Tangan Kanan Tuan Muda Mafia

Tangan Kanan Tuan Muda Mafia
Episode 43 : Menyelesaikan Tugas


__ADS_3

Aku berjalan santai di dalam aula ini, aku melihat banyak ketua-ketua mafia bayaran dan mafia yang terjebak menikmati pesta, dengan rencanaku yang sudah aku buat dan rencana dari petinggi mafia aku mulai melakukan aksiku yang sebenarnya.


Di tengah aula aku melihat Alan yang terus di gandeng seorang wanita cantik disebelahnya, tanpa melawan Alan nampak sangat pasrah dan membuatku sangat kesal, aku mencoba menahan diri dan mengamati kode yang diberikan pemimpin petinggi mafia.


Beberapa menit aku menunggu sambil menahan kesalku, pemimpin petinggi mafia memberikanku kode dan aku segera melemparkan jarum milikku ke arah orang-orang yang bersembunyi di balik bayangan.


Aku berusaha mendekati Putri dan Alan yang sedang mengobrolkan sesuatu. Seperti permintaan pemimpin aku harus mengambil kalungnya tanpa ketahuan olehnya.


"Sayang... nanti kasih aku jatah ya." gumam Putri manja.


"Jatah apa?" tanya Alan dingin.


"Jatah berhubungan denganku lah."


"Maaf aku ada janji dengan seseorang."


"Tidak bisa, kamu selalu saja menolak Alan hari ini kamu harus berhubungan dengaku!"


"Tapi..."


"Apa kau mau aku buat menderita Alan Liu!" teriak Putri kesal yang membuat Alan terdiam. Melihat kelakuannya yang menyebalkan di depanku. Aku mengambil anggur merah dan berjalan kearah Putri dan Alan, dengan sengaja aku menabrak Putri sambil menarik kalungnya dan sengaja menumpahkan anggur merahku ke pakaiannya.


"Heeei kau... apa kau tidak punya mata!!" teriak Putri kesal yang membuat tamu undangan terkejut.


"Upps maaf aku tidak sengaja." gumamku dingin.


"Suara ini..." gumam Alan terkejut.


"Apa ini ribut-ribut?" tanya pemimpin petinggi mafia memainkan perannya.


"Tuh wanita jalanan merusak pakaianku ketua!!" protes Putri mengadu kepada pemimpin petinggi mafia.


"Lalu apa yang kamu inginkan Putri?"


"Hukum dia!" teriak Putri serius.


"Hmmm baiklah, kau kemarilah..." gumam pemimpin petinggi mafia memanggilku, dengan akting ketakutan aku berjalan melewati Alan dan Putri yang terus menggerutu kesal.


"Kenapa aku merasa. pernah membau aroma parfum ini ya?" gumam Alan terus menatapku.


"I...iya tuan..."


"Kamu tau kesalahanmu?"


"Tapi aku tidak sengaja tuan."


"Aku tidak peduli, dia merusak pakaianku yang mahal ini ketua!! Jangan-jangan dia penyusup... bunuh saja dia!!!" protes Putri kesal.


"Tenang Putri..." gumam pemimpin petinggi mafia menenangkan Putri.

__ADS_1


"Huufftt..."


"Baiklah sebelum aku memberikanmu hukuman bisakah kamu melepas topengmu itu?"


"Tidak bisa tuan, nanti anda terkejut."


"Namanya penyusup mana mau mengaku!!" protes Putri kesal. "Iihh masih saja dia cerewet dan sombong!" gerutuku dalam hati


"Biar kami tahu hukuman apa yang harus kami berikan. Jadi bukalah topengmu!" gerutu pemimpin mafia berpura-pura kesal.


"Baiklah kalau begitu.." desahku melepaskan tali rambut dan topengku yang membuat semua orang terkejut bahkan Alan juga.


"Salam hormat tuan..." gumamku menundukkan badanku pelan.


"Oh hahaha ternyata Sani ya... astaga kamu kemana saja selama ini... kamu jadi tambah kurus apa kamu sangat sibuk?" tanya pemimpin petinggi mafia mencoba senatural mungkin.


"Ya...bisa dikatakan seperti itu tuan memiliki tugas membunuh orang-orang yang tidak punya rasa terimakasih sangat melelahkan ya tuan..." gumamku berjalan kearah Alan dan menarik Alan ke pelukanku.


"Kamu ku tinggal pergi sebentar malah genit dengan wanita kampungan ini ya suamiku sayang..." gumamku memeluk Alan erat yang membuat Alan terdiam ketakutan.


"Siapa kau bilang wanita kampungan?" protes Putri kesal.


"Oh benarkah? Merebut suamikudan mengancam suamiku apa kau kira aku tidak tahu Putri Claudia..." gumamku tersenyum dingin.


"Kau... Tangkap wanita itu!!" teriak Putri kencang dan tidak ada siapapun yang berani mendekatiku.


"Hahaha kau masih saja lucu ya Putri, apa kau masih bermimpi menjadi penguasa mafia? Kau tidak akan bisa melakukannya." gumamku tersenyum dingin.


"Ke...kenapa bisa semua takut kepadamu?" tanya Putri terkejut.


