Tangan Kanan Tuan Muda Mafia

Tangan Kanan Tuan Muda Mafia
Episode 2 : Kenangan


__ADS_3

Pagi ini aku asik memainkan handphoneku di sofa ruang tengahku, karena aku anak tunggal jadi apapun yang aku lakukan hanya untuk diriku saja bukan untuk orang lain dan aku di layani oleh pembantu yang dua puluh empat jam melayaniku


Disela - sela rasa santaiku, aku mendengar pembicaraan ayah dan ibuku di dalam kamar. Ya walaupun tidak terdengar jelas tapi aku masih bisa mendengar pembicaraan mereka


"Apa kamu kalah?" protes ibuku


"Ya begitulah"


"Lalu apa yang kamu taruhkan?"


"Anak kita"


"Apa? Anak kita? Kau gila ya!!" protes ibuku kesal


"Cuma bekerja dengan mereka saja kok"


"Tidak, aku tidak setuju"


"Besok mereka akan membawanya"


"Tidak boleh"


"Tapi kalau mereka murka bagaimana?"


"Aku tidak peduli, uang kamu banyak kenapa kamu mengorbankan anakmu satu - satunya!!!"


"Tapi aku terpaksa"


"Tidak, tidak akan" protes ibuku keluar kamar dan aku menatap wajah ibuku yang kesal


"Ibu.." gumamku menatap wajah ibuku


"Sani anakku, kamu mau tidak pergi ke luar negeri?"


"Ke luar negeri? Mau ngapain kesana?"


"Liburan, sebentar lagi kamu berangkat ya"


"Sama ayah ibu?"


"Tidak, kamu main saja sendiri ya"


"Kenapa tidak dengan ayah dan ibu?"


"Ayah dan ibu ada urusan jadi harus diselesaikan dulu, pasti kamu jenuh kan dirumah"


"Mmm baiklah ibu" gumamku memainkan handphoneku kembali


"Bagus anak penurut"


"Kamu serius akan melakukan itu?" tanya ayahku kaget


"Ya, aku akan melakukannya dan tidak peduli seberapa marahnya kamu"


"Hmmm" desah ayahku sedih


"Nak, kamu siap - siap aja dulu ya" gumam ibuku tersenyum kepadaku


"Baiklah ibu" gumamku pergi ke kamarku dan merapikan barang - barangku dan mengangkatnya keluar kamar


"Kamu sudah siap nak" tanya ayah menatapku


"Iya ayah" gumamku senang


"Ini tiket dan uangmu selama disana, jangan dihabiskan ya" ucap ibuku menaruh tiga amplop coklat tebal ke dalam koperku dan tasku


"Baik ibu" gumamku


"Ini bawa sekalian, buat jaga - jaga" ucap ayah menyerahkan beberapa atm dan buku tabungan kepadaku


"Banyak banget ayah, yang diberikan ibu itu aja masih lebih" gummaku menolak


"Udah bawa aja, jangan sampai hilang ya" gumam ayah memasukkannya kedalam koperku

__ADS_1


"Baiklah ayah" gumamku tersenyum


"Ya udah cepetan berangkat nanti keburu pesawatnya berangkat" gumam ibuku


"Baiklah, aku berangkat ayah ibu" gumamku bersalaman dengan ayah dan ibuku lalu berangkat ke bandara menggunakan mobil pribadiku


Jarak antara rumahku dan bandara tidaklah begitu jauh hanya membutuhkan waktu setengah jam saja untuk sampai ke bandara. Setengah jam berlalu, akhirnya aku sampai di bandara.


"Terimakasih pak" gumamku tersenyum kepada sopir


"Mau saya bantu nona?"


