
Walaupun Lanlan memelukku erat tapi aku tahu dia benar-benar membenciku, kedua tangannya sesekali menggenggam erat tanganku seakan-akan dia menahan dendam kepadaku.
"Kamu...kamu membenciku kan?" ucapku pelan, aku berusaha melepaskan pelukan Lanlan tapi Lanlan tidak mau melepaskannya.
"Tidak kok."
"Kamu tidak bisa membohongiku Lanlan."
"Aku tidak membencimu, aku yang...marah dengan diriku sendiri."
"Marah? Kenapa kamu marah dengan dirimu sendiri bukannya kamu marah kepadaku?"
"Aku...aku marah dengan diriku sendiri, seharusnya aku membawamu kabur dari keluarga Shin. Kalau aku dulu tidak meninggalkanmu pasti..."
"Kak Lanlan bukan salahmu, ini semua salahku, aku yang membunuh ibumu dengan tanganku."
"Tidak Sani, kamu tidak sepenuhnya bersalah!"
"Tidak Lanlan...aku yang salah, kamu seharusnya membunuhku."
"Walaupun sangat ingin tapi... aku tidak bisa membunuhmu."
"Kenapa?"
"Karena aku terikat denganmu, kamu istriku! Lagipula kalau ibu tidak berselingkuh dengan ayahmu pasti... dia tidak akan mati seperti itu."
"Tapi Lanlan... aku merasa bersalah kepadamu. Kamu selalu melindungiku, kamu selalu sabar menungguku, kamu selalu baik kepadaku...sedangkan aku...aku malah menyakitimu, aku yang tidak ingat masa kecilku selalu membuatmu menderita bahkan...aku juga membunuh ibumu. Aku merasa bersalah kepadamu Lanlan."
"Sayang... dengar..."
"Lanlan aku mohon hukum aku, agar aku...bisa menebus kesalahanku padamu dan pada keluarga Kim."
"Tidak Sani, aku tidak mungkin...."
"Aku mohon kak Lanlan, hukum aku!!" ucapku terus memohon.
"Hmmm... baiklah, tapi bukan sekarang ya."
"Kenapa?" tanyaku pelan.
"Ya pokok tidak sekarang, intinya...jangan terus salahkan dirimu istriku. Bagaimana?"
"Hmmm ba...baiklah...tapi...kamu juga jangan menyalahkan dirimu sendiri, kamu tidak pernah salah kak Lanlan..." desahku menyandarkan kepalaku di dada Lanlan.
"Baiklah. Oh ya kamu jadi bertemu dengan tetua dan pemimpin mafiamu?"
"Mungkin, apa kak Lanlan jadi bertemu dengan petinggi militer dunia?"
"Ya mau bagaimana lagi... menjadi mafia yang berada di antara mafia dan militer sangat melelahkan."
"Hmmm tidak apa sayang... aku akan selalu menemanimu..." gumamku memeluk Lanlan erat.
"Ya benar, ada kamu. Kamu benar-benar penyemangat hidupku istriku..." ucap Lanlan menciumku lembut.
"Tunggu dulu... kalian tidak jadi berantem nih?" ucap Fiyoni terduduk di kursi balkon sambil memakan popcorn yang ada di tangannya dan disebelahnya Soni yang sedang bermain handphone santai.
"Eeeh sejak kapan kalian disini?" tanya Lanlan terkejut.
"Sejak tadi. Kami kira kalian bertengkar beneran..." gumam Soni santai.
"Ya padahal aku sudah membawa popcorn nih..." gerutu Fiyoni melahap kembali makanannya.
"Kalian kira ini drama apa!" gerutuku melempar botol ke arah mereka berdua dan mereka langsung dengan cepat menghindar.
"Huufft untung bisa menghindar.." desah Soni pelan.
"Ya benar, kalau tidak sudah berdarah ini kepala..." gumam Fiyoni kembali melahap makanannya.
"Haish menyebalkan..." desahku menyembunyikan wajahku kembali.
"Mari kita pergi sayang..." gumam Lanlan menggendongku pergi dari balkon kamar.
__ADS_1
"Heei... kau belum menjawab pertanyaanku kak!" gerutu Soni dingin.
