
Kepalaku terasa berat dan tubuhku sangat lemah, aku tersadar dari pingsanku saat ini. Aku merasa ada sesuatu yang mengusap lembut rambutku. Aku membuka mataku dan melihat Hasan yang sedang memandangiku dengan khawatir
"Kamh sudah sadar sayang?" gumam Hasan senang
"I... Ini dimana" tanyaku bingung
"Ini di kamarku, kamu sudah beberapa hari tidak sadar tahu. Membuatku khawatir" gumam Hasan pelan
"Oh..." desahku melihat sekelilingku. Aku terkejut melihat San yang menatapku dingin dan tanpa sadar berbalik dan menyembunyikan wajahku di tubuh Hasan
"Apa kamu takut dengan San?" tanya Hasan lembut dan aku mengangguk pelan
"Tenang saja sayang, dia tidak akan berani menyakitimu lagi" gumam Hasan pelan
"Maaf Sani, aku menyakitimu" gumam San pelan
"Hmmm..."
"Maafkan aku Sani, aku sangat kesal dengan Sain jadi aku melampiaskannya kepadamu. Aku tidak menduga kalau kamu akan pingsan beberapa hari karenaku" gumam San di belakangku. Aku membalikkan tubuhku dan tersenyum lemah
"Tidak apa, emang kembaranku yang salah, jadi aku tidak menjadi pelampiasanmu" gumamku pelan
"Hmmm kamu memang baik seperti kakakku" desah San pelan
"Ya kan sebagai kakak harus mengalah kepada adiknya benar kan Sani"
"Ya begitulah" desahku pelan
"Oh ya San bagaimana persiapannya?" gumam Hasan yang terus mengusap keningku dengan lembut
"Sudah kakak tenang saja. Sebagai ketua ikuti saja alurnya"
"Oh baiklah..."
"Tunggu... Ketua? Siapa ketua sebenarnya?" tanyaku terkejut
"Hasan ketua yang sesungguhnya"
"Ta... Tapi kenapa menjadi kamu San?" tanyaku terkejut
"Kan aku pernah bilang kepadamu untuk tidak membocorkan tentang mafia senior kan? Itu karena semua informasi tentang ketua mafia senior dan yang lainnya itu palsu" gumam Hasan menatapku
"Palsu? Aku tidak mengerti"
"Begini, informasi yang beredar saat ini ketuanya San kan?" tanya Hasan dan aku menggangguk
"Itu infomasi yang kami buat untuk mdngelabuhi musuh, apalagi dari pada aku San lebih kuat dan di takuti sepertimu jadi dengan mengatas namakan San banyak mafia yang takut kepada kami"
"Oh, jadi agar seluruh mafia termasuk anggota mafia sebior takut dan tunduk kepada kalian ya?" desahku mengerti
"Ya bisa di katakan seperti itu"
"Oh... Hmmm lalu pernyataan kalian berdua kembar itu apa bohongan juga?"
"Tidak, memang kami kembar. Apa kami berbeda?" gumam San dingin
"Mmm kalian sangat berbeda"
"Ya memang, kami berbedadi segala aspek tapi kami sama untuk hal kesukaan dan pemikiran. Berbeda dengan kamu dan kembaranmu yang hanya beda di sifat dan pemikiran saja" gumam Hasan mengelus rambutku
"Hmmm ya benar itu, kamu dan Sain mirip makanya aku melihatmu sama saja aku melihat Sain dan aku tidak bisa menahan diriku untuk menghukummu" desah San pelan
"Ya tidak apa - apa kok"desahku pelan
"Baiklah San kamu kesana saja dulu, nanti aku susul" gumam Hasan pelan
"Kesana kemana?" tanyaku bingung
"Ke acara survival"
"Aku mau ikut!!"
"Tidak kamu masih lemah Sani!!" protes Hasan
"Aku baik - baik saja, aku pingsan mungkin belum tidur sama sekali sejak dari markas pusat" gumamku pelan
"Ya sudah kamu istirahatlah"
"Aku sudah cukup istirahat Hasan" gumamku mengambil obat yang berikan Hasan kepadaku
"Hasan aku mau bertanya, ini obat apa?" tanyaku pelan
"Ini obat untuk menonaktifkan chip yang ada di tubuhmu, selain itu obat itu di campur dengan obat untuk mengobati penyakitmu"
"Penyakitku? Apa maksudnya? Bukannya chip itu yang membuatku di diagnosis punya penyakit dalam ya?"
