Tangan Kanan Tuan Muda Mafia

Tangan Kanan Tuan Muda Mafia
Episode 72 : Terpaksa Melukai Kakak Kandung


__ADS_3

Aku mengamati sekitarku dan mengirimi pesan kepada bawahanku agar bawahanku menyiagakan anggotaku disekitar gedung ini. Takutnya akan ada pertarungan yang memanas apalagi ada Linshi, Soni dan perwakilan keluarga Khun disini.


Saat aku membenahi rambutku dan terlihat kalung kristal merah di leherku, aku melihat pria bertopeng itu menatapku terkejut sampai-sampai bibirnya sedikit menganga. Aku memang ingin mengujinya dan apakah dia benar-benar Tian atau bukan dan benar saja kalau perwakilan keluarga Khun kali ini adalah kakak kandungku sendiri.


"Baiklah...bagaimana dengan keluarga Shin?" tanya tetua menatap wanita disebelah Alan dengan serius.


"Yaah jika dilihat kalau dua orang ketua mafia terkuat itu adalah keluarga Shin, aku yakin mereka tidak akan akur apalagi aku tidak yakin Sani dan Tian itu bisa menyamakan kedudukan Linshi dan Soni yang sudah jelas-jelas kuatnya!" ucap wanita itu serius.


"Kenapa anda berpikir seperti itu?" tanya pria tua itu serius.


"Ya buktinya, setiap pertemuan mereka tidak pernah datang dan mereka menghilang tanpa jejak apalagi Sani setelah perang yang dulu dia sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya, pasti dia sudah melemah sekarang apalagi keluarga Shin juga tidak jelas asal usulnya saat ini!" ucap wanita itu terkesan serius.


"Oh betul juga ya..." gumam beberapa orang yang mengerti ucapan wanita itu. Mendengar ucapan wanita itu tanpa sadar aku tertawa kencang yang membuat semua orang terkejut.


"Hahaha..." tawaku kencang.


"Ada apa nona?" tanya tetua mafia menatapku bingung. Tanpa memperhatikan ucapan tetua, aku terus tertawa keras sambil membuka catatanku.


"Hahaha benar-benar sangat lucu, haaah... oh ya aku ingin bertanya kepadamu nona Shin...apa yang kau ketahui tentang keluarga Shin?" tanyaku dingin.


"Apa hakmu bertanya seperti itu!" protes wanita itu kesal.


"Eehhh ini kan perdebatan bukan? Lagi pula...aku hanya ingin tahu apa yang kau ketahui tentang keluarga Shin saja..." gumamku tersenyum dingin.


"Keluarga Shin itu pastilah dulu dipimpin oleh ayah dan keluarga Shin dari dulu adalah keluarga yang sangat dihormati bahkan di sanjung sampai sekarang!"


"Oh benarkah? Apa kau tahu bagaimana keluarga Shin tewas?" tanyaku dingin.


"Ma...mana aku tahu, aku saat itu masih kecil... setahuku mereka dibunuh oleh Tian itu..." ucap wanita itu pelan.


"Hahaha masih kecil katamu... kau pintar sekali mengarang cerita ya gadis kecil..." gumamku terduduk di meja yang membuat banyak orang yang terkejut melihat tingkahku.


"Oh ya bagaimana menurutmu tuan Khun? Apa kau sependapat dengan ucapannya?" tanyaku menatap pria di depanku dengan terkejut.


"Tidak ada urusannya denganku!" gerutu pria itu dingin.


"Aah benarkah? Kalau bagiku itu adalah menyangkut tentang kamu, apa kamu menerima itu?" tanyaku dingin.


"Tidak, aku tidak akan menganggap keluarga Shin sebagai keluargaku!" protes pria itu kesal.


"Keluarganya?" tanya beberapa keluarga terkejut.


"Aaah benarkah? Sayang sekali ya? Apa kamu tidak rindu seseorang yang kau tinggalkan sejak dulu?" gumamku tersenyum dingin.


"Tidak ada!"


