
Perjalanan menuju markas polisi militer mafia membutuhkan waktu tiga hari perjalanan darat. Selama perjalanan Alan merangkulku lembut sedangkan Ryuki dan Tony asik bermain handphone miliknya
"Nona muda..." gumam Wan memberikanku handphone miliknya
"Ada apa?"
"Ada berita..." gumam Wan dan aku langsung membaca sebuah pesan yang memberitahukan sebagian mafia tertinggi masih berhasil hidup dan melarikan diri sedangkan tawanan yang menjadi tanggung jawab Alan juga berhasil melarikan diri
"Oh..." desahku pelan sambil mengembalikan handphone Wan
"Jadi bagaimana nona?"
"Nanti aku pikirkan rencananya" gumamku pelan
"Ada apa sayang?" gumam Alan menatapku
"Apa tahananmu melarikan diri?"
"Ya. Kenapa kamu tahu?" tanya Alan terkejut
"Aku tahu saja" gumamku pelan dan menatap keluar jendela mobil
"Apa kamu memikirkan kenapa mereka bisa selamat dan memikirkan caranya ke melawan mereka lagi?"
"Ya... Kenapa mereka bisa selamat padahal terluka parah"
"Mereka memakai pakaian anti senjata dan anti racun Sani. Jadi kalau kamu hanya melukai tubuhnya mereka hanya terluka biasa dan tidak terkena racunmu sama sekali. Seharusnya kamu melukai lehernya dan wajahnya karena di tempat itu tidak tertutup pakaian anti senjata dan anti racun" guman Ryuki menunjukkan pakaian anti peluru miliknya
"Oh, tidak aku sangka..." desahku pelan
"Tenang saja sayang, aku akan membantumu. Kita pikirkan caranya nanti.." gumam Alan di telingaku tapi aku hanya terdiam dan menatap ke luar jendela
Tidak lama kami berkendara, akhirnya kami sampai di sebuah markas yang sangat besar dan tempatnya terpelosok jauh dari keramaian. Alan menggandengku masuk ke dalam markas itu dan diikuti oleh Ryuki dan Tony di belakang kami
Markas yang besar tentunya banyak penjaga yang menjaganya. Anggota polisi militer mafia banyak yang berjaga di luar markas dan juga kami melakukan pemeriksaan mendetail sebelum masuk ke dalam area markas
Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan akhirnya kami dapat masuk ke dalam markas itu. Di dalam bangunan markas aku melihat bangunan yang sangat mewah dan banyak penjagaan yang sangat ketat di dalam seperti halnya penjagaan yang ada di luar bangunan tadi
"Ryuki ... Tony... Kalian bisa beristirahat di kamar sebelah itu" gumam Alan menunjuk salah satu ruangan
"Baik tuan..." gumam Ryuki dan Tony berjalan memasuki ruangan di pojok ruangan
"Kamu mau istirahat sayang?" gumam Alan menatapku
"Tidak... Kamu istirahatlah"
"Apa yang akan kamu lakukan?"
"Aku ingin berdiskusi dengan bawahanku" gumamku pelan
"Pakai saja ruangan itu..." gumam Alan menunjuk salah satu ruangan di atas kami
"Oh baiklah..." desahku berjalan menuju ke ruangan itu bersama dengan ketiga bawahanku
Di dalam ruangan rapat yang besar itu aku dan ketiga bawahanku duduk saling berhadapan dan saling bertatapan
"Nona muda, apa nona muda sedang banyak pikiran?" tanya Zaki menatapku
"Ya.." desahku pelan
"Aku gak menyangka mereka memakai pakaian anti racun. Kalau tidak mereka sudah mati sekarang" desahku pelan
"Lalu bagaimana nona muda?"
"Ya kalau kita tahu mereka memakai pakaian itu dari awal pasti kita menang" desahku pelan
"Ryuki bilang seharusnya fokus kita di bagian yang tidak tertutup pakaian itu. Mereka sudah mempersiapkan semua... Aah membuatku sangat gila" gumamku memegang kepalaku yang sangat pusing
__ADS_1
"Sepertinya nona harus membuat senjata baru..."
"Senjata baru ya? Itu agak susah untuk sekarang, kita pikirkan caranya agar bisa mengalahkan mereka dahulu" desahku pelan
"Kalau mereka berhasil kabur berarti mereka sudah mempunyai rencana yang matang kan?" gumamku menatap ketiga bawahanku
"Ya benar nona, kalau mereka tidak keracunan berarti mereka hanya pura - pura keracunan agar para penjaga lengah jadi mereka bisa menyerang balik penjaga dengan sisa kekuatannya"
"Ya bisa jadi seperti itu, tapi untuk melawan mereka dengan racun aku rasa akan susah" desahku pelan
"Masih bisa nona. Kalau nona berfokus pada leher, kepala, dan wajah. Apalagi mereka tahu titik target yang menjadi targat anda makanya mereka memakai pakaian yang hanya menutupi titik target anda"
"Hmmm benar juga, seharusnya aku tidak harus berfokus di kaki dan dada saja ya" desahku pelan
"Kalau begitu..." gumamku memberikan sekotak jarum kepada bawahanku
"Kalian pakai saja..."
"Tapi nona..."
"Kalian juga harus membantuku, kalau kalian yang melakukannya mereka tidak akan menyadarinya. Kalau aku yang melakukannya mereka akan tahu. Apalagi punya rencana lainnya"
"Rencana lainnya? Rencana apa itu nona?"
