
Setelah aku benar-benar tertidur pulas, dan tepat alarm pertemuan berbunyi aku terbangun dari tidur siangku. Disebelahku aku melihat Lanlan yang sedang memelukku sambil tertidur di sampingku.
"Kamu sudah bangun?" tanya Lanlan membuka matanya yang membuat kami saling bertatapan.
"Kenapa kau ada disini?" tanyaku dingin.
"Hanya ingin saja, ku kira kau benar-benar mati gadis kecilku tidak aku sangka kau ternyata tertidur."
"Aku capek, kamu mengkhawatirkanku?" tanyaku terkejut.
"Mengkhawatirkan ya? Tidak ada kata mengkhawatirkan di dalam kamusku."
"Oh benarkah? Lalu kenapa kau tetap disini malah tidur disini bukannya membunuhku?" tanyaku terduduk di samping Lanlan, Lanlan menarik tanganku dan kembali menciumku.
"Kamu!" gerutuku kesal.
"Aku suka kamu kalau kamu marah seperti itu..." gumam Lanlan tersenyum manis kearahku dan terduduk di sampingku.
"Kenapa kau menciumku?" tanyaku kesal.
"Ya aku memang sangat ingin menciummu dari dulu tapi adikku yang bodoh itu yang selalu mendapatkan apapun yang aku inginkan. Aku tidak menginginkan jabatan jenderal itu, aku hanya menginginkanmu saja tapi mereka tidak menyetujuinya dan membuangku seperti bukan anak padahal aku yang selalu membuat mereka bangga tapi selalu saja Alan yang dihargai sedangkan aku selalu tidak dianggap membuatku sangat menderita..." gumam Lanlan pelan, suaranya benar-benar mengecil. Walaupun sekecil apapun suara Lanlan dengan suasana sore yang sepi pastinya terdengar jelas di telingaku.
"Haah?" gumamku pura-pura tidak mendengar.
"Tidak ada...lupakan saja. Hari ini ada pertemuan jadi jangan sampai terlambat..." gumam Lanlan memakai jas hitamnya.
"Oh...Fiyoni mari berangkat!" teriakku membangunkan Fiyoni yang sedang tertidur pulas, aku mengambil jubahku dan berjalan kearah Fiyoni.
"Sekarang? Astaga aku baru saja tertidur..." gumam Fiyoni beranjak dari sofa.
"Oh ya Lanlan, deritamu tidak sebanding dengan deritaku selama ini. Deritaku melebihi beban masalahmu dan beban berat badanmu!" gumamku melepaskan jaketku yang membuat bekas penderitaanku yang berada bagian punggungku sedikit terlihat.
"Tunggu, punggungmu itu bekas apa?" tanya Lanlan terkejut, tanpa berkata apapun aku hanya tersenyum dan menutup pintu kamar.
"Kenapa kau menunjukkan bekas luka itu?" tanya Fiyoni yang terus menguap.
"Hanya ingin saja..." gumamku memakai kembali topengku dan berjalan melewati tangga.
Di ruang pertemuan aku melihat banyak ketua mafia paling tinggi sampai paling rendah ada disini bahkan ketua mafia tertinggi ada disini juga. Di ujung kanan aku melihat Lanlan yang sedang terdiam sedangkan di sebelah ujung kiri aku melihat Alan dengan dua wanita yang kemarin.
"Haaah..." desahku terduduk di kursiku.
"Baiklah karena ketua mafia penguasa telah hadir maka kita mulai pertemuan tahunan ini!" gumam seorang pria di depan kami.
"Pertemuan ini akan membahas perang mafia nantinya." gumam pria itu serius.
"Haish perang mulu yang di bahas!" gerutuku pelan.
__ADS_1
"Ya kau tahu sendirilah mafia seperti apa."
"Aku tahu kok, tapi...bosan saja mendengarkan ini semua.." gumamku menatap sekitarku, aku melihat ketua mafia tertinggi yang tepat berada di depanku.
"Haish.." desahku memainkan bolpoin di tanganku. Aku sama sekali tidak peduli dengan pertemuan ini karena aku memang tidak tertarik pertemuan apapun itu.
"Bagaimana dengan nona mafia penguasa?" tanya pria itu menatapku serius.
"Aku?" tanyaku terkejut.
"Haish kau masih saja melamun Sani!" gerutu Fiyoni kesal.
"Eee...semua keputusan ada di Fiyoni. Jadi tanyakan kepada Fiyoni."
"Lah kenapa aku? Aku hanya..." protes Fiyoni kesal, aku menatap Fiyoni dingin yang membuat Fiyoni menghela nafasnya.
"Haish ya sudahlah, keputusan kami tetap menolak adanya perdamaian. Sudah berapa orang yang menyakiti ketuaku yang membuat ketuaku selalu menderita, sebagai wakil aku tidak akan memaafkannya apapun yang terjadi!!" ucap Fiyoni serius, mendengar ucapan Fiyoni membuatku begitu terkejut, padahal dia jarang bersamaku bahkan bisa dibilang tidak pernah bertemu denganku
"Oh mmm baiklah kalau begitu bagaimana tuan ketua mafia misterius?" tanya pria itu serius.
"Tidak ada kata perdamaian dalam kamus kami!" gerutu Lanlan dingin yang membuat mereka semua ketakutan.
"Ba...baiklah, bagaimana tuan muda?" tanya pria itu menatap Alan.
