
Alan terus menenangkanku selama beberapa hari, walaupun aku sudah tenang tapi aku akan kembali menangis saat teringat adikku melakukan itu kepadaku. Dan disaat aku ingin mengakhiri hidupku Alan terus menemaniku kapanpun dan dimanapun aku berada.
Alan tanpa berkata apapun dia memelukku erat dan terus mengelus lembut rambutku seperti Alan yang pernah aku kenal sebelumnya. Aku menghela nafas panjang dan menghapus air mataku
"Alan makasih" gumamku pelan
"Kamu sudah tenang?"
"Ya..."
"Hmmm syukurlah" desah Alan tersenyum kepadaku
"Kalau kamu sedang sedih atau tertekan bilang saja kepadaku ya.." gumam Alan pelan
"Ya, kamu jangan sampai terluka oleh mereka. Kalau kamu terluka aku tidak akan ragu untuk membalaskan dendammu" gumamku serius
"Tidak perlu, aku tidak akan terluka. Mereka juga menargetkanmu" gumamku mengambil pedangku
"Kata siapa?" tanya Alan terkejut, aku segera menangkis seluruh serangan musuh yang menargetkan Alan
Taaaannggg
"Uukkhh.."
"Mungkin mereka menargetkan kamu"
"Kata siapa? Tuh lihat dadamu" gumamku menunjuk sebuah laser merah, aku segera melemparkan jarumku dan mengenai penembak yang bersembunyi di atas pohon, aku segera mengambil senjata yang terjatuh di bawah pohon
"Waah senjata yang bagus" gumamku pelan sambil mengambil beberapa senjata yang berserakan di tanah
"Roy, Zaki, Wan..." gumamku dan datanglah tiga orang bawahanku
"Ya nona muda.." gumam ketiga bawahanku di depanku
"Ini bawa semua senjata ini, kalian bisa memakainya" gumamku menyerahkan seluruh senjata itu
"Ini senjata terbaik nona, nona bisa memakainya"
"Udah pakai saja, aku tidak tertarik.."
"Ba... Baik nona muda" gumam ketiga bawahanku mengambil senjata itu
"Pakai senjata itu untuk melawan musuh jarak jauh" gumamku pelan
"Baik nona muda.."
"Ya sudah kalian bisa pergi sekarang.." gumamku dan ketiga bawahanku pergi meninggalkanku
"Mereka tetap setia menjadi bawahanmu ya" gumam Alan menatapku
"Ya, mereka kepercayaanku" gumamku pelan
"Hmmm aku jadi iri..."
"Iri kenapa kan kamu punya bawahan juga"
"Aku hanya punya satu"
"Keempat bawahanmu kemana?"
"Meninggalkanku..."
"Ohh... Kamu mau bawahanku?"
"Tidak, aku bisa mencari lagi.." gumam Alan menarik tanganku
"Kamu akan membawaku kemana?"
"Istirahat..."
"Tidak mau"
"Kamu maunya kemana?"
"Mau membalaskan dendam keluargaku dan juga adikku" gumamku dingin
"Kamu mau membunuh adikmu?" tanya Alan terkejut
"Ya, siapapun yang bersekongkol sama saja musuhku" gumamku dingin
"Apalagi dia ingin membunuhku jadi aku menganggapnya sama saja musuhku" gumamku berjalan pergi
"Tapi kan dia istri adikku!!" protes Alan menatapku
"Kalau dia benar - benar mencintai adikku dan bisa merubah sifatnya ya itu terserah dia mau membujuk dia atau tidak. Yang jelas kalau aku lebih dulu menemukannya aku akan langsung membunuhnya Sann Liu" gumamku menatap Sann yang berdiri di atas pohon
"Kakak apa kamu serius ucapanmu?" tanya Sain terkejut
"Ya..Siapapun itu" gumamku dingin, tiba - tiba Sann Liu berdiri di depanku dengan tatapan dingin dan mengangkat daguku
"Tidak akan aku biarkan siapapun melukai istriku walaupun dia kakak iparku" gumam Sann Liu dingin
"Kalau kamu tidak bisa membawanya pulang sebelum aku, aku yang akan membunuhnya.." gumamku dingin
"Membunuhnya ya? Tidak masalah tapi kamu akan menjadi istriku" gumam Sann Liu menciumku dengan lembut, Alan langsung menarikku dan menatap Sann Liu kesal
"Tidak akan aku biarkan kamu merebut istriku Sann" gerutu Alan kesal
"Aku tidak peduli, kalau istriku terbunuh aku akan merebut Sani"
"Tidak boleh.. "
"Boleh..."
