
Aku terus menatap pria di depanku itu yang bukan lagi kalau dia adalah kakakku, dia benar-benar tidak mau membuka mulutnya sama sekali. Aku menghela nafas panjang dan memasukkan kembali pedangku.
"Haish baiklah... aku akan memberitahukan identitasku padamu dan aku akan mengobatimu tapi...sama seperti ucapanku sebelumnya, jawab semua pertanyaanku kepadamu bagaimana?" gumamku dingin.
"Tidak akan aku jawab!"
"Disini ada banyak musuhmu loh apalagi kamu tidak bisa bergerak seperti itu apa kamu tidak takut mati disini?"
"Heeh musuh ya? Kau juga musuhku kok.." gumam Tian dingin, Astaga dia sangat keras kepala! Batinku kesal. Diatas aku melihat Linshi bersembunyi yang membuatku ingin dia menunjukkan dirinya di depanku.
"Haissh..." desahku melempar jarumku ke atas dan langsung ditepis oleh LinShi dengan pedangnya yang membuat semua orang terkejut.
"Kau selalu mengetahui keberadaanku ya Sani...Shin..." gumam LinShi terduduk di meja depan Alan.
"Di...dia bukannya..." gumam beberapa orang terkejut.
"Dan di...dia Sani Shin?" tanya beberapa orang lainnya terkejut.
"Sani...Shin?" ucap Tian terkejut.
"Aaah jadi gak seru kan tebak-tebakannya..." gumamku membuka topengku yang membuat semua keluarga menunduk kearahku.
"Wiihhh para mafia terkuat berkumpul, jadi seru nih!" gumam Soni terduduk di meja depan Lanlan.
"Bagaimana dengan tawaranku Tian Shin.." gumamku tersenyum dingin.
"Baiklah...aku akan menjawab semua pertanyaanmu..." gumam Tian mengalah.
"Baguslah, kak Wan tolong obati dia ya..." gumamku melemparkan obat penawarku dan Wan langsung mengobatinya.
"La...langsung sembuh?" ucap Tian terkejut tapi Wan hanya terdiam dan berjalan mundur.
"Roy, Zaki, Wan!" teriakku dan ketiga bawahanku berdiri di sebelahku, sedangkan Tian segera beranjak dan terduduk di meja depan kursinya.
"Hahaha tidak aku sangka ya pembunuh yang ditakuti bisa kalah dengan gadis kecil!" tawa LinShi kencang.
"Diam kau!" gerutu Tian kesal.
"Kalian berdua masih saja suka bertengkar ya? Sayang saja Sani sama sekali tidak ingat dengan kalian berdua hahaha!" sindir Soni dingin.
"Aku juga tidak ingat denganmu..." gumamku dingin.
"Hahaha kasihan sekali!!" tawa Linshi keras.
"Padahal kalian bermusuhan loh tapi sok akrab sekali..." sindir Fiyoni dingin.
"Tidak masalah sekali-kali ye kan, mumpung gadis kecil ini datang kemari..." gumam LinShi dingin.
"Lalu kenapa? Urusanku denganmu nanti. Aku punya urusan dengan dia..." gumamku melirik Tian yang ada di depanku.
"Ohh kamu datang karena ada urusan dengan Tian?"
__ADS_1
"Kenapa kau sangat kepo sekali?" sindir Fiyoni dingin.
"Heeh Fiyoni masih saja sama seperti yang dulu ya... ngomong-ngomong berapa wanita yang sudah bermain denganmu? Ribuan? Ratusan?" sindir pria disebelah Tian.
"Kau bacot sekali ya!" gerutu Fiyoni kesal.
Aku melihat mafia-mafia musuh di depanku terlihat seperti begitu akrab, aku tidak tahu kenapa mereka bisa begitu akrab dan aku malah tidak mengenal mereka kecuali ketua mereka saja. Apa karena aku tidak pernah peduli dengan mafia yang membuatku tidak mengerti apapun ya? Batinku
"Kau dari tadi diam saja apa kau tidak tahu apapun Sani?" tanya Soni serius.
