Tangan Kanan Tuan Muda Mafia

Tangan Kanan Tuan Muda Mafia
Episode 18 : Menemui Tetua Mafia Pusat


__ADS_3

Suara pertarungan sangat terdengar jelas di telingaku, sepertinya telah terjadi peperangan di wilayah ini. Tapi kenapa bisa secepat ini peperangannya, apalagi ternyata laki - laki menyebalkan itu yang membunuh keluarga besarku... Sangat menyebalkan


"Apa yang kamu pikirkan wanitaku?" gumam Sony menatapku


"Tidak ada..."


"Kamu selalu merahasiakannya dariku wanitaku"


"Memamng aku tidak memikirkan apapun" gumamku kesal


"Hmmmm terserah kamu lah, tap aku sangat senang bisa berjalan bersamamu seperti dulu" gumam Sony menatap langit yang memerah di atas kami


"Oh benarkah?"


"Ya aku mengatakan sesungguhnya wanitaku..." gumam Sony memelukku


"Heeei lepasin aku!!!!" protesku kesal, tanganku memukul badan Sony dengan kuat tapi Sony terus memelukku dengan sangat erat


"Ijinkan aku memelukmu wanitaku" desah Sony pelan. Aku menurunkan tanganku dan terdiam sejenak, aku sedikit terkejut saat Sony benar - benar memelukku erat seperti waktu itu ketika dia telah gagal melakukan sesuatu dia akan memelukku dengan erat dan menangis


"Jangan bilang kamu akan menangis, Sony" desahku pelan


"Ya, aku ingin menangis di pelukanmu"


"Hmmm dasar anak cengeng" desahku mengelus lembut punggung Sony


"Aku sudah lama menahan air mataku, aku menahan air mataku sampai kita bertemu kembali Sani"


"Ya kalau kamu ingin menangis, menangislah sendiri. Kenapa harus menungguku?"


"Ya pelukanmu membuatku sangat tenang Sani, dan tidak ada yang bisa menggantikanmu" gumam Sony pelan


"Udah lah kamu jangan kayak anak kecil kenapa!!" protesku melepaskan pelukan Sony dan menatap matanya yang sembab setelah menangis


"Hehehe, makasih Sani. Aku sedikit lega" desah Sony mengusap air matanya dan berjalan kembali


"Ihhh dasar aneh, tadi menangis tiba - tiba tertawa sendiri" gerutuku kesal, aku menatap di belakangku tapi aku tidak menemukan Samuel


"Dimana Samuel?" tanyaku bingung


"Dia tidak akan ikut kita, markas pusat ada di sekitar sini. Jadi dia langsung pergi"


"Kenapa ada disini? Bukannya .."


"Ya tetua sedang ada disini saat ini, jadi kebetulan kamu ada disini juga makanya aku berani menemuimu" gumam Sony terus berjalan


"Ohh..." desahku pelan


Di sekitarku aku melihat banyak sepasang mata yang menatap kami berdua dengan tatapan dingin, ya namanya juga markas pusat pasti banyak yang menjaga wilayah ini. Untung aku meninggalkan alat pengintai Taka itu kalau tidak pasti dia tahu kalau aku sedang berada di markas pusat


"Kalian Sani dan Sony?" ucap seorang laki - laki di depan kami


"Ya..." gumam Sony dingin dan kami menunjukkan kartu nama kami


"Baiklah, masuklah" gumam laki - laki itu membukakan pintu kepada kami


Kami berdua mengikuti laki - laki itu masuk ke dalam markas pusat. Di kursi depan kami, tetua organisasi sedang duduk menatap kami berdua


"Selamat datang Sony dan Sani" ucap tetua dingin


"Terimakasih tetua" gumam kami menundukkan badan


"Sani kenapa kamu tidak pernah datang menemui panggilanku?"


"Mohon maaf tetua, saya tidak pernah mendapatkan surat tetua jadi saya tidak tahu kalau bukan Sony yang bertemu dengan saya tetua"


"Oh mmm baiklah, mungkin ada kendala teknis.." desah tetua beranjak dari kursinya


"Ada apa tetua memanggil kami?"