"Dibilangin gak boleh ya gak boleh!!"
Krrriinnggg
Tiba - tiba teleponku berbunyi dan aku langsung mengangkat telepon itu
"Hallo..." gumamku pelan
"Apa ini Sani?"
"Ya, ini siapa?"
"Aku Tony"
"Ada apa?"
"Kami sangat terdesak Sani, tolong kami... Mafia senior juga sudah kewalahan. Ryuki, Hasan dan San sedang bertempur habis - habisan dengan kembaranmu dan ketua mereka, dia sangat hebat"
"Oh, posisi dimana?"
"Tidak jauh dari posisimu"
"Kenapa kamu tahu posisiku?"
"Kakak memberikanmu alat pelacak di lehermu jadi kami tahu"
"Oh ... Baiklah, tapi bilang ke Ryuki kalau aku tidak suka di awasi seperti itu" gumamku dingin dan melepas alat itu dari belakang leherku
"Ya tapi bantu kami Sani"
__ADS_1
"Ya..." gumamku pelan dan mematikan telpon itu
"Dia harus menjadi istriku!!" teriak Sann Liu kesal
"Dia milikku Sann, kamu punya bagianmu sendiri!!"
"Aku tidak peduli!!"
"Apa sih kalian berdua" gerutuku kesal dan berjalan meninggalkan dua orang itu
"Kakak... Kakak... Tunggu!!" teriak Sain menggandeng tanganku
"Ada apa?"
"Kenapa ekspresi kakak aneh?"
"Tidak..."
"Ekspresi kakak aneh.." guman Sain terus menatapku
"Emang kalau Sani benar - benar dendam seperti itu, ekspresi kejam seperti saat perang Asia Pasifik dulu" gumam Alan mengikutiku dari belakang
"Kakak apa kamu benar - benar dendam dengan Kak Sina?"
"Ya..."
"Apa kakak serius ingin membunuhnya?"
"Ya.."
"Tapi dia adikmu kak!!"
"AKU TIDAK PEDULI..." gumamku melepaskan tanganku dari tangannya Sain dan berjalan cepat
"Tidak perlu mengikutiku..." gumamku sedikit berlari
"Roy, Zaki, Wan... Mari pergi..." teriakku kencang
"Baik nona..." gumam bawahanku mengikutiku
"Kita kemana nona?" tanya Wan bingung
"Mari kita mulai rencana kita" gumamku pelan
"Oh baik nona" gumam Ketiga bawahanku mengikuti dari belakang, kami segera pergi ke tempat dimana para mafia pemberontak melawan mafia senior barat
"Nona di depan ada asap...!!!" teriak Wan dan aku menatap asap hitam itu
"Mari kita bersembunyi dulu..." gumamku dan kami menaiki pohon yang tinggi di sekitar tempat pertarungan itu
Di bawah aku melihat Seluruh mafia senior barat terluka dan Ryuki beserta si kembar itu melawan mafia tertinggi dengan habis - habisan
"Ternyata lebih besar dari perang Asia Pasifik dahulu" gumamku pelan
Aku mengamati pertarungan mereka dan melihat kapan peluang itu muncul. Tidak aku sangka muncul seluruh mafia senior pusat membantu mereka
"Kenapa mereka datang sih!!" gerutuku kesal, aku mengamati mafia senior pusat itu tapi aku tidak menemukan Alan diantara mereka
"Kemana itu orang..." gumamku pelan
"Apa kamu mencariku istriku?" gumam Alan mendekapku dari belakang
"Ke... Kenapa kamu tahu kalau aku ada disini?" gumamku terkejut
"Menurutmu? Apa aku akan membiarkan istriku di cium oleh laki - laki lain.."gumam Alan menggigit leherku
"Aaaaaaaauuuuuu" teriakku kencang dan Alan membungkam bibirku dengan tangannya
"Haish teriakanmu mengganggu mereka tahu..." gumam Alan dingin
"Sa... Sakit.."rintihku kesakitan
"Itulah hukumanmu kalau kamu mencium laki - laki lain.."