"Kenapa ya? Mmm mana aku tahu...apa kamu tahu kenapa suamiku..." gumamku menarik kerah pakaian Alan dan mencium Alan di depan semua orang.


"Kamu sangat tidak pantas Putri!" gerutuku menunjukkan kalung yang aku ambil dari Putri.


"Ka...Kamu...kenapa bisa!!" gerutu Putri menyerangku, dengan cepat aku mengambil pedangku dan mengarahkan pedangku ke leher Putri.


"Apa kau ingin tahu kenapa bawahanmu tidak bisa melakukan apapun?" gumamku menjentikkan jariku dan orang yang aku beri jarum tadi langsung mati di tempat.


"Ka...kamu sudah merencanakannya?" tanya Putri terkejut.


"Mmm ya bisa dikatakan seperti itu, sudah aku katakan kan...kamu bukan tandinganku Putri...bertarung dengan mafia bayaran kau kalah kau hanya bisa bertarung di kasur saja kan." sindirku dingin.


"Kau itu yang sering berhubungan dengan banyak pria!" teriak Putri menuduhku.


"Oh benarkah? Taka apa pernah aku bermain denganmu?" tanyaku menatap Taka memakan makanan dengan santai.


"Hilih bertemu saja kalau pas butuh doang!" gerutu Taka kesal.


"Hei Sony memangnya kita pernah berhubungan?"

__ADS_1


"Ya kalau aku tidak melakukan kesalahan kamu pasti akan menjadi milikku tahu! Tapi kau tetap tunanganku Sani!" gerutu Soni kesal, tanpa memperdulikan Soni aku menatap Ryuki yang sednag meminum anggur di pojok ruangan.


"Ryuki apa kita pernah berhubungan?" tanyaku menatap Ryuki serius.


"Tidak, walaupun aku sangat ingin tapi kamu sangat manis membuatku tidak tega melihatnya." gumam Ryuki santai.


"Tuh lihat tidak ada yang bilang aku berhubungan dengan pria lain kan? Seharunya kau ngaca sebelum menuduh orang lain." gumamku dingin.


"Hahaha kau tidak memiliki bukti kan kalau aku berhubungan dengan orang lain selain Alan, aku permaisuri di keluarga Liu... aku akan menjadi istri Alan hahaha!!" tawa Putri yang membuatku jengkel, aku melukai Putri dan mendorongnya jatuh ke tanah.


"Kau kira aku tidak memiliki bukti kamu berhubungan dengan beberapa pria bahkan mantanku Taka dan Soni juga kau lakukan Putri!" gerutuku menunjukkan foto-foto yang diberikan Fians tadi pagi.


"Ka...kamu...aku aduin kau ke ayahku."


"Oh benarkah? Adukan saja, apa kau kira aku takut dengan ayahmu? Ayahmu sudah ada di neraka loh sekarang ini." gumamku dingin.


"Ini nona muda..." gumam bawahanku memberikanku tubuh ayahnya Putri di depan Putri.


"A...apa?" teriak Putri terkejut.


"Ini masih belum seberapa loh Putri, dari pada kesakitan kehilangan seluruh anggota keluargaku waktu itu. Tahu kan rasanya kehilangan, kalau kau tidak suka kehilangan jangan menghilangkan nyawa orang lain kau tau!!" gerutuku mengayunkan pedangku yang membuat seluruh orang terkejut.


"Oh ya...Tuan muda Linshi... aku akan menunggumu di neraka..." gumamku menatap Linshi di atas jendela yang sedang tersenyum dingin ke arahku lalu menghilang.


"Roy, Zaki, Wan...tolong bersihkan..." gumamku berjalan ke arah petinggi mafia.


"Baik nona muda."


"Tugasku sudah selesai tuan...ini kristal yang anda inginkan..." gumamku memberikan kalung itu kepada pemimpin petinggi mafia.


"Kalung itu untuk kamu saja, yang memiliki hak istimewa seharusnya kamu Sani."


"Oh mmm baiklah...terimakasih tuan." gumamku menundukkan kepalaku dan berjalan pergi.


"Sani kalau ada apa-apa kami akan menghubungimu!!" teriak para petinggi mafia di belakangku dan aku hanya terdiam memasukkan kembali pedangku.


"Sa...Sani..." gumam Alan dengan tangan gemetar berusaha menggapai tanganku tapi aku segera mungkin berjalan pergi.


"Roy, Zaki, Wan mari kita pergi!" ucapku dingin sambil terus berjalan keluar gedung, di belakang aku melihat Alan yang menatapku sedih, mungkin dia takut aku akan meninggalkannya.


"Nona muda ingin kemana?" tanya Wan serius.


"Ke markas pusat."


"Baik nona muda.. " gumam Wan menekan gasnya dan segera berlalu pergi.


Kalau aku tadi tidak segera menyelesaikannya dari awal pasti mafia pemberontak akan ikut campur dan membunuh semua orang atas nama Putri, tapi membunuh Putri di hadapan semua orang sedikit membuatku menyesal, aku menyesal membunuh sahabat baikku dulu.


"Seharusnya kau jadi wanita biasa Putri. Kalau kau menjadi wanita biasa pasti aku tidak akan melukaimu apalagi membunuhmu..." desahku menatap keluar jendela mobil

__ADS_1


__ADS_2