Tangan Kanan Tuan Muda Mafia

Tangan Kanan Tuan Muda Mafia
Episode 47 : Informasi Baru


__ADS_3

Aku menatap Alan serius tapi Alan seperti mencoba mencari cara agar aku tidak kembali menanyakan masalah isi surat itu, semakin Alan menolak semakin aku penasaran apa yabg dia sembunyikan dariku.


"Cepatlah katakan!" protesku kesal.


"Apa kamu serius?" tanya Alan pelan.


"Seriuslah, aku sedang serius tahu!" protesku kesal.


"Yaahh baiklah... surat itu mengatakan kalau akan ada perang berkepanjangan jika tuan Shin dan ayahku mati nantinya mereka menargetkanmu apalagi kamu wanita yang kejam dan susah di taklukan."


"Kenapa ayahmu bisa menulis seperti itu?" tanyaku terkejut.


"Karena... ayah dulu juga melakukan hal yang sama sepertiku, tapi ayah melakukannya demi mencari informasi sedangkan aku...aku benar-benar di jebak dengan obat."


"Lalu apalagi?"


"Mmm dan ya sebenarnya aku tidak pantas menjadi kepala polisi militer mafia Sani, seharusnya yang menjadi kepala itu Sann atau Hassan bukan aku, ayah tahu aku lemah dan aku pasti akan lebih mudah di jebak, di bohongi dan di permainkan apalagi tugas kepala polisi militer mafia akan terjun ke dunia gelap untuk menyelesaikan tugasnya apalagi semenjak adik kembarmu menghilang ayah memutuskan menjodohkanmu dengan Sann karena kesepakatan ayah dengan tuan Shin adalah menjadikanmu istri kepala polisi militer..." gumam Alan pelan, dari sudut matanya nampak dia sangat sedih. Melihat dia bersedih aku hanya terdiam dan terduduk di samping Alan.


"Lalu?" gumamku pelan, Alan terduduk di sampingku sambil terus menundukkan wajahnya.


"Ya kamu tahu kan Sann sangat menghormatiku dan dia tidak tertarik dengan dunia militer, setelah ayah dan keluargaku meninggal Sann menolak menjadi kepala polisi militer dan memintaku menjadi kepalanya sedangkan dia lebih memilih untuk menjadi penggantiku di mafia. Kamu tahu Sani rasanya jadi pria yang lemah...kalau Sann memikirkan kekuasaan pasti kamu menjadi istrinya sedangkan aku...pasti aku dibuang dan tidak dianggap Sani..."


"Untuk menjadi kuat aku terus berusaha sekeras mungkin agar aku bisa sekuat kamu Sani, tapi semua percuma saja, penyakitku kambuh dan aku tidak bisa menemukanmu sama sekali, apalagi aku sangat tergantung dengan darahmu, bertahun-tahun aku berlatih tapi aku masih saja lemah...."


"Karena aku sangat lemah beberapa bawahanku memilih pergi meninggalkanku dan hanya Fians yang bertahan karena dia mengasihaniku. Aku coba bertanya kepada Fians kenapa dia tidak pergi sekalian dan Fians terus saja menolak. Terkadang aku berfikir, apa bisa aku menjadi suamimu yang bisa melindungimu di tubuh lemahku ini. Tapi kalau aku benar-benar kehilanganmu, pasti aku akan depresi Sani, aku percaya hanya kamu yang bisa menerimaku dari pada siapapun tapi terkadang aku ragu apa kamu mau menerimaku di tubuh lemahku ini..." gumam Alan pelan.


"Walau tanpa menggunakan obat sebenarnya aku bisa memberitahukanmu yang sebenarnya tapi aku terlalu takut untuk mengatakannya, aku benar-benar takut kehilanganmu. Kehilangan perjakaku karena wanita yang bukan istriku sendiri membuatku sangat kesal dan gila Sani dan tanpa sadar membunuh mereka, aku ingin melakukan hal yang sama dengan Putri tapi kamu sahabatnya dan aku tidak mau kamu bersedih jika kehilangan sahabatmu itulah alasanku tidak melakukan hal yang sama kepadanya..." gumam Alan memuntahkan obat itu dan mengembalikan obat yang aku berikan tadi.


"Kamu tidak meminumnya?" tanyaku terkejut


"Tidak, kakek benar, aku tidak pantas untukmu Sani. Lebih baik kamu mencintai orang yang kuat dan bisa melindungimu dari pada denganku yang lemah ini...aku memang tidak pantas untuk...mmmpphhh..." gumam Alan pelan, tanpa berfikir panjang aku menciumnya dan menatap matanya.


