Tangan Kanan Tuan Muda Mafia

Tangan Kanan Tuan Muda Mafia
Episode 51 : Bertemu Lanlan Lagi


__ADS_3

Aku terus meneguk wine sambil memikirkan rencana yang akan aku lakukan nantinya, aku tidak tahu apa yang akan aku tanyakan kepada Lanlan itu, apalagi aku tidak tahu aku harus berkata apa apalagi aku hanya pernah sekali bertarung itupun saat aku masih remaja.


Diatas pohon depanku, aku merasa ada seorang pria yang terduduk sambil menatapku, aku mengangkat kepalaku dan melihat seorang pria bertopeng terduduk santai di batang pohon.


"Untuk apa kamu datang kemari?" tanyaku dingin.


"Kamu menyadari kehadiranku ya gadis kecilku.." gumam Lanlan tersenyum dingin kearahku.


"Ya bisa dikatakan seperti itu."


"Kamu pergi sendirian pasti kamu memiliki rencana untuk bertemu denganku kan?" gumam Lanlan turun dari pohon dan berjalan kearahku.


"Tidak, aku dari tadi hanya ingin sendiri. Aku tidak tertarik pada pesta."


"Benarkah?" gumam Lanlan menekan tubuhku dan menatapku dekat.


"Kamu kira aku percaya dengan perkataanmu? Kau sama saja dengan Sain yang suka berbohong." gumam Lanlan menggenggam tanganku yang sedang memegang gelas deng kuat.


"Untuk apa aku berbohong padamu, kalau tidak percaya tanyakan pada adikku atau adikmu itu!" gumamku dingin.


"Adik ya? Aku tidak punya adik!"


"Oh benarkah? Lalu Alan itu bukan..."


Kraaaakkk


Terdengar suara gelas yang aku dan Lanlan pegang pecah yang membuat tangan kami berdua berdarah. Walaupun berdarah Lanlan tidak melepaskan genggamannya.


"Dia...bukan adikku!"


"Oh benar, dia bukan adikmu. Dan ingatlah...Sina ataupun Sain...dia bukan adikku!" gerutuku menatap Lanlan dingin.


"Kamu mengikuti ucapanku?" gerutu Lanlan kesal.


"Tidak, aku mengatakan yang sebenarnya. Aku memang tidak mengakuinya sebagai adik kembarku. Apa kau kira aku berbohong kepadamu?" gerutuku melepaskan tangan Lanlan dan berusaha melepaskan bekas gelas yang pecah dari tanganku. Belum selesai aku membersihkan tanganku, Lanlan menggenggam tanganku dan menekannya kuat di batang pohon.


"Ohh...kamu benar-benar menarik wanitaku..." gumam Lanlan menatapku dekat.


"Wanitamu ya? Sejak kapan aku menjadi wanitamu? Bukannya ayahmu dan ayahku tidak menyetujui kamu denganku ya?" gumamku memancing emosi Lanlan.


"Aku tidak peduli, seharusnya kami milikku bukan milik si lemah tidak berguna itu!" gerutu Lanlan kesal.


"Oh jadi kamu tidak terima?"


"Ya tidak terimalah! Siapa yang menolak memiliki wanita hebat sepertimu!"


"Oh benarkah? Padahal banyak loh yang menginginkan aku mati."


"Itu juga benar, banyak yang menginginkanmu mati. Dari pada kau mati karena si bodoh itu tidak bisa melindungimu mending kau bersamaku."


"Bersamamu dengan pria pembunuh keluargaku? Haaah terimakasih!" gerutuku kesal


"Dengar ya tuan Lanlan, aku bertanya padamu...kenapa kamu membunuh keluarga besarku?" tanyaku dingin. Lanlan membuka topengku dan menatapku serius.


"Membunuh ya? Tanyakan pada dirimu sendiri kenapa mereka harus terbunuh!"

__ADS_1


"Tanyakan ya? Aku sering berfikir seperti itu tapi tidak menemukan jawabannya yang membuatku kesal, dan ya selama aku dengan Ryuki kamu sering mengawasiku dan berpura-pura sebagai wakil Ryuki karena aku...betulkan?" tanyaku dingin, Lanlan membuka topeng hitamnya dan aku benar-benar melihat wajah Lanlan yang sangat tampan dengan bola mata berwarna merah terang bahkan wajahnya sangat indah seperti indahnya sinar bulan purnama di belakang Lanlan.


