Tangan Kanan Tuan Muda Mafia

Tangan Kanan Tuan Muda Mafia
Episode 70 : Diselamatkan Lanlan dari Alan


__ADS_3

Aku mencoba menghabiskan makananku tapi aku benar-benar tidak nafsu makan, aku mengangkat wajahku dan melihat sekelilingku yang ramai lalu lalang di pesta ini. Dipojok ruangan aku kembali melihat Alan yang dari tadi menatapku, aku sebenarnya tidak punya masalah dengannya tapi melihat Lanlan adalah pria yang dijodohkan denganku...apa yang harus aku perbuat lagi selain menjaga hati Lanlan yang sangat cemburu jika aku hanya sebatas mengobrol dengan teman pria.


"Sayang apa yang kamu pikirkan?" tanya Lanlan serius.


"Eehh... aku...aku hanya memikirkan rencana saja kok."


"Hmmm makanlah dulu."


"Aku sudah kenyang kok..." gumamku mendorong piring di depanku.


"Kamu masih beberapa suapan tahu! Buka mulutmu sayang!" ucap Lanlan mengarahkan sendok yang penuh makanan kearahku.


"Aku kenyang kak Lanlan."


"Beberapa suap lagi!"


"Tapi..." gumamku melirik ke arah Alan yang ternyata masih menatapku.


"Mmm ba...baiklah..." gumamku memakan makanan itu.


Setelah beberapa suap, aku merasa ingin ke kamar kecil, aku beranjak dari tempat dudukku dan menatap Lanlan serius.


"Aku mau ke kamar mandi dulu ya..."


"Baiklah jangan lama-lama..." gumam Lanlan pelan, aku segera berjalan cepat menuju kamar mandi. Aku tahu kalau Lanlan dari tadi mengamatiku yang sesekali menatap Alan tapi aku hanya menatapnya saja dan tidak lebih.


"Astaga, gila gara-gara kebanyakan minum sih..." gumamku berjalan ke arah kaca yang ada di toilet, aku membenahi make upku dan juga rambutku.


"Oh astaga, enak hidup di alam liar tidak butuh make up tidak perlu pakaian mewah tapi... haish mau bagaimana lagi..." gumamku sedikit menguncir rambutku ke atas dan membenahi pakaian pestaku.


"Ya sudahlah..." desahku berjalan keluar toilet untuk kembali ke pesta.


Belum sampai aku berjalan, tiba-tiba ada seseorang yang mendorongku ke dinding dan menutup kedua mataku yang membuatku tidak bisa melihat apapun kecuali aroma parfum yang aku kenal.


"A...apa maumu?" tanyaku berusaha setenang mungkin, dari aroma parfumnya aku ingat kalau ini adalah aroma parfum Alan.


"Apa mauku ya? Aku ingat kau bilang ada urusan dengan para tetua, tapi...kenapa kamu tidak kembali dan malah bersama dengan kakakku itu?" tanya Alan membuka mataku dan menatapku dingin.


"Bersama ya? Kamu pasti tahu kalau dia di jodohkan denganku dan kamu memang dijodohkan dengan adik tiriku kan?"


"Aku tidak peduli, kamu milikku Sani!"

__ADS_1


"Bagaimana bisa aku milikmu Alan sedangkan kita sendiri sama-sama dijodohkan? Aku memang benar-benar bodo amat dan aku akui kamu mantan kekasihku yang aku sayang, tapi kenyataannya sekarang kita sudah dijodokan dengan pasangan masing-masing tahu!" teriakku kencang.


"Hmmm Sani, apa kamu mencintai Lanlan?" tanya Alan serius.


"Kalau begitu, apa kamu mencintai Siany?" tanyaku serius.


"Jawab dulu pertanyaanku!"


"Kamu juga jawab pertanyaanku!" ucapku serius.


"Aku... aku memang mencintai Siany tapi aku mencintaimu Sani."


"Ya sudah kamu dengan Siany sana jangan denganku!" gerutuku mencoba terlepas dari genggaman Alan tapi Alan terus menahanku.


"Jawab aku Sani, apa kau mencintai Lanlan!" gerutu Alan serius.


"Ya...aku mencintainya, lalu kenapa?" teriakku kencang yang membuat Alan sangat kesal, tiba-tiba Alan mencekikku dengan kuat yang membuatku sulit bernafas sama seperti saat terakhir kali kami akan berpisah.


"Aku tidak peduli, kamu milikku Sani! Aku tidak akan melepaskanmu walaupun itu Lanlan kau tahu!" gerutu Alan kesal.


"Le... lepasin...kau membuatku susah bernafas tahu!"


"Ka...Kau masih saja selalu mencekikku kalau kau kesal Alan!" protesku kesal.


"Memang, aku lebih suka jika apapun yang aku sukai mati daripada aku menderita melihatnya menjadi milik orang lain!" teriak Alan terus menekan leherku kuat.