"Dengar Alan, kamu suamiku...pantas atau tidak itu pilihanku, kalau tetua tidak setuju aku tidak masalah apalagi tetua tahu apa yang pernah aku alami sebelumnya Alan...Aku tidak percaya pria manapun setelah Soni berhubungan dengan Sasha saat itu, sakit Alan...sebenarnya mendengar informasi kalau kamu juga melakukan hal yang sama membuatku sama-sama sakit, tapi apa boleh buat aku terikat denganmu aku berfikir aku harus menerima kenyataan itu dan yang terpenting sekarang aku istrimu Alan jadi jangan khawatir..." gumamku mengembalikan obat yang aku beri tadi.


"Simpanlah, gunakan kalau kamu benar-benar menginginkan anak dariku atau dari wanita lain. Aku wanita yang kejam semua orang menginginkan aku mati, walaupun aku dulu pernah jatuh hati dengan Ryuki tapi perasaan itu yang membuat Ryuki dan kedua adik kembarnya selalu mendapatkan masalah dan karena itu aku pergi dari kehidupannya karena aku tidak mau menjadi bebannya lagi...dan sekarang walaupun aku istrimu tapi aku tidak mau kamu merasakan apa yang dirasakan dua adik kembar Ryuki saat itu Alan..." desahku beranjak dari tempat tidur.


"Ya sudahlah kamu istirahatlah jangan sampai kamu sakit..." gumamku berjalan pelan dengan cepat Alan menggenggam erat tanganku.


"Tetaplah disini Sani, temani aku...jangan tinggalkan aku..." gumam Alan menatapku dengan tatapan memohon.


"Apa kamu yakin? Aku tidak ingin kamu..."


"Aku yakin, aku ingin memilikimu, aku tidak peduli apa yang akan terjadi kedepannya. Aku hanya ingin bersamamu istriku."


"Hmmm baiklah...aku tidak akan kemanapun tapi jangan mengeluh bila terjadi sesuatu kepadamu."

__ADS_1


"Ya aku tahu, aku akan berusaha melindungimu istriku..." gumam Alan menarik tanganku dan memelukku erat.


"Mmm ngomong-ngomong apa hanya itu saja isi suratnya?"


"Ya seperti yang aku katakan kan, itu surat tidak penting bisa dikatakan itu wasiat ayah. Surat militer ada di keluarga Shin jadi seharusnya surat terpenting itu ayahmu yang menuliskannya bukan ayahku apalagi ayahmu dulu pemimpin petinggi mafia."


"Oh benarkah? Dimana surat itu?"


"Aku tidak tahu, coba nanti tanyakan kepada kakek. Udahlah, mari tidur sayang..." gumam Alan memelukku erat, di belakang Alan aku melihat tetua dan pemimpin petinggi mafia mengangguk dan berjalan pergi. "Astaga kalau aku benar-benar melakukannya betapa malunya aku apalagi di depan orang penting itu, haaah lebih baik aku mati sajalah kalau mereka si tua-tua bangka itu tahu tubuhku seperti apa!" gerutuku dalam hati.


"Apa yang kamu pikirkan Sani?" tanya Alan pelan.


"Eee mmm tidak ada kok Alan, hanya tadi sedikit melamun saja."


"Apa yang kamu lamunkan?"


"Tidak ada...jangan khawatir, udah tidurlah sayang.." desahku mencium pipi Alan.


"Sani...kamu benar-benar sangat cantik, pantas saja banyak yang menginginkanmu."


"Mereka menginginkanku mati Alan bukan mengingingkan hidup bersamaku."


"Menginginkanmu mati itu hanya tugas tapi perasaan tidak bisa dibohongi, buktinya Soni masih menganggapmu tunangannya dan Ryuki juga bilang kalau dia sebenarnya ingin bermain denganmu tapi tidak berhasil dengan alasan kamu terlalu manis padahal dia sebenarnya takut kepadamu."


"Aku tahu akan hal itu, setelah aku melihat kejadian itu dengan mata kepalaku sendiri membuatku sangat muak dan dendam dengan Soni sedangkan Ryuki...aku hanya tidak ingin dia terluka saja."


"Tidak juga, aku tidak tahu aku mencintai siapa tapi aku saat ini belajar mencintaimu kembali Alan, sedikit mengingat kalau kita pernah berpacaran di masa remaja kita membuatku ingin mengulang masa itu."