"Aku memang tidak tahu apapun dan aku tidak peduli apapun lagi pula untuk apa aku memperdulikan musuh lebih baik aku bunuh saja lah..." gumamku mengambil wine di belakangku dan meminumnya.
"Kau sekarang jadi sombong ya Sani, padahal dulu saat kecil kamu sangat polos dan pendiam ya? Apa karena kau bergaul dengan orang sebelahmu itu jadi kau sangat nakal?" sindir pria di sebelah Tian serius.
"Mmm ya... mungkin saja sih, pria disebelahku ini benar-benar nakal apalagi kalian lebih nakal loh..." gumamku tersenyum dingin.
"Waah...waah...waaah tidak ku sangka ya para mafia terkuat dan mafia terbesar berkumpul disini? Memang momen yang sangat langka loh!" ucap seorang pria di pojok ruangan, aku menatap pria itu dan terkejut kalau dia adalah Hasan Shi kakak seperguruanku.
"Ka..kak Hasan?" gumamku terkejut dan lebih terkejutnya lagi melihat keempat pria di depanku bersama dengan bawahan mereka memegang senjata mereka layaknya bersiap-siap jika ada pertarungan.
"Eeh ada apa?" gumamku bingung.
"Jangan bilang kau tidak tahu apapun Sani!" gerutu Soni dingin.
"Aku memang tidak tahu dan aku tidak peduli..." gumamku kembali meminum wine di tanganku.
"Kamu memang unik ya cantik, yang lain bersiap menyerangku tapi kamu dengan santai duduk di meja ya?" gumam Hasan Shi dingin.
"Tunggu... jadi...jangan bilang kalau dia..."
"Iya nona, kami baru dapat informasi dari mata-mata kalau Hasan Shi adalah dalang yang sebenarnya dalam perang mafia kali ini, dia mengecoh kita semua dengan berita yang tidak benar sehingga kita saling membunuh satu sama lain!" ucap Wan serius.
"Aah begitu ya... apa kak Hasan yang membunuh ayah dan ibu tiri?" tanyaku pelan.
"Bukan nona muda, dia hanya membunuh beberapa keluarga mafia, sedangkan membunuh tuan dan nyonya itu tetaplah LinShi dan yang membunuh keluarga besar Shin itu Lanlan dan Tian Khun."
"Kalau begitu bukan urusanku."
"Tapi nona muda apa anda tidak ingat kalau mafia terkuat itu dari dulu bersekutu?"
"Tidak, aku tidak ingat apapun."
"Astaga, jadi intinya adalah.... anda mau tidak mau harus membantu mafia terkuat dan mafia terbesar mengalahkannya nona muda."
"Untuk apa?" tanyaku dingin.
"Ya itu memang ketentuannya, apalagi dari dulu kita bersekutu dengan mereka hanya karena pembunuhan keluarga Shin yang membuat kita semua terpecah."
"Oh jadi aslinya kita dengan mafia terkuat adalah sekutu?" tanyaku pelan.
"Kalau dulu benar nona muda, tapi kalau sekarang tidak bisa dikatakan sekutu..." gumam Wan pelan.
__ADS_1
"Oh begitu ya? Sangat menarik..." gumamku mengembalikan kertas itu dan berdiri di depan meja.
"Oh ya ngomong-ngomong kakak seperguruan, kamu melakukan semua kejahatan itu karena apa? Apa kau punya dendam dengan..."
"Kamu masih polos jadi tidak perlu tahu!"
"Oh aku polos ya? Kalau aku tidak sepolos itu bagaimana?" tanyaku dingin.
"Benarkah? Lalu apa yang kamu ketahui?"
"Melakukan penyelundupan senjata ilegal, melakukan korupsi secara besar-besaran yang membuat kerugian di berbagai negara dan juga penyebaran berita bohong di dunia mafia yang membuat banyak mafia yang saling membunuh karena salah sangka. Benarkan?" gumamku santai.