"Aku akan menyerahkan diriku" gumamku pelan
"Menyerahkan diri nona? Apa nona yakin?"
"Ya... Mungkin itu yang akan aku lakukan. Tapi jangan beritahu siapapun bahkan Alan"
"Tapi nona, kalau nona terbunuh bagaimana?"
"Ya itulah yang aku inginkan" desahku pelan
"Kamu kira aku akan mengijinkanmu melakukan itu?" gerutu Alan berdiri di belakangku
"Baik nona muda" gumam ketiga bawahanku dan pergi dari ruang rapat
"Kenapa kamu ada disini?" desahku pelan
"Menurutmu aku akan diam saja saat kamu rapat dengan bawahnmu?" gumam Alan menaikkan daguku
"Aku sudah tahu apa yang kamu pikirkan wanitaku. Aku tidak akan mengijinkanmu melakukan itu"
"Kenapa kamu tidak melepaskanku saja sih dan membunuhku?" desahku pelan
"Kalau aku menginginkan itu sudah aku lakukan dari dulu, tapi aku tidak akan mengijinkan kamu melakukan hal itu"
"Hmmm udah ah tidur sana..." gumamku beranjak pergi, Alan mendorongku dan membuatku terbaring di meja rapat itu
"Aku tahu apa yang akan kamu lakukan istriku, kenapa kamu tidak meminta bantuan suamimu ini?"
"Bantuanmu? Kamu saja membiarkan mereka melarikan diri emang kamu kira aku mau meminta bantuanmu lagi?"
"Kalau itu memang diluar rencanaku. Apalagi aku sudah tahu kenapa mereka bisa melarikan diri dan aku sudah mempunyai rencanaku yang matang. Aku ingin segera mengakhiri perang yang menyebalkan ini dan aku ingin segera menikahimu tahu!!!" gerutu Alan kesal
"Hmmmm..." desahku pelan
"Kamu kira aku tidak muak dengan perang anak kecil ini? Aku sangat muak dan rasanya ingin aku boom markas mereka!!" gerutu Alan kesal
"Ya sudah kalau begitu boom saja bisa cepat selesai"
"Kamu kira melakukan itu tidak membutuhkan dana yang besar? Aku tidak mau mengeluarkan dana yang besar hanya untuk buronan kelas bawah seperti mereka" gumam Alan menatapku serius
"Kamu sama saja seperti dulu, pelitnya minta ampun" desahku pelan
"Kalau aku tidak pelit, tidak mungkin aku bisa sekaya ini tahu!!"
__ADS_1
"Ya... Ya tukang pelit... Jadi apa rencanamu?" gumamku menatap Alan, Alan melepaskan tanganku dan memberikanku sebuah kertas
"Itu rencanaku dengan Ryuki dan Tony..."
"Apa karena mereka pintar strategi kamu rekrut mereka?"
"Benar sekali. Kalau mereka tidak pintar strategi tidak mungkin aku mau merekrut orang lagi" gumam Alan dingin
"Oh... Ya aku mengerti" desahku mengembalikan kertas itu
"Udah. Kamu hanya baca aja?"
"Ya, itu rencanaku sebelumnya. Kalau mereka tidak menggunakan pakaian itu aku tidak akan kalah telak seperti itu" gerutuku kesal, Alan mengambil sebuah jarum yang sangat tipis
"Nih..." gumam Alan memberikanku sebuah jarum tipis
"Jarum? Buat apa? Aku udah punya"
"Ini jarum racun milikku"
"Pakai saja aku tidak tertarik. Percuma saja kalau..."
"Kalau tidak tahu jangan sok tahu!!" protes Alan mencubit hidungku
"Ini jarum tipis yang berbeda dengan jarum milikmu, jarum ini di desain agar bisa menembus pakaian apapun itu jenisnya"
"Walaupun pakaian anti racun itu?"
"Ya, aku sudah melakukan percobaan kepada Ryuki dan dia keracunan"
"Apa? keracunan? Apa dia baik - baik saja?" tanyaku terkejut, aku segera beranjak keluar ruangan tapi Alan memegang tanganku erat
"Mau kemana kamu?"
"Ryuki keracunan racunmu tahu. Nanti kalau tidak diobati dia akan..."
"Dia sudah aku obati. Apa kamu sangat mengkhawatirkan dia dari pada aku?" gerutu Alan menarikku ke pelukannya
"Tidak, aku hanya tidak mau seseorang yang tidak bersalah terluka Alan"
"Oh benarkah? Bukan karena kamu punya rasa dengan Ryuki?"
"Tidak. Aku serius aku tidak punya rasa dengan dia"
"Oh, aku senang mendengarnya walaupun itu hanya kebohongan"
"Apa kamu tidak percaya dengan kata - kataku?"
"Tidak..."
"Tidak ya? Kalau begitu..." desahku mengambil jarum
"Kamu jangan melakukan hal aneh istriku!!" protes Alan terkejut
"Katanya kamu tidak percaya!"
"Ya baiklah aku percaya dengan ucapanmu sayang..." gumam Alan memelukku erat
"Hmmm..." desahku pelan
"Ya susah mari istirahat sayang, besok kita ke lokasi peperangan lagi"
"Yang tadi?"
"Bukan. Mereka melakukan di tempat berbeda jadi jangan sampai kita terlambat, nanti keburu targetmu pergi"
"Oh baiklah" desahku pelan dan berjalan keluar ruangan rapat itu
__ADS_1
Besok mereka bertindak lagi setelah terluka? Emang rencana mereka sangat matang, aku tidak boleh lengah lagi kedepannya