
Siang ini aku terbangun dari tidurku, aku tidur sangat pulas dari sore kemarin, ya mungkin efek obat jadinya aku tidur sangat pulas. Aku membuka mataku dan melihat Sony yang sedang tertidur di sebelahku. Dia terlihat imut saat tidur. Tangannya mendorong kepalaku dengan lembut dan mengelus lembut rambutku
"Kamu sudah bangun?" gumamku pelan
"Tidak, aku tidak tertidur"
"Lalu?"
"Hanya memejamkan mataku saja"
"Hmmm kamu suka banget sih gak tidur semalaman" deshaku pelan
"Ya aku sudah terbiasa tidur hanya beberapa jam saja"
"Hmmm jaga kesehatanmu Sony"
"Ya aku tahu...Kamu juga harus menjaga kesehatanmu"
"Ya aku akan menjaga kesehatanku" gumamku pelan
"Hari ini kamu mau ngapain?"
"Aku? Aku ada urusan" gumamku pelan
"Urusan apa?"
"Urusan pribadiku"
"Kapan?"
"Nanti malam"
"Apa kamu akan bertemu seseorang?" tanya Sony menatapku
"Kenapa kamu tahu?"
"Kertas yang ada di jaketmu..."
"Oh .... Ya aku akan bertemu dengan seseorang" desahku pelan
"Kamu lagi sakit... tidak boleh pergi!!"
"Aku sudah tidak apa - apa"
"Tidak boleh keluar..."
"Sony sebentar kok"
"Tidak!!!..."
"Hmmm..." desahku mencium lembut bibir Sony dan menatap matanya
"Boleh ya?" gumamku pelan
"Ka... Kamu menciumku?" gumam Sony terkejut
"Boleh ya?"
"Hmmm baiklah, karena kamu menciumku aku akan mengijinkanmu.. Tapi jangan lama - lama!!" gerutu Sony dengan wajah memerahnya
"Ya aku tahu, terimakasih Sony" desahku pelan
"Hmmm kalau kamu tidak menciumku aku tetap tidak mengijinkanmu"
"Yaaah bagaimana lagi kamu tetap tidak mengijinkanku, apalagi aku sudah lama tidak punya inisiatif menciummu semenjak kejadian itu" gumamku pelan
"Itulah makanya aku mengijinkanmu"
"Hmmm emang ya, kalau kamu tidak ada disini dan kamu bukan tunanganku aku juga tidak perlu memohon kepadamu" gerutuku kesal
"Kamu harus meminta ijinku apapun itu apalagi aku tunanganmu"
"Ya aku tahu itu" desahku pelan
"Kamu akan bertemu dengan siapa?
"Seseorang"
"Siapa dia?"
"Kamu tidak perlu tahu"
"Aku harus tahu!!"
"Nanti setelah aku pulang aku akan memberitahukanmu"
"Oh baiklah..."
"Jangan buntuti aku..."
"Haish kenapa juga, kamu istriku!!"
"Kalau kamu membuntutiku aku akan marah kepadamu"
"Hmmm baik - baik aku tidak akan membuntutimu"
"Baguslah" desahku pelan
Toookk ...Toookk... Ttoookkk
Tiba - tiba pintu kamarku terketuk dari luar yang membuatku terkejut
"Siapa?" teriakku terbangun dari tidurku
"Saya Lani nona"
"Oh Lani, ada apa?"
__ADS_1
"Nona dan tuan Sony di panggil tetua mafia"
"Haaah lagi?" desahku merebahkan tubuhku
"Iya nona"
"Baiklah, aku akan kesana" desahku pelan
"Mau membahas apalagi sih" desahku kesal
"Tidak tahu"
"Kemarin kamu berbicara apa saja dengan ketua?" gumamku menatap mata Sony
"Banyak hal, tarmasuk obat dari penyakitmu"
"Obat dari penyakitku? Kan penyakitku tidak ada obatnya" desahku pelan
"Ada, tapi tetua tidak mau memberitahukanku"
"Oh... Nanti aku akan bertanya kepada tetua" desahku pelan
"Aku mau menemui tetua kamu tidak ikut sekalian?"
"Ya kan aku juga di panggil pasti aku ikut denganmu"
"Hmm baiklah" desahku berjalan mendahului Sony menuju ke ruangan tetua mafia pusat
"Tetua mencari kami?" gumamku menatap tetua yang sedang meminum teh hijaunya
"Iya, duduklah.."