"Ta... Tapi dia yang menciumku dulu" gumamku pelan
"Aku tidak peduli... Bagiku itu sama saja" gumam Alan mencium bibirku lembut
"Kamu tidak boleh melakukan itu lagi, kamu milikku. Apa kamu mengerti.."
"Y... Ya a.. Aku mengerti" gumamku memegang leherku yang terasa sangat nyeri
"Apa yang sedang kamu rencanakan disini?"
"Tidak ada..."
"Apa kamu tidak mau memberitahukanku?" gerutu Alan mengigit leherku lagi
"Ba... Baiklah jangan gigit aku..." rintihku kesakitan
"Jadi jelaskan!!" teriak Alan menatapku dingin
"Aku ingin menyerang di akhir pertempuran Alan" gumamku pelan
"Hanya itu?"
"Ya, hanya itu. Dari awal Sann sudah aku beritahu. Aku akan punya targetku tersendiri dan aku ingin melakukannya sendiri karena aku akan tahu mereka akan kalah dengan mafia pemberontak..." gumamku menunjuk semua mafia senior terluka
"Ya tebakanmu memang benar..." bisik Alan di telingaku
"Itulah kenapa aku ingin melakukannya sendiri Alan.."
"Aku tahu, aku juga tidak ingin bantuan mereka dan memilih meminta bantuanmu istriku" gumam Alan menciumku lembut
"Apa kamu sudah menduganya?"
"Ya pastilah aku tahu siapa kamu dan aku tahu apa yang akan terjadi, itulah kenapa aku menemuimu walaupun sebenarnya bukan waktunya menemuimu" bisik Alan pelan
"Apa maksudmu?" tanyaku terkejut, Alan mendorongku ke pohon dan menekan tubuhku kuat
"Sebenarnya, aku masih ingin melihatmu bermain - main dengan laki - laki lain agar aku bisa memberikanmu hukuman untukmu..." bisik Alan di telingaku
"Le... Lepasin aku.." gumamku berusaha melepaskan diriku dari genggaman manusia menyebalkan satu ini
"Melepaskanmu ya? Aku sangat bodoh kalau aku melepaskan istriku sendiri" gumam Alan menciumku
"I... Ini lagi perang tahu, apa yang akan kamu lakukan?" gumamku terkejut melihat tingkah laku Alan
"Aku hanya ingin kamu memenuhi kewajibanmu sebagai istriku..." bisik Alan pelan
"Tapi tidak sekarang Alan!!!" protesku terus meronta kesal
"Lalu kapan kamu akan memenuhi kewajibanmu?"
"Kalau perang ini berakhir.." gumamku pelan
"Oh benarkah? Aku tidak percaya dengan perkataanmu istriku" gumam Alan terus menciumku
"Aku berjanji kepadamu, berikan aku kesempatan untuk membalas dendam" gumamku menatap mata Alan
"Oh baiklah, aku pegang janjimu. Setelah perang ini berakhir kamu harus mengikutiku kemanapun aku pergi dan menjadi tangan kananku bagaimana?" gumam Alan menatapku serius
"Ta... Tangan kanan?" tanyaku terkejut
__ADS_1
"Ya, seperti yang kamu lakukan dengan Ryuki itu. Tapi tangan kanan yang aku maksudkan kamu akan menjadi asistenku di polisi militer mafia, asisten pribadiku dalam menangani perusahaan, bawahan kepercayaanku di dalam mafiaku dan juga menjadi istriku satu - satunya bagaimana?"