"Tidak, kamu memang punya penyakit dalam, dan chip itu selain untuk melacak keberadaanmu dan memberikanmu hukuman kalau kamu melakukan hal negatif dengan laki - laki lain sebenarnya untuk membantu menyembuhkan penyakit dalammu" gumam San menatapku serius
"Mana bisa chip membantu menyembuhkan penyakit dalam?"
"Bisa, penyakitmu sebenarnya adanya luka terbuka di seluruh organmu dan juga organ kembaranmu. Kalian tidak sekuat yang dikira orang, kalian sangat lemah saat masih bayi dan mungkin tidak akan bisa bertahan lama. Tapi karena ayahmu meminta tolong kepada kami dan menjanjikan kalian menjadi istri kami maka keluarga Kim mau membantu kalian berdua untuk terus hidup" gumam Hasan menatapku serius
"Apa kembaranku tahu masalah itu?"
"Tahu, dia lebih tahu dari pada kamu dan kamu lebih lemah dari pada Sain"
"Kalau kalian sudah tahu aku dan kembaranku lemah, kenapa keluarga kalian menyanggupinya?" gumamku pelan
"Karena kami mencintai kalian" ucap Hasan dan San bersamaan
"Haish menjawab itu aja bersamaan lagi" desahku meminum obat itu
"Ya karena itu memang alasan kami" gumam Hasan dan San bersamaan
"Ya aku percaya" desahku berusaha untuk duduk
__ADS_1
"Aku ingin ikut ke survival itu" gumamku serius
"Oh baiklah tapi jangan banyak bergerak dulu tahu" gumam San pelan
"Ya aku tahu" gumamku beranjak dari tempat tidur
"Baiklah aku bantu sayang" gumam Hasan membantuku berdiri
"Terimakasih Hasan" gumamku berjalan keluar dari kamar. Hasan memapahku berjalan menuruni tangga
"Kenapa kita menuruni tangga?" gumamku bingung
"Ya kita akan ke tempat survivalnya"
"Memang dimana tempatnya?"
"Di bawah gunung ini"
"Jadi harus menuruni tangga ini?" tanyaku terkejut
"Ya benar"
"Kalau naik sangat menyusahkan" desahku menatap ke atasku
"Tenang saja ada lift jadi tidak akan capek"
"Kalau ada lift kenapa harus naik tangga" gerutuku kesal
"Ya lift itu hanya untuk naik ke atas saja jadi kalau untuk menuruninya kita harus lewat tangga" gumam Hasan terus memapahku
"Hasan, aku bisa berjalan sendiri tahu"
"Ya aku tahu tapi kamu baru sadar jadi aku takut kamu terjatuh dan menggelinding dari atas sini"
"Emang aku anak kecil apa!!"
"Ya kamu tetaplah gadis kecil dan polos bagiku" gumam Hasan mencium pipiku dengan lembut
"Hmmm kamu selalu seperti itu Hasan" gerutuku kesal
"Oh ya Sani, nanti kamu yang akan menjelaskan peraturan survival kepada mereka" gumam San di belakangku
"Kenapa harus aku?"
"Ya kan kamu juga termasuk juri"
"Kenapa tidak yang lain saja?" gerutuku kesal
"Ini peraturan mutlak dan beri tahu sekalian apa konsekuensinya tidak melakukan survival dengan jujur" gumam San pelan
"Kalau yang bilang anggota lainnya mereka tidak bisa menjawabnya, tapi kalau kamu yang bilang pasti banyak yang takut apalagi kamu kalau sudah tidak senang kamu akan membunuh orang itu tanpa berpikir panjang" gumam Hasan pelan
"Mana list peraturannya?"
