Tangan Kanan Tuan Muda Mafia

Tangan Kanan Tuan Muda Mafia
Episode 80 : Kegundahan


__ADS_3

Di pesta ini banyak tamu yang benar-benar menikmatinya, karena Lanlan sedang pergi ke kamar mandi jadi aku hanya terdiam menatap para tamu sambil memakan kue basah di depanku. Saat aku menikmati makananku, aku melihat Sain dan Sina berjalan kearahku bersama Sann Liu dan Hassan Liu ke arahku.


"Aduh mereka lagi, malas aku... tapi siapa anak kecil itu?" gumamku dalam hati saat melihat tiga anak kecil yang digandeng Sann Liu dan Hassan Liu itu.


"Kakak... selamat ya atas kehamilannya..." ucap Sina memelukku erat.


"Eehh mmm ya terimakasih..." gumamku pelan.


"Kalian salim dulu sama budhe..." gumam Sina menatap ketiga anak itu dan dengan cepat ketiga anak itu bersalaman denganku.


"Mereka...anak kalian?" tanyaku pelan.


"Ya, ini anakku dan dua itu anak kak Sain. Anakku namanya Wulan Liu dan mereka namanya Tina Liu dan Toni Liu."


"Oh kenapa kalian tidak namakan marga Shin?" tanyaku pelan.


"Ya yang berhak menamai marga anaknya Shin hanya kakak dan kak Siany saja..." ucap Sain pelan.


"Aku? Tidak, aku tidak menamai marga anakku dengan Shin."


"Kenapa?" tanya Sian terkejut.


"Dia adikku dan dia bukan marga Shin asli jadi dia tidak berhak menamai anaknya dengan marga Shin!" ucap seorang pria di belakangku yang tiba-tiba langsung memelukku. aku menatapnya ternyata pria itu adalah Tian.


"Tunggu mana bisa seperti itu!" protes Sian kesal.


"Itu kenyataannya dan kalian juga tahu kalau Sani bukan asli dari keluarga Shin tapi kalian sembunyikan semuanya atas perintah Siany bukan?" tanya Tian dingin.


"Tapi kan..."


"Tidak ada kata tapi, aku tidak mau adikku menderita lagi. Dia akan ikut margaku dan kalian...tidak berhak ikut campur apalagi Siany!" gerutu Tian menggenggam erat tanganku dan pergi dari tengah pesta itu.


Melihat Tian menarikku pergi dari pesta membuatku bingung, kenapa dia tiba-tiba marah dan membawaku pergi. Aku tidak mengerti maksudnya tidak ingin aku menderita lagi? Kenapa?


"Ka...kakak..." gumamku pelan.


"Iya adikku..." gumam Tian terus menarikku naik ke beberapa anak tangga di depanku.


"Kenapa? Apa maksudnya?" tanyaku bingung.


"Apanya yang apa maksudmu?" tanya Tian menatapku bingung.


"Maksudnya kamu tidak mau melihatku menderita lagi, apa maksudnya?" tanyaku pelan.


"Yaahhh aku memang tidak mau melihatmu terus menderita saja..." gumam Tian melepaskan genggamannya saat kami sampai di balkon lantai 4.


"Menderita karena masih menjadi keluarga Shin?"


"Benar, yaah aku mengakui kesalahanku kala itu adalah...meninggalkanmu di keluarga Shin, aku dari awal memang tidak yakin Lanlan bisa membebaskanmu dengan mudah apalagi keluarga Shin memang benar-benar tidak mau melepaskanmu sama sekali."


"Kenapa?" tanyaku pelan.


"Kamu dulu sangat lemah dan hanya kita yang keturunan bukan keluarga Shin asli, dikarenakan bukan dari keturunan asli maka kita menjadi bahan penyiksaan kekesalan ayah dan semua ibu tiri saja."

__ADS_1


"Tapi kan bukan hanya kita ... tapi... tapi kan..."