"Ada apa tetua?" gumamku bingung
"Aku dengar penyakitmu kambuh ya?"
"Hmm iya tetua, kenapa tetua bisa tahu?"
"Ya kemarin sore aku tidak sengaja mendengar Sony berteriak di dalam kamarmu
"Hmmm benar tetua, aku baik - baik saja tetua"
"Sani, penyakitmu itu parah kamu jangan bilang kamu sedang baik - baik saja. Kalau kamu berkata seperti itu malah membuat kami khawatir"
"Hmmm " desahku pelan
"Sani kamu harus berhenti di dunia mafia" desah tetua pelan
"APA!!!" teriaku dan Sony terkejut
"Kenapa tetua memutuskan keputusan seperti itu?" protes Sony kesal
"Aku hanya mengkhawatirkan keadaan Sani"
"Kalau Sani berheni aku juga ikut berhenti" gerutu Sony kesal
"Ini keputusanku tetua, kalau tetua memutuskan keputusan itu aku juga berhenti menjadi mafia"
"Ini demi kebaikan Sani"
"Aku tidak peduli tetua, dia istriku"
"Hmmm tapi Sony"
"Aku akan menjaga istriku tetua, aku tidak akan membiarkan dia terluka tetua"
"Hmmm kamu ini selalu keras kepala"
"Dia banyak yang mengincar tetua, kalau dia tidak menjadi mafia... AKu takut Sani akan dibunuh" gumam Sony pelan
"Hmm benar juga ucapanmu Sony"
"Tetua tenang saja, aku tidak apa - apa. Kalau emang aku mati duluan aku juga sudah siap. Yang terpenting aku mengabdi kepada tetua di sisa hidupku aku sudah senang" gumamku tersenyum
"Hmmm baiklah kalau itu keputusanmu Sani"
"Mmmm tetua kata Sony tetua bilang kalau tetua tahu obat untuk mengobati penyakitku?"
"Oh emang ada, tapi langka"
"Langka?"
"Ya yang tahu hanya kakak seperguruanmu"
"Kakak seperguruan? Maksudnya Hasan Shi?" tanyaku terkejut
"Ya benar, dia peracik obat dulu dan dia juga yang memberimu obat sehingga kamu sudah lama tidak kambuh" gumam tetua menatapku
"Tapi sayangnya dia pergi entah kemana" desah tetua pelan
"Aku tahu dimana dia tetua"
"Oh benarkah? Dari mana kamu tahu?"
"Kami pernah bertemu tetua"
"Oh benarkah? Kalau begitu kamu datangi dia untuk meminta obat untukmu"
"Ya semoga dia memberiku tetua" desahku pelan
"Hmmm benar juga, dia telah lama tidak muncul. Takutnya dia menjadi jahat atau dia berada di pihak musuh"
"Tapi aku akan mencoba untuk membujuknya tetua"
"Mmmm baiklah, tapi kamu harus hati - hati Sani"
"Baik tetua..."
__ADS_1
"Emang kamu akan menemuinya kapan?"
"Tidak tahu tetua, tapi hari ini aku ijin untuk pergi tetua"
"Kemana?"
"Dia mau menemui seseorang tetua" gumam Sony menatapku
"Siapa?"
"Pokok seseorang yang bagiku penting" gumamku pelan
"Ryuki?" gumam Sony menebak
"Bukanlah.. Ngapain juga dia" gerutuku kesal
"Lalu siapa?"
"Nanti aku akan memberitahukanmu" gumamku pelan
"Hmmm baiklah, kamu hati - hati Sani"
"Baik tetua, saya ijin pergi sekarang" gumamku segera meninggalkan markas pusat
Aku tidak tahu kenapa kakak sepeguruanku ingin bertemu denganku, kenapa tidak langsung saat dia sengaja menabrakku itu saja. Apa yang direncanakannya sehingga dia mengajakku bertemu di tempat biasanya kami sering berlatih bersama
Setelah beberapa jam aku berjalan, akhirnya aku sampai di sebuah danau yang menjadi tempat latihan favoritku bersama dengan kakak sepeguruaan. Di pinggir danau ini aku tidak menemukan kakak sepeguruan sama sekali
"Kemana dia?" gumamku bingung
"Apa karena masih sore ya...?" desahku terduduk di danau sambil menatap matahari terbenam di depanku
Aku menunggunya sampai malam tiba tapi dia tidak segera datang yang membuatku kesal. Tapi kalau aku pulang sekarang takutnya dia datang, padahal aku snagat membutuhkan dia
"Kamu menungguku ya Sani?" ucap seseorang di balik pohon dengan tatapan dinginnya
"Kakak seperguruan?" gumamku terkejut
Taaaanngggg
Suara senjataku menahan senjata milik kakak seperguruanku, tatapannya sangat dingin berbeda dengan kakak seperguruan yang aku kenal dulu
"Lama tidak bertemu Sani..." gumam kakak seperguruan menatapku dingin
"Lama tidak bertemu kakak seperguruan Hasan Shi" gumamku dingin
"Tidak aku sangka kamu sekarang menjadi kuat ya"
"Kakak seperguruan juga" gumamku dingin
"Tidak juga..."
