
Setelah mengetahui aku hamil, semua orang benar-benar terlihat senang apalagi tuan Shinju, tuan Kim dan Lanlan. setiap hari Lanlan memasakkan makanan yang lezat untukku. Walaupun terlihat sederhana tapi rasanya enak banget masakan Lanlan.
Setiap hari aku hanya di rumah keluarga Shinju sambil bermain handphone dan menonton televisi, benar-benar tidak ada yang bisa aku lakukan jika Lanlan sedang mengadakan rapat dan pertemuan ya bisa dikatakan seperti orang gabut yang tidak memiliki pekerjaan lainnya. Sudah tiga bulan lamanya aku tidak melakukan apapun selain duduk di balkon kamar sambil menatap saudaraku yang sedang bermain dengan Tian, walaupun sekarang kami serumah tapi kami tidak pernah bertegur sapa sama sekali ya mungkin karena aku masih iri saja dengan saudara-saudaraku yang hidup tenang dan damai berbeda denganku.
Hari ini sambil menunggu Lanlan yang sedang mengadakan pertemuan, aku terduduk di balkon sambil menatap saudara-saudaraku bermain dengan anak anjing dan kucing mereka yang baru. Tidak bisa berbuat apapun membuatku sedikit kesal tapi mau bagaimana lagi tuan Kim dan Tuan Shinju setuju dengan pendapat Lanlan yang melarangku melakukan sesuatu sama sekali dan hanya boleh ikut pertemuan dengan tuan X itu saja. Padahal malam nanti aku harus pergi ke Amerika tapi Lanlan masih belum pulang, mau menelepon tapi aku takut mengganggu dia.
"Sayang mikirin apa hayo!" gumam Lanlan menepuk bahuku pelan.
"Eehh mmm tidak ada, aku menunggumu dari tadi."
"Menungguku ya? Maaf sayang tadi nungguin kakek lama banget jadinya aku agak kesorean."
"Oh mmm tidak apa... oh ya apa tetua jadi ikut juga? Dan kamu juga ikut?" tanyaku pelan.
"Ya, awalnya sih gak boleh tapi karena melihatmu hamil jadi kakek mengizinkanku ikut denganmu."
"Jangan bilang kamu merengek ke tetua kan biar diijinkan ikut? Hahaha!" tawaku keras.
"Eeh enggak dong, kalau bukan karena kamu hamil pasti kakek tidak mengijinkan juga sih. Apalagi kakek baru tahu kalau Elang ada disana jadi kakek menyuruhku menjagamu."
"Memang kenapa?"
"Dia selalu mengambil apa yang menjadi milikku jadi takut aja kalau kamu jadi miliknya."
"Sayang dengar, aku milikmu oke dan aku juga hamil anak kita jadi tidak mungkin aku selingkuh dengan ketua."
"Dia tampan tahu! Dia lebih tampan dariku yang... yang buruk rupa ini. Aku saja sebenarnya malu menunjukkan wajah asliku padamu sebab aku sangat jelek, aku..." gumam Lanlan merangkul leherku kuat dan membenamkan kepalanya di belakang leherku.
"Sudah aku katakan kan, aku tidak masalah dengan luka di tubuhmu sayang, kamu sangat tampan bagiku dan aku sering meminta padamu untuk menunjukkan wajah aslimu saat denganku saja..." gumamku membuka topeng wajah buatan Lanlan yang membuatnya terdiam menatapku.
"Apa kamu mengerti?" ucapku serius.
"Tapi kan Sani..." gumam Lanlan pelan, aku menarik tangannya dan mendorongnya pelan yang membuatnya terduduk di kursi balkon.
"Tidak ada tapi-tapi! Kalau kamu menggunakan topeng wajah untuk menutupi identitasmu sebagai ketua mafia tersembunyi dan dari jabatanmu yang asli dari mafia lain tidak masalah tapi aku tidak mau kamu menutupi identitasmu kepadaku. Kamu suamiku dan bagiku wajahmu benar-benar sangat tampan sayang..." gumamku mengusap pipi Lanlan.
"Tapi Sani, Elang lebih tampan dari siapapun dan pastinya kamu akan tergoda..."
"Aku tidak peduli, aku memilikimu dan aku benar-benar mencintaimu. Aku tidak butuh wajah tampan tahu! Yang aku butuhkan seorang pria yang mencintaiku, melindungiku dan setia menungguku diseumur hidupnya."
