Tangan Kanan Tuan Muda Mafia

Tangan Kanan Tuan Muda Mafia
Episode 15 : Menyerahkan Taka Kepada Nara


__ADS_3

Kriiiinnggg


Suara telepon dari handphoneku berbunyi dengan keras di pagi ini, sehingga membuatku terbangun dari tidurku. Aku menatap layar handphoneku ternyata Nara Zenn yang sedang meneleponku


"Hallo" gumamku mengusap kedua mataku


"Hai kak, kamu masih tertidur"


"Ya begitulah, ada apa Nara?" gumamku pelan


"Kakak ada di kapal pesiar ya?"


"Ya, ada apa?"


"Aku ingin bertemu denganmu"


"Bertemu denganku? Ada apa?"


"Ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu kak"


"Apa itu?"


"Kemarilah dulu kak"


"Kamu ada dimana?" gumamku terduduk di tempat tidurku


"Aku ada di ujung lorong dekat kamarmu"


"Oh baiklah aku akan segera menemuimu" gumamku menutup telepon itu


"Kamu mau kemana?" gumam Ryuki yang masih menutup matanya


"Nara Zenn ingin bertemu denganku"


"Benarkah? Bukan karena kamu akan pergi meninggalkanku"


"Tidak, aku akan bertemu dengan Nara Zenn. Apalagi itu akan masih lama kok"


"Oh benarkah? Syukurlah kalau begitu" desah Ryuki tersenyum


"Kamu senyum jelek jangan tersenyum seperti itu" gerutuku kesal


"Oh ya? Tapi senyumku tulus loh"


"Ya aku juga tahu senyum palsu dengan senyum tulus tahu" gumamku pelan dan segera pergi untuk mandi apalagi aku baru bangun tidur tidak mungkin aku tidak mandi terlebih dulu. Setelah selesai mandi, aku segera menemui Nara yang sudah menungguku dari tadi


Saat aku berada di luar kamar, aku melihat seorang wanita cantik yang sedang bersandar di dinding dengan tatapan kosongnya


"Akhirnya kamu datang kak" desah Nara menatapku


"Ada apa Nara?"


"Ikutlah denganku" gumam Nara berjalan mendahuluiku, aku mengikuti langkah kaki Nara


"Kamu masih saja cantik Nara" gumamku menatap Nara


"Oh benarkah? Aku sangat menghargai sanjunganmu kakak" gumam Nara mengajakku ke atas kapal pesiar itu


"Kenapa kamu mengajakku kemari?" gumamku dingin


"Aku hanya ingin berbicara empat mata denganmu kak"


"Oh apa masalah Taka Zenn?" gumamku dingin


"Ternyata kakak tahu juga ya" desah Nara mengambil senjatanya dan aku juga memegang senjataku


"Ya apa yang tidak aku ketahui, kamu mencintai Taka Zenn kan?" gumamku dingin


"Ya benar, aku mencintai kakakku sendiri"


"Jadi, apa yang kamu inginkan?" gumamku serius


"Batalkan perjodohanmu dengannya, aku akan melakukan apapun yang kamu inginkan"


"Cuma itu saja?"desahku mengembalikan senjataku


"Ya hanya itu"


"Tidak masalah, kalau kamu ingin mengambilnya ambillah" gumamku berjalan meninggalkan Nara


"Haah? Serius?" tanya Nara tidak percaya


"Ya ambillah, aku juga tidak tertarik untuk menjadi istrinya" gumamku pelan


"Apa kakak menyukai Ryuki?"


"Tidak, aku tidak menyukainya"

__ADS_1


"Lalu kenapa dengan mudah kamu memberikan dia kepadaku?"


"Kamu tidak perlu tahu alasanku, ambillah Taka Zenn itu dan jadikan suamimu. Aku tidak akan melarangmu atau memusuhimu apalagi Taka juga ingin kamu kembali kok" gumamku pelan


"Serius?"