"APA!!" teriak semua orang terkejut tapi Hasan Shi dan Han Lee nampak tersenyum dingin.
"Oh... ternyata kamu tahu semuanya ya Sani Shin..."
"Tidak juga, hanya...menebak saja..." gumamku berdiri di depan Hasan Shi dan menatapnya dingin.
"Oh ya kalau dilihat-lihat kamu mirip dengan LinShi ya? Apa kalian kembar?" tanyaku pelan.
"Menurutmu?"
"Ya mana aku tahu, emang kamu kira aku paranormal?"
"Kami tidak kembar, LinShi adalah adik kandungku dan kami juga saudara tiri tiga kembar dari keluarga Shin itu. Ya mungkin kamu tidak tahu jadi kamu..."
"Kau kira aku tidak tahu tentang wanita muda yang menjadi ibu kalian itu? Aku tahu semuanya kamu kira aku gadis polos yang bisa kamu bohongi terus menerus ya?" ucapku dingin.
"Oh benar dia adalah .ibu kamu tapi kakak kandungmu yang membunuh ibu kami yang membuat aku..."
"Kau kira aku akan memarahi kakakku dan membencinya karena dia membunuh ibu kalian kak Hasan? Heeh maaf salah besar, aku malah lebih benci ibu kalian dari pada keluarga Shin tau! Aku tidak menerima kelakuan ibumu saat melakukan semua itu kepadaku dan kepada kakakku, kak Hasan!" teriakku kesal.
"Apa maksudmu? Dia membunuh ibu kami yang membuat kami sakit hati tahu!"
"Sakit hati ya? Kau kira hanya kau yang merasakan sakit hati!" teriakku menatap Hasan Shi kesal.
"Ibu kalian membunuh ibu kami dan ibu kalian menyiksaku dan kakakku dari kecil, kalian malah membunuh ayahku dan saat kakakku membalas dendam kalian bilang sakit hati? Lebih sakit hati mana menurutmu hah!!" protesku sedikit membuka jubahku yang membuat semua keluarga mafia terkejut saat melihat bekas luka di punggungku.
"Lu...luka itu..." gumam Tian terkejut.
"Walaupun tuan Shin adalah ayahku tapi tidak seharusnya kalian keluarga Shin menyiksaku dan menyiksa kakakku hah? Kau kira aku bisa dengan mudah menerima semua siksaan itu, apa kau kira...ah lupakan saja..." gumamku memakai jubahku membalikkan tubuhku.
"Lagi pula buat apa aku melakukan pembalasan dendam kematian keluarga Shin kalau dalangnya adalah keturunan keluarga Shin juga..." gerutuku berjalan pergi tapi Hasan Shi menggenggam erat tanganku dan menatapku dingin.
"Kenapa kamu menyembunyikannya padaku?" tanya Hasan Shi pelan.
"Untuk apa aku memberitahukannya padamu? Kalau kamu tahu dari awal apa kau bersedia membunuh ibumu? Tidak kan? Jadi percuma juga, kau juga tidak akan mengerti kak Hasan!" gerutuku menepis tangan Hasan Shi dan berjalan pergi.
"Baiklah kalau kau ingin membalaskan dendam padaku secara pribadi...aku akan menunggumu malaikat kecilku..." teriak Hasan Shi dan pergi menghilang.
"Roy, Zaki, Wan mari pergi..." gumamku berjalan pergi dan ketiga bawahanku mengikutiku dari belakang.
__ADS_1
Padahal rencanaku tidak seperti ini tapi malah berakhir tidak sesuai dengan apa yang aku rencanakan, ya aku sedikit terkejut kalau Hasan Shi itu kakak dari Linshi tapi yang aku bingungkan kenapa Linshi tidak bersekutu dengan kakaknya dan malah dia bersekutu dengan mafia terkuat?