
Aku menatap wajah pria itu dengan teliti dan saat aku menatapnya aku mengingat seorang pria yang pernah menolongku saat aku hampir terjatuh ke jurang karena Cantika yang mendorongku dari atas tebing waktu itu.
"Sani...apa yang kamu lakukan disini?" tanya tuan Shinju di belakangku.
"Mmmm ti...tidak ada ayah, hanya menatap foto itu saja...mmm ayah apa pria itu kakak kandungku?" gumamku menunjuk foto pria di depanku.
"Ya namanya Tian Khun...dia anak yang baik tapi dia sangat kejam. Sebelum pergi dia mampir ke rumah dan meminta agar ayah mengganti marganya dengan marga Khun, setelah itu dia pergi entah kemana sampai sekarang tidak bertemu."
"Tian...Khun? Apa itu nama asli kakak ayah?" tanyaku penasaran.
"Ya itu nama aslinya."
"Tian ya..." desahku menatap gulungan tugas di tanganku.
"Eehh mmm ayah bisakah aku datang ke makam ibu?"
"Kamu mau kesana? Ini sudah hampir malam." tanya Tuan Shinju mengangkat alis kirinya.
"Iya ayah, kak Fiyoni juga ingin kesana!" gumamku menatap Fiyoni yang sedang turun dari tangga.
"Haah? A...aku? Kenapa juga aku?" protes Fiyoni dingin.
"Baiklah mari ayah tunjukan jalannya.." gumam tuan Shin berjalan mendahului kami, aku menarik tangan Fiyoni dan mengikuti tuan Shinju.
"Iiihh kenapa kau mengajakku sih!" gerutu Fiyoni kesal.
"Udah ikut saja!" gerutuku terus menarik tangan Fiyoni.
Setelah berjalan menuju ke belakang rumah, aku melihat makam yang bertuliskan Wulan Shinju di depanku, aku terduduk di sebelah makam dan tidak terasa aku benar-benar menangis.
"I...ibu...ma...maaf kalau Sani selama ini tidak tahu kalau ibu telah tiada, ibu maafkan Sani yang masih menjadi anak durhaka. Ibu, Sani berjanji kepada ibu akan membalaskan dendam kematian ayah dan ibu. Ibu semoga ibu bahagia ya di surga bersama ayah Shin ya, disini Sani akan menjaga ayah bersama dengan kak Fiyoni. Semoga Sani bisa menemukan dimana kakak berada ibu ..." gumamku mengusap nisan makan ibuku dan sedikit membungkukkan badanku lalu pergi.
"Sudah selesai?" tanya Fiyoni terkejut.
"Ya..." gumamku mengusap air mataku dan berjalan pergi.
"Eeehh terimakasih ayah, oh ya ayah nanti kalau Sani siap ayah rubah juga margaku jika aku sudah tidak mau marga Shin lagi..." gumamku kembali berjalan memasuki rumah.
Saat aku masuk ke dalam kamar, Lanlan berdiri di belakang pintu sambil menatapku dingin. Aku menundukkan wajahku dan benar-benar tidak berani menatap Lanlan.
"Kamu dari mana saja istriku yang bandel?" tanya Lanlan dingin.
"Mmm a...aku tadi dari makam ibu."
"Kenapa kamu tidak bilang?"
"Ma...maaf tadi kamu nampak fokus berbicara dengan wakilmu jadi aku tidak berani mengganggumu..." gumamku pelan, Lanlan memelukku yang membuatku sedikit terkejut.
"Haish kamu jangan membuat suamimu ini khawatir sayang."
"Kamu tidak marah?" tanyaku terkejut.
"Selama kamu kembali datang dan jujur kepadaku aku tidak akan marah kepadamu..." gumam Lanlan menciumku lembut.
"Oh terimakasih sayang..."
__ADS_1
"Ya sudah mari kita pergi, sebentar lagi pesta akan dimulai..."
"Oohh mmm bentar aku mau mandi..." gumamku segera pergi ke kamar mandi dan memakai gaun pesta yang sudah disiapkan oleh Lanlan.
"Mmm bagaimana menurutmu suamiku?" tanyaku pelan, Lanlan berjalan kearahku dan memandangku terkejut.
"Astaga kamu benar-benar cantik istriku..." gumam Lanlan memasangkan kalung di leherku.
"Pakai kalung ini...ini kalung milik keluarga Kim..." gumam Lanlan pelan.
"Baiklah suamiku..." gumamku pelan.
"Mari kita pergi sayang..." gumam Lanlan menarik tanganku keluar rumah keluarga Shinju.
"Tunggu, aku belum berpamitan dengan ayah."
"Ayahmu baru saja pergi saat kamu mandi tadi, makanya mandi jangan lama-lama sayang..." gumam Lanlan mencubit hidungku.
"Ya tadi aku mencoba menghilangkan bekas ciumanmu di leherku tapi tidak bisa hilang, warnanya merah banget tahu!" gumamku pelan.
"Apa kamu malu?" gumam Lanlan menutup pintu mobil.
"Tidak juga, eeeh tapi kan banyak orang Lanlan nanti kalau..."
"Tenang saja, kamu istriku jadi tidak akan ada yang marah..." gumam Lanlan menciumku lembut.
"Ooh baiklah..." desahku menatap keluar jendela.
"Ada apa sayang?"