"Ya memang benar, saat tahu kamu pergi akhirnya Ryuki dan kedua adiknya aku jadikan tahananku, tapi tidak aku sangka pria bodoh itu mengambilnya dariku bahkan kamu juga!" gerutu Lanlan kesal.


"Kalau aku tidak terikat dengan Alan, aku pasti sudah menolaknya..." gumamku santai.


"Oh benarkah? Menjadi tangan kanan pria lemah pasti sangat membosankan benarkan?" ucap Lanlan tersenyum dingin ke arahku.


"Tapi lebih membosankan kalau menunggu cinta seorang wanita yang tidak kunjung datang sampai tertidur di danau akademi ditemani dinginnya malam..." sindirku tersenyum dingin.


"Tunggu... kenapa kamu bisa tahu?" tanya Lanlan terkejut.


"Aku anak keluarga Shin, apa yang tidak aku ketahui." gumamku mendorong Lanlan dan berjalan pergi tapi Lanlan menarikku kembali.


"Siapa yang mengizinkan kamu pergi gadis kecil!" gerutu Lanlan menggenggam erat tanganku.


"Apa? Aku tidak punya urusan denganmu!" gerutuku kesal.


"Aku ingin tau, apa yang ditulis ayahmu di surat militer?" tanya Lanlan serius.


"Mana aku tahu."


"Jawab!" teriak Lanlan kesal.


"Aku tidak tahu, surat militer apa yang kau maksud!" protesku kesal.


"Kau jangan pura-pura bodoh Sani!" gerutu Lanlan menggenggam tanganku kuat.


"Aku tidak tahu, banyak yang tanya kepadaku tapi aku tidak tahu dan tidak peduli. Surat militer apaan aku tidak tahu apapun!!" protesku menatap Lanlan kesal. Tidak tahu kenapa saat cincinku terkena cincin milik Lanlan dadaku terasa sangat sakit, lebih sakit dari pada cincin milik Alan.


"Tidak aku sangka kalau semua itu benar."


"Apa maksudmu!" gerutu menatap Lanlan kesal.


"Kamu tahu apa isi surat militer yang ditulis ayahmu?" tanya Lanlan berjongkok di depanku sambil terus menggenggam erat tanganku.


"Sudah aku katakan kan aku tidak tahu! Kalau kau tahu apa isinya?"


"Aku tidak tahu isi sebenarnya tapi sesuai dengan perkataan ayah saat itu dia bilang kalau ayah menginginkan Alan menjadi suamimu tapi ayahmu menginginkan aku menjadi suamimu dan kita bertiga..."


"Tunggu... kita bertiga? Mana bisa seperti itu!" protesku kesal.


"Ya itu tergantung padamu, kamu mau memilihku atau memilih adikku yang lemah itu terserah padamu..." gumam Lanlan melepaskan tanganku dan menatapku dingin.


"Tapi nampaknya kamu masih sangat membenciku dan ingin membalaskan dendam atas kematian keluargamu kan? Baiklah...aku akan memberimu kesempatan untuk membalaskan dendam kesumatmu itu..." gumam Lanlan menciumku lembut yang membuatku terkejut.


"Aku akan menunggumu di perang mafia nanti gadis kecilku, puas-puaskanlah kau bermain dengan adik kembarku yang lemah itu sebelum kau menjadi milikku...seutuhnya!" ucap Lanlan pergi menghilang.


"Ciiihhh siapa juga yang menginginkan hal itu!" gerutuku mencoba berdiri, aku mengambil handphoneku dan menelepon tetua pusat.


"Ya Sani ada apa?" tanya tetua serius.


"Tetua tahu kan masalah surat militer yang ayah tulis?" tamyaku serius.


"Kenapa kamu menanyakan hal itu?"

__ADS_1


"Setelah selesai pesta yang membosankan ini, aku ingin membaca surat itu."


"Tapi Sani..."


"Ini keinginanku tetua, aku anaknya jadi aku harus tahu!" protesku menutup telpon itu dan berjalan kembali ke gedung pesta tadi, tidak lupa aku menggunakan kembali topeng wajahku.