"Apa?"
"Kau pernah bilang kau tidak mencintai Sani tapi kenapa...kenapa kau sekarang merebutnya dariku!" gerutu Soni kesal.
"Mau aku tidak mencintainya atau aku mencintainya, dia tetaplah milikku dan dia tetaplah istriku, siapapun tidak boleh memilikinya walaupun itu adikku sendiri!"
"Tapi kakak bilang kalau kakak tidak akan..."
"Aku menarik kata-kataku, aku akan mencintai Sani sampai kapanpun. Kamu...uruslah istrimu sendiri!" gerutu Lanlan berjalan pergi.
"Kak Lanlan..." gumamku pelan.
"Ada apa sayang?"
"Mmm ti...tidak ada..." gumamku menyembunyikan wajahku lagi.
"Oh ya...kapan kamu pergi sayang?"
"Mmm entahlah, aku lagi malas."
"Aku juga lagi malas apalagi bersama denganmu, aku tidak ingin jauh darimu..." gumam Lanlan mencium pipiku lembut.
Krrriiiiinnngg...
Terdengar suara handphoneku berbunyi kencang, aku mengambil handphone di dalam saku pakaian dan mengangkat telepon dari Wan.
"Hallo Wan."
"Nona muda sudah ditunggu tetua dan pemimpin mafia."
"Loh sekarang kah?"
"Iya nona, sebelum pesta dimulai tetua ingin bertemu dengan nona muda, bukannya tuan Fiyoni menjemput anda?"
"Oh mmm baiklah, tunggu di depan Wan, aku akan bersiap-siap."
"Siapa sayang?"
"Wan, katanya tetua sudah menungguku..." gumamku pelan.
"Memang. Makanya ayo cepatlah Sani!" gumam Fiyoni berjalan masuk ke kamar sambil memakan popcorn.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya sejak awal kakak!" protesku kesal.
"Mmm yaaah ada pertunjukan menarik jadi aku menonton kalian yang terus saja meromantis di depan pria jomblo ini..." gerutu Fiyoni kesal.
"Kak Fiyoni... setelah pesta...kau harus lari 25 kali putaran mengitari rumah keluarga Shinju sambil membawa dua ember yang berisi penuh dengan air dan jangan sampai airnya tumpah sedikitpun!" gerutuku turun dari gendongan Lanlan.
"Eeeh... ja...janganlah... kau tega dengan kakakmu?" teriak Fiyoni terkejut.
"Mau aku tambahi lagi?"
"Eehh astaga, 25 kali saja sudah membuatku kurus apalagi ditambahin, tidak mau lah!" gerutu Fiyoni kesal.
"Ya sudah lakukan hukumanmu biar mereka bertiga yang mengawasimu..." gumamku menunjuk ketiga bawahanku tertawa kencang.
"Siap nona muda!" teriak Roy, Zaki, dan Wan semangat.
"Haish kalau kalian malah senang melihatku menderita!" gerutu Fiyoni kesal.
"Tentu sajalah, dari pada hukuman yang itu...mending hukuman lari.." gumam Roy santai.
"Ya benar, kalau kau dihukum dengan hukuman yang itu...kamu nanti tidak bisa bermain dengan wanita loh!" sindir Wan sambil terus tertawa.
"Ihhh dasar kalian ya!!" gerutu Fiyoni kesal.
"Kakak!" gumamku memakai jubahku.
"Haish kamu tetap saja membela mereka."
__ADS_1
"Mereka bawahanku yang aku percaya dan kakak wakil yang aku percaya jadi... belajarlah untuk akur..." gumamku menyembunyikan senjataku di balik jubahku.
"Baik...baik... untung kau ketua mafia yang hebat kalau tidak.."
"Kalau tidak kenapa?" tanyaku dingin.
"Tidak ada...lupakan saja!" gerutu Fiyoni kembali memakan popcornnya.
"Hmmm, aku pergi dulu ya kak Lanlan..." gumamku menarik kerah pakaian Lanlan dan menciumnya.
"Baiklah...jangan nakal-nakal tahu."
"Ya aku tahu kok...Roy, Zaki, Wan mari..." gumamku membuka pintu kamar.
"Eeeh aku gak diajak nih?"
