
Setelah aku berganti pakaian dan bertemu dengan tetua mafia, akhirnya kami semua berangkat menggunakan mobil milik Lanlan. Selama perjalanan Fiyoni dan Rei selalu bertengkar, entah awalnya membahas apa tapi ujung-ujungnya mereka bertengkar.
"Kalian berdua bisa diam tidak!" gerutu tuan Shinju kesal.
"Fiyoni tuh ayah bukan aku!" protes Rei kesal.
"Rei tuh ayah nyebelin banget!" gerutu Fiyoni kesal.
"Haish kalian berdua bisa tidak kalian akur!" gumam tetua mafia dingin.
"Tidak mau!" teriak Fiyoni dan Rei bersamaan.
"Astaga kalian bersaudara loh, berantem saja!" gerutu Lanlan kesal.
"Kau anak tunggal! Kau tidak tahu rasanya jadi kakak!" sindir Fiyoni kesal.
"Ya, kau tidak tahu rasanya jadi adik jadi diam saja sana!" sindir Rei dingin.
"Ka...kalian!" gerutu Lanlan menahan kesal, "Astaga dua bersaudara itu benar-benar tidak bisa menjaga perkataannya..." gerutuku dalam hati.
"Heei sudahlah! Kalian malah menyindir Lanlan!" gerutu Tian dingin.
"Ini kan urusan kami jadi kenapa kau juga ikut campur!" protes Rei kesal.
"Kau kalau diberitahu nyebelin ya Rei!" gerutu Tian menarik telinga Rei.
"A...aduh sakit...ampun!" rengek Rei pelan.
"Hahaha emang enak!" tawa Fiyoni kencang, tanpa basa basi aku juga menarik telinga Fiyoni yang membuatnya terkejut.
"Aa..aaduuh kenapa aku juga ditarik telinganya!" protes Fiyoni berusaha melepaskan tanganku.
"Ya itu hukumanmu karena sudah menyindir suamiku kak Fiyoni!" gerutuku dingin.
"Ta..tapi aku hanya bercanda tahu!" rengek Fiyoni pelan.
"Bercandamu keterlaluan kakak!" gerutuku kesal.
"Sudahlah sayang...aku tidak apa-apa..." gumam Lanlan pelan dan aku melepaskan tarikan telinga Fiyoni.
"Kau tidak apa bercanda atau menyindirku atau memarahiku kak Fiyoni, tapi jangan lakukan itu kepada orang lain dan kau juga sama kak Rei! Kalian tidak tahu rasanya di candain atau disindir atau dimarahin cuma untuk sekedar lelucon kalian, ya kalau mereka menganggapnya lelucon juga kalau menganggapnya serius pasti akan sakit hati!" protesku kesal.
"Baik-baik dasar cerewet!" gerutu Fiyoni dan Rei bersamaan.
"Ka...kalian ini!" gerutuku mengambil senjataku tapi Lanlan langsung menggenggam tanganku sambil menggelengkan kepalanya.
"Huufftt..." desahku kesal.
"Haish kalian berdua ini, adik kalian sedang hamil tahu jangan kalian buat dia emosi!" protes tuan Shinju kesal.
__ADS_1
"Baik ayah..."
"Hmmm baiklah mari kita turun..." gumam tuan Shinju turun dari mobil dan kami semua mengikuti tuan Shinju dari belakang, disebelahku aku melihat tatapan Lanlan yang sangat dingin sambil menggenggam erat tanganku entah apa yang dia pikirkan tapi aku hanya terdiam berjalan mengikuti langkah kaki Lanlan.
Di sebuah gedung besar aku melihat banyak orang yang sedang berkumpul sambil memakai gaun dan memakai jas hitam yang terlihat sangat mewah.
Saat aku dan Lanlan berjalan masuk ke dalam gedung, aku melihat banyak orang yang menatap kami berdua. Diantara mereka aku melihat beberapa ketua mafia yang hadir di acara ini.
"Mari sayang..." gumam Lanlan menggandengku naik tangga menuju balkon aula.
"Baiklah...para hadirin yang terhormat, selamat datang di acara perayaan kehamilan 3 bulan dari pasangan tuan muda Kim dan nona muda Shin!" ucap seorang pria berjas hitam yang terlihat sangat senang.
"Silahkan tuan muda untuk menyampaikan sepatah atau dua patah kata..." gumam pria itu sambil menundukkan badannya pelan.
