
"Sani, bangun.." gumam Ryuki memencet hidungku
"Kamu suka banget sih memencet hidungku!!" gerutuku pelan
"Hidungmu lucu sih"
"Hmmm" desahku tertidur lagi
"Heeei bangun lah!!" gerutu Ryuki mendorongku dan kepalaku terbentur kaca di belakangku
Duuuukkk
"Aaaauuu... " rintihku memegang kepala bagian belakangku
"Eeee, kamu tidak apa - apa?" tanya Ryuki terkejut
"Sakit tahu, ini kepala bukan batu!!!" gerutuku kesal
"Maa... Maaf aku tadi tidak sengaja mendorongmu kencang" gumam Ryuki memelukku dan mengusap rambutku
Cekreeekk
Tiba - tiba pintu mobil terbuka lebar dan muncul wajah tampan yang menatap kami
"Waaahh ternyata gak turun - turun malah berduaan sama wanita" sindir laki - laki itu sambil tertawa
"Sejak kapan si laki - laki berdarah dingin ini terpikat oleh wanita" sindir laki - laki itu terus tertawa tapi Ryuki hanya terdiam
"Ini bisa menjadi gosip terbaru nih kalau laki - laki berdarah dingin ini berduaan dengan wanita di dalam mobil" sindir laki - laki itu menatap kami
"Kalau yang lain tahu, pasti.." gumam laki - laki itu memutar matanya
"Kalau kamu ngebacot lagi aku penggal kepalamu" ucap Ryuki dengan nada dingin dan sedikit tinggi yang membuat aku yang ada di dekatnya sedikit takut
"Eeeehh ampun bos, gitu aja marah... Aku hanya bercanda, hehehe" tawa laki - laki itu cekikikan
"Ada apa kamu kemari tanpa seizinku" gumam Ryuki dingin sambil melepaskan pelukannya
"Mereka sudah menunggumu tahu, kamu malah di mobil sama wanita lagi, ngapain kamu bawa orang asing" gumam laki - laki itu dingin
"Dia wanitaku, kamu akan tahu maksudku" desah Ryuki mengajakku turun dari mobil
"Jangan bilang kamu percaya dengan dia?"
"Ya, aku percaya dengan dia, emnag kamu meragukanku?" gumam Ryuki enatap laki - laki itu dingin
"Tidak juga kalau dia tikus bagaimana?"
"Tenang saja dia bersamaku setiap hari, jadi jangan kamu khawatirkan itu" gumam Ryuki santai
"Denganku? Setiap hari? Haish sejak kapan kamu berubah Ryuki" desah laki - laki itu menggelengkan kepalanya
"Sejak dia milikku"
"Oh benarkan, tapi cantik juga... Mmm oh ya kenalin aku Lanlan, siapa namamu?" gumam laki - laki itu tersenyum kepadaku
"Aku Sani Shin"
"Shin? Kamu anak tuan Shin yang hebat itu?" tanya Lanlan terkejut
"Mmmm, hebat?" gumamku terkejut
"Kamu tidak tahu ayahmu siapa?"
"Tidak, emang siapa ayahku?"
"Kamu tidak perlu tahu" gumam Ryuki dingin
"Kenapa?"
"Mungkin kamu sedikit terkejut sih"
"Tidak apa, aku penasaran. Beri tahu aku"
"Tidak"
"Kumohon Ryuki"
"Sudah aku saja yang memberi tahukanmu" gumam Lanlan santai
"Tidak perlu"
"Ryuki aku ingin tahu, aku anaknya apa salah aku kalau aku tahu?" gumamku memohon
"Hmmm, beritahu dia kalau begitu Lanlan" desah Ryuki mengalah
"Wah kamu bisa mengalah juga ya"
"Kamu jadi memberitahukan dia tidak!!" protes Ryuki dingin
"Ya ya aku beritahu... Hmm ayahmu dulu pemimpin mafia gelap sebelum Ryuki"
"Apa? Benarkah?" tanyaku terkejut
__ADS_1
"Ya itulah kenyataannya, kita sudah pernah bertemu beberapa kali waktu kamu masih kecil dan Lanlan juga sudah pernah bertemu denganmu sebelumnya" gumam Ryuki santai
"Oh ya ya aku ingat, gadis cilik yang tembem dan polos itu kamu ternyata" gumam Lanlan mencubi pipiku
"Hei dia wanitaku" protes Ryuki dan Lanlan melepaskan tangannya
"Tapi kan aku dari dulu suka mencubit pipinya" gumam Lanlan kesal
"Sekarang gak boleh"
"Aaah kamu pelit lah Ryuki"
"Enggak ya enggak!!" protes Ryuki kesal
"Hmm baik - baik" desah Lanlan pelan
"Tunggu, kita pernah bertemu? Tapi aku hanya ingat aku pernah diajak ayah bertemu dengan Tuan Kun dengan seorang anak laki - laki, itu saja" gumamku serius
"Anak laki - laki itu aku, aku anak Tuan Kun... Kamu hanya ingat itu aja?"