"Heeei kau kenapa terus bertanya pada tuan Khun? Siapa kau sebenarnya!!" gerutu seorang pria di sebelahnya.


"Aku hanya bertanya apa tidak boleh?" tanyaku dingin.


"Tidak boleh, tidak ada yang boleh..."

__ADS_1


"Aku bertanya kepadanya bukan bertanya padamu!" protesku dingin yang membuat pria itu terdiam.


"Aku tidak ada urusan denganmu atau dengan keluarga lain... aku hanya memiliki urusan dengan tuan Khun saja!" gerutuku dingin.


"Urusan apa yang kamu maksud?" tanya pria bertopeng itu serius.


"Yaahh pertanyaanku belum kau jawab, apa kau tidak memperdulikan pertanyaanku bahkan memperdulikan seseorang yang kau jaga sejak dulu..." gumamku santai.


"Memperdulikannya ya?" gumam pria itu terduduk di meja dan menatapku dingin.


"Siapa kamu sebenarnya?" tanya pria itu serius.


"Yaah aku bukan siapa-siapa bahkan aku mungkin tidak penting untukmu!"


"Oh benarkah? Kau benar-benar membuatku penasaran. Bisakah kau membuka topengmu?" tanya pria itu dingin.


"Aku akan membuka topengku kalau kau juga membuka topengmu!"


"Heeei kau! Kau hanya..." teriak pria disebelahnya kesal.


"Aku tidak ada urusan denganmu ya!" protesku kesal.


"Ciiihhh!"


"Kamu menantangku?" tanya pria itu serius.


"Tidak, kan itu bisa dianggap adil bukan. Aku akan membuka topengku kalau kau membuka topengmu..."


"Baiklah, tapi jawab semua pertanyaanku kepadamu... bagaimana?" tanyaku berdiri di depan meja.


"Kau...bisa-bisanya kau..." protes pria itu dan pria bertopeng itu mengangkat tangannya yang membuat pria disebelahnya terdiam.


"Baiklah, kalau kau kalah apa taruhanmu?"


"Kau boleh....membunuhku dan... jangan pernah anggap aku ada..." gumamku berjalan ketengah ruang pertemuan.


"Ka...kau jangan gegabah tahu!!" protes Lanlan dan Fiyoni kencang tapi aku tidak memperdulikannya dan terus berjalan ke tengah pertemuan.


"Oh menarik, baiklah aku terima tawaranmu..." gumam pria bertopeng itu tersenyum dingin


Aku harus menunjukkan kemampuanku di depan para keluarga kalau perkataan wanita itu salah, apalagi... para militer juga diam-diam menyaksikan pertemuan ini.


"Jangan sampai kau menyesal gadis kecil!" ucap pria itu mengarahkan pedangnya kearahku sedangkan aku hanya terdiam tersenyum dingin.


"Baiklah kau harus mengenai titik ini loh kalau tidak pasti usahamu akan percuma saja.." gumamku menunjuk leherku dengan tanganku.


"Kau sangat sombong ya..." gerutu pria bertopeng itu menebaskan pedangnya, aku terus berusaha menghindar seperti yang ayah dan guru ajarkan dulu dan aku tidak menyangka kalau pria itu mengikuti pola yang sama dengan ajaran ayah jadi tidak terlalu membuatku kesulitan.


"Apa kau hanya bisa menghindar saja gadis kecil?" sindir pria itu dingin.


"Tidak juga, aku hanya pemanasan saja kok..." gumamku tersenyum dingin.

__ADS_1


"Iihh sombong kali!" gerutu pria itu mengubah pola penyerangannya. Oh dia mengubah pola penyerangannya ya...baiklah... Batinku dan menahan pedang itu dengan pedang milikku.


"Tunggu... sepertinya aku kenal dengan pedang itu!" ucap Ryuki kencang tapi aku tidak memperdulikannya.


"Kau hebat juga ya gadis kecil... tapi kau bukan tandinganku!" gerutu pria itu mengayunkan pedangnya dan aku segera menghindar. Huufftt hampir saja kena... Batinku.