Di dalam gedung pesta aku melihat Lanlan yang berdiri kembali di atas balkon lantai atas bersama dengan Putri, wajah Putri seperti sangat tertekan bahkan orang-orang sekitarnya dan sekitarku juga seperti sangat tertekan saat melihat aku dan Lanlan saling bertatapan.


"Nona muda!!" teriak Wan kearahku.


"Apa?" tanyaku menyembunyikan luka di tanganku.


"Tidak ada apapun, aku mendapatkan surat dari seseorang katanya untukmu..." gumam Wan memberikanku secarik kertas dari Lanlan, aku membuka kertas itu dan membacanya.


"Kamu ingin tahukan dimana makam ayahmu? Temui aku di tempat tadi aku akan memberitahukanmu! Oh ya dan besok akan ada pertunjukan yang bagus loh! -Lanlan Liu..." gumamku membaca surat itu pelan dan menatap Lanlan yang sedang tersenyum dingin ke arahku.


"Idih nyuruh-nyuruh...kalau ingin temui aku langsung tidak perlu mengirimiku surat seperti anak kecil!" gerutuku menyobek kertas itu dan membuangnya.


"Kalau kau ingin beritahu aku seenggaknya datang langsung, aku menghormati hal itu dari pada menulis surat yang tidak jelas!" ucapku menatap Lanlan dingin sedangkan Lanlan hanya tersenyum dingin sambil meminum minumannya.


"Mmm nona muda tadi sudah bertemu dengan tuan Lanlan?" tanya Wan pelan.


"Ya...tapi sepertinya dia ingin bertemu denganku lagi besok..." gumamku berjalan keluar aula.


"Apa anda yakin nona?"


"Ya tenang saja, oh ya bagaimana dengan Alan?"


"Nampaknya malam ini sangat aman nona, nona bisa beristirahat dengan tenang."


"Kamarku tidak dengan Alan kan?"


"Tidak nona, tuan Alan berada di kamarnya sendiri. Karena beda mafia jadi beda kamar nona muda." gumam Wan memberikanku kartu akses kamar.


"Oh baguslah, kalian bisa beristirahat dan jangan lupa tetap waspada!" gumamku membuka pintu kamar dan menutupnya pelan.


"Baik nona muda..." gumam Wan berjalan pergi.


"Haah..." desahku segera membersihkan tanganku yang berdarah di wastafel kamar.


"Lanlan lebih menyebalkan dari pada Alan!" gerutuku membersihkan pecahan gelas dengan hati-hati.


"Ayah... sebenarnya apa yang kau pikirkan? Kenapa kau selalu membuatku dalam kesusahan sih!" gerutuku menatap foto keluargaku di handphoneku yang aku letakkan di atas wastefel.


"Sudah aku katakan kan, biarkan aku sendiri yang memilih suamiku nantinya tapi kenapa kau diam-diam menjodohkanku tanpa aku ketahui membuatku kesal tahu!" gerutuku kesal.


"Astaga...ya sudahlah percuma saja mereka semua sudah mati!" desahku membalut tanganku dan berbaring di tempat tidurku.


"Apa yang kau tulis di surat militer ayah! Kenapa ayah tidak memberitahukanku sebelumnya sih....Aaah bisa-bisa aku menjadi gila!!" teriakku menutup wajahku dengan selimut.


"Ya sudahlah, mungkin tidur saja bisa membuatku tenang..." desahku menutup mataku.


"Tapi tunggu...pertunjukan apa yang dimaksud Lanlan ya?" gumamku membuka mataku kembali.


"Haah mending aku memikirkan rencana untuk besok aja deh..." gumamku membuka catatanku dan menulis rencana di buku milikku.

__ADS_1


Mengetahui Lanlan juga terikat denganku membuatku gila walaupun kebenarannya belum aku dapatkan tapi dengan rasa sakit di dada membuatku sedikit mempercayai itu. Yang terpenting aku harus merencanakan rencanaku untuk pertemuan mafia besok, entah pertemuan apa yang dimaksudkan tapi aku yakin pertemuan mafia yang jarang dilakukan ini akan sangat penting.


__ADS_2