"Ya, aku hanya ingat itu aja"
"Wajar saja sih dia dulu masih kecil" gumam Lanlan pelan
"Ya mungkin saja"
"Mmm tapi ayah hanya pernah menceritakan mafia gelap kepadaku tapi ayah tidak pernah menceritakan kalau ayah ketuanya"
"Ya pastilah, ayahmu tidak ingin kamu tahu... Makanya aku tidak mau memberitahukanmu" gumam Ryuki menggandeng tanganku dan berjalan menuju ke sebuah kapal pesiar yang besar di depan kami
"Oh begitu ya, padahal kalau aku tahu juga tidak masalah sih" desahku pelan
"Oh ya Sani, kamu tidak pernah di latiih ayahmu?" tanya Lanlan menatapku
"Dilatih? Mmm seingetku sih pernah, dulu pernah dilatih pedang sama menembak"
"Oh benarkah? Waah aku ingin juga dilatih dulu, sayangnya hanya Ryuki yang dilatih dua - duanya sedangkan aku hanya dilatih menembak saja" gerutu Lanlan kesal
"Kamu dilatih ayahmu? Kenapa kamu tidak bilang?" tanya Ryuki menatapku
"Kamu tidak bertanya kok" gumamku pelan
"Hmmm seharusnya kamu bilang lah"
"Emang kenapa aku harus memberitahukanmu?" deshaku bingung
"Kita bisa latihan bersama"
"Latihan bersama? Boleh saja"
"Kamu menembak saja, kalau kamu berlatih pedang kamu semakin liar lagi" desah Ryuki pelan
"Liar? " tanyaku terkejut
"Ya dia wakil ketua, dia kalau sudah di medan perang udah lupa segalanya semua yang ada di depannya dibunuhnya tanpa tersisa" gumam Ryuki menatapku
"Hei, yang lebih parah kamu lah... Kamu aklau sudah di medan perang apapun kamu bunuh tanpa sisa dan kebanyakan kamu penggal kepalanya ya" gumam Lanlan kesal
"Oh ya? Jadi merinding aku" gumamku sedikit menjauh
"Haish jangan dengarkan dia" gumam Ryuki menarikku kembali
"Nanti kamu membunuhku bagaimana?" gumamku pelan
"Tenang saja aku tidak akan melakukannya, aku akan menjagamu" gumam Ryuki mengajakku naik ke atas kapal pesiar yang besar itu
Di dalam kapal itu aku melihat banyak sekali oraang yang berpakaian mewah dan juga di delamnya didekorasi lebih mewah dari pada tampilan di depannya, aku kira hanya kapal pesiar biasa tapi ternyata lebih mewah seperti kapal pesiar yang memiliki harga miliyar dollar
Saat aku dan Ryuki masuk ke dalam kapal itu, orang - orang yang tadi sibuk dengan urusannya masih - masing langsung menundukkan badan mereka dengan hormat bahkan kepadaku juga. "Apa Ryuki ini orang penting ya sampai - sampai dia dihormati seluruh orang yang ada di dalamnya, tidak mungkin juga kan karena dia seorang CEO atau hanya karena ketua mafia saja?" gumamku dalam hati
"Apa yang kamu fikirkan?" ucap Ryuki menatapku
"Tidak ada, cuma agak canggung saja"
"Oh ya, padahal dulu waktu kamu kecil kamu sangat senang di hormati seperti ini"
"Itu kan waktu kecil yang belum mengerti apapun" gerutuku kesal
"Iya sama saja tau"
"Enggak ya" protesku kesal tapi Ryuki tersenyum kepadaku dan mengajakku ke sebuah meja yang banyak makanannya
"Makanlah dulu, kamu tadi belum sarapan" gumam Ryuki mengambilkan pancake untukku
"Terimakasih Ryuki" gumamku melahap pancake itu
Tiba - tiba musik pesta berbunyi dan seluruh orang yang ada di pesta itu berdansa menikmati pesta yang sedang berlangsung
"Mmm Ryuki" desahku pelan
"Iya, ada apa?"
"Kita mau ngapain disini?"
__ADS_1
"Aku agenda rapat dengan anggota mafiaku"
"Jadi kamu yang akan rapat sendiri?"