"Eehh tidak usah pak, saya bisa sendiri" gumamku menarik koperku


"Baiklah, hati - hati nona" gumam sopir itu meninggalkan lokasi bandara


"Hmmm, Paris ya" desahku menatap tiket itu


"Baiklah, cuma sehari aja" desahku  berjalan ke check in dan masuk ke dalam pesawat


Aku duduk ke salah satu tempat duduk yang berada di dekat jendela. Aku memasang headset di telingaku dan memejamkan kedua mataku. Aku menikmati liburan kali ini tapi tidak tahu kenapa aku merasa ada yang janggal di kepergianku ini.


"Kenapa ayah dan ibu menyuruh aku pergi mendadak seperti ini?" gumamku menatap awan putih yang mengelilingi pesawatku ini


"Ya mungkin karena aku liburan kali ya, positif thingking aja deh" desahku bersandar di kursiku


Tiga jam berlalu, akhirnya pesawat mendarat di bandara Paris dengan selamat. Aku dan penumpang lainnya juga turun dari pesawat mengambil koper kami dan berjalan keluar bandara


"Mmm naik taxi aja deh" desahku melambaikan tanganku ke arah salah satu taksi dan aku memasuki taksi tersebut


"Selamat pagi nona, tujuan anda?"


"Hotel Eiffell pak" gumamku menyandarkan kepalaku ke kaca


"Baik"


Aku menatap ke luar jendela orang – orang yang sedang berjalan – jalan sore dan kendaraan yang berlalu lalng di jalanan kota Paris ini. Mobil melaju dengan santai ke hotel di dalam menara Eiffell itu. Tidak berapa lama aku sampai di depan menara Eiffell dan turun dari taxi


Aku menarik koperku berjalan menuju ke lobi yang ada di bawah menara, di lobi aku bertemu dengan petugas hotel yang ramah menyambutku


“Nona Sani ya? Ini kunci kamarnya” ucap pelayan itu ramah dan memberikanku sebuah kunci kamar


“Oh ya terimakasih” gumamku berjalan menuju ke kamar yang sudah di sediakan


Aku meletakkan koperku di sudut ruangan dan merebahkan tubuhku ke tempat tidur karena saking capeknya. Makananku juga sudah di siapkan di dalam kamar jadi aku tidak perlu repot – repot untuk pergi keluar hotel.


Aku menatap pemandangan indah kota Paris dari dalam menara ini, langit sangat biru, burung beterbangan di angkasa dan juga hiruk pikuk kemacetan di jalanan yang menambah keindahan Kota Paris. Dan akupun tertidur di tempat tidurku yang empuk itu


Krrriinggg


Tiba – tiba handphone milikku berdering keras sehingga membangunkan aku dari tidurku, aku menatap di layar handphone tertulis kepala kepolisian, aku bingung kenapa polisi meneleponku malam – malam seperti ini apalagi di handphone ku tertulis pukul 2 pagi dini hari


“Hallo” gumamku menahan kantukku


“Hallo, ini dengan nona Sani?”


“Iya pak, ada apa ya pak?”


“Nona Sani berada dimana sekarang?”


“Saya berada di Paris pak, ada apa?”


“Mmm begini, keluarga besar anda semuanya telah tewas” ucap polisi tersebut yang membuatku sangat terkejut


“Te.. Tewas?” gumamku terkejut dan tanpa aku duga air mataku mengalir deras di pipi


“Iya nona, kalau bisa segera kembali ke Jepang nona. Anggota saya akan menjemput nona di bandara”


“Ba… Baik pak” gumamku mematikan telpon itu dan segera membawa koperku turun dari lantai kamarku


“Malam nona, ada yang bisa saya bantu” gumam pelayan hotel dengan ramah


“Sa… Saya akan check out sekarang, di rumah ada urusan mendadak” gumamku mengembalikan kunci

__ADS_1


“Baiklah, terimakasih telah datang kemari nona” gumam pelayan itu ramah dan aku langsung berlari menghentikan


taksi yang segera datang dari depanku


“Pak taksi” teriakku dan taksi itu berhenti di depanku dan aku segera masuk ke dalam taksi


