
Saat aku akan melangkahkan kakiku pergi tiba-tiba Soni dan LinShi mengarahkan senjatanya ke arahku yang membuatku menghentikan langkahku dan terdiam tanpa kata, tapi tidak aku duga Tian mengarahkan senjatanya kearah Soni dan LinShi yang membuat semua orang terkejut.
"Jauhkan senjata kalian dari dia!" ucap Tian dingin.
"Eeeh kau kenapa memgarahkan senjatamu kearah kami, seharusnya kau..."
"Jauhkan senjata kalian!" teriak Tian sekali lagi yang membuat LinShi dan Soni menjatuhkan senjatanya.
"Apa maumu!" gerutu LinShi kesal.
"Kita bisa menjelaskannya secara perlahan, dia tidak tahu apa yang terjadi..." gumam Tian pelan.
"Ya udah kau saja, aku tidak bisa menjelaskan kepada dia." Tian melangkahkan kakinya ke depanku.
"Hmmm baiklah, aku akan menjawab apapun yang kau tanyakan. Jadi kau ingin bertanya apa?"
"Tidak ada," gumamku beranjak pergi tapi Tian langsung menahan tanganku.
"Apa kau yakin?"
"Ya."
"Kamu serius?"
"Ya, jadi lepasin tanganku!" gerutuku berusaha melepaskan tanganku.
"Tunggu sebentar, ada yang ingin aku katakan padamu."
"Katakanlah..."
"Maukah kamu bekerjasama dengan kami?"
"Bekerjasama? Untuk apa?" tanyaku dingin.
"Untuk mengalahkan Hasan itu tentunya."
"Aku...menolak!" gerutuku dingin.
"Eeh kenapa?" tanya Soni terkejut.
"Karena...malas saja...Lepasin!" gerutuku berusaha melepaskan genggaman Tian.
"Alasanmu tidak masuk akal Sani!" protes Linshi kesal.
__ADS_1
"Tidak masuk akal ya? Apa kalian tahu bagaimana semua hal yang menyakitkan aku lalui!! Kalian tidak tahu kan? Jadi jangan ganggu aku!" gerutuku terus berusaha melepaskan genggaman Tian tapi genggamannya benar-benar sangat kuat.
"Kami tahu jadi bekerjasamalah!"
"Tidak ya tidak!!"
"Kau sangat keras kepala sih!" teriak Tian kesal.
"Aku tidak peduli, lepasin aku!!"
"Kau jangan membuatku kesal Sani!!" teriak Tian menggenggam erat tanganku, genggamannya benar-benar menyakitkan tapi aku memang tidak mau bekerjasama dengan mereka apalagi aku ingin melakukannya sendiri.
"Lalu kenapa? Aku juga punya hak untuk..." teriak Tian kesal, tiba-tiba aku melihat Tuan Shinju yang mengacak rambuk Tian dan menggelengkan kepalanya.
"Nak, adikmu melalui hari-hari yang susah selama bertahun-tahun yang membuat dia sangat menderita dan keras kepala agar bisa menyambung hidup sepertimu. Apapun dia lakukan seorang diri sama sepertimu, apalagi..."
"Apalagi nona muda dulu pernah diusir dari wilayah rumah keluarga Shin oleh warga sekitar bahkan di hina habis-habisan yang membuatnya tidak peduli dengan orang lain tuan. Nona muda hidup dengan gaya hidup yang buruk, nona kuat tidak makan dan tidak tidur berbulan-bulan hanya untuk memikirkan rencana dan jika rencananya gagal nona muda akan benar-benar stres. Nona muda selalu menderita tuan..." gumam Wan melanjutkan ucapan tuan Shinju.
"Diamlah Wan!" gerutuku kesal.
"Tapi nona muda..."
"Lakukan saja tugas kalian bertiga!" gerutuku kesal.
"Ba...baik nona muda..." gumam bawahanku pelan dan segera pergi dari ruang rapat.
"Bukan urusanmu!" gerutuku mengibaskan tanganku dan menutup pintu ruang rapat dengan kencang.
"Sani!! Saannii!!" teriak Tian di belakangku kencang.
"Heei Tian, ikut aku dulu!" ucap Lanlan dingin.
"Tapi dia..."
"Udah ikut aku dulu!" gumam Lanlan membawa Tian pergi.
Ya walaupun aku senang bisa bertemu dengan kakakku kandung tapi secara tidak langsung aku mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Bila dipikirkan lagi, memang bisa dikatakan dalam pembunuhan keluarga Shin ini pelaku yang sesungguhnya adalah keluarga Shin sendiri. Kekuasaan dan kebodohan yang menggila di keluarga Shin membuat kehancuran hidup keluarga Shin dan salah satunya juga kehancuran yang hanya aku rasakan sendiri di seumur hidupku.