"Tidak, aku akan rapat denganmu"
"Kenapa denganku?"
"Ya kan kamu sekarang jadi tangan kananku jadi kemanapun dan apapun yang aku lakukan kamu harus bersamaku"
"Oh baiklah tuan"
"Kan sudah bilang ... Jangan panggil aku tuan panggil aku Ryuki saja"
"Iya aku tahu, aku hanya ingin menghormatimu saja"
"Tidak perlu, kamu milikku jadi kamu harus bersikap biasa kepadaku. Biar orang lain yang harus menghormatiku" gumam Ryuki mengusap rambutku
"Kenapa semua orang yang ada disini menghormatimu Ryuki? Apa mereka bawahanmu?"
"Bukan, mereka hanya petinggi perusahaan saja"
"Tapi kenapa bisa sehormat itu?" tanyaku bingung
"Karena Ryuki orang penting jadi mereka menghormatinya" gumam Lanlan meminum wine yang ada di gelasnya
"Orang penting?" gumamku bingung
"Ya kalau kamu sekarang jadi orang terpenting di hidup Ryuki, kamu akan tahu"
"Aku? Orang terpenting?" gumamku tambah bingung
"Iya, memang kamu orang terpenting di dalam hidupku"
"Hmmm aku tidak mengerti maksudmu" desahku melahap pancakeku
"Sudah tidak usah kamu pikirkan" gumam Ryuki tersenyum
"Oh ya Ryuki apa kamu mempercayai dia karena dia..." desah Lanlan menatap Ryuki
"Iya bisa di katakan seperti itu"
"Hmmm enak ya kamu Ryuki dapat yang bening seperti ini"
"Mmm ya begitulah... Makanya aku tidak akan melepaskannya"
"Ingatlah Ryuki kamu melepaskannya pasti banyak yang ingin merebutnya"
"Memang, adikku sendiri juga"
"Yaaah kalau itu wajar saja sih, aku juga tertarik"
"Tidak aku biarkan milikku dimiliki orang lain" gerutu Ryuki kesal
"Hahaha aku sudah tahu itu, berebut denganmu itu tidak akan mungkin" desah Lanlan tersenyum dingin
"Memang, apapun yang menjadi milikku tidak akan aku lepaskan" gumam Ryuki memeluk tubuhku
"Kenapa kamu memelukku?" gumamku bingung
"Tidak ada" gumam Ryuki salah tingkah
"Hahaha, ternyata Ryuki bisa melakukan hal lucu juga ya" tawa Lanlan keras
"Kamu jadi suka menertawaiku ya Lanlan" gumam Ryuki dingin
"Ya benar, biasanya kamu dingin, tidak peduli, pendiam dan sangat menyebalkan cuma semenjak ada Sani di sampingmu kamu jadi mau tersenyum dan banyak omong"
"Emang Ryuki seperti itu ya?" gumamku menatap Lanlan
"Iya begitulah, makanya banyak wanita yang tidak mau dengannya dan takut dengannya. Tapi kamu bisa nyaman saja ya dengan Ryuki" gumam Lanlan bingung
"Mmm Ryuki sangat baik kepadaku, dia jarang berperilaku dingin, tidak peduli dan jarang juga menyebalkan" gumamku pelan
"Ya karena kamu orang spesial bagi Ryuki jadi wajar saja sikapnya ke kamu berubah"
"Spesial? Spesial apa maksudnya?"
"Karena Ryuki menyukaimu" ucap Lanlan keras
"Ryuki? Menyukaiku?" gumamku terkejut
"Eeeeh.. Mmm .. Aduh aku keceplosan" gumam Lanlan menutup mulutnya dengan kedua tangannya
Aku masih tidak percaya Ryuki menyukaiku, aku menatap Ryuki dengan bingung tapi Ryuki hanya diam tanpa kata
"Ryuki kamu menyukaiku?" gumamku menatap Ryuki serius tapi Ryuki masih tetap diam
Tttiiiiiitt... tttiiittt .. Tttiiittt
Tiba - tiba suara tam tangan Ryuki berbunyi keras, Ryuki menatap jam tangannya dan meletakkan gelas wine yang drai tadi dia genggam
"Sudah waktuny rapat, ayo kita pergi" gumam Ryuki menggandeng tanganku meninggalkan aula pesta itu
__ADS_1
Aku masih penasaran dengan perkataan Lanlan tadi, apa benar Ryuki menyukaiku? Tapi sedikit senang sih ada orang yang menyukaiku, apalagi aku juga menyukai Ryuki diam - diam