"Haish mari kakakku tercinta..."
"Nah gitu dong, sekali-kali romantis sama kakak sendiri..." gumam Fiyoni mengikuti dari belakang.
Pertemuan kali ini akan diadakan di sebuah gedung yang letaknya lumayan jauh dari kediaman Keluarga Kim, aku ingin berpamitan dengan Tuan Kim tapi ternyata tidak ada orang di dalam rumah selain kami yang ada di kamar. Jadi mau tidak mau aku segera pergi menggunakan mobil yang dibawa oleh ketiga bawahanku.
Selama di perjalanan, aku membuka catatanku dan menulis informasi yang aku peroleh selama ini apalagi pasti tetua akan menanyakan hal itu.
"Oh ya nona muda, nanti nona muda akan melakukan pertemuan dengan petinggi mafia militer juga..." ucap Wan serius.
"Eeh tunggu, kenapa?" tanyaku terkejut.
"Karena itu tugas dari militer juga nona jadi karena anda yang mengambil tugas ini jadi anda harus bertemu dengan petinggi militer juga."
"Oh begitu ya," desahku menutup catatanku dan turun dari mobil saat mobil sudah berhenti tepat di depan gedung.
"Mari nona muda..." gumam Roy berjalan mendahuluiku.
"Baiklah..." desahku mengikuti langkah kaki Roy melewati jalan setapak di sisi kiri gedung. Tidak lama berjalan kami sampai di sebuah ruangan yang dipenuhi oleh beberapa tetua dan pemimpin mafia tertinggi.
"Aaah akhirnya datang juga kamu Sani!" teriak tetua kencang.
"Sani mohon izin menghadap tetua..." gumamku membungkukkan badanku.
"Berdirilah Sani, oh ya kamu beneran mau mengambil tugas itu setelah beberapa kali menolak?" tanya pemimpin mafia serius.
"Ya mereka terus memaksa untuk mengambil tugas itu.." gumamku melirik Fiyoni dan ketiga bawahanku.
"Baguslah, tidak ada ketua mafia yang mampu menangkapnya karena mereka sangat kuat."
"Apa ada informasi mengenai mereka tetua?" tanyaku serius.
"Hanya sebuah foto pria yang bernama Tian yang tertangkap kamera salah satu mafia yang berhasil kabur.." gumam tetua memberikanku sebuah foto yang telah tercetak.
"Tunggu... sepertinya aku kenal..." gumam Fiyoni serius.
"Kalau dilihat memang wajahnya mirip kakak kandung Sani dan aku juga terkejut melihatnya. Tujuan kalian adalah membawanya ke pengadilan."
"Tunggu... tapi kalau dia benar-benar kakakku bagaimana?" tanyaku terkejut.
"Kamu memiliki kekuasaan istimewa dari para militer karena kamu mau menerima tugas ini, kamu bisa membela kakakmu kalau kakakmu terbukti tidak menjadi otak melakukan itu. Tapi kalau dia yang merupakan otaknya..."
"Kami tidak bisa menjamin kekuasaan istimewamu bisa digunakan Sani!" ucap tetua serius.
"Tapi tetua..."
"Ini demi keamanan kakakmu juga cucuku, kamu tahu apa yang terjadi dari Lanlan kan. Kalau musuh mengetahui keberadaan kakakmu bisa jadi kakakmu dibunuh, walaupun kakakmu dipenjara kamu masih bisa bertemu dengannya sekalian kamu bisa mengawasinya, asalkan sekarang kamu harus mengamankan kakakmu dulu, mereka sangat susah ditemukan."
"Hmmm...ba...baiklah..." desahku pelan.
"Sebelum ke pesta, kamu harus mendatangi pertemuan dengan pihak militer, kami akan mengantarkanmu..." gumam salah satu pemimpin mafia beranjak dari tempat duduknya.
"Baik tetua..." gumamku membungkukkan badanku dan berjalan mengikuti para tetua dan pemimpin mafia tertinggi di depanku.
Aku berfikir, kalau benar dia adalah kakakku akan sedikit susah bagiku melumpuhkannya tapi mau tidak mau aku harus melakukan cara yang lain untuk melakukannya.
__ADS_1