Tangan Kanan Tuan Muda Mafia

Tangan Kanan Tuan Muda Mafia
Episode 20 : Persiapan


__ADS_3

Perjalanan yang panjang dan menyebalkan satu halikopter dengan Sony membuatku sangat muak. Di rumah mewah ini aku harus bersembunyi dan merubah penampilanku agar tidak diketahui oleh oraang lain, sebenarnya melakukan hal ini tidak masalah buatku tapi yang menjadi masalah adalah aku harus serumah dengan Sony. Oh God help me!!!


Setiap hari aku selalu merenung di atas atap memikirkan keadaan Ryuki, apalagi dia sangat lemah saat ini lebih lemah dari pada kedua adiknya itu. Sudah berbulan - bulan dia tidak mengabariku membuatku sangat khawatir, aku takut dia sudah tewas di tangan musuh


"Sani kamu kenapa disini?" tanya Rian menatapku yang sedang duduk di atas atap rumah


"Tidak ada, aku hanya ingin melihat pemandangan saja" gumamku pelan


"Kamu setiap hari duduk di sini hanya untuk melihat pemandangan saja?"


"Ya, aku juga males di dalam rumah"


"Males kenapa?"


"Kamu tahu kan aku males karena apa" desahku pelan


"Karena Sony?"


"Ya..."


"Kan dia calon suamimu Sani, masa kamu malas dengan calon suamimu"


"Calon suami? Tidak aku tidak ada kemauan punya suami seperti itu" gerutuku kesal


"Apa kamu menyukai seorang laki - laki lain?"


"Menyukai ya? Tidak ada"


"Lalu kenapa kamu seperti tidak menerima Sony menjadi suamimu?" tanya Rian penasaran


"Karena masa lalu" gumamku pelan


"Masa lalu saja loh, mending lupakan saja apalagi Sony tidak melakukan apapun Sani"


"Enak kali kamu ngomong, PERGI SANA!!!" protesku kesal


"Ya kan namanya masa lalu biarlah berlalu mending kamu lupakan saja, kamu sudah punya calon Sani"


"Tidak, aku tidak akan melupakannya!!!" protesku kesal


"Tapi kan kenyataannya.." gumam Rian santai, aku mengarahkan samuraiku ke arah Rian


"Pergi sana jangan ganggu aku!!!" teriakku kesal


"Eeehh... Dasar wanita kalau marah menakutkan.." gerutu Rian pergi meninggalkanku


"Huummpp..Menyebalkan" gerukuku kesal


Kriiinggg... Kkrrriinnggg


Tiba - tiba handphoneku berbunyi dengan keras, aku melihat layar hanphoneku yang hanya muncul sebuah nomor telpon yang sedang meneleponku. Aku langsung mengangkat telpon itu dengan cepat


"Hallo..." ucap suara laki - laki yang tidak asing bagiku


"Ryuki?" gumamku terkejut


"Oh hay Sani, bagiamana kabarmu?"


"Mmm ya aku baik saja, bagaimana denganmu?" tanyaku terharu, akhirnya si menyebalkan meneleponku


"Oh aku baik - baik saja..."


"Kamu kenapa baru menghubungiku?" protesku kesal


"Ya, aku tidak punya nomormu tahu. Kamu tidak memberikanku nomormu..." gerutu Ryuki kesal


"Eeehh.. Mmm ya aku lupa, jadi kamu tahu nomorku dari mana?"


"Dari gelang yang kamu beri"


"Gelang?" gumamku bingung

__ADS_1


"Ya gelang yang kamu beri kepadaku saat di pantai, aku baru menyadari ternyata di gelang itu tertulis namamu dan nomor handphonemu"


"Oh ya aku lupa kalau kau memberikanmu gelang, aku mencarinya kemanapun" gumamku pelan


"Dasar pikun.."


"Mmm bagaimana keadaan disana?"


"Ya sangat buruk, banyak mafia yang berguguran"


"Oh benarkah? Lalu kalau kamu? Kamu tidak terluka kan?" tanyaku khawatir


"Tidak lah tentu saja tidak.. Aaaauuu" teriak Ryuki kesakitan


"Kamu kenapa?" tanyaku khawatir


"Hei pelan - pelan kenapa!!!" protes Ryuki kesal


"Diam makanya jangan gerak mulu!!" protes Angel kesal


"Ryuki kamu kenapa?" tanyaku bingung


"Eeeh mmm tidak apa - apa kok hehehe" tawa Ryuki


"Jangan berbohong kepadaku Ryuki!!"


"Dia terluka Sani, ini saja aku sednag mengobatinya" gumam Angel di belakang Ryuki


"Hei jangan bilang - bilang kenapa!!" protes Ryuki kesal


"Kenapa bisa terluka?" tanyaku khawatir


"Dia tidak hati - hati malah terkena pedang lawan" gumam Angel pelan


"Siapa lawannya?"


"Hyung, si pemakai pedang panjang ..."


"Kenapa kamu terkejut Sani?" tanya Ryuki bingung


"Tidak ada apa.." desahku pelan


"Ngomong - ngomong disana tinggal berapa mafia lagi yang masih bertahan?"


"Mmm paling tinggal 10 mafia lagi" gumam Angel pelan


"Dan kemungkinan besok perang besar - besaran... Kemungkinan" desah Ryuki pelan


"Kemungkinan apa?" tanyaku terkejut


"Kemungkinan aku yang lemah ini akan mati di besok" gumam Ryuki pelan


"Kenapa kamu berbicara seperti itu!!!" protesku kesal


"Ya mereka kuat Sani, kami mafia lemah tidak mungkin bisa menghadapinya..." desah Angel pelan


"Tapi kan!!!"