Melihat kakakku yang terlihat sangat tampan tanpa bekas luka, melihat Han Shi, melihat LinShi, melihat Sainy, melihat Sina, dan melihat Sain yang tampak terlihat cantik dan tampan tanpa bekas luka sedikitpun membuatku sangat iri. Kenapa hanya aku saja yang merasakan derita yang menyakitkan ini? Walaupun aku sekarang memiliki Lanlan yang bisa menerima aku sepenuh hati tapi aku yakin dia juga pasti akan mencintai wanita lain yang lebih cantik dari pada aku yang buruk rupa ini dan tentunya hanya caci maki dan hinaan yang akan aku dapatkan nantinya.
Aku mengambil lima botol wine di tanganku dan pergi menuju atap gedung, aku terduduk di atas atap sambil meminum minumanku. Cahaya bulan purnama dan semilir angin malam ini benar-benar sangat tenang dan membuatku terdiam dan meratapi penderitaanku. Aku bingung apa yang harus aku lakukan? Aku tidak tahu apapun sama sekali, otakku benar-bentar tidak bisa berpikir dengan jernih lagi.
"Haaah lalu apa kelanjutannya?" gumamku mengambil catatanku dan meminum wine di tanganku.
__ADS_1
"Membalaskan dendam kematian keluarga Shin? Sepertinya...tidak bisa aku lakukan lagi..." gumamku meminum minumanku lagi.
Saat aku menikmati ketenangan ini, aku melihat di bawah sebuah pertempuran antara mafia terbesar, Soni, dan LinShi dengan seorang pria berjubah. Jika dilihat pertarungan mereka sangat sengit dan benar-benar seru.
"Ada pertarungan ya?" gumamku pelan, aku terus mengamati mereka sampai mereka benar-benar terjatuh dan terluka.
"Heeeh katanya mafia terkuat dan terbesar, tapi melawan satu orang tidak bisa... lemah!" gerutuku kembali meminum minumanku.
"Sanniiii!!!" teriak Fiyoni di dalam gedung.
"Tuhh orang berisik banget sih!" gerutuku kesal.
"Sani! Oh astaga aku cari kamu kemanapun tahu!" protes Fiyoni dengan nafas terengah-engah.
"Ada apa?"
"Ada apa katamu? Kamu tahu kan kalau ada pertarungan?"
"Lalu kenapa? Ayah sudah aman kok..." gumamku meneguk wine di tanganku.
"Aman sih aman, kau lihat mereka bertiga mengalahkan mantanmu, si Samuel itu!"
"Bodo amat, aku tidak peduli!"
"Tapi kakakmu dan saudara tirimu juga terluka tahu!"
"Lalu? Bukan urusanku."
"Haish kenapa kau tampak kesal? Padahal kau sudah bertemu kakak kandungmu."
"Lalu? Apa aku harus bahagia?"
"Seharusnya kau bahagia dong masa kesal seperti itu?"
"Bahagia ya? Ya seharusnya, tapi...aku berpikir lebih baik aku hidup dalam kesendirian seperti dulu, aku akan lebih nyaman seperti itu."
"Haaah? Kenapa kamu berpikir seperti itu?" tanya Fiyoni bingung.
"Ya aku tidak terima saja, kenapa hanya aku yang menderita? Kenapa hanya aku yang buruk rupa? Kenapa hanya aku yang harus berjuang? Lihatlah mereka keturunan Shin! Mereka cantik dan tampan tanpa bekas luka sedangkan aku...aku malah yang harus menderita, aku yang harus merasakan penderitaan sejak kecil. Andaikan dulu kak Fiyoni tidak mau jadi wakilku pasti aku akan terus menderita tahu!" teriakku kencang yang membuat para mafia di bawahku terkejut menatapku yang terduduk di atas atap.
"Punya saudara kandung, punya saudara tiri, punya keluarga punya apapun tidak ada yang menyelamatkanku malah pria dari keluarga lain yang berupaya menyelamatkanku walaupun tidak berhasil tapi setidaknya dia berusaha berkorban. Kalau begitu untuk apa aku peduli sedangkan mereka juga tidak peduli!!" teriakku kesal.
"Tapi Sani..."
__ADS_1
"Tapi apa? Kau wakilku, lebih baik kau pulang saja tidak perlu ikut pertarungan anak kecil itu!" gerutuku menghabiskan wine yang aku bawa dan turun dari atap gedung.
Saat aku berdiri di depan gedung banyak para mafia yang terlihat terluka dan hanya terdiam saat aku melangkahkan kakiku, aku benar-benar tidak terima jika hanya aku yang mengalami penderitaan. Dulu memang aku tidak masalah berkorban untuk Sina dan Sain tapi melihat fakta yang sesungguhnya membuatku benar-benar sakit hati, aku merasa percuma aku berkorban selama ini!