Disaat aku tertidur, tiba-tiba Lanlan membangunkanku yang membuatku benar-benar terkejut, aku membuka mataku dan menatap Lanlan bingung.
"Kita sudah sampai sayang...apa kamu masih mengantuk?" tanya Lanlan pelan.
"Mmmm i...iya sedikit kok..hhoooaaammm..."
"Setelah pesta kamu bisa tidur di kamarku sayang.." gumam Lanlan menggandeng tanganku turun dari mobil.
Didepan aku melihat pesta yang benar-benar meriah dan pesta itu banyak dihadiri tamu undangan yang datang menggunakan pakaian mahal. Saat kami berdua berjalan ke dalam gedung pesta, aku melihat banyak orang yang menatap kami berdua terkejut sekaligus seperti sangat aneh.
Di dalam aula pesta aku melihat seorang pria paruh baya dan di kiri dan kanannya berdiri San Kim dan Hasan Kim yang sedang mengobrol bersama, aku menundukkan kepalaku berharap dua pria itu lupa denganku.
"Ayah, Lanlan pulang..." gumam Lanlan pelan.
"Oh selamat datang nak, mmm mana istrimu?" tanya pria itu bingung.
"Mmm Selamat ulang tahun tuan Kim..." gumamku sedikit membungkukkan badanku pelan.
"Panggil aku ayah saja... lama tidak bertemu denganmu menantuku..." gumam tuan Kim tersenyum kearahku.
"Ba...baik ayah... Lama tidak bertemu ayah...bagaimana keadaan ayah? Semoga ayah senantiasa sehat..." gumamku terus membungkukkan badanku.
"Ya ayah senantiasa sehat... jangan terlalu formal, biasa saja kepadaku. Berdirilah..." gumam tuan Kim menepuk bahuku dan aku berdiri tegak di sebelah Lanlan.
"Tung...tunggu...bukannya kamu..." tanya Hasan terkejut dan aku hanya tersenyum dingin ke arah Hasan.
__ADS_1
"Oh ya nak, tadi ayahmu bilang kepadaku kalau kamu ingin mengganti margamu ya?"
"Ya jika Sani bertemu dengan kakak kandung Sani ayah..." gumamku pelan.
"Ya nanti biar Lanlan juga membantumu mencarikannya."
"Baik ayah..." gumamku menundukkan badanku pelan.
"Ayah dia wanita yang aku suka dulu ayah!!" protes Hasan dan San serius.
"Dia? Dia sudah menikah dengan kakak kalian sejak mereka kecil."
"Tunggu...Apa? Kenapa bisa?" protes Hasan kesal.
"Ya karena itu perjanjian ayah dengan tuan Shin di masa lalu, ayah harus menikahkan kakakmu dengan Sani dulu... oh ya ngomong-ngomong kapan ayah akan memiliki cucu?" tanya Tuan Kim serius.
"Segera ayah, istriku juga sebentar lagi akan hamil.." gumam Lanlan mengusap lembut perutku.
"Oh baguslah, jangan lama-lama keburu ayahmu tua.." gumam tuan Kim senang.
"Ayaaah!!!" rengek Hasan dan San sedih.
"Oh ya kalian nikmati saja pestanya, kalau kalian ingin istirahat, istirahat saja. Besok pagi ada yang ingin ayah bicarakan kepada kalian..." gumam tuan Kim tersenyum ke arah kami berdua.
"Baik ayah..." gumamku dan Lanlan bersamaan.
"Ayaaah Hasan ingin dia!!" protes Hasan sedih.
"Ayaaah!!" rengek San yang ikut bersedih.
"Haish, kalian jangan seperti anak kecil! Ikuti aku!" gerutu tuan Kim menarik telinga Hasan dan San pergi.
"Ternyata kamu bisa membuat kedua adikku merengek kearah ayah ya istriku..." gumam Lanlan tersenyum dingin kearahku.
"Aku tidak peduli juga, mereka terlalu kasar dengan wanita seperti Sann Liu dan Hassan Liu.." gumamku mengambil wine di depanku.
"Oh benarkah? Apa kamu tidak memiliki rasa dengan kedua adikku?"
"Tidak...sama sekali..." gumamku meminum wine di depanku.
"Kenapa? Bukannya mereka juga tampan ya?"
"Aku tidak tertarik dengan ketampanan, lagi pula untuk apa tampan tapi kasar kepada wanita..." gumamku pelan.
"Oh ya, apa seluruh keluarga akan datang malam ini?"
"Tidak, malam ini hanya keluarga besar kita saja, kalau untuk besok lusa seluruh keluarga datang."
"Apa pestanya akan diadakan lama?"
"Tidak, hari ini pesta ulang tahun ayah tapi kalau besok lusa pesta khusus kelanjutan dari pertemuan besok, ya mungkin kalau kamu tidak datang ke pesta aku juga tidak akan ikut pesta."
"Kenapa?" tanyaku terkejut.
"Kamu milikku, kamu istriku, aku tidak mungkin ke pesta tanpa istriku!" gumam Lanlan memelukku erat dan aku hanya tersenyum ke arah Lanlan.
__ADS_1
Walaupun banyak yang menatap kami bingung tapi Lanlan benar-benar tidak peduli semua orang menatap kami. Dia benar-benar percaya diri dan seperti menunjukkan kalau aku adalah istrinya.