
Malam semakin larut dan bulan hampir terbenam di ufuk barat, ini pertanda pagi akan menjelang. Aku menatap Ryuki untuk terakhir kalinya sebelum peperangan terjadi.
"Sani mau pergi sekarang?" gumam Rian mengusap matanya
"Ya... Bangunkan Sony di sebelahmu itu" gumamku pelan
"Roy, Zaki, Wan" gumamku dan ketiga anak buahku berdiri di belakangku
"Iya nona"
"Bawa Ryuki ke salah satu hotel..." gumamku melepaskan gelang di tanganku dan memasangkan gelangku di tangan Ryuki
"Kamu harus terus hidup Ryuki... Semoga kita bisa bertemu lagi" bisikku di telinga Ryuki dan beranjak dari tempat dudukku
"Bawa dia, jangan sampai membangunkannya. Setelah selesai kelian dan anggota yang lainnya temui aku di Australia untuk tempatnya kalian bisa mengikuti petunjuk dariku" gumamku berjalan meninggalkan Ryuki
"Baik nona" gumam bawahanku menundukkan badannya
"Helikopter kita ada disekitar sini jadi kita bisa langsung pergi" gumam Rian berjalan mendahuluiku
"Hooaaamm... Baiklah" desah Sony terus menguap. Aku sesekali menatap Ryuki yang masih tertidur di pasir pantai, aku sangat khawatir dengan Ryuki. Apa kita bisa bertemu lagi Ryuki?
"Apa yang kamu pikirkan Sani?" tanya Sony menatapku
"Tidak ada" gumamku pelan
"Kamu tidak tidur semalaman ya?" gumam Sony menatapku
"Tidak, aku terjaga semalaman" gumamku memasuki helikopter di depan kami
"Kenapa kamu tidak tidur?"
"Semalam aku tidak mengantuk" gumamku pelan dan menyandarkan kepalaku di jendela helikopter, aku melihat helikoper mulai terbang tinggi dan menjauhi daratan
Di daratan yang berbeda tempat, aku melihat Tony dan Angel menatap kearah helikopter dari pinggir hutan sedangkan di padang rumput Samuel juga menatap helikopter ini. Di pantai tempat Ryuki terlelap, aku melihat Ryuki yang berdiri menatapku dan mengucapkan sesuatu di mulutnya. Aku mencoba memahami apa yang dikatakan Ryuki
"Aku... Akan... Menunggumu... Datang ... Sani... Jangan ... Tinggalkan ... Aku ... Ya..." gumamku mengikuti gerak bibir Ryuki. Aku tersenyum ke arah Ryuki dan Ryuki membalas senyumanku
Krriiinngg
Suara teleponku berdering dan aku langsung mengangkat telpon dari Wan itu
"Mohon maaf nona, Tuan