
Setelah aku mendapatkan informasi tentang keluargaku terutama masa laluku membuatku sadar apa yang harus aku lakukan. Walaupun aku tahu apa yang terjadi tapi aku tidak memberitahukan apapun kepada Alan dan hanya berkata aku memiliki tugas dari tetua jadi aku tidak kembali beberapa hari.
Selama perjalanan menuju ke keluarga Shinju aku hanya menatap keluar jendela tanpa melakukan apapun, kabar yang diberitahukan Lanlan dan tetua masih mengejutkanku. Walaupun Lanlan yang melakukan semuanya tapi kenyataan kalau aku terikat pernikahan awal dengannya membuatku bingung harus apa.
"Sani apa yang kamu pikirkan?" tanya Fiyoni mengagetkanku.
"Eee...tidak ada kok kak..." gumamku pelan.
"Tunggu kamu memanggilku kak?"
"Apa itu membuatmu keberatan?"
"Eeemmm tidak juga, cuma sedikit aneh saja apalagi kamu selalu memanggilku Fiyoni saja."
"Ya kan sebelumnya aku tidak tahu..." gumamku pelan.
"Mmm tapi terserah deh kamu mau panggil aku apapun sebebasmu..." gumam Fiyoni memainkan handphonenya.
"Ya baiklah..." desahku pelan. Diluar jendela aku melihat sebuah bangunan yang sangat besar dan mewah bahkan rumah itu lebih luas, di atas gerbang tertulis keluarga Shinju.
"Baiklah kita sudah sampai Sani..." gumam Fiyoni turun dari mobil dan berjalan mendahuluiku dengan ketiga bawahanku.
"Ya baiklah..." desahku mengikuti langkah kaki Fiyoni di depanku.
Di depan pintu masuk aku melihat satu pria paruh baya berdiri dengan pria yang terlihat sudah umur lanjut.
"Ayah, Sani datang..." gumam Fiyoni senang.
"Ayah...Sani datang menghadap ayah..." gumamku sedikit membungkukkan badanku.
"Bangunlah nak...lama tidak bertemu denganmu anakku..." gumam tuan Shinju memelukku erat.
"Mmm maafkan Sani yang tidak pernah datang kemari ayah."
"Tidak apa, oh ya ini kakekmu Sani..."
"Hormat tetua..." gumamku menundukkan badanku.
"Oh cucuku sudah sebesar ini ya? Panggil saja aku kakek."
"Baik kakek..." gumamku pelan.
"Eeh aku dengar kamu sekarang termasuk petinggi tertinggi ya cucuku?"
__ADS_1
"Mmm saya hanya gadis biasa kakek..." gumamku pelan.
"Kamu selalu saja merendah cucuku, aku termasuk petinggi mafia juga... ya walaupun terkejut sih ternyata petinggi tertinggi mafia itu cucuku tapi aku sangat bangga mendengarnya..."
"Mmm terimakasih kakek..." gumamku pelan.
"Kalian pasti menempuh perjalanan yang jauh kan? Masuklah dan beristirahatlah...nanti malam akan ada acara penyambutanmu dengan seluruh keluarga Shinju agar kamu sekalian kenal dengan keluarga Shinju yang lainnya."
"Mmm ba..baik ayah..." gumamku menundukkan kepalaku.
"Fiyoni tunjukkan kamar adikmu dan bawahan adikmu." gumam tuan Shinju masuk ke dalam rumah.
"Baik ayah..." gumam Fiyoni menarik tanganku masuk ke dalam rumah yang luas itu.
Aku mengikuti langkah kaki Fiyoni dan melihat bangunan rumah yang sangat luas dan besar, di dinding dekat tangga aku melihat foto keluarga yang besar, aku berhenti dan menatap foto itu.
"Kak itu foto siapa?" tanyaku pelan.
"Oh itu foto keluarga kita, anak perempuan itu adalah kamu dimasa kecil..." gumam Fiyoni terus menarikku.
"Oh benarkah? Ibu sangat cantik ya kak..." gumamku terus menerus menatap wanita muda yang ada di foto itu.
"Ya, ibu memang sangat cantik bahkan kecantikannya di turunkan kepadamu."
"Mmm..." desahku melangkahkan kakiku melewati tangga.
Aku masuk ke dalam kamar dan terkejut melihat kamar yang sangat mewah dan luas, di meja terdapat beberapa foto lama bahkan foto yang pernikahan awal yang aku dapatkan di berankas juga terpajang di meja.
"Kenapa tuan Shinju juga memiliki foto ini ya?" gumamku mengambil foto itu dan mengamatinya dengan serius, aku mencoba membandingkan foto itu dengan foto gadis kecil lainnya dan benar-benar sama sama sekali tidak ada bedanya.
"Kalau begitu berarti pria yang aku ingat dulu pernah menciumku lama di waktu pernikahan awal itu benar-benar Lanlan?" gumamku terkejut.
Tiiiiinngg...
Tiba-tiba handphoneku berbunyi, aku menatap handphoneku dan melihat sebuah pesan dari nomor yang tidak aku kenali.