"Tapi kan wajahku sangat jelek sayang!"
"Aku juga sangat jelek tapi kenapa kamu bertahan menungguku selama bertahun-tahun?" ucapku menatap Lanlan serius.
"Aku sudah menikah denganmu, aku terikat denganmu, aku tidak mau aku seperti ibu, aku tidak mau kalau aku suka bermain dengan wanita lain seperti ibu, lagipula kalau dipikir-pikir...aku...aku mencintaimu Sani..." gumam Lanlan pelan.
"Yaah itu juga lah alasanku, kamu sudah mengerti kan? Jadi kenapa kamu sangat khawatir?" tanyaku serius.
"Tapi aku masih saja khawatir..." gumam Lanlan menundukkan kepalanya.
"Hmmm ya aku tahu sayang, aku juga khawatir jika kamu dimiliki wanita lain tapi aku percaya padamu, aku percaya cintamu, aku benar-benar mencintaimu..." gumamku mencium Lanlan dan wajahnya langsung memerah.
"Hmmm baiklah, aku sedikit tenang sekarang..." desah Lanlan menarikku dan memelukku erat.
"HAHAHA ternyata seorang Lanlan yang dikenal kejam dan tidak segan-segan memenggal kepala orang lain bisa sangat bucin seperti anak anjing kecil hanya dengan seorang wanita ya!!" tawa seorang pria berdiri di depan kami, Lanlan sedikit melonggarkan pelukannya dan mengusap rambutku lembut.
__ADS_1
"Kenapa kau sangat lambat?" gerutu Lanlan dingin.
"Ya ingin melihat saja sisi lemah seorang jenderal kemiliteran khusus seperti apa, benarkan Fiyoni? Hahaha!!" tawa pria itu keras.
"Ya kan sudah aku bilang kalau Lanlan sekarang sangat bucin dengan seorang wanita, kamu tidak percaya..." gumam Fiyoni menghisap rokok miliknya.
"Heeei kau tidak boleh merokok di depan wanita hamil tau!!" protes Lanlan kesal.
"Haish baik-baik...tuh lihat kan dia sangat peduli dengan wanita sekarang..." gumam Fiyoni mematikan rokoknya.
"Astaga kau sekarang sudah berani menghamili anak orang Lanlan, widih kau kalah tuh Fiyoni!"
"Ya begitulah...tidak apa lah, aku masih suka bermain-main saat ini..." gumam Fiyoni santai.
"Ngomong-ngomong siapa wanita yang bisa meluluhkan hati Jenderal terkejam ini?" gumam pria itu santai.
"Yaah wanita yang sangat galak, sukanya marah-marah, wanita yang kejam, wanita yang misterius, dan susah ditaklukkan. Bahkan pria lain saja tidak berani menatapnya!" sindir Fiyoni menggerak-gerakkan tangannya seakan-akan yang diceritakannya itu benar terjadi.
"Uuuuu benarkah? Tapi kenapa bisa membuat seorang jenderal kemiliteran terkejam ini takluk ya? Padahal tidak ada wanita yang sanggup membuatnya se manja itu bahkan jika dilihat-lihat mirip anak anjing yang imut hahaha!" tawa pria itu kencang
"Ya dia bisa menaklukkan beribu-ribu pria tapi tidak ada satu priapun yang bisa menaklukkannya. Ingin dekat saja pasti banyak pria lain yang akan berpikir dua kali loh..hahaha!" tawa Fiyoni senang, aku mengangkat wajahku dan menatap Fiyoni dingin.
"Terus? Apa kakak ingin aku hukum lagi?" gumamku dingin, melihat tatapanku Fiyoni langsung terkejut.
"Eeehh ti..tidaklah... adikku yang satu ini sangat baik kok...hehehe benarkan Lanlan..." gumam Fiyoni cengengesan.
"Eehhh tunggu bukannya dia ketuamu Fiyoni?" tanya pria itu terkejut.
"Ya memang dia ketuaku, gak tau kenapa Lanlan bisa kembali mencintainya padahal Lanlan sangat benci dengannya..." gumam Fiyoni meminum wine di atas meja balkon.
"Terpesona kali!" gumam Fiyoni melirik pria itu serius.
"Yaah pokok itulah, mmm ngomong-ngomong siapa namamu?" tanya pria itu menatapku serius.
