
Selama semalaman aku tidak tertidur sama sekali, aku menutup buku catatanku dan meletakkan kepalaku di atas meja sambil menatap pintu yang di tutup di sebelahku.
"Kau tidak tidur lagi Sani? Jangan dibiasakan tahu!" protes Fiyoni di belakangku.
"Aku tahu, aku hanya tidak bisa tertidur saja..." gumamku pelan.
"Jangan bilang kamu memikirkan rencana lagi Sani!"
"Ya begitulah, kamu pasti tahu apa yang aku pikirkan..." gumamku memasukkan kembali buku catatanku di tasku.
"Bagaimana Alan?" tanyaku pelan.
"Dia sedang mengikuti pertemuan perusahaan dengan Fians."
"Oh baguslah...Aku istirahat sebentar Fiyoni, kau awasi sekitar ya..." gumamku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur.
"Tuh musuhmu menunggumu di balkon dari tadi." gumam Fiyoni dingin, aku menatap Lanlan yang sedang meminum wine di kursi balkon kamarku, di belakangnya aku melihat Putri yang menundukkan wajahnya dan tidak berbicara apapun.
"Jadi kamu disini karena ada dia?"
"Ya begitulah."
"Kenapa dia disini?"
"Mana aku tahu, dia ku tanya tidak menjawab!" gerutu Fiyoni kesal.
"Haaah..." desahku beranjak dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar.
"Kenapa kau disini?" tanyaku terduduk di depan Lanlan.
"Hanya ingin saja, memangnya tidak boleh?"
"Tidak boleh lah, ini kamar wanita tahu!" protesku kesal.
"Dari semalam silih berganti pria datang ke kamarmu dan kamu tidak mempermasalahkannya kenapa kalau aku..."
"Mereka bawahanku jadi mereka tidak masalah datang ke kamarku. Kau kesini karena apa?" tanyaku dingin.
"Sudah aku katakan aku sedang ingin saja."
"Kalau tidak ada yang penting...aku mau istirahat..." gumamku beranjak dari kursi tapi Lanlan kembali menggenggam erat tanganku.
"Apa kamu tidak tidur?"
"Tidak...aku jarang tidur...kenapa?" tanyaku dingin.
"Oh ya sudah istirahatlah dulu, aku akan menemanimu."
"Menemaniku? Tidak perlu, aku tidak ingin wanitamu cemburu..." gumamku dingin.
"Apa kamu cemburu Putri disini?"
"Cemburu ya? Aku tidak...Heei turunkan aku!!" protesku melihat Lanlan menggendongku.
"Sudahlah kamu tidak perlu cemburu seperti itu..." gumam Lanlan merebahkan tubuhku di atas tempat tidurku.
"Ciikkk siapa yang cemburu!" gerutuku membelakangi Lanlan.
"Dia musuhmu Lanlan, dengan santainya kau menggendong musuhmu?" tanya Fiyoni tidak percaya.
"Tidak masalah, aku juga ingin merasakan menggendong wanita cantik kok..." gumam Lanlan dingin.
"Haish kau menambah pekerjaanku Lanlan!" gerutu Fiyoni terduduk di sofa.
"Kenapa juga, kamu mau pergi ya pergilah!"
"Kau kira aku akan meninggalkan Sani denganmu dan terbunuh olehmu? Haah aku bukan wakil yang bodoh Lanlan!" gerutu Fiyoni dingin.
"Membunuh ya? Sebelum dia mengatakan jawaban dia aku tidak akan membunuhnya."
"Kalau mau bunuh ya bunuh saja, apa susahnya!" gumamku memejamkan kedua mataku.
"Kau kira aku akan..."
Krriiinnnggg
__ADS_1
Tiba-tiba suara handphoneku berdering keras, aku mengambil handphoneku dan menjawab telepon itu.
"Ya hallo..." gumamku pelan.