"Semua keputusan ada di musyawarah ini, kalau memang tidak ada yang menginginkan damai maka perang ini akan tetap berjalan!" ucap Alan dingin, ekspresinya seperti dia benar-benar mencoba menutupi semua kekurangannya yang lemah itu.
"Kamu kenapa tidak bersemangat Sani?" tanya Fiyoni menatapku.
"Kau tahu sendiri kan, aku tidak bersemangat kalau ikut pertemuan seperti ini..." gumamku pelan.
"Nanti ada pesta dan pastinya peperangan jadi kamu harus hati-hati tahu!"
"Ya aku tahu..." desahku beranjak dari tempat dudukku yang membuat semua orang terkejut.
"Mmm nona muda pertemuannya..."
"Disitu ada wakilku, jadi dia yang akan menggantikanku..." jawabku sambil menutup pintu pertemuan. Di depan aku melihat Wan yang menundukkan kepalanya dan mengikuti langkah kakiku.
"Nona muda ingin kemana?" tanya Wan serius.
"Ke kamar kalian bertiga, jaga kamar itu jangan sampai siapapun masuk ke dalam!" gumamku menaiki tangga.
"Ba...baik nona muda..." umam Wan mendahuluiku dan membuka kamar ketiga bawahanku.
"Eee... mmm nona muda..." gumam Roy dan Zaki menundukkan badannya.
"Kunci semua jangan biarkan siapapun datang..." gumamku terduduk di sofa dan meminum wine yang ada di meja.
__ADS_1
"Baik nona!" ucap ketiga bawahanku dan mengunci semua pintu kamar mereka.
"Haaahh menyebalkan.." desahku meneguk wine sambil menatap langit-langit kamar.
"Mmmm ada apa nona muda?" tanya Wan penasaran.
"Apa isi surat militer yang ditulis ayah?" tanyaku pelan.
"Semalam tetua memberitahukan saya isinya nona muda..." gumam Roy menundukkan kepalanya.
"Apa isinya?" tanyaku penasaran, Roy memberikanku catatan yang di tulis tetua kepadaku.
"Inti surat itu adalah...perbedaan keinginan Tuan Liu dengan Tuan Shin untuk menikahkanmu. Karena perdebatan itulah akhirnya Tuan Shin memutuskan untuk mengizinkan Lanlan dan Alan bertarung untuk mendapatkanmu sekaligus menjadi jenderal polisi militer mafia. Dengan keputusan itu aku yakin pasti akan ada pertempuran berdarah demi memperebutkan kamu. Bukan hanya satu atau dua orang tapi beberapa pria ketua mafia menginginkan menikah denganmu tapi juga menginginkan kamu mati karena ingin merebut kekuasaan di dunia mafia kamu yang memegangnya Sani. Jangan sampai kamu terluka ataupun tersakiti Sani.. Oh ya akan ada mafia lama yang akan ikut serta dalam peperangan ini jadi kamu akan terbantu oleh mereka.... Itu surat yang ditulis ayahmu. Untuk surat militer yang lainnya suatu hari kamu akan mengerti tapi untuk sekarang hanya itu yang bisa tetua berikan kepadamu! -Tetua.." gumamku dalam hati.
"Oh jadi ucapan Lanlan benar..." desahku membakar kertas itu dan kembali meminum wineku.
"Apa itu yang menjadi pikirkan nona muda?" gumam Roy pelan.
"Ya, otakku tidak bisa berhenti memikirkan itu."
"Kami juga terkejut saat diberitahukan tetua nona muda. Tetua sangat mengkhawatirkan anda, apalagi tetua tidak merestui anda menikah dengan tuan Lanlan atau tuan Alan!" gumam Roy serius.
"Tidak merestui? Kenapa?"
"Kata tetua... kalau anda menikah dengan tuan Alan takutnya akan merepotkan anda tapi kalau anda menikah dengan tuan Lanlan takutnya anda akan di sakiti apalagi tuan Lanlan sangat misterius seperti nama mafianya!" ucap Zaki pelan.
"Oh mmm aku tidak ingin berfikir masalah itu tapi tetap saja kepikiran. Aku benar-benar tidak tertarik tentang hubungan percintaan sumpah! Aaahhh menyebalkan!!" teriakku kesal.
Kriiinngggg...
Terdengar suara handphoneku berbunyi, aku melihat di teleponku ternyata Fiyoni yang meneleponku.
"Ada apa?" tanyaku pelan.
"Sani kemarilah, kamu harus tanda tangan ini."
"Kamu saja."
"Kamu ketuanya Sani!" protes Fiyoni kesal.
"Haish baik-baik aku akan kesana..." desahku mematikan telepon itu dan menghabiskan satu botol wine lagi.
"Roy, Zaki, Wan...kalian harus bersiap-siap ya, takutnya nanti ada pertempuran, oh ya Wan kamu ikut denganku..." gumamku beranjak dari sofa. Wan langsung membuka pintu kamar dan mengikutiku kembali.
"Haish padahal aku ingin istirahat sebentar!" gerutuku kembali ke ruang pertemuan.
Di ruang pertemuan aku melihat banyak orang yang sedang berdiri menungguku. Aku berjalan ke arah kertas surat keputusan di depan kursiku dan sedikit membaca keputusan itu.
__ADS_1
"Oh..." desahku segera menandatangani surat keputusan itu dan kembali pergi dengan Wan. Aku benar-benar sangat capek jadi aku harus mencari minuman wine atau makanan ringan di aula pesta apalagi saat ini pesta intinya dimulai.