"Mungkin ini yang terakhir kalinya aku berbicara denganmu Sani..." desah Ryuki pelan


"Hmmm Ryuki..." desahku sangat sedih mendengarkan perkataan Ryuki itu


"Sani... Tetua pusat ingin bertemu denganmu dan Sony.." teriak Rian di dalam rumah


"Ya bentar" teriakku kencang


"Siapa itu Sani?" tanya Ryuki penasaran


"Si Rian... Biasalah... Udah dulu ya, jangan sampai terluka lagi loh ya dan jangan sampai kamu mati sebelum bertemu denganku..." gumamku pelan


"Yah aku akan berusaha Sani" gumam Ryuki dan aku mematikan teleponku, aku segera turun dari atap dan menemui tetua mafia pusat yang sedang terduduk di sofa

__ADS_1


"Selamat datang tetua.." gumamku menundukkan badanku


"Sani kamu semakin kurus saja sekarang?" gumam tetua menatapku


"Dia tidak pernah mau makan tetua" gerutu Sony kesal


"Gak selera saat liat kamu!!" gerutuku kesal


"Hei kamu bicara apa!!" protes Sony mengeluarkan senjatanya


"Haish kalian berdua ini malah berantem sih ada tetua loh!!" protes Rian menggelengkan kepalanya


"Hahaha sudah biasa Rian..." desah tetua mafia pusat meminum teh di gelasnya


"Tetua ada perlu apa datang kemari?" tanyaku bingung


"Besok akhir dari peperangan itu, banyak mafia yang berguguran dan juga terluka. Jadi tidak mungkin mereka bisa mengalahkan sisa pasukan matahari terbit dan alam hitam"


"Lalu apa yang harus kami lakukan tetua?" tanya Sony bingung


"Ya kalian akan berangkat ke Jepang hari ini dan mempersiapkan semua, kita akan menjalankan rencana kita..."


"Emang apa bisa kami melawan mereka dengan pasukan kita yang terbatas tuan?" gumam Rian bingung


"Bisa, pasukan mereka tingal sedikit setengah dari pasukan mafia yang tersisa, tapi yang menjadi penghalang Hyung dan Bram. Kalau tidak ada yang bisa mengalahkan mereka berdua akan sedikit susah untuk memukul mundur" desah tetua


"Jadi kami harus mengalahkan dua orang itu?" tanyaku pelan


"Ya benar"


"Kalau begitu biar aku melawan Hyung tetua" gumamku serius


"Tidak - tidak, kamu wanita" protes Sony


"Lalu kenapa kalau aku wanita?"


"Ya kamu tidak perlu melawan mereka biar aku dan Rian yang melawannya"


"Tidak bisa, aku harus balas dendam kematian keluargaku!!" protesku


"Aku juga sama!!"


"Tidak bisa dia lawanku!!!" teriakku keras


"Tidak bisa dia lawanku!!!" teriak Sony kesal


"Haish tenang lah, Hyung sangat kuat. Kalian bisa mengalahkannya bersamaan sedangkan untuk Bram biar Rian yang melawannya" desah tetua menggelengkan kepalanya


"Aku dengan laki - laki ini? Tidak terimakasih!!" gerutuku kesal


"Kamu harus melakukannya Sani, kamu tidak mungkin bisa mengalahkannya. Dia pengguna pedang panjang, dia sangat cepat dan kuat kalau kamu tidak di bantu Sony kamu akan kesusahan" gumam tetua menatapku


"Tapi tetua!!"


"Anggap saja ini perintah tetua untukmu.."


"Hmmm baiklah kalau tetua yang meminta, akan aku lakukan" desahku mengalah


"Baguslah, kalian siap - siap saja dulu sebentar lagi kalian berangkat ke sana. jangan sampai lengah ya.."


"Baik tetua.." gumam kami bertiga dan pergi menyiapkan diri kami sebaik mungkin


Aku kembali ke kamarku untuk mengasah seluruh senjataku dan mengolesi racunku di dua senjataku agar bisa melukai Hyung itu, selain itu aku harus mengganti pakaianku berwarna hitam yang biasanya aku pakai saat bertempur. Aku memilih warna hitam karena aku tidak mau darah lawan terlihat di pakaianku jadi aku harus menggunakan pakaian berwarna hitam


Aku masih tidak menyangka kalau Hyung berani melakukan pembunuhan kepada dua keluarga tertinggi kedudukannya. Aku yakin Hyung melakukan pembunuhan itu dipengaruhi perintah dari seseorang. Tidak mungkin dia membunuh keluargaku dan keluarga Sony tanpa adanya motif dibaliknya apalagi kami tidak memiliki dendam apapun.


Setelah melakukan persiapan dengan matang, aku segera berkumpul dengan tetua, Sony dan Rian yang ada di ruang tamu. Mereka bertiga terlihat sudah sangat siap


"Sudah siap Sani?" tanya tetua menatapku


"Sudah tetua.."

__ADS_1


"Baiklah, kita pergi sekarang" gumam tetua dan kami semua masuk ke dalam mobil mewah yang terparkir di depan rumah untuk menuju ke helikopter milik tetua mafia pusat yang diletakkan tidak jauh dari rumah yang kami tempati selama ini


__ADS_2