"Hmmm... " desahku menghafalkan peraturan itu sambil terus menuruni tangga itu
Tidak lama kami menuruni anak tangga yang banyak itu, akhirnya kami sampai di sebuah pintu. Hasan membuka pintu itu dan aku melihat padang rumput yang luas dan banyak sekali orang yang berdiri di padang rumput itu.
Hasan memapahku ke sebuah podium di depan kami dan mendudukkanku di kursi tengah. Hasan dan San berdiri di depanku
"Selamat datang di acara survival lencana di tempat ini" gumam Hasan dingin
"Dimohon bagi masing - masing ketua mafia memisahkan diri dari anggotanya" gumam San dan banyak ketua mafia yang memisahkan diri dari anggota mafianya
Di antara mereka aku melihat 10 besar dan 20 besar mafia tertinggi berdiri di depan degan wajah dingin
"Heeh dasar mafia rendahan" gerutuku dingin
"Siapa yang kamu maksud Sani?" tanya Nanda menatapku
"Beberapa orang diantara mereka" gumamku dingin
"Eeh Sani, pakai lencanamu" gumam Ade menatapku
"Oh ya lupa" gumamku memasangkan lencana itu di pakaianku
"Baiklah Sani silahkan jelaskan peraturannya" gumam Hasan menatapku
"Sani?" teriak beberapa orang terkejut, tanpa memperdulikan teriakan mereka aku berjalan di tengah - tengah mereka berdua dan memasang muka dingin
"Peraturan survival kali ini kalian hanya bertahan hidup di tengah hutan itu, bunuh atau dibunuh. Sesama peserta dilarang bekerjasama jadi kalian harus menghadapi musuhnya sendiri. Dan peraturan terakhir lakukan sesuka kalian mau pakai senjata apapun terserah yang kalian punya, apa kalian mengerti!!" teriakku dingin, tiba - tiba ada seorang laki - lqki yang mengangkat tangannya
"Ijin bertanya, apa konsekuensinya kalau melanggar peraturan itu bagaimana?" tanya laki - laki itu penasaran
"Konsekuensinya... " gumamku mengambil dua senjataku dan melemparkan ke salah satu pohon dan menariknya kembali dengan taliku
Brruuukkkk
Suara pohon tersebut tumbang yang membuat para peserta ketakutan
"Waah hebat!!" gumam salah satu laki - laki terkejut
"Ya benar"
"Kalau kalian paham, ingat itu baik - baik" gumamku dingin.
Aku menatap seluruh peserta yang ada di depanku, tapi aku terkejut melihat seorang perempuan berambut panjang menatapku dengan dingin, dan saat wanita itu tahu aku menatapnya dia hanya tersenyum tipis, mirip sekali denganku cuma sepertinya dia lebih pendek dari padaku
"Ya wanita itu kembaranmu" gumam Hasan pelan
"Oh benarkah? Menarik, kami terlihat sama" gumamku pelan
Aku terus menatapnya dan dia mengucapkan sesuatu di bibirnya, aku berusaha untuk mengartikan apa yang di ucapkannya
"Hai... Kakakku... Senang ... Bisa ... Bertemu denganmu" gumamku mengikuti bibirnya dan dia tersenyum manis setelah mengatakan hal itu
__ADS_1
"Semoga berhasil adikku" gumamku tersenyum manis kearahnya dan dia kembali tersenyum
"Baiklah survival dimulai!!" teriak Hasan dan semua orang berlari masuk ke dalam hutan. Sedangkan hanya Sain yang berdiri menatapku, aku turun dari podium dan berjalan kearah Sain
"Akhirnya kita bertemu kakak..." gumam Sain dingin
"Ya akhirnya kita bertemu adikku" gumamku dingin
"Kamu tambah hebat saja kakak" gumam Sain tersenyum
"Tidak juga, kamu yang bertambah hebat"
"Tidak juga" desah Sain pelan
"Oh ya sekarang kakak dengan dua orang menyebalkan itu?" gumam Sain dingin
"Tidak juga, hanya kebetulan lewat"
"Oh benarkah? Tapi sepertinya kakak memihak mereka?"