"Perang dunia akan terjadi seperti apa yang aku ramalkan, bahkan keluarga kalian yang menjadi sasarannya."


"Ya benar tetua, dan aku sangat ingin membunuh orang yang membantai seluruh keluargaku!!" gerutuku kesal


"Tenangkan dirimu Sani, mafia kalian jangan sampai ditemukan oleh mereka"


"Kenapa tetua?" gumam kami bersamaan


"Target perang ini adalah memusnahkan mafia tertinggi yaitu kalian berdua, jadi aku sarankan kalian jangan gegabah"


"Lalu apa yang harus kami lakukan tetua?" gumam Sony bingung


"Sebenarnya kalian diajak untuk mengikuti perang dengan matahari terbit tapi aku menolaknya..." gumam tetua menatap kami berdua


"Aku mempunyai rencanaku dan rencana ini akan berbeda dengan perang asia pasifik di masa lalu..." desah tetua pelan


"Jadi apa rencana tetua?" gumam Sony menatap tetua dengan serius


"Kalian akan muncul disaat musuh sudah lengah dengan begitu kalian bisa mengalahkan mereka"


"Apa itu akan berhasil tetua?"


"Ya, karena mata - mataku yang mengatakan strategi mereka"


"Apa strategi mereka tetua?" tanyaku penasaran


"Mereka ingin membasmi seluruh mafia tanpa terkecuali, setelah seluruh mafia lenyap mereka akan mengadakan pesta. Nah di pesta itulah kalian akan menyerang"


"Mafia di dunia ini ada banyak tetua, mana mugkin bisa menghabiskan seluruh mafia?"


"Ya benar, tapi mereka sebenarnya hanya ingin membasmi mafia kalian, karena musuh atau mafia lain tidak tahu dimana letak markas kalian jadi musuh hanya berfikir kalau mereka membunuh seluruh mafia kalian juga akan lemah"


"Heeh? Itu tidak berpengaruh kepada kami" gumam Sony dingin


"Ya memang benar, karena mereka tidak mengerti tentang mafia kalian"


"Tapi tetua kalau boleh saya mengusulkan, kalau misalnya kami menyerang musuh saat musuh sedang lengah dan kecapekan bagaimana?" gumamku


"Kenapa kamu mengusulkan hal itu?" tanya tetua menatapku


"Ya seperti perang asia pasifik kemarin, pasti perang ini akan sangat lama dan pasukan mereka akan terus berkurang dengan demikian mereka akan capek dan lengah disaat itu kami bisa menanganinya. Kalau di pesta mereka malah semangat karena mereka sudah istirahat tetua"


"Oh ya benar juga perkataanmu, kalau begitu terserah kalian akan melakukannya seperti apa... Untuk sementara kalian bersembunyi di markas cabang Australia, disana aman untuk kalian"


"Tapi bukannya kejauhan tetua?"


"Tidak, perang ini akan dilakukan di seluruh dunia kecuali Australia karena mereka adalah sekutu kita jadi mereka akan melindungi kalian. Sementara kalian bersembunyi, kalian jangan sampai lengah dan terus persiapkan diri kalian" gumam tetua


"Baik tetua..." gumam kami berdua bersamaan


"Kalian akan berangkat besok pagi, langsung saja berangkat... Disana sudah aku sediakan rumah uuntuk kalian berdua"


"Rumah untuk kami berdua?" tanyaku terkejut


"Ya, kalian akan tinggal serumah"


"APA? Mana bisa begitu tetua!!!" protesku kesal


"Asikk... Emang tetua mengertiku" teriak Sony senang


"Tidak masalah, kalian tunangan kok. Jadi serumah tidak masalah"


"Tidak... Aku menolak"


"Kalau kamu menolak kamu tinggal di bawah jembatan kalau begitu"


"Tetua sangat kejam kepadaku" desahku kesal


"Sudahlah, Kali ini Rian akan menemani kalian" gumam tetua dan datanglah Ryan di depan kami


"Rian? Ketua Hutan Selatan?" tanyaku terkejut

__ADS_1


"Hai... " sapa Rian lembut


"H... Hai" gumamku sedikit canggung


"Kalian tidak akan berdua di rumah itu tapi Rian akan menemani kalian dan mengawasi kalian. Apalagi kalau kalian serumah pasti tidak ada semenit rumah itu akan hancur karena pertengkaran kalian" gumam tetua menggelengkan kepala