"Ya aku serius, benar kan Taka?" gumamku menatap Taka yang duduk di atas balkon


"Ya benar. Aku ingin kamu kembali, Nara" gumam Taka pelan


"Ka... Kakak?" gumam Nara terkejut melihat Taka berada disini


"Kakak mendengarkan obrolan kami?" gumam Nara terkejut


"Ya aku mendengarnya, kenapa kamu ingin menikah denganku?" tanya Taka serius


"Karena aku mencintaimu kak, aku tidak terima kakak dijodohkan!!!" protes Nara kesal


"Benarkah? Jadi kamu pergi dari rumah karena itu?"


"Iya benar, aku ingin menikahimu kakak" gumam Nara serius


"Tapi Nara..." desah Taka menatap Nara serius


"Kalau itu bisa membuat Nara kembali kepadamu tidak masalah" gumamku serius


"Kenapa kamu malah berkata seperti itu?" gumam Taka bingung


"Aku akan mengatakannya kepadamu Taka. Aku sebenarnya tidak bisa menikahimu, jadi menikahlah dengan adikmu"


"Kenapa kamu tidak bisa menikahiku?" tanya Taka terkejut


"Ada alasanku sendiri" gumamku pelan


"Apa karena Ryuki?"


"Bukan, sebenarnya aku terikat oleh seseorang sebelum kita di jodohkan dan aku selalu merahasiakan hal  ini kepadamu" gumamku pelan


"Terikat? Terikat dengan siapa?"


"Kamu akan tahu suatu saat nanti, anggap saja aku adikmu kakak Taka" gumamku tersenyum


"Tunggu Sani apa maksudmu mengatakan itu kepadaku?"


"Ya aku hanya mengatakan kalau kalau Nara ingin menikah denganmu juga silahkan aku akan ikhlas kok emang keluarga tertinggi sudah biasa menikah dengan pernikahan sedarah, jadi kalau kamu juga mencintai Nara menikahlah dengan dia. Anggap saja aku adikmu, apapun yang terjadi di kilat petir katakan saja kepadaku aku akan selalu membantumu apalagi kilat petir juga termasuk mafiaku" gumamku dan meninggalkan Taka dan Nara di atas kapal pesiar itu


Sungguh seperti salam perpisahan bukan? Ya aku merasa seperti itu, aku sengaja melakukan ini karena aku tahu kalau aku menikah dengan Sony nantinya, orang - orang yang ada disisiku saat ini akan menjadi musuhku apalagi kekuatan mafiaku dan Sony sangat kuat dari pada kekuatan mafia dimanapun


Aku berjalan kembali ke kamar dan melihat Ryuki yang sudah memakai pakaian rapi dan terduduk di sofa kamar


"Kamu sudah siap - siap ya?" gumamku pelan


"Iya, tumben kamu cepet bertemu dengan Nara itu. Emang apa yang dia bahas?"


"Hanya masalah kecil"


"Apa itu? Aku penasaran"


"Nara ingin menikah dengan Taka" gumamku santai


"Serius? Lalu apa yang kamu katakan?"


"Aku tidak mengatakan apapun, aku bilang silahkan saja"


"Dia calon suamimu padahal"


"Dia bukan calon suamiku" gumamku meminum americano coffee yang ada di dalam kulkas


"Jangan bilang laki - laki yang mengikatmu itu?"


"Iya benar, laki - laki itu akan menjadi suamiku" gumamku pelan


"Dan kamu menerima itu?"


"Menerima ya? Aku pikir tidak, aku hanya ingin membunuhnya tapi itu tidak akan mungkin" gumamku meminum minumanku


"Kenapa tidak mungkin?"


"Dia lebih kuat dariku"


"Hmmm andaikan aku lebih kuat dari laki - laki itu" desah Ryuki mengangkat kepalanya


"Itu tidak akan mungkin, aku saja tidak bisa mengalahkannya" gumamku pelan


"Semua akan mungkin Sani, takdir bisa dirubah Sani!!"