"Kenapa kakak seperguruan ingin bertemu denganku?" gumamku dingin
"Aku hanya punya satu alasan..."gumam Hasan Shi mengubah gerakannya yang membuat dua senjataku terlempar jauh
"Aku hanya ingin bertemu kamu..." gumam Hasan mencium keningku dengan lembut
"Haaah?" aku masih terkejut dengan alasan Hasan ingin bertemu denganku
"Ingin bertemu denganku?" tanyaku tidak percaya
"Ya benar, aku hanya ingin bertemu denganmu. Itu saja tidak lebih"
"Hmmm..." desahku menarik senjataku dengan benang dan memasukkannya kembali
"Ini pertama kali kakak seperguruan bilang itu" desahku kembali terduduk
"Ya memang, aku mencarimu Sani tapi aku tidak menemukanmu. Bahkan rumahmu sekarang kosong mirip dengan rumah hantu" gumam Hasan terduduk di sampingku
"Seluruh keluargaku dibunuh"
"Dibunuh? Oleh siapa?" tanya Hasan terkejut
"Han Lee dan Sasha" desahku pelan
"Aku tidak membunuh keluargamu Sani..." gumam seorang laki - laki berjalan di tengah kegelapan
"Han Lee!!!" teriakku terkejut
"Kenapa kakak seperguruan dengan dia?" protesku kesal
"Dia adik sepupuku Sani sekaligus dia wakil ketua mafiaku"
"Tunggu wakil ketua? bukannya dia ketua mutiara emas?" tanyaku terkejut
"Mutiara emas mafiaku sendiri dan Han Lee itu wakil ketuanya, jadi wajar saja dia ikut bersamaku"
"Tunggu dulu!! Kenapa bisa berputar - putar sih... Kata si A bilang si B yang neglakuin, kata si B bilang di C itu dalangnya dan si B hanya melakukannya saja sedangkan kata si C bilang dia bukan pelakunya.... LAlu mana yang bener!!!" teriakku kesal
"Sani... Dalang pembunuh keluargamu, keluarga Sony dan keluarga Hyung itu beda orang..." gumam Han Lee menyandarkan tubuhnya di pohon
"Beda orang? Maksudnya?" tanyaku terkejut
"Dalang pembunuhan keluarga Sony itu Sasha, Dalang pembunuh keluarga Hyung itu ayahnya Han Lee, sedangkan dalang pembunuh keluargamu adalah... Seluruh 10 mafia tertinggi.." gumam Hasan serius
"APA!!!! Kenapa kakak seperguruan bilang seperti itu?" teriakku tidak percaya
"Cerita ayahmu kalah berjudi memang benar, ayahmu kalah berjudi dengan ayahku dan ayahmu menaruh dirimu agar aku bisa menikahmu tapi sayangnya ayahmu kalah tapi ayahmu tidak mau menyerahkanmu, tapi yang membuat seluruh keluargamu di bunuh seluruh 10 mafia tertinggi karena ingin membunuhmu Sani" gumam Han Lee serius
"Membunuhku?" tanyaku terkejut
"Ya karena kamu ancaman terbesar kami para mafia" desah Hasan pelan
"Tapi sayangnya kamu tidak ada di tempat jadi kami saling menyalahkan dan akhirnya yang menjadi alasan dalang pembunuhan keluargamu berubah - ubah agar kamu tidak mencurigai kami... Tapi yang aku katakan benar adanya Sani" gumam Hasan menatapku pelan
Aku masih tidak percaya dengan perkataan Hasan dan Han Lee ini tapi dari tatapan mereka aku bisa menilai mereka mengatakan yang sesungguhnya kepadaku. Hatiku sangat sakit dunia mafia yang aku percayai ternyata menjadi dalang pembunuh keluarga besarku. Aku sangat tidak terima ini
__ADS_1