"Yaahh aku menolak!!" teriak Sony kesal


"Nah kalau itu aku setuju" gumamku santai


"Sudahlah, kalian siap - siap dulu... Kalau kalian ingin berjalan - jalan malam ini tidak masalah, area sini masih aman untuk kalian tapi akan berbahaya untuk besok jadi nikmatilah" gumam tetua menghilang dari hadapan kami


"Baik tetua" gumam kami dan berjalan keluar dari markas


"Hmmm kucing - kucingan lagi ya?" desah Sony pelan


"Ya benar, tapi kalian akan terkejut di akhir peperangan ini" gumam Rian


"Terkejut apa maksudmu?" tanyaku bingung


"Maksudku mereka akan berpikir kalau kalian sudah mati tapi saat kalian muncul di depan mereka, pasti mereka akan terkejut"


"Aaah aku paham maksudmu" gumam Sony terkejut


"Ya apalagi ini perang seluruh dunia, mereka akan berfikir kalau kalian sudah mati di suatu tempat apalagi dipihak musuh tidak ada yang tahu siapa ketua mafia pantai selatan dan mafia penguasa jadi mereka akan berfikir seperti itu"


"Oh ya benar juga katamu" desahku mengerti


"Jadi kalian malam ini mau kemana?" tanya Rian menatap kami berdua


"Mmm ke..." gumam Sony berfikir


"Ke pantai ..." ucapku memotong pembicaraan Sony


"Hei tapi disana banyak mayat anggotaku dan Samuel yang kamu bunuh tahu!!" protes Sony kesal


"Tenang saja, anggotaku yang sudah membersihkannya. apalagi anggotaku tidak akan meninggalkan jejak apapun bekas pertarunganku" gumamku pelan


"Oh benarkah? Pantas saja kalian para mafia tertinggi sangat susah dilacak" desah Rian menggelengkan kepalanya


"Ya begitulah..." gumam Sony


"Oh ya kamu ke pantai bukan karena Ryuki kan?" tanya Sony menatapku


"Itu juga termasuk, karena aku tahu pasti dia sedang menungguku di pantai"


"Tidak!! Gak boleh kesana, kamu milikku!!!" protes Sony langsung mencium bibirku dengan lembut


"Hei kalian berdua malah berciuman di depanku... gerutu Rian terus melangkahkan kakinya


"Kamu akan selalu menjadi milikku apapun yang terjadi ... Sani" gumam Sony terus menciumku


"Aku tahu, jadi tidak perlu cemburu seperti itu kenapa!!!" protesku mendorong Sony


"Ya bagaimana aku tidak cemburu, kamu lebih mengkhawatirkan dia!!!"


"Kamu akan tidak mengerti Sony... Aku ingin menemui dia karena dia akan melakukan peperangan itu, aku hanya ingin memberikan semangat kepadanya saja. Mana tahu dia mati di medan pertempuran... Apalagi aku juga harus berterimakasih kepadanya karena dia telah menyelamatkanku berkali - kali" gumamku pelan dan melangkahkan kakiku


"Ya aku mengerti..." desah Sony mengalah


"Jadi aku harap malam ini kamu tidak akan cemburu..." gumamku dingin


"Ya - ya aku tahu..." gerutu Sony kesal


"Baguslah..." desahku melangkahkan kakiku kembali ke pantai


Tidak lama kami berjalan, kami sampai di pantai. Di pinggir pantai aku melihat seorang laki - laki yang sedang terduduk sendiri di tengah kegelapan malam


"Benar kan dugaanku" gumamku dingin


"Dasar laki - laki menyebalkan!!" gerutu Sony kesal


"Sani? Akhirnya kamu datang..." gumam Ryuki beranjak berdiri dan memelukku


"Kamu tidak cemburu?" sindir Rian menatap Sony


"Diamlah.." gerutu Sony kesal


"Kamu ngapain disini sendiri?"


"Aku menunggumu Sani"


"Kamu selalu menungguku seperti itu" gumamku pelan


"Ya aku mengkhawatirkanmu Sani..."


