Tangan Kanan Tuan Muda Mafia

Tangan Kanan Tuan Muda Mafia
Episode 49 : Rencana Di Pesta Petinggi Perusahaan


__ADS_3

"Sani...kenapa kamu bersedia denganku lagi?" tanya Alan yang membuatku terkejut.


"Kenapa ya? Aku hanya masih mencintaimu saja, lagi pula mendengar kamu dijodohkan denganku jadi aku bersedia denganmu."


"Walaupun aku selemah ini? Kamu tidak masalah?" tanya Alan terkejut.


"Aku juga lemah kak Alan, jadi kenapa aku mempermasalahkannya?" gumamku memeluknya erat.


"Sudah aku katakan kan panggil aku Alan saja."


"Kalau aku memanggilmu suamiku tidak masalah kan?"


"Itu lebih baik..." desah Alan melepaskan gigitannya dan menatapku serius.


"Ada apa Alan?"


"Mari jalan-jalan istriku."


"Jalan-jalan? Kemana?"


"Kamu maunya kemana?"


"Aku tidak ingin kemanapun, aku hanya ingin denganmu."


"Denganku?"


"Ya...aku juga tidak suka keramaian."


"Hmmm baiklah kalau begitu dirumah saja gak apa?"


"Tidak apa, memang kenapa kamu ingin mengajakku keluar?"


"Ya mana tahu kamu bosan di bangunan tua ini."


"Ini bangunan yang tidak tua sayang, malah lebih besar dan mewah dari pada rumahku dulu...mmm ya bisa dikatakan seperti itu..." desahku pelan.


"Oh benarkah? Menurutku masih bagus rumahmu sayang..." gumam Alan menarikku berdiri.


"Mari sayang, jangan disini terus. Bau keringatku nanti merusak penciumanmu." Alan menggandengku keluar ruang latihan.


"Tidak masalah keringat suami sendiri kok."


"Jangan, nanti kamu pingsan bagaimana coba."


"Tidak akan sayang, tenang saja."


"Hmmm kamu berbeda dengan masa kecilmu ya."


"Aku? Berbeda bagaimana?" tanyaku penasaran.


"Ya kamu dulu kalau bau keringat selalu protes tapi sekarang kamu bisa menerima itu."


"Oh benarkah? Aku tidak ingat..." desahku pelan.


"Ya pastinya, kamu masih anak-anak waktu itu ."


"Mungkin saja sih."


"Oh ya sayang aku ada pesta malam nanti kamu ikut ya..."


"Aku? Aku untuk apa ikut?"


"Ya kamu istriku, lagi pula ini pesta makan malam para petinggi perusahaan."


"Aku tidak mau!" protesku kesal, walaupun petinggi perusahaan aku jamin diantara mereka juga mafia jadi aku malas ikut.


"Sayang, kalau kamu tidak ikut nanti ada wanita yang menjebakku lagi bagaimana? Aku takut.." tanya Alan serius.

__ADS_1


"Kamu kan bisa aja melawan!"


"Kalau dekat denganmu, aku bisa melakukannya denganmu kalau tidak? Aku tidak mau kamu marah lagi istriku!!" ucap Alan terus memaksaku.


"Haish baik-baik aku akan ikut, tapi aku akan mengawasimu dari jauh bagaimana?" tanyaku serius.


"Kenapa?"


"Ya aku penasaran saja siapa yang sebenarnya mencelakaimu, walaupun aku juga anak pertama sama seperti Lanlan tapi aku masih ragu kalau dia yang mencelakai adik kecilnya yang lemah ini."


"Jadi kamu mau memasukkannya ke dalam jebakanmu?"


"Ya, begitulah..."


"Tapi kalau aku liar karena obat bagaimana?" tanya Alan khawatir.


"Kan ada aku, kamu bisa melakukan apapun denganku. Mmm atau mungkin dengan darahku kamu bisa sembuh, nanti aku juga akan mengajak Wan karena dia yang ahli dalam hal itu."


"Ahli?" tanya Alan terkejut.


"Ya aku sudah hampir di nodai pria lain dengan obat tapi Wan selalu menyelamatkanku, tidak hanya Wan sih tapi kedua bawahanku yang lain juga belajar hal yang sama."


"Oh benarkah? Tapi Fians..."


"Tenang saja Fians, Ryuky dan adiknya juga sedang belajar dengan bawahanku."


"Syukurlah, ya sudah aku mandi dulu ya istriku..." desah Alan lega dan pergi ke kamar mandi, aku segera pergi ke balkon dan memanggil ketiga bawahanku beserta ketiga bawahan Alan.


"Ada apa Sani?" tanya Ryuki santai.


"Hari ini ada pesta petinggi perusahaan dan pastinya ada banyak mafia yang hadir."


"Jangan bilang nanti..." guman Fians terkejut.


"Ya itulah, aku yakin pasti Lanlan juga akan hadir apalagi dia tahu aku sekarang tinggal dengan Alan."


"Jadi apa rencana nona muda?" tanya Wan serius.