"Aku sudah bilang kepada ayah, ayah sangat senang mendengar kalau kamu datang kemari. Besok ada perayaan ulang tahun ayah, ayah ingin kamu datang jadi besok aku akan menjemputmu- Lanlan." gumamku pelan.
"Hmmm besok ya?" gumamku membalas pesan itu dan meletakkan handphoneku di atas meja.
"Oh astaga kenapa bisa serumit ini sih..." desahku meletakkan tasku di atas tempat tidur dan segera mandi.
Di dalam kamar mandi aku mengaca di cermin besar dan melihat bekas luka yang ada di punggungku.
__ADS_1
"Bekas luka yang sangat menyakitkan..." desahku pelan.
Aku melepaskan pakaianku dan berendam di bathtub sambil menatap mataku di dalam air.
"Kalau aku bukan keturunan Shin murni lalu buat apa aku membalaskan dendamku? Apalagi mereka juga yang menyakitiku dan memberikanku rasa sakit ini...kalau begitu sia-sia saja dong usahaku selama ini!" gumamku pelan.
"Kalau keluarga Shinju mau menerimaku tidak masalah sih aku menganggap keluarga Shinju menjadi keluargaku, kalau aku bisa mengganti nama dan marga lebih baik aku mengganti nama menjadi Sani Shinju?" gumamku memiringkan kepalaku.
Toookkk...Toookk...Toookkk
"Sani, kamu sudah selesai belum? Aku sudah menunggumu lebih satu jam tahu!" protes Fiyoni di luar kamar mandi.
"Eeeh... i...iya sebentar..." gumamku segera mengeringkan tubuhku dan memakai gaun yang ada di lemari pakaian, aku terduduk di meja rias dan melihat ada beberapa pita yang tertata rapi di sebuah wadah.
"Pita? Mmm ini pita yang sama seperti di foto..." gumamku mengambil pita itu dan memakainya, tidak lupa aku berdandan juga.
"Benar-benar mirip aku di masa kecil.." gumamku beranjak dan keluar dari kamar ganti.
"Astaga kamu benar-benar sangat cantik adikku, kalau aku bisa menikahimu sudah aku nikahi kamu..." puji Fiyoni menarik pipiku.
"Aduuhh sakit lah kakak! Kenapa kakak mencubit pipiku sih" gerutuku kesal.
"Hanya gemas saja, dari dulu aku ingin punya adik seorang gadis cantik tapi ya...tidak bisa terwujud."
"Mmm kenapa bisa ibu menikah dengan ayahku kak Fiyoni?" tanyaku penasaran.
"Kami keluarga Shinju benar-benar kesulitan memiliki anak perempuan, bisa memiliki anak perempuan harus dengan pria dari marga lain agar bisa memilikinya. Ya dulu kesalahan aku juga sih memaksa ibu untuk memiliki adik perempuan..." desah Fiyoni berjalan pelan.
"Mmm lalu kenapa ibu bisa terbunuh kak?" tanyaku penasaran.
"Setelah melahirkanmu dan tuan Shin menikah lagi dengan wanita keturunan Shin, ibu selalu diam-diam pulang ke rumah untuk bertemu dengan ayah. Tuan Shin sangat mencintai ibuku bahkan kemanapun selalu berdua yang membuat ibu tirimu cemburu. Melihat itu ibu dibunuh ibu tirimu dan hampir membunuhmu juga tapi karena kamu terikat pernikahan awal dengan anak pertama keluarga Kim yang merupakan keluarga berkedudukan tinggi jadi kamu tidak dibunuh melainkan di siksa untuk mengobati kekesalan ibu tiri apabila di marahi ayahmu."
"Tapi kak kenapa Lanlan disiksa oleh keluarga Liu?" tanyaku bingung.
"Dia bukan marga Liu asli, dia anak yang hasil perselingkuhan Nyonya Liu dengan Tuan Kim, karena waktu itu Lanlan masih kecil jadi Lanlan ikut Nyonya Liu dan Lanlan kecil di siksa lebih parah dari pada kamu Sani, karena dia pintar Lanlan berusaha kabur dan kembali ke keluarga Kim dan mengubah marganya menjadi Kim, walaupun seharusnya dia bermarga Liu tapi dia meminta tuan Kim mengubah marganya."
"Mmm kalau aku tidak bisa dirubah ya?" tanyaku pelan.
"Tidak, mengubah marga harus sesuai permintaan ayahmu sedangkan saat ini ayahmu sudah meninggal Sani."
"Oh begitu ya..." desahku pelan.
"Kalau kamu mau menggunakan marga Shinju aku akan bilang kepada ayah tapi dengan konsekuensi kamu harus rela melepaskan semua yang berbau keluarga Shin seperti yang dilakukan Lanlan" ucap Fiyoni serius.
__ADS_1
"Mmm aku akan memikirkannya lagi..." desahku pelan.
Aku mengikuti langkah kaki Fiyoni, aku masih berfikir apa aku harus mengganti margaku atau aku tetap menggunakan margaku sendiri?