Tangan Kanan Tuan Muda Mafia

Tangan Kanan Tuan Muda Mafia
Episode 54 : Mengingat Masa Disaat Bertemu Bawahanku


__ADS_3

Aku berjalan pergi dengan Wan menuju aula pesta, banyak mafia yang menikmati pesta dansa bersama, di bagian pojok aku melihat Lanlan yang berdiri santai sedangkan di tengah lantai dansa aku melihat Alan yang sedang berdansa dengan seorang wanita.


"Apa yang kamu pikirkan Sani?" tanya Fiyoni yang membuatku terkejut.


"Susah untuk di jelaskan."


"Lah kalau kamu tidak cerita mana aku tahu!"


"Nona muda bingung memilih tuan Alan atau tuan Lanlan..." bisik Wan pelan.


"Waaan!!" gerutuku kesal.


"Astaga itu yang kamu pikirkan?" tanya Fiyoni terkejut.


"Haish kau tahukan ayahku dulu seperti apa, dengan mudahnya tanpa persetujuanku dia menjodohkanku dengan Lanlan tapi tuan Liu menjodohkanku dengan Alan tapi karena tidak mendapatkan titik temu akhirnya ayah mengizinkan mereka berdua bertarung dan yang menang akan menikah denganku, bukan mereka berdua saja tapi semua pria juga menginginkan hal yang sama. Ayah yang memutuskan tapi dia mati duluan yang membuatku bingung! Tahu tidak aku bisa gila dibuatnya!" gerutuku pelan.


"Oh apa kamu sudah membaca surat militer itu?"


"Belum, tetua hanya menunjukkan masalah itu saja."


"Ya namanya surat penting jadi tidak semua mengetahuinya!"


"Ya aku tahu, tapi aku bingung apa yang harus aku lakukan..." desahku pelan.


"Nikmatilah dulu dengan Alan, dia dulu mantan kekasihmu kan? Jadi nikmatilah dulu, kalau dia benar-benar bisa hebat dan diandalkan maka bisa kamu meneruskan hubungan kalian kalau tidak ya sudah cari yang lain saja!" ucap Fiyoni santai.


"Ya aku tahu, Lanlan juga begitu sangat menderita dengan perlakuan ayahku dan ayahnya sendiri jadi aku bisa merasakan penderitaannya."


"Ucapan yang diucapkannya tadi?"


"Ya, kamu mendengarnya?"


"Aku dengar kok, kau kira aku benar-benar tertidur?"


"Hmmm benar juga kalau kamu benar-benar tertidur akan susah membangunkanmu." gumamku pelan.


"Makanya, aku tidak mungkin melakukannya. Kalau aku lengah aku takutnya kamu dibunuh olehnya."


"Ya aku mengerti."


"Kamu tidak berdansa Sani?"


"Tidak, kalau kau mau berdansa sana. Aku disini menikmati minumanku saja..." gumamku pelan.


"Beneran nih? Baiklah, tumben Sani baik!" ucap Fiyoni berlari ke lantai dansa sedangkan aku hanya meminum beberapa botol wine di depanku.


"Mmmm... nona muda, kata Roy dan Zaki tepat tengah malam akan ada pertarungan dan kemungkinan tuan Alan juga akan terkena..."


"Tetap waspada saja, anggap tidak mengetahui apapun. Katakan Roy dan Zaki untuk mengawasi Alan dan jika hal itu akan terjadi perintahkan untuk menghentikannya!"


"Baik nona muda." ucap Wan membungkukkan badannya.


"Hmmm..." desahku menggoyangkan gelas yang ada di tanganku.

__ADS_1


"Mmm nona muda kenapa sangat mengkhawatirkan tuan Alan? Bukannya..."


"Bukan keinginanku, ini keinginan tetua. Kalau aku bodo amat, aku tidak mau melakukannya! Kau tahu kan aku tidak tertarik hal beginian!" gerutuku kesal.


"Apa karena tuan Ryuki?"


"Iya tapi ini semua karena Soni, kalau Soni dulu tidak melakukannya dengan Sasha aku pasti akan tergila-gila dengan cinta tapi...ya sudahlah itu sudah berlalu..." desahku meneguk wine di tanganku dan berjalan keluar.


"Eee...no...nona muda kemana?" tanya Wan terkejut.


"Ikut saja!" gumamku memakai jubahkan dan berlari cepat meninggalkan gedung menuju ke tengah hutan kembali.


"Nona kenapa di sini?" tanya Wan bingung.


"Hanya ingin menghilang sementara. Eeeh Wan, kenapa ya cincin di tanganku ini akan terasa sakit kalau terkena cincin Lanlan atau Alan saat mereka marah?" tanyaku pelan.


"Terasa sakit? Apa sakit di dada?" tanya Wan serius.


"Ya, apa kamu tahu kenapa?" tanyaku pelan.


"Mmm dulu kalau tidak salah tuan besar bilang akan membuatkan cincin khusus jadi bukan hanya nona muda yang akan mengalami kesakitan tapi pria yang menggunakannya juga merasakan sakit jika anda marah nona muda."


"Tapi kenapa rasa sakit ketika Lanlan marah lebih menyakitkan dari pada rasa sakit jika Alan marah?" tanyaku penasaran.


"Dahulu tuan Lanlan memang tidak disukai semua orang bahkan keluarganya nona, tuan besar menginginkan anda menikah dengan dia karena tuan besar percaya kalau tuan Lanlan bisa melindungi anda apalagi tuan Lanlan sangat hebat lebih dari pada anda. Nona muda tahu kan kalau tuan Lanlan lebih di takuti dari pada tuan Alan!"


"Oh ya benar juga, banyak yang seperti ketakutan saat aku bertemu dengan Lanlan."