"Sani kamu dimana?" tanya Alan pelan.
"Aku ada urusan, ada apa?"
"Kata kamu kamu akan mengawasiku?"
"Aku juga melakukannya, kalau kamu sedang pertemuan ya lakukanlah jangan khawatir..." gumamku pelan.
"Oh baiklah, jangan lupa sarapan..." gumam Alan mematikan teleponnya.
"Hmmm..." desahku memejamkan mataku kembali.
"Telpon dari siapa?" tanya Fiyoni penasaran.
"Bukan siapa-siapa."
"Dari Alan ya?" tanya Lanlan dingin.
"Memang, sudahlah aku mau istirahat!" gumamku memejamkan kedua mataku dan tertidur.
Tidak lama aku tertidur, aku mendengar suara pedang di sekitarku. Aku membuka mataku dan melihat Lanlan dan Fiyoni sedang bertarung di kamarku, aku melemparkan bantalku yang membuat kedua pria itu terkejut.
"Aku ingin istirahat bisa tidak kalian diam!" gerutuku kesal.
"Fiyoni yang memulai duluan!" protes Lanlan membela diri.
"Kau yang memulai duluan!" protes Fiyoni membela diri.
"Aah terserahlah!" gerutuku beranjak dari tempat tidurku dan segera mandi, ingin tidur sebentar saja di ganggu membuatku sangat kesal.
Setelah mandi aku masuk kembali ke kamar dan melihat dua pria itu kembali bertarung membuatku kesal.
"Hancurkan saja kamar ini!" gerutuku menguncir rambutku, melihat aku keluar kamar Lanlan mendekatiku dan memelukku erat.
"Kamu benar-benar sangat cantik gadis kecilku..." gumam Lanlan menciumku untuk kedua kalinya.
"Hanya ingin, oh ya kamu ingin tahu kan dimana makam ayahmu dan ibumu yang sebenarnya?" gumam Lanlan melepaskan pelukannya dan berjalan mendahuluiku.
"Kalau kau ingin tahu...ikutlah aku!" gumam Lanlan membuka pintu kamarku.
"Hei kau! Yang benar saja!" gerutuku berjalan mengikuti Lanlan.
"Kau ikut juga Fiyoni!" gumamku menarik tangan Fiyoni keluar kamar.
Saat di ruang makan aku melihat Lanlan masuk ke dalam sebuah ruangan yang bertuliskan VVIP. Di restoran tidak ada satupun yang berani melirik kami bahkan mereka seperti patung tidak bergerak sama sekali.
"Duduklah!" gumam Lanlan yang sedang duduk di meja putih di depanku.
"Aku berpikir dari pada di hutan semalam mending sekalian makan siang saja. Jadi kamu mau makan apa?." gumam Lanlan memberikanku buku menu.
"Hmmm aku enam wine sama tiga kue ini saja." gumamku menatap pelayan di sebelahku.
"Kamu tidak makan?"
"Tidak, aku tidak selera."
"Kamu harus makan! Berikan dia tiga makanan terbaik!" ucap Lanlan serius dan pelayan itu pergi.
"Heei aku sudah bilang aku tidak selera!" protesku kesal.
"Aku tidak peduli, kau harus makan!"
"Tapi kan!!"
"Permisi tuan dan nona, silahkan dinikmati.." gumam pelayan itu memberikan enam botol wine, tiga steak dan tiga potong kue.
"Kau dengan Alan sama saja! Menyebalkan!" gerutuku memotong steak di depanku.
"Jangan samakan aku dengan dia!" gerutu Lanlan dingin.
"Ngomong-ngomong kenapa kau tidak memesankan Putri juga?"
__ADS_1
"Kamu peduli dengannya?"
"Peduli ya? Tidak juga, hanya kasihan saja. Nih makan saja..." gumamku mendorong steak yang belum aku makan.
"Ta...tapi..."