"Ya...aku juga ingin sekali Sani."


"Kenapa kamu dulu menghilang tanpa kabar?" tanyaku serius.


"Sudah aku bilang kan, aku berusaha berlatih agar aku bisa sekuat kamu, walaupun orang lain menganggapku hebat tapi kalau mereka tahu kelemahanku pasti mereka menganggap aku tidak pantas menjadi kepala polisi mafia."


"Kenapa kamu tidak pensiun dan menjadi pria biasa?" tanyaku serius.


"Kalau aku menjadi pria biasa dan kamu menjadi ketua mafia yang ditakuti aku takut aku akan menjadi beban untukmu, melihatmu sangat hebat membuatku ingin lebih hebat darimu."


"Kamu selalu tidak mau mengalah ya Alan."


"Ya memang, aku ingin aku lebih unggul dari pada kamu Sani, aku ingin membuktikan kalau aku bisa lebih hebat dari pada kamu!"


"Yaah semoga saja kamu tidak demam saat berlatih menjadi kuat Alan hahaha.." tawaku kencang.


"Kamu ini ya masih suka mengejek suamimu.." desah Alan mencubit pipiku.

__ADS_1


"Aku sebenarnya ingin menjadi wanita yang lemah Alan tapi tuntutanku untuk balas dendam membuatku ingin memyelesaikan ini semua dan mengakhirinya tanpa ada cerita berlanjut..."


"Apalagi aku tahu di belakang Lin Shi ada seseorang yang menjadi sutradara di permainan yang menyebalkan ini." gumamku pelan.


"Kenapa kamu bisa menebak seperti itu?"


"Kamu tahu pria yang ada di jendela waktu itu? Itu sebenarnya bukan LinShi tapi pria yang menjadi sutradara di balik ini semua. Kalau dilihat dia memang tidak berbicara tapi di balik senyumnya yang dingin aku bisa membaca gerak bibirnya yang mengatakan...aku akan selalu menunggu kedatanganmu gadis kecilku..."


"Gadis kecil?" tanya Alan terkejut.


"Ya itulah kenapa aku penasaran dengan identitas aslinya. Oh ya bukannya kamu memiliki kembaran juga ya?" tanyaku serius.


"Ke...kenapa kamu tahu?"


"Saat aku membuka berangkas wine milikmu, aku melihat fotomu dengan seorang pria bermata merah yang warna matanya mirip dengan warna mataku yang berdiri di depan sebuah rumah mewah."


"Oh... ya dia kakak kembarku dia sangat pintar dan sangat kuat mungkin sama sepertimu. Tapi dia pergi dari rumah setelah bertengkar hebat dengan ayah dan Tuan Shin."


"Bertengkar hebat? Kenapa?"


"Aku tidak tahu, dulu aku pria yang paling penakut aku tidak berani bertanya hal apapun kepadanya ayah ataupun kepada kembaranku."


"Siapa namanya?"


"Namanya Lanlan Liu."


"Lanlan Liu ya..." desahku berusaha meraih handphoneku dan menelepon bawahanku.


"Iya nona muda..." gumam Wan dengan nada mengantuk.


"Oh mmm maaf menganggu tidurmu Wan."


"Tidak apa nona muda, apa ada yang bisa saya bantu?"


"Tolong carikan nama Lanlan Liu ya."


"Lanlan Liu bukannya dia..."


"Ya carikan identitasnya sesegera mungkin, tidak perlu terburu-buru santai saja kamu bisa tidur lagi."


"Baik nona muda.." gumam Wan dan aku menutup telpon itu.


"Identitas kembaranku untuk apa?" tanya Alan penasaran.


"Hanya penasaran saja, ya sudahlah tidur sayang sudah hampir pagi tahu!"

__ADS_1


"Hmmm baiklah sayangku..." desah Alan menutup matanya dan tidur di sampingku.


Lanlan? Dari ciri-ciri dan kejadian sebelum menghilang yang disebutkan Alan kemungkinan pria itu Lanlan, ayahnya dan ayahku mati secara misterius mungkin kelakuan Lanlan itu untuk balas dendam. Tapi aku sama sekali tidak memiliki petunjuk apapun, sepertinya aku harus mencari tahu dimana surat yang di tulis ayah, ya semoga saja aku bisa segera mendapatkan jawabannya.


__ADS_2