"Oh mmm baiklah... terimakasih untuk semua keluarga mafia yang berkenan hadir dalam acara spesial kami hari ini. Untuk merayakan kebahagiaan atas kehamilan istriku jadi silahkan dinikmati hidangan yang telah tersedia..." ucap Lanlan dingin dam semua tamu mengangkat gelasnya seraya saling bersulang.
Di aula banyak sekali orang-orang yang berkumpul dan menikmati hidangan yang telah di siapkan. Lanlan menggenggam tanganku dan tersenyum kearahku.
"Ada apa kak Lanlan?" tanyaku pelan.
"Mmm tidak ada, hanya senang saja. Oh ya kamu mau makan apa?"
"Aku...aku mau itu..." gumamku menunjuk sebotol wine di lantai bawah.
"No! Tidak boleh!"
"Iihhh kenapa!"
"Terus aku minum apa?" rengekku pelan.
"Minum air putih saja."
"Gak mau, gak suka! Aku maunya yang manis-manis..."
"Ya sudah jus buah tanpa gula saja..."
"Kok jus buah!!" protesku kesal.
"Ya buah baik untuk kesehatanmu dan kesehatan anak kita..." gumam Lanlan menjentikkan jarinya dan beberapa pelayan menundukkan kepala mereka dan pergi dari balkon.
"Tapi..."
"Tidak ada tapi-tapi, kalau sudah waktunya kamu boleh minum wine lagi."
"Hmmm..." desahku pelan. Tidak berapa lama datang seorang pelayan memberikanku minuman berwarna merah dan beraroma buah jambu.
"Ini jus jambu tanpa gula anda nona muda..." ucap pelayan itu menyerahkan minuman itu kepadaku.
"Kok...kok gak ada rasanya?" tanyaku terkejut.
__ADS_1
"Ya namanya juga tanpa gula."
"Eeh kenapa? Rasanya gak enak tahu!" gerutuku kesal.
"Ya buah asli bagus untuk kesehatanmu dan kesehatan anak kita jadi enak atau tidak harus kamu minum dan makan."
"Mmmm..." desahku memaksa meminum jus buah itu.
"Haaah benar-benar menyiksaku..." desahku meletakkan gelasku dan berjalan turun dari tangga.
"Eeh kamu mau kemana sayang?" tanya Lanlan berjalan di belakangku.
"Hanya ingin mengambil cemilan saja."
"Cemilan apa?" tanya Lanlan serius, aku menunjukkan kue manis di depanku dan memakannya.
Tiba-tiba ada yang menepuk bahuku pelan dan saat aku menoleh ke belakang, aku melihat Alan dengan seorang wanita cantik yang terlihat sedang hamil sedikit besar di depanku.
"Oh mmn selamat ya atas kehamilannya kakak..." ucap wanita itu tersenyum manis kearahku.
"Eee mmm ya...te...terimakasih, selamat juga untukmu..." gumamku mencoba tersenyum.
"Ya, terimakasih. Oh ya kami kesana dulu ya!" gumam wanita itu menarik tangan Alan berjalan pergi.
"Siapa dia?" tanyaku menatap Lanlan.
"Dia Siany, adik tirimu."
"Dia lagi hamil ya?"
"Ya begitulah, habis pertemuan di Amerika, mereka akan mengadakan pesta kehamilan juga."
"Ohh benarkah? Ngomong-ngomong dia cantik ya beda denganku..." gumamku menundukkan kepalaku.
"Tidak, kamu sangat cantik. Bagiku kau tetap wanita tercantik untukku dan tidak akan pernah terganti!" ucap Lanlan serius sambil merangkulku erat.
"Be...benarkah?"
"Ya pastilah, aku benar-benar mengakui hal itu. Kamu sangat cantik istriku, cantik luar dalam lagi yang membuatku... sangat senang memilikimu. Aku tidak sabar menjadi seorang ayah..." desah Lanlan mengusap perutku lembut.
"Ya...aku juga sama..."
"Kamu gak makan makanan yang berat?"
"Tidak, aku makan ini saja." Aku mengambil kue basah di depanku dan memakannya.
"Kamu harus makan nasi tahu!"
"Kan tadi udah makan sebelum berangkat jadi aku masih kenyang."
__ADS_1
"Hmmm baiklah, tapi jangan makan makanan manis kebanyakan loh!"
"Ya aku mengerti..." desahku memakan kue ditanganku kembali. Aku menatap setiap orang yang datang di pesta ini dan benar-benar semua orang dari keluarga tertinggi datang ke pesta ini, ya walaupun pesta yang sederhana karena aku harus mengejar waktu juga tapi karena banyak tamu yang memakai gaun dan jas yang mahal jadi terlihat sangat mewah pesta malam ini.