"Aku lebih suka kau mati dengan pedangku dari pada kau mati kelaparan!" gumamku menuangkan wine dan meminum wine di gelasku.
"Padahal dia musuhmu tapi kau masih peduli dengannya ya!" sindir Lanlan menatapku dingin.
"Kau juga, padahal aku musuhmu tapi kau malah memesankan makanan untukku. Oh ya, jadi dimana jazad kedua orang tuaku?" tanyaku dingin.
"Satu tempat dengan makam orang tuaku."
"Siapa yang memindahkannya?" tanyaku terkejut.
"Aku."
"Siapa yang mengizinkanmu melakukannya!!" protesku kesal.
"Ayah ku yang mengatakannya sebelum dia mati dia berpesan menempatkan kedua orang tuamu di lahan yang sama."
"Dimana itu?" tanyaku serius.
"Di area pemakaman keluarga Liu."
"Oh begitu ya..." desahku kembali meneguk wine sampai menghabiskan tiga botol.
"Apa kamu tidak mabuk meminum banyak wine?"
"Tidak, aku biasa saja..." gumamku menatap butiran soda yang mengambang di atas gelas.
"Kenapa kau membunuh keluargaku Lanlan?" tanyaku serius.
"Membunuh atau tidak sudah takdirnya."
"Apa kau gila kau... uuhhhuuukkk... uuuhhhuuukkk..."
"Kau kenapa?" tanya Lanlan khawatir.
"Sudah sering kali aku katakan, jangan bergadang kalau penyakitmu kambuh kayak gini yang susah siapa coba!" gerutu Fiyoni memberikanku obat.
"Dia kenapa?" tanya Lanlan serius.
"Dia kalau kecapekan, tidak tidur dan kebanyakan minum wine selalu kambuh penyakitnya." gerutu Fiyoni kesal.
"Diamlah Fiyoni!" gerutuku menatap kesal.
"Kenapa aku harus diam? Kalau kau selalu begitu kau bisa mati Sani!" protes Fiyoni kesal.
"Kalau mati ya sudah matilah, itu yang aku inginkan."
"Kalau ingin mati tinggal bunuh diri aja apa susahnya!" gerutu Putri kesal.
"Diam kau!" gerutu Lanlan yang membuat Putri langsung terdiam
"Aku sudah sering melakukannya tapi percuma saja. Kalau kau ingin aku mati, bunuh saja!" gumamku menantang Putri.
"Ka...Kau!" gerutu Putri mengarahkan pisau makannya kearahku dengan cepat aku menepisnya tapi tetap saja tanganku terkena pisau itu.
"Kau sudah aku katakan jangan melakukan apapun!" protes Lanlan kesal.
"Sani kau tidak apa?" tanya Fiyoni terkejut.
"Tidak apa... hanya luka ringan... uuuhhuukkk...uuuhhhuukk..." rintihku terus terbatuk-batuk, melihatku terbatuk-batuk Lanlan mengambil pisau itu dan terkejut.
"Kau...sejak kapan kau membawa racun!" gerutu Lanlan menatap Putri kesal tapi Putri hanya terdiam dan tersenyum dingin.
"Bawa dia pergi!!" teriak Lanlan dan bawahan Lanlan membawa Putri pergi sedangkan Lanlan langsung menggendongku pergi dari ruang makan.
"Hei...lepasin aku!" gerutuku mencoba menahan batukku tapi tidak bisa.
"Diamlah, kau terkena racun milikku tahu!" gerutu Lanlan serius.
"Fiyoni buka kamarnya." gumam Lanlan panik dan Fiyoni langsung membuka kamarku.
__ADS_1
Dengan cepat Lanlan meneteskan sebuah cairan transparan ke arah lukaku dan segera membalutnya. Seharusnya kau membiarkan aku mati saja kenapa sih! Batinku, aku menutup kedua mataku dan tertidur pulas karena menahan sakit dan juga mengantuk.