"Siap kami mengerti!"


"Roy cari tahu apa yang ada di pesta nanti dan Zaki tolong cari tahu dimana kamar yang akan menjadi tempat Alan di jebak, oh ya jangan lupa pengawasan kalian untuk Alan."


"Baik nona muda."


"Wan...kamu denganku nanti."


"Baik nona muda."


"Sedangkan kalian bertiga awasi Alan dan pergerakan musuh ya, takutnya akan ada peperangan tidak terduga..." gumamku serius.


"Kenapa kamu berpikiran seperti itu? Kan ini hanya pesta biasa." tanya Ryuki menatapku serius.


"Memang, tapi kamu pasti mendapatkan pesan pertemuan mafia kan Ryuki?"


"Mmm iya sih tapi...mmm benar juga."


"Kamu tahu lah mafia seperti apa Ryuki."


"Yaah aku mengerti, lalu apa yang menjadikanmu ingin bertemu dengan Lanlan?"


"Hanya...penasaran saja kok soalnya aku juga ingin tahu dendam apa yang dia rasakan, lagi pula aku penasaran apa yang dia pikirkan kenapa dia bisa membantai keluargaku, hanya itu tidak lebih..." gumamku pelan.


"Oh aku mengerti..."


"Ya sudah kalian bersiap-siaplah..." gumamku pelan.


"Baik!!" teriak mereka semua dan pergi dari balkon kamar.

__ADS_1


"Hmmm..." desahku meminum wine dan menatap hutan di depanku, tiba-tiba Alan memelukku dari belakang yang membuatku terkejut.


"Apa yang kamu lakukan disini istriku?" tanya Alan pelan.


"Tidak ada, hanya meminum wine saja.." gumamku memberikan alat penyadap di rambut Alan.


"Apa ini sayang?" tanya Alan penasaran.


"Alat penyadap saja."


"Untuk apa?"


"Sudah kamu tidak perlu tahu suamiku..." gumamku mencium pipi Alan lembut.


"Hmmm baiklah, tapi kamu akan selalu mengawasiku kan?"


"Ya aku akan mengawasimu suamiku..."


"Hmmm syukurlah, mandilah dulu sayang."


"Baiklah..." desahku segera mandi dan bersiap-siap, aku mempersiapkan senjataku dan keluar dari ruang ganti.


"Kamu tumben lama sayang?"


"Ya namanya wanita pasti lama kalau mandi."


"Apa kamu merencanakan sesuatu sayang?"


"Aku ya? Mmmm ada, tapi kamu akan tahu nanti apa yang aku lakukan jadi anggap saja tidak terjadi apapun, mengerti?" gumamku serius.


"Kenapa?"


"Sudahlah kak Alan jangan khawatir oke!" gumamku meyakinkan Alan.


"Baiklah, aku mengerti kok istriku. Aku percaya padamu. Oh ya mari kita pergi sayang..." gumam Alan menggandeng tanganku keluar kamar, tangannya berkeringat dingin seperti orang yang ketakutan.


"Kamu kenapa tanganmu berkeringat kak Alan?"


"Aku takut kalau aku..."


"Tenang saja, bawahanmu dan bawahanku juga mengawasimu kok jadi jangan khawatir."


"Oh mmm baiklah, kalau aku terjebak lagi...maafkan aku ya sayang."


"Ya aku tidak akan menyalahkanmu kok sayang..." gumamku menggandeng tangan Alan erat.


"Hmmm baiklah, terimakasih istriku..." gumam Alan mencoba tenang.


Di dalam mobil Alan tetap menggandeng tangan kananku, padahal Alan dulu pria yang kuat dan tampan. Tapi sekarang aku baru tahu kalau dia sangat lemah bahkan jika di lihat-lihat memang dia tidak pantas menjadi jenderal polisi militer jika dia terus seperti itu.


"Ada apa istriku?" tanya Alan menatapku bingung.


"Tidak ada, mmm kamu mau darahku?"


"Kalau boleh sedikit..."


"Banyak juga tidak masalah, tapi minumlah ini..." gumamku memberikan penawar dari semua reaksi semua obat apapun.


"Ini apa?"


"Sudahlah minumlah!!"


"Hmmm baiklah..." desah Alan meminum penawar itu dan menggigitku.


"Apa kamu tidak kesakitan setiap saat digigit Alan?" tanya Ryuki santai.


"Tidak, sudah biasa." aku membuka handphoneku dan mendapatkan pesan dari tetua mafia pusat. Aku membaca pesan itu dan sedikit terkejut kalau perkiraanku kalau Lanlan akan datang benar-benar terjadi.

__ADS_1


"Oh baguslah..." desahku memasukkan handphoneku dan mengusap lembut rambut Alan.


Pesta petinggi perusahaan? Aku tidak percaya tentang pesta seperti itu, lagi pula petinggi perusahaan pastinya juga mafia dan hanya dengan menjadi petinggi perusahaan seorang mafia memiliki pemasukan setiap bulannya.


__ADS_2