"Aku tidak apa - apa, jadi jangan khawatir"


"Mmmm kenapa ketua pantai selatan dan ketua Hhutan selatan juga kemari?" tanya Ryuki melepaskan pelukannya


"Ya, mereka hanyamengantarkanku saja"


"Oh begitu, baiklah mari pulang Sani" gumam Ryuki menarik tanganku


"Aku tidak bisa ikut bersamamu saat ini' gumamku melepaskan tangan Ryuki


"Kenapa? Jangan bilang kamu akan meninggalkanku?"


"Tidak, ada sesuatu yang harus aku urus jadi aku tidak akan berada di Jepang atau di Korea"


"Urusan apa?" tanya Ryuki terkejut


"Sesuatu hal yang rahasia, jadi malam ini aku akan menemanimu dan mungkin besok aku sudah tidak ada disini lagi" gumamku pelan


"Kapan kamu akan kembali Sani?" tanya Ryuki terkejut


"Aku tidak tahu.." desahku terduduk di pasir pantai


"Tidak tahu?"


"Ya, aku akan menemanimu malam ini... "


"Sani..." desah Ryuki terduduk di sampingku


"Jangan tinggalin aku..." rengek Sony bersandar di bahuku


"Aku tidak akan meninggalkanmu... Untuk saat ini" gumamku pelan


"Gak mau Sani, sampai selamanya kamu jangan meninggalkanku"


"Tapi Ryuki, kamu sudah tahu kan sekarang siapa yang mengikatku" gumamku pelan


"AKu tidak peduli, aku akan lebih kuat untuk bisa mengalahkan mafia pantai selatan" ucap Ryuki serius


"Mengalahkanku? Hah mimpi saja kamu" gumam Sony dingin


"Bisa diam gak kamu!!" protesku melirik Soni dnegan dingin


"Huummpp..." gerutu Sony kesal


"Kamu seperti suami - suami takut istri saja Sony" sindir Rian tertawa


"Diamlah!!" gerutu Sony kesal


"Mmm ngomong - ngomong kamu besok akan mulai bertarung ya?"


"Ya.... Kenapa kamu tahu?"


"Ya aku hanya menebak saja..." desahku pelan


"Ryuki terimakasih ya sudah mau menolongku dan merawatku selama aku bersamamu" gumamku tersenyum

__ADS_1


"Dan kamu harus semangat melakukan perang ini, jangan sampai terluka tahu atau mati tahu..." desahku pelan


"Kalau kamu sampai mati di medan perang kamu tidak akan bertemu aku selamanya loh" gumamku menatap Ryuki


"Tidak, aku berjanji kepadamu Sani... Jadi cepatlah kembali ya"


"Ya aku tahu, jadi jaga dirimu baik - baik dan jaga si kembar juga ya" gumamku tersenyum


"Baik,aku janji kepadamu Sani" ucap Ryuki semangat


"Hmmm baguslah" desahku merangkul Ryuki dengan lembut


"Makasih Sani kamu mau menemaniku malam ini" gumam Ryuki menyandarkan kepalanya di bahuku


"Tidak masalah, ya hanya ini yang bisa kau lakukan"


"Mmmm Sani, apa kita masih bisa berkomunikasi lewat pesan"


"Bisa, tidak masalah. Tapi mungkin aku akan sedikit lama membalasnya"


"Tidak apa yang penting kamu balas"


"Oh baiklah..." desahku pelan


"Mmm Sani jadi kalian bertiga tidak ikut peperangan ini?"


"Tidak sekarang"


"Tidak sekarang? Maksud kamu?" tanya Ryuki terkejut


"Jangan beritahu apapun Sani!!" gerutu Sony dingin


"Aku tahulah, dasar laki - laki bawel" gerutuku kesal


"Apa yang kamu sembunyikan dariku Sani?" tanya Ryuki penasaran


"Udahlah, kamu tidak perlu tahu... Yang terpenting kamu harus tetap hidup Ryuki"


"Hmmm baiklah, kamu harus berjanji kepadaku Sani"