“Ke bandara pak” gumamku tergesa – gesa dan segera mobil melaju ke arah bandara


Beberapa menit kemudian, mobil taksi itu sampai di bandara, karena di jalan snagat lengang mobil taksi tersebut bisa cepat sampai ke bandara


“Terimakasih pak” gumamku segera menukarkan tiketku dan segera masuk ke dalam pesawat


Di dalam pesawat aku sangat tidak nyaman, perasaanku sedih, marah, kesal bercampur aduk menjadi satu. Kenapa bisa keluargaku bisa tewas semua? Siapa yang melakukannya? Kenapa bisa sejahat itu?. Pertanyaan – pertanyaan kenapa dan siapa terus bergentayangan di dalam pikiranku yang membuat aku tidak tenang


Selama berjam – jam aku menahan diriku untuk tidak menangis di dalam pesawat, aku percaya orang tuaku tidak


akan tewas dengan mudah seperti itu. Setelah terlalu lama aku menahan semuanya, akhirnya aku sampai di bandara Jepang. Aku keluar dari pesawat dan bertemu dengan dua anggota kepolisian yang sudah menunggu kedatanganku


“Nona, mari” gumam polisi pria membukakan pintu untukku


“Terimakasih” gumamku dan polisi tersebut mengendarai mobil dengan cepat


“Bagimana bisa terjadi seperti itu tuan?” gumamku menahan sedih


“Nanti biar kepala kepolisian yang menjelaskan kepada nona”


“Kedua orang tuaku… juga?” gumamku menatap polisi itu


“Hmmm iya nona”


“Kenapa bisa?” gumamku sedih


“Siapa yang melakukannya itu” gumamku tidak percaya, air mataku tiba – tiba turun membasahi pipiku dan polisi tersebut hanya sesekali memandangiku dengan rasa kasihan


Beberapa menit kemudian aku sampai di rumahku, aku segera turun dari mobil patrol dan berlari kea rah pintu masuk rumahku. Di depan pintu masuk aku melihat beberapa mayat pembantuku yang tergeletak di lantai


“Nona Sani sudah disini?” sapa kepala kepolisian menatapku


“A..Apa yang terjadi?” gumamku dan aku terkejut saat melihat mayat orang tuaku tergeletak di lantai


“Ayah ibu!!!” teriakku sedih.


“Ayah ibu bangunlah” gumamku menggerak – gerakkan tubuh mereka


“Nona Sani sabar nona”


“Siapa yang melakukannya semua ini? Siapa?” teriakku kesal


“Yang melakukannya adalah sekelompok mafia Korea”


“Ma… Mafia Ko… Korea?”


“Ya mereka yang membunuh keluarga anda”


“Kenapa? Kenapa mereka jauh – jauh datang ke Jepang?”


“Saya juga tidak tahu nona, karena petunjuk sudah di hilangkan”


“Pak polisi tolong tangkap pelaku pembunuhan itu tolong pak!!!” ucapku memoohon kepada polisi itu


“Sa… Saya ingin sekali membantu nona, tapi hal itu tidak mungkin nona”


“Tidak mungkin ? Kenapa?”


“Karena mereka mafia terbesar kedua di dunia ini, kalau kami melawan mereka, mereka bisa saja memusnahkan kami  semua anggota kepolisian. Jadi nona yang tabah dan sabar ya” ucap keplaa kepolisian menenangkanku


“Kalian polisi kenapa bisa takut dengan mafia itu? Kenapa?” teriakku tidak terima


“Karena mereka sangat sadis nona, paling yang bisa membantu anda adalah ketabahan hati nona”


“Gak – gak bisa seperti itu, aku gak terima” teriakku kesal


Ya rasa kesal, sedih, emosi, marah bercampur jadi satu dan menjadi sebuah dendam kesumat. Kejadian itulah yang membuatku selalu mengalami penderitaan di hidupku selanjutnya

__ADS_1


__ADS_2