Aku terus menyerang dan bertahan dari semua serangannya. Walaupun begitu aku berusaha memahami pola penyerangannya, aku tidak mau sampai aku salah strategi nanti jika melakukan tugasku di tugas khususku itu. Aku tidak menunjukkan kekuatanku sama sekali kepadanya karena aku tidak mau strategiku di baca olehnya jadi aku hanya melawannya dengan teknik pedang dasar saja dan itupun tidak terasa sudah hampir satu jam aku dan pria bertopeng itu saling menyerang, capek...ya aku capek tapi aku harus menahannya aku tidak boleh sampai lengah.


"Aaahhh... aku sudah tidak tahan lagi!!!" gerutu pria itu kesal, nafasnya sudah benar-benar terengah-engah dan langkah kakinya benar-benar tidak beraturan.


"Aku harus mengakhiri ini semua!!" gerutu pria itu terus menyerangku dan aku terus berhasil menghindar. Saat pria bertopeng itu terlihat kelelahan, aku menarik tangannya dan menundukkan tubuhnya di bawahku. Aku menahannya pedangku yang membuatnya tidak bisa bergerak.


"Tu...tuan muda!!" teriak pria di belakangku berlari ke arahku tapi ketiga bawahanku dengan cepat menahan pria itu.


"Maaf jangan mengganggu urusan nona muda..." gumam Wan dingin.


"Ka...kalian??" ucap beberapa orang terkejut saat melihat ketiga bawahanku datang.


"Heeeh hanya ini kekuatan tuan Khun itu? Bukannya tuan Khun itu sudah mati ya, benarkan Kakak?" bisikku mendekatkan wajahku di telinga pria bertopeng itu.


"Haaah kakak ya? Aku sama sekali tidak punya adik apalagi adik yang keras kepala dan licik sepertimu!" gerutu pria bertopeng itu dingin.


"Oh benarkah? Kau ingat ucapanmu kan...kalau aku berhasil melukaimu kau akan menuruti semua ucapanku benarkan?" gumamku pelan.


"Mana ada, aku tidak..."


"Oh kau ingin bersikap licik kepadaku? Maaf saja...diantara seluruh mafia terkuat...hanya aku yang licik didunia mafia apa kau tahu..." gumamku sedikit menggores lengan tangan pria itu yang membuat pria itu kesakitan.


"Ke...kenapa bisa begitu sakit?" tanya pria itu tidak bisa bergerak.


"Oohh hanya luka kecil saja kau tidak bisa bergerak? Apa kau sekarang sangat lemah kak Tian Shin?" gumamku membuka topeng itu dan melihat wajah Tian yang sangat tampan dan benar-benar mirip sepertiku dengan kalung kristal merah di lehernya.


"Tian...Tian Shin!!" teriak semua orang terkejut.


"Namaku bukan Tian Shin!" gerutu pria itu kesal. Aku tahu dia Tian tapi dia seperti tidak suka marga Shin di namanya.


"Oh terserahlah... mau bagaimanapun kau tetap Tian Shin bagiku..." gumamku terduduk di meja kembali.


"Ke...kenapa aku tidak bisa bergerak? Siapa kamu sebenarnya?"


"Siapa aku... itu tidak penting, yang terpenting jawab pertanyaanku!"


"Heeh aku tidak akan menjawab pertanyaanmu apapun itu!"


"Benarkah? Kalau begitu, jangan harap kau bisa keluar dari ruangan ini hidup-hidup."


"Kenapa... Kenapa bisa aku masih tidak bisa bergerak?"


"Karena, kau terkena racun miliknya..." ucap Fiyoni tersenyum dingin.


"Ra...racun?" ucap pria itu terkejut.

__ADS_1


"Ya begitulah, jadi kamu bersedia menjawab pertanyaanku atau tidak.." gumamku pelan tapi pria itu hanya tertunduk menahan sakitnya, aku sebenarnya tidak tega melihat kakakku terluka olehku tapi kalau tidak aku tidak bisa menahannya sekarang disini. Aku harus mendapatkan jawaban yang pasti dari mulut kakak kandungku itu.


__ADS_2