"Tidak juga, kamu pasti tahu apa yang aku pikirkan kan?" gumamku dingin
"Hahaha, ternyata siksaan mereka tidak mempengaruhimu sama sekali ya?"
"Sebenarnya... Iya, cuma yang sangat mempengaruhiku hanya kamu"
"Kenapa aku?" tanya Sain terkejut
"Ya, aku baru tahu aku punya kembaran dsn aku baru tahu kalau ayah menjodohkan kita" gumamku memutar mataku
"Penyakitmu membuatmu insomnia ya? Tidak aku sangka seburuk itu" sindir Sain dingin
"Ya begitulah, kenapa kamu menjadi pemberontak Sain?" gumamku dingin
"Aku hanya tidak terima dengan pilihan ayah!!!"
"Kamu kira aku juga?" gumamku dingin
"Kalau begitu kakak ikut saja denganku"
"Ikut denganmu dan menjadi pemberontak? Lebih baik kamu ikut denganku dan membantuku membalaskan dendam keluarga kita" gumamku dingin
"Balas dendam keluarga? Apa yang kakak maksud?"
"Apa kamu tidak tahu keluarga besar kita sudah lama mati dibunuh!!!" gumamku dingin
"Siapa yang membunuh keluarga kita?" teriak Sain kesal
"Tuan Lee..."
"Ayahnya Han Lee?" teriak Sain kesal dan berlari ke arah Han Lee membawa senjatanya, dengan cepat aku menahannya
Taaanngg
"Kakak kenapa menghalangiku!!!" protes Sain kesal
"Dia tidak bersalah adikku, yang bersalah ayahnya. Dan saat ini Tuan Lee sedang mempersiapkan perang dunia"
"Perang dunia ya? Heeh menarik" gumam Sain dingin
"Jadi kamu mau membantu kakakmu ini atau tidak?" gumamku pelan
"Membantu ya?" gumam Sain mengarahkan pedangnya ke arahku
"Sani!!" teriak Hasan dan San berlari kearahku, aku mengangkat tanganku sehingga dua orang itu menghentikan langkah kakinya
"Apa yang kamu inginkan adikku?"
"Kakak harus melawan aku disaat survival ini, kalau kakak bisa melukaiku dengan tangan kakak sendiri. Apapun yang kakak inginkan aku penuhi. Tapi kalau aku bisa melukai mereka berdua, kakak harus ikut denganku bagaimana?" gumam Sain dingin
"Baiklah aku setuju denganmu" gumamku pelan
"Baguslah, aku tunggu kedatanganmu kembaranku" gumam Sain segera masuk ke dalam hutan itu
"Apa yang kalian katakan tadi?" gumam Hasan merangkulku lembut
"Tidak ada, hanya memberitahukan sedikit tentang keluarga kami" gumamku memasukkan senjataku
"Jadi apa kamu bisa membujuknya?"
"Tidak, dia ingin bertarung denganku saja"
"Dan kamu menerimanya?" tanya San kaget
"Ya benar, kalau aku bisa melukainya dia akan ikut denganku tapi kalau dia bisa melukai kalian berdua aku yang akan ikut dia" gumamku pelan
"Dan kamu menyetujuinya?" protes Hasan terkejut
"Ya, aku menyetujuinya"
"Emang kamu bisa menjamin bisa melukainya apa?" protes San kesal
"Aku tidak yakin, cuma aku sudah memikirkan opsi kedua"
"Apa itu opsi kedua?" tanya Hasan terkejut
"Siksa aku di depannya, kalau dia punya Hati dia akan bersedia ikut denganku. Kami kembar, dia tahu apa yang aku pikirkan dan aku juga bisa tahu apa yang dia pikirkan" gumamku berjalan pergi
"Tidak, kamu nanti ter..."
"Udah lakuin aja napa, kalau aku mati juga tidak masalah aku masih punya kembaran yang hebat untuk membalaskan dendam keluarga kami. Dan itu hanya opsi terakhir kalau kalian ingin dia ikut denganku" gumamku santai
"Hmmm ..." desah Hasan dan San bersamaan
Aku berjalan memasuki hutan itu untuk menjadi juri dan kedua orang itu mengikutiku dari belakang
__ADS_1