"Ka...Kak Lanlan...to...tolong aku!!" teriakku pelan, seberapa kuat aku berteriak tapi karena cekikannya membuatku tidak bisa berteriak kencang. Kedua mataku sedikit kabur dan aku benar-benar tidak bisa bernafas, kalaupun aku melawan akan percuma akan membuat aku menderita luka dalam sama seperti saat di akademi dulu tapi aku hanya terdiam dan merasakan sakit saja.


Tiba-tiba aku terkejut cekraman Alan terlepas dari leherku yang membuatku terjatuh ke tanah, aku terus menerus terbatuk dan mencoba bernafas walaupun sakit di tenggorokanku tapi aku harus bernafas dari pada aku mati.


"Apa yang kau lakukan?" protes Lanlan kesal.


"Apa! Dia milikku beraninya kau merebut milikku!"


"Apa peduliku? Dia istriku dan selamanya jadi istriku dan kau...urus saja istrimu sendiri!" gerutu Lanlan menggendongku yang masih terbatuk-batuk.


"Kau bilang kalau kau tidak menerima pernikahan resmimu itu! Tapi kenapa kau..."


"Aku menarik kata-kataku, aku mencintai Sani dan sampai matipun Sani tetap tangan kananku dan dia adalah.... istriku!" gerutu Lanlan dingin dan kembali berjalan pergi. Walaupun terdengar Alan yang terus berteriak kesal dari belakang tapi Lanlan benar-benar tidak memperdulikannya sama sekali.


Lanlan membuka pintu sebuah kamar dan membaringkanku di tempat tidur, dia berjalan ke sebuah lemari dan mengambil kotak berwarna putih dan mencoba mengobati tanganku yang terluka karena cengkraman tangan Alan.

__ADS_1


"Kaaak...kak Lanlan...sa..sakit..." gumamku pelan.


"Hmmm tahan sebentar."


"Kak...kaak Lanlan sakit...uuhhuukk...uuhhhuukkk..."


"Hmm lain kali kamu harus waspada terhadap sekitarmu tahu!"


"A...aku tidak tahu kalau Alan ada di belakangku, cekikannya kali ini sangat kuat kak Lanlan buat aku benar-benar tidak bisa..."


"Ya aku tahu, aku juga pernah melihatmu dicekik olehnya dahulu. Cuma aku benar-benar kali ini peduli dan menyelamatkanmu..." gumam Lanlan menggigit leherku pelan.


"Uuggghhh me...menyelamatkanku?" tanyaku pelan.


"Ya dulu aku tidak bersedia menerimamu karena kamu membunuh ibuku tapi sekarang... karena kamu istriku dan aku tidak mau kehilanganmu jadi aku menyelamatkanmu, aku kira kamu akan bisa melepaskan dirimu tapi ternyata...kamu malah hampir mati ditangan Alan tahu..." gumam Lanlan melepaskan gigitannya dan menatapku.


"Huuuhhh, leher adalah kelemahanku dan hanya Alan yang tahu. Kalau aku tercekik di leher ya sudah aku tidak bisa melawan atau yang lainnya..." gumamku pelan.


"Kenapa bisa lehermu menjadi kelemahanmu?"


"Ya... akibat cekikan Alan yang dulu membuat leherku terluka dalam dan karena Alan merasa bersalah padaku jadi dia pergi menghilang selama bertahun-tahun lamanya."


"Oh begitu ya? Tapi aku barusaja menyembuhkanmu loh.." gumam Lanlan menunjukkan sekumpal darah beku di mulutnya.


"Ba...bagaimana kamu bisa mengeluarkannya? Dokter saja harus mengoperasinya?" tanyaku terkejut.


"Itu karena aku menggunakan teknik pengobatan rahasia dari keluarga Shinju, ayahmu yang mengajarkanku dahulu..."


"Aaah begitu ya... pantas sedikit baikan rasanya..." gumamku memegang leherku.


"Oh ya Sani, aku tidak menyangka kamu dengan lantang bilang kalau kamu mencintaiku, apa kamu hanya mengatakannya karena aku ada di sekitar kalian?"


"Buat apa aku mengatakan itu hanya alasan itu! aku malah tidak tahu kalau kamu ada di situ tahu dan lagi pula... aku benar-benar mencintaimu kak Lanlan...kamu menyuruhku menjadi tangan kananmu sebenarnya agar aku tidak pergi kemanapun kan?" gumamku dingin.


"Ya benar, aku tahu kamu mencintai Alan jadi karena itulah aku berupaya segala macam cara agar kamu berada digenggamanku istriku..." gumam Lanlan menciumku lembut.


"Ya aku tidak akan meninggalkanmu suamiku..." gumamku mencium Lanlan kembali.


"Oh ya...terimakasih sudah menyelamatkanku suamiku..." gumamku terus mencium Lanlan.


Kalau dipikir, aku memang mencintai Alan dulu karena dia mantan kekasihku dan karena video yang diberitahukan Alan padaku tapi saat melihat bukti aku menikah dengan pria tampan di depanku dan aku menjadi tangan kanannya aku tidak mungkin bisa terlepas darinya bahkan untuk mencintai pria lain.

__ADS_1


__ADS_2