"Ba... Banyaknya..." desahku terkejut
"Ya, dengan begitu kamu tidak akan bisa pergi kemanapun istriku sayang" gumam Alan menciumku kembali. "Aduh bagaimana ini..." desahku dalam hati penuh kebingungan
"Bagaimana?"
"A... Aku tidak tahu..."
"Tidak tahu ya? Apa kamu ingin musuhmu yang menang atau suamimu yang menang?" gumam Alan menatapku dingin
"Musuh?"
"Ya, aku dengan Sann Liu, Ryuki, Sony, dan Hasan Kim bertaruh untuk merebutkanmu. Apa kamu ingin mereka menang dan memilikimu sedangkan suamimu menderita kesepian sendirian" gumam Alan menggigit bibirku lembut
"Aku tidak ingin membuatmu menderita..." gumamku pelan
"Jadi apa keputusanmu?" bisik Alan menggenggam erat tanganku dan terus menciumku
"Baiklah aku berjanji akan bersedia menjadi tangan kananmu" teriakku keras dan tanpa sadar aku memilih menyetujuinya. "Aduh aku salah bicara...!! Sani kamu bodoh sekali!!!" gerutuku kesal dalam hati
"Pilihan yang bagus sekali..." desah Alan melepaskan genggamanku dan menatapku serius
"Mulai sekarang kamu harus menuruti semua perintahku Sani karena aku adalah bosmu sekaligus suamimu" gumam Alan mengangkat daguku tinggi
"Ya aku mengerti..." desahku pelan
"Hmmm sayang maaf ya aku sedikit memaksamu, aku tidak ingin kehilanganmu" desah Alan memelukku erat
"Takut kehilanganku?"
"Ya, aku gak mau kamu diambil mereka lagi, dari kecil ingin sekali aku menikahimu tapi selalu banyak halangannya dan itu membuatku sangat sedih. Kamu hanya milikku" gumam Alan pelan
"Oh, ya aku mengerti. Aku istrimu, kamu boleh memilikiku" desahku mengalah saat melihat ketulusan Alan yang begitu mencintaiku
"Aaah istriku, aku senang mendengarnya.." desah Alan menciumku dengan lembut. Disaat aku menikmati kebersamaanku dengan Alan, aku mendengar tawa mafia pemberontak yang membuatku terkejut
"Hahaha ternyata mafia senior pusat itu sangat lemah" tawa mafia pemberontak dengan bangga
"Mana ini Sani, apa dia pengecut dan lari bersembunyi di suatu tempat. Hahaha" tawa Sony bangga
"Hooee Sani, kenapa kamu tidak datang kepadaku!!" teriak Sasha kencang
"Kalau kamu tidak datang, aku bunuh semua orang - orang lemahmu ini!!" teriak Sasha mengangkat pedangnya
"Roy, Zaki, Wan waktunya!!" teriakku dan bawahanku bersiap turun
"Kamu mau kemana istriku?"
"Mau menghajar mereka lah!!" gumamku kesal
"Kamu tidak mengajak suamimu ini?" bsiik Alan pelan
"Ya ya kalau mau ikut ikutlah saja" desahku mengambil pedang dan samuraiku
"Mmm dimulai dari siapa ya?" gumam Sasha menatap anggota mafia senior yang terluka di depannya
"Aaah aku akan memulai dengan si penghianat ini" gumam Sasha mengangkat pedangnya ke arah Ryuki
"BAIKLAH SEKARANG!!" teriakku dan kami semua turun, aku segera menahan pedang Sasha dan melukai Sasha dengan samuraiku
Taaaanngg
"Uukkkhhh..." rintih Sasha terjatuh di depanku
"Aku dengar kamu mencariku ya Sasha..." gumamku menatap Sasha dingin
"Apa kamu sepengecut itu jadi kamu tidak berani keluar lebih awal?"