"Aku... Sani Shin."
"Eeeh tunggu dulu, Sani...Sani si psikopat cantik ketua mafia penguasa yang membunuh semua musuh di perang mafia masa lalu?"
"Ya memang, kan dia ketuaku sejak dulu Rei..." gumam Fiyoni meminum winenya.
"Eeehh kamu gak jadi ganti ketua?" tanya pria itu terkejut.
"Kapan aku bilang ganti ketua? Dari pada ketua yang lain masih mending dia lah. Dia hebat dan ya diakui oleh semua petinggi bahkan raja mafia sekaligus... kalau bukan karena dia juga pasti aku tidak sehebat ini juga."
"Waaww keren... Fiyoni, boleh gak bertukar denganku? Aku jadi wakilnya kamu jadi wakil Lanlan tuh."
"Idiihh gak mau lah, mending Sani ajalah... dia galak-galak tapi dia ketua terbaik bagiku!"
"Pelit kali sih kau!"
"Biarinlah ngapain juga minta bertukar ketua!" gerutu Fiyoni.
"Pengen nyoba jadi wakilnya aja!"
"Enggak mau!"
__ADS_1
"Ayolah!"
"Enggak ya enggak!" protes Fiyoni kesal.
"Sudahlah kalian berdua berantem mulu!" gerutu Lanlan dingin.
"Rei kau belum berkenalan dengan istriku!" gerutu Lanlan dingin.
"Oh ya lupa, salam kenal cantik...aku Rei Shinju, adik kandung Fiyoni Shinju ini..."
"Adik kandung? Bukannya..." gumamku terkejut. Rei Shinju ya? Masa Fiyoni memiliki adik kandung?" Batinku.
"Dia memang adik kandungku, dia tidak pernah di keluarga Shinju, dia lebih sering di keluarga Kim karena dia wakil mafia Lanlan. Jadi ya ayah tidak menganggapnya anak lagi hahaha..." tawa Fiyoni keras. Ooh Rei ya nama adik kandungnya tapi kenapa aku tidak pernah mendengar nama itu selama menjadi ketua mafia ya... Batinku.
"Hilih cerewet kali kau! Mentang-mentang ketuamu cantik dan hebat saja sombong kali kau!" gerutu Rei kesal.
"Ya pastilah, emangnya kau! Hahaha!!" sindir Fiyoni tertawa kencang.
"Astaga masih saja bertengkar mereka berdua..." desah Lanlan kesal.
"Apa mereka selalu bertengkar seperti itu?" tanyaku pelan.
"Yaah begitulah, tiada hari tanpa bertengkar mereka berdua itu..." gumam Lanlan menciumku lembut.
"Oh, mmmm aku juga sering bertengkar dengan Sain dan Sina dulu..."
"Benarkah? Kalau dengan Siany?"
"Aku... hanya sekali bertemu bahkan tidak pernah mengobrol sama sekali."
"Benarkah?" tanya Lanlan pelan dan aku hanya menganggukkan kepalaku pelan.
"Oh ya.Nanti kita ke suatu tempat dulu."
"Kemana?"
"Entah, kakek yang mengajak kita ikut."
"Apa mereka berdua ikut?"
"Ya pastilah, kalau mereka berdua bukan wakil ya tidak usah diajak..."
"Oohh mmm baiklah..." desahku pelan. Tiba-tiba datang ketiga bawahanku membawakan sebuah gaun pesta yang sangat indah.
"Permisi nona muda, tetua menyuruh anda segera berganti pakaian agar bisa langsung berangkat..." ucap Wan memberikanku gaun itu.
"Berangkat kemana? Kenapa memakai gaun pesta?" tanyaku bingung.
"Kata tetua, nona muda dan tuan muda wajib mengikuti sebuah pesta khusus."
"Pesta khusus? Apa itu?" tanyaku penasaran.
"Halah pesta merayakan kehamilanmu, itu pesta wajib bagi keluarga tertinggi!" ucap Fiyoni serius.
"Oh mmm baiklah aku akan ganti sebentar..." gumamku beranjak menuju kamar mandi dan segera mengganti pakaian.
__ADS_1
Ya jika dilihat-lihat aku yang awalnya sama sekali tidak tahu apapun semenjak bersama Lanlan aku jadi tahu apa yang terjadi bahkan tentang keluarga tertinggi di dunia mafia.