Aku akan memberitahukanmu..." gumam laki - laki bermata merah itu mengigit leherku dengan kuat


"Uuukkkhh... Sa... Sakit... A.. Apa yang kamu lakukan?" rintihku kesakitan


"Tenang saja, aku hanya akan mengambil chip yang ada di tubuhmu  wanitaku" gumam laki - laki bermata merah itu pelan


"Si... Siapa kalian sebenarnya?" rintihku kesakitan


"Aku Hassan dia kakakku Sann, kami dari keluarga Liu dan kalian berdua sebenarnya istri kami" gumam Hassan Liu dingin


"Ke... Kenapa nama kalian sama dengan keluarga Kim itu?"


"Kita berbeda nama, nama mereka tidak ada huruf yang double sedangkan kami ada, aku di S nya sedangkan kakaku di N nya. Dan nama mereka dan nama kami hanya terbalik saja, jika nama San di keluarga Kim itu anak kedua sedangkan di keluarga Liu anak pertama sedangkan Hasan di kelurga Kim itu anak pertama di keluarga kami anak kedua" gumam Hassan Liu pelan

__ADS_1


"Ke... Kenapa kalian bilang kalau aku dan adikku adalah istri kalian berdua" gumamku pelan


"Ya sebenarnya kamilah yang menjadi suami kalian karena kita sama - sama dari Jepang dan ibumu juga bermarga Liu, emang turun temurun keluarga kita selalu dinikahkan. Cuma karena ayahmu meminta tolong keluarga Kim untuk menyembuhkanmu karena penyakit dalammu sehingga keluarga Kim meminta kalian berdua menjadi istri kedua kembar itu jadi ya untuk membuat kalian tidak memberontak makannya di pasang chip itu" gumam Sann Liu serius


"Oh benarkah, apa kalian punya buktinya?" rintihku pelan, sambil terus menggigit leherku Sann Liu menggenggam tanganku dan mengangkat tangan kami.


Aku melihat gelang yang aku pakai sama seperti gelang Sann dan ternyata saat gelang kami digabungkan muncul tulisan nama kami berdua


"Ja... Jadi gelang ini?" gumamku terkejut


"Ya ini gelang yang diberikan secara turun temurun Sani" gumam Hassan Liu serius


"Aaaaauuuu ... Sakitnya!!!" teriakku kesakitan saat Sann Liu menggigit lebih dalam lagi


"Tahanlah sedikit sayang" gumam Sann Liu menggenggam erat tanganku


"Aku salut denganmu masih bisa bertahan sedangkan kembaranmu sudah pingsan dari tadi" gumam Hassan Liu duduk di sebelah Sain


"Bertahan apanya, sakit iya tahu!!!" gerutuku kesal


"Udah, ini chip milikmu" gumam Sann Liu mengambil sebuah chip di leherku


"Huuuhh... Huuuhhh... Makasih" desahku terjatuh ke tanah


"Kamu tidak apa - apa sayang?"


"Ti... Tidak, cuma sedikit nyeri saja" gumamku pelan


"Hmmm..." desah Sann Liu mengoleskan obat merah ke lukaku


"Aaaauu,.."


"Tahanlah sedikit"


"Hmmm kenapa kalian bisa tahu cara melepaskan chip itu?"


"Ibumu yang memberitahukan kepada kami"


"Ibu? Bukannya ibu sudah?"


"Tidak, ibumu masih hidup walaupun sekarang ini kritis. Dia ingin bertemu dengan kalian berdua sebelum ibumu tenang"


"Hmmm tapi, aku harus membalas dendam kematian keluargaku dulu"


"Mafia tertinggi ya?"


"Kamu tahu?"


"Apa yang tidak aku ketahui?"


"Dia ketua mafia senior pusat, apa yang tidak dia ketahui" gumam Hassan Liu santai


"Mafia senior pusat? Bukannya mafia senior hanya Hasan Kim yang memimpin ya"


"Bukan, dia memimpin mafia senior barat yang hanya mempunyai anggota sedikit. Kalau aku mafia senior pusat dan punya banyak anggota di seluruh dunia" gumam Sann Liu menjentikkan tangannya dan keluarlah banyak orang yang memakai pakaian putih berdiri di sekitar kami


"Ba... Banyaknya" desahku terkejut


"Ya ini adalah anggota mafia lencana S bintang 5, mafia tertinggi dari pada kamu yang hanya S bintang 3"


"Hmmm ya sudah terlihat menakutkan" desahku pelan dan Sann Liu kembali menjentikkan tangannya yang membuat anggota mafianya pergi dari sekitar kami


"Kamu terluka istriku, kamu harus istirahat sebentar" gumam Sann Liu menggendongku


"Tidak perlu, aku tidak apa - apa"


"Udah lukamu harus di balut dulu" gumam Sann Liu melangkahkan kakinya


"Tapi kalau si kembar itu datang bagaimana?"


"Tenang saja mereka tidak tahu kehadiran kami... apalagi tidak masalah juga bertarung dengan mereka"


"Jangan bertarung dengan mereka..."


"Kenapa? Kamu sudah jatuh cinta kepada Hasan?"


"Tidak, aku sama sekali tidak punya rasa kepada Hasan sama sekali"


"Oh benarkah baguslah, apapun yang terjadi kamu istriku dan seharusnya memang seperti itu" gumam Sann Liu mencium keningku dan terus melangkahkan kakinya


Selama di gendongan Sann Liu, aku masih bingung sebenarnya dengan siapa aku dijodohkan? Kenapa ada banyak sekali yang mengaku aku istri mereka, kenapa takdirku membingungkan seperti ini. Kalau memang ibuku masih hidup, aku harus mendengarkan penjelasan dari ibu sebenarnya

__ADS_1


__ADS_2