"Aku? Pengecut? Mmm tidak juga, semua anggota kalian dan anggota mafia pemberontak aku bunuh habis - habisan benar kan Sina..." gumamku dingin menatap Sina di depanku
"Kenapa kakak datang kemari!!" gumam Sina menatapku dingin
"Kamu pasti sudah tahu apa niat dan tujuanku kan..." gumamku dingin
"Sani, jangan bunuh dia.." gumam Sann Liu pelan
"Jangan bunuh dia ya? Maaf itu tidak berlaku untukku sekarang.." gumamku dingin
"Kakak aku mohon dia kakaku dan dia adikmu kak apalagi dia kembaranmu kak!!..." gumam Sain memeluk kakiku dengan erat
"Apa kembaran Sani?" gumam seluruh mafia pemberontak terkejut
"Kembaran ya? Aku tidak akan mengakuinya kembaranku kalau dia bersekongkol dengan pembunuh keluargaku!!" gumamku dingin
"Kakak tenanglah. Kita bawa pulang kak Sina kak, jangan bunuh kak Sina!!..." gumam Sain menangis di kakiku
"Sejak kapan kamu menjadi seorang yang cengeng Sain!!" gerutuku kesal
"Kakak aku tidak ingin kehilangan keluarga lagi, cuma kalian yang aku punya kakak..." gumam Sain pelan
"Apa sih ribut - ribut..." gerutu Alan berdiri di sampingku
"Kak Alan tolong hentikan kakakku membunuh Kak Sina!!" gumam Sain menatap Alan
"Tenang saja, kakakmu tidak akan sejahat itu. Mending kamu obati semua orang dulu ya..." gumam Alan pelan
"Ba... Baiklah.." desah Sain melepaskan kakiku dan mengobati orang yang terluka di belakang kamui
"Hummpp.." gerutuku kesal
"Aku sudah membaca rencanamu dari bawahanmu, ternyata bagus juga rencanamu"
"Tidak juga" gumamku dingin dan terus menatap Sina
"Kak A... Alan?" gumam Sasha terkejut
"Oh ternyata Sasha ya?" gumam Alan santai
"Kak Alan tolong Sasha..."
"Mmm tolong Sasha? Kenapa aku harus menolongmu?"
"Aku adik angkatmu kak, kakak harus membunuh Sani...!" teriak Sasha
"Membunuh Sani ya? Baiklah aku akan melakukannya" gumam Alan mengangkat pedangnya dan melukai Sasha
"Ke... Kenapa kakak membunuhku?" gumam Sasha terkejut
"Mmm kenapa ya?" desah Alan berjongkok di depan Sasha
"Kamu bukan adik angkatku lagi, dan siapapun yang menginginkan istriku mati dia adalah musuhku..." bisik Alan pelan
"A... Apa!!" teriak Sasha terkejut dan dia terjatuh di tanah
"Waah cuma dibilangin seperti itu saja sudah mati ya?" desah Alan berdiri di sebelahku
"Apa yang kamu katakan tadi?"
"Tidak ada..." desah Alan pelan
Aku terus menatap Sina tanpa berkedip sama sekali, rasa kesalku, rasa dendamku kepada Sina masih sangat terasa saat Wan beberapa hari yang lalu memberitahukanku kalau memang ingin membunuhku dan seluruh keluargaku, dia saat ini merasa bersalah kepadaku dan ingin meminta maaf kepadaku tapi dia bingung bagaimana caranya untuk meminta maaf kepadaku
__ADS_1