"Ya itu karena tuan Lanlan sangat hebat dan kuat dari tuan Alan, walaupun tuan Alan bisa sembuh dengan darah anda tapi dia tidak akan bisa mengalahkan tuan Lanlan bahkan anda sendiri juga tidak bisa mengalahkannya."


"Apa itu menjadi pikiran anda nona?"


"Ya, aku menyadari kalau aku bukan tandingan Lanlan tapi aku sangat dendam dengannya karena dia yang membunuh keluargaku dan memindahkan makan ayah dan ibu."


"Memindahkan?" tanya Wan terkejut.


"Ya, katanya dipindah di pemakaman keluarga Liu."


"Kenapa bisa? Bukannya beda keluarga tidak boleh di tempatkan di tempat yang sama?" tanya Wan terkejut.


"Memang tapi kenyataannya Lanlan memindahkannya, setelah dari sini kita pergi kesana Wan, aku mau berziarah..."


"Baik nona muda."


Kriiinngggg


Tiba-tiba terdengar suara telepon Wan berbunyi keras, Wan dengan cepat mengangkat telpon itu sedangkan aku hanya terduduk di batang pohon sambil menatap cincin di tanganku.


"Mohon maaf nona muda sepertinya pertarungannya akan dilaksanakan besok karena disini masih ada beberapa tetua yang menikmati pesta."


"Tetua?" tanyaku terkejut.


"Benar nona, beberapa tetua diam-diam datang ke pesta jadi musuh menghentikan sementara sampai besok saat pesta makan malam."

__ADS_1


"Astaga diundur lagi, pesta apa sih ini!" gerutuku kesal.


"Kalau melaksanakan saat ini pasti akan melanggar surat keputusan tadi nona, apalagi bisa langsung di tuntut penjara oleh tetua mafia."


"Lalu untuk Alan?"


"Mmm tetap berlanjut nona, kata Roy tuan Alan masih berdansa dengan wanita itu."


"Oh mmm kalau begitu apa ini cara Lanlan menjebak Alan agar tetua semua tahu apa yang dilakukan Alan?"


"Benar nona muda, kalau tetua tahu pasti tetua akan menyalahkan tuan Alan lagi, jadi sebelum tuan Alan melakukannya lebih baik nona muda menghentikannya sebelum tetua mengetahuimya sendiri."


"Oh mmm licik juga dia, baiklah bisa diatur. Oh ya bagaimana dengan Putri?"


"Kami tidak mendapatkan informasi terbaru nona muda, tidak ditemukan dimana nona Putri sekarang."


"Oh sepertinya Lanlan sangat marah Putri melukaiku di depan Lanlan langsung..." desahku menghela nafas panjang.


"Baiklah Wan, rencana kita...kita harus menghentikan Alan sebelum terjadi kembali lagi, apa kamu mengerti?" tanyaku serius.


"Baik nona muda, saya sudah memberitahukan yang lain.." gumam Wan mengetik sesuatu di handphonenya.


"Ohh baguslah, oh ya Wan...terimakasih kalian bertiga sudah setia kepadaku..." gumamku pelan.


"Tidak masalah nona muda, kami yang sangat berterimakasih kepada nona. Kalau bukan nona muda yang menyelamatkan kami dari kapal perdagangan itu pasti kami sudah di jual mafia yang mengutamakan uang itu!" gerutu Wan kesal.


"Tidak masalah, hanya karena kasihan melihat kalian tercompang camping dan di penuhi luka. Apalagi aku dulu memang membutuhkan bawahan sih..." desahku pelan.


"Ya benar nona muda, kalau teringat kejadian itu kami sangat sedih nona muda. Terkadang kami juga teringat hal itu nona muda membuat kami sangat kesal..." gumam Roy berdiri di pohon belakangku.


"Mungkin kalau bukan karena nona muda pasti kami tidak bisa seperti ini..." gumam Zaki pelan.


"Tenang saja, kalian sekarang pria yang hebat dan kuat. Aku tidak meminta apapun, hanya seperti perkataanku dimasa kecil. Anggap saja aku adik kalian dan kemanapun aku pergi kalian harus menemaniku. Ya hanya itu sih, tapi tidak aku sangka kalian sangat setia kepadaku...terimakasih..." gumamku menahan tangisku.


"Mmm nona muda kenapa nona muda menangis?" tanya Wan terkejut.


"Tidak kok, hanya sedikit sedih jika teringat perlakuan keluargaku kepadaku saja, kalau bukan karena ada kalian pasti aku akan terus menderita. Terimakasih banyak kalian..." gumamku mencoba tersenyum.


"Tidak masalah nona muda, kami akan berusaha sekuat kami untuk melindungi nona muda!" ucap Wan serius.


"Ya, aku juga akan melindungi kalian. Tidak akan aku biarkan siapapun menyakiti bawahanku!" gumamku serius dan ketiga bawahanku tersenyum senang.


Disaat aku asik mengobrol dengan ketiga bawahanku, aku merasa ada seseorang yang mengintip kami tapi saat aku mendekatinya tidak ditemukan siapapun.


"Ada apa nona muda?" tanya Wan bingung.


"Tidak tahu, aku merasa ada yang mengamati kita saja."


"Benarkah nona muda?" gumam Wan terkejut.


"Kami cari nona muda..."


"Tidak perlu, biarkan saja..." gumamku kembali terduduk di atas pohon.

__ADS_1


Walau di amati seperti apapun aku tidak peduli, aku sudah sering diamati apalagi aku sedang tidak membahas hal khusus dengan ketiga bawahanku hanya membahas masa lalu saja jadi tidak masalah bagiku...


__ADS_2