"Ya kau berjanji kepadamu" gumamku mencium dahi Ryuki dengan lembut


"Aku pegang janjimu Sani" gumam Ryuki pelan


"Kamu tidak cemburu tunanganmu mencium laki - laki lain?" sindir Rian tertawa


"Diamlah, aku penggal kamu nanti" gerutu Sony kesal


"Apa sih kalian berisik banget" protesku kesal


"Hummpp..." desah Sony menahan marahnya


"Ryuki? Kamu terluka?" gumamku menatap lengannya yang berdarah


"Mmm tadi tidak sengaja terkena peluru dari musuh, untung hanya menggores kulitku saja"


"Tapi itu akan membuat infeksi tahu!!" protesku mengambil obat merah dan perban di tas kecilku


Aku segera mengobati Ryuki dan membalutnya dengan perban


"Jangan sampai terluka lagi tahu!!" protesku menatap mata Ryuki


"Iya, aku tidak akan terluka lagi" gumam Ryuki senang


"Hmmm dasar kamu ya" desahku merebahkan tubuhku di atas pasir


"Kamu mengantuk Sani?" gumam Ryuki menatapku


"Ya sedikit mengantuk"


"Bolehkah aku menemanimu disini Sani?"


"Boleh silahkan saja" gumamku memandangi bulan purnama di atasku


"Bulan yang indah ya Sani" desah Ryuki tersenyum


"Ya benar, sangat terang"


"Mmm Sani, kalau nanti aku mati di medan pertempuran apa kamu akan sedih?" gumam Ryuki pelan


"Kenapa kamu berkata seperti itu?"


"Ya kamu tahu sendiri kan mafiaku masih lemah, bisa saja aku akan mati"


"Aku pasti akan sangat sedih Ryuki, jadi kamu jangan sampai mati ya"


"Benarkah? apa kamu hanya menghiburku saja?"


"Tidak, aku tidak sedang menghiburmu... Aku sangat serius mengatakan ini" gumamku serius dan menggenggam erat tangannya


"Terimakasih Sani kamu mengkhawatirkanku" desah Ryuki tersenyum


"Aku akan selalu mengkhawatirkanmu seperti kamu mengkhawatirkanku Ryuki"


"Benarkah? Aku sangat senang mendengarnya" gumam Ryuki memejamkan matanya


"Sudah tidurlah Ryuki sudah malam juga" gumamku pelan


"Ya benar, aku sangat ingin menikmati waktu tidur bersamamu malam ini" desah Ryuki menggenggam erat tanganku


"Yaahh aku juga" desahku pelan, aku menatap bulan di langit yang nampak indah menyinari kami


Aku melihat Ryuki yang sedang tertidur lelap di sampingku, aku terduduk dan menatap Ryuki yang sedang tertidur itu


"Hmmm sudah tidur ya.." desahku pelan, aku melihat Rian yang sedang tertidur pulas sedangkan Sony menatapku dengan tatapan dingin


"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" gumamku santai


"Menurutmu?"


"Kan aku sudah bilang jangan cemburu apapun yang terjadi, dan kamu menyanggupinya"


"Tapi sangat menyakitkan tahu!!!" protes Sony kesal


"Menyakitkan ya? Lebih menyakitkan kamu melakukan itu dengan Sasha,Sony" gumamku dingin


"Aku dijebak Sani, aku tidak melakukan apapun sumpah"


"Terserah...." gumamku dingin


"Aku berani bersumpah kepadamu istriku, aku masih perjaka tahu!!"


"Terserah..." gumamku dingin


"Kamu selalu tidak percaya kepadaku Sani" desah Sony pelan


"Tidak, dan tidak akan pernah percaya"


"Sani jahatnya kamu tidak mempercayaiku"


"Biarlah, kalau bukan karena tetua menenangkanku sudah kubunuh kamu" gerutuku kesal


"Hmmm kamu tidak mau memaafkanku?"


"Tidak..."


"Aku harus apa agar kamu memaafkanku?"


"Tidak tahu..." gumamku pelan sambil mengusap rambut Ryuki pelan


Ryuki kalau tertidur sangat imut dan terlihat sangat tampan, tidak tahu kenapa hatiku sangat tenang saat bersama dengan Ryuki. Apakah aku jatuh cinta kepada Ryuki?

__ADS_1


__ADS_2