"Ya memang Lin Shi dan Hasan Shi itu saudara tiri kita dan yang lain juga saudara tiri kita tapi mereka berbeda, ibu mereka yang keturunan keluarga Shin sedangkan ibu kita keturunan keluarga Khun. Dalam keluarga Shin jika ibu kita bukan dari keturunan Shin maka...kita tidak berhak mendapatkan pengakuan dalam keluarga Shin, berbeda dengan beberapa keluarga mafia lainnya."


"Tapi itu kan tidak adil!" gumamku pelan.


"Ya kakak tahu, tapi dunia mafia sangat kejam dan kamu tahu akan hal itu. Kakak minta maaf kepadamu kalau kakak meninggalkanmu di keluarga Shin, kakak tidak bisa melakukannya waktu itu karena kakak sangat lemah dan saat kakak sudah kuat tidak aku sangka kamu juga sangat kuat adikku..." gumam Tian memelukku erat.


"Dulu saat kakak dan Lanlan menyerang keluarga Shin untuk menyelamatkanmu ternyata kamu tidak ada di keluarga Shin yang membuat kakak benar-benar depresi karena tidak menemukanmu..."


"Benarkah?" tanyaku pelan.


"Ya, kakak sangat menyayangimu adikku...kakak...kakak takut kehilanganmu, kalau kakak benar-benar kehilanganmu pasti...pasti kakak akan membunuh seluruh mafia, kakak tidak peduli dia bersalah atau tidak yang penting kakak..." gumam Tian terus memelukku erat.


"Kakak...jangan khawatir, aku tidak apa-apa kok. Maaf jika...aku selama ini tidak tahu kalau aku memiliki seorang kakak."


"Tidak apa adikku, kakak memang melarang Fiyoni memberitahukan kepadamu kalau kamu memiliki kakak dan Fiyoni adalah saudara tirimu."


"Kenapa?" tanyaku pelan.


"Kakak tidak ingin kamu membenci kakak, kakak takut kamu membenci kakak. Tapi ayah malah memberitahukanmu dan ketakutan kakak benar-benar terjadi, kamu membenci kakak yang membuatku sangat sedih."


"Kakak...aku tidak membencimu, hanya...aku sangat iri dengan kalian yang....tidak merasakan penderitaanku saja..." gumamku pelan.


"Maaf adikku, seandainya kakak waktu itu mengajakmu kabur dari keluarga Shin pasti...kamu tidak akan menderita seperti ini."


"Tidak apa kakak, sekarang aku tidak masalah kok asalkan aku bisa benar-benar bertemu dengan kakak. Aku benar-benar sayang kepadamu kakak..." gumamku memeluk erat Tian.


"Hmmm benarkah? Kakak sangat senang mendengarnya..." gumam Tian pelan.


"Jangan, nanti anakmu akan ditindas oleh anak Siany sama sepertimu."


"Be...benarkah?" tanyaku terkejut.


"Ya, tanyakan saja kepada Lanlan sendiri..." ucap Tian melirik Lanlan yang sedang berdiri di belakangku.


"Benar, nanti anakku akan aku beri marga Kim!" ucap Lanlan dingin.


"Tidak bisa, anaknya harus bermarga Khun!" protes Tian dingin.


"Tidak bisa, dia anakku jadi dia harus bermarga Kim!"


"Tidak bisa dia harus bermarga Khun!"


"Haish kalian berdua masalah marga saja di permasalahkan!" gerutuku dingin.


"Ya pastilah, penamaan marga akan menjadi penerus keluarga nantinya Sani!" ucap Tian serius.


"Kalau begitu...biarkan dia memiliki dua marga saja."


"Tidak bisa setiap orang harus memiliki satu marga saja."


"Kenapa tidak bisa, aku malah memiliki tiga marga..." gumamku pelan.

__ADS_1


"Tiga marga?" tanya Tian bingung.