"Ya aku tahu, tapi itu tidak akan mungkin" desahku pelan

__ADS_1


"Aku akan berusaha menjadi kuat Sani, aku berjanji kepadamu" gumamRyuki menatapku serius


"Oh benarkah? Aku akan menunggu kamu kuat Ryuki" gumamku tersenyum


"Apa yang kamu lakukan akan sia - sia kalau kamu tahu siapa laki - laki itu, Ryuki" gumamkuku dalam hati


"Tapi lebih baik kamu mundur saja Ryuki" gumamku pelan


"Tidak, aku tidak akan mundur... Aku akan merebutmu kembali dan menikahmu"


"Hmmm dasar keras kepala" desahku pelan


"Aku bersungguh - sungguh kepadamu Sani, kamu tangan kananku, kamu milikku, aku tidak akan melepaskanmu"


"Oh benarkah? Aku senang mendengarkannya,  tapi..." desahku beranjak dari kursiku


"Jangan terlalu berekspektasi tinggi" gumamku serius


"Ya aku tahu, apalagi aku belum tahu siapa laki - laki yang kamu maksud itu" desah Ryuki beranjak dari sofa


"Lebih kamu tidak perlu tahu" gumamku berjalan menuju keluar kamar


"Tidak bisa, aku harus tahu!!"


"Terserah kamu saja lah, aku sudah mengingatkanmu" gumamku pelan


"Iya aku tahu, terimakasih sudah mengingatkanku untuk bertambah kuat"


"Hmmm .." desahku pelan


Kapal pesiar yang kami tumpangi sudah menepi di dermaga, kegiatan pesta yang seharusnya beberapa hari selesai jadi harus berakhir hari ini karena banyak kerusakan yang disebabkan kelakuan Samuel dan membuat pesta ini berakhir dengan cepat


"Hari ini kita pulang dan beristirahat beberapa hari, setelah itu kita ada agenda yang lain" gumam Ryuki dingin


"Agenda apa?"


"Agenda membahas perang dunia mafia"


"Apa itu?"tanyaku bingung


"Kamu tidak tahu?"


"Tidak, tentang apa itu"


"Seperti perang asia pasifik dulu cuma ini perang bersama - sama dengan seluruh mafia yang ada"


"Emang siapa yang akan dikalahkan?"


"Mafia Matahari Terbit"


"Matahari terbit? Mafia bocil itu?" tanyaku terkejut


"Ya benar"


"Cuma dengan bocil saja apa susahnya" desahku santai


"Masalahnya mafia mereka bekerjasama dengan para pejabat tinggi di Amerika jadi sedikit susah untuk melawannya"


"Oh tidak juga, tapi ya silahkan saja sih kalian melakukannya" gumamku snatai


"Mafiamu tidak membantu kami?"


"Tidak, aku sebagai ketuanya tidak tertarik mengurusi hal itu"


"Perang ini lebih besar tahu!!"


"Ya aku tahu apalagi mencangkup dunia tapi aku tidak tertarik sama sekali" desahku pelan


"Bahkan orang itu juga tidak tertarik" gumamku pelan


"Maksdmu mafia pantai selatan?"


"Iya benar, mafia bocil seperti itu tidak tertarik untuk kami. Kalau menghadapi mafia asia pasifik yang terkenal kejam itu kami jadi semangat"


"Mmm ya juga sih, pasti kalau kalian yang melakukannya juga akan cepat beresnya" desah Ryuki menatapku


"Tapi memang dalam pembahasan ini mafia penguasa dan mafia pantai selatan tidak diikutsertakan" gumam Ryuki pelan


"Ya pastilah, mereka akan meminta pertolongan kami kalau hanya terdesak saja" gumamku santai


"Hmmm iya benar juga sih" desah Ryuki membuka pintu mobil yang sudah terparkir di depan kami


"Ya maka dari itulah, kalau kamu ingin kuat semangatah" gumamku tersenyum


"Baik, aku akan melakukan yang terbaik" gumam Ryuki serius


Aku melihat keseriusan Ryuki membuatku sedikit senang, dia seperti benar - benar mencintaiku tapi untuk terlebas dari ikatanku dengan Sony itu tidak akan mungkin apalagi aku juga mencintai Sony dan memilih Sony menjadi suamiku sejak dulu

__ADS_1


__ADS_2