"Ya kan margaku masih marga Shin sedangkan ayah ingin aku berada di marga Shinju sedangkan kakak...pasti ingin aku berada di marga Khun, benarkan?" tanyaku serius.


"Benar tapi kan kamu tidak bisa memiliki marga banyak adikku!"


"Walaupun begitu secara tidak langsung aku masih marga Shin bukan, dan kakak benar-benar menolak aku masih menyandang marga Shin, benarkan?"


"Yaah benar, cepat atau lambat kamu harus memiliki satu marga tetap Sani!" ucap Tian menatapku serius.


"Aku mengerti kok kakak. Hanya saja aku bingung apa yang harus aku pilih."


"Itu semua keputusanmu Sani, oh ya Lanlan ada sesuatu yang ingin ku katakan. Ikutlah denganku sebentar.." gumam Tian melepaskan pelukannya dan berjalan pergi.


"Kakak...aku sayang kakak..." gumamku tersenyum dan Tian membalas senyumku dan pergi meninggalkanku bersama dengan Lanlan.


"Hmmm..." desahku menatap di bawahku sambil melihat tamu yang sedang berdansa di luar gedung.


"Saat ini siapa yang bisa ku percaya, kenapa aku sangat ragu tentang kehidupanku ini..." desahku pelan.


"Oh ya aku hampir lupa..." gumam seorang wanita di belakangku, aku menoleh kebelakang dan melihat seorang wanita bersama dengan Alan yang ada di sampingnya.


"Yaahh...ada apa?" tanyaku pelan.


"Beberapa minggu lagi kami akan mengadakan acara kehamilan empat bulan anak kami nantinya, jadi bisakah kamu datang?"


"Oh mmm ya lihat saja nanti apakah aku bisa datang atau tidak."


"Baiklah, oh ya ngomong-ngomong apakah kamu masih mencintai Alan?" tanya Siany menatapku serius.


"Tidak, aku tidak mencintainya."


"Oh benarkah? Kebohonganmu sangat menyebalkan ya!" gerutu Siany dingin.


"Aku mengatakan yang sebenarnya untuk apa aku mencintai dia lagi. Walaupun dia mantan kekasihku tapi aku tidak lagi mencintainya!" gerutuku menatap Siany dan Alan dingin.


"Haah hahaha kau masih saja bermuka polos ya Kak Sani, sama seperti masa kecilmu kau seharusnya mati saja saat disiksa di masa lalu!" gerutu Siany dingin.


"Heeeh mati ya? Kau kira aku akan mati dengan mudah apa?" gumamku tersenyum dingin.


"Kau ternyata sangat menyebalkan ya Sani!" gerutu Siany berjalan kearahku dan mendorongku ke belakang, saat aku terjatuh kebelakang, tiba-tiba ada seseorang yang menangkap tubuhku dan memelukku erat.


"Kau beraninya hampir mencelakai istriku Siany!" protes Lanlan dingin.


"Lalu kenapa? Kau juga ingin membunuhnya bukan? Lalu kenapa? Apa aku salah? Apa kau lupa kalau dia yang membunuh ibu!" protes Siany kesal.


"Itu bukan urusanmu!"


"Bukan urusanku! Kau bilang kau akan meluluhkan dia dan segera membunuhnya tapi kenapa kau malah..."


"Sudah aku katakan kan itu bukan urusanmu, enyahlah kau dari hadapanku!" gerutu Lanlan menatap Siany dingin.


"Liat saja nanti, akan ku bunuh dia dan ku rebut kau kembali Lanlan Kim!" gerutu Siany berjalan pergi dan diikuti Alan dari belakang, sesekali Alan menatapku dan menundukkan wajahnya sambil berjalan pergi.

__ADS_1


Apa yang mereka ucapkan sebenarnya? Tanyaku dalam hati, aku menghela nafas panjang sedikit ketakutan di pelukan Lanlan. Aku takut dia tiba-tiba...hmmm ya sudahlah, mungkin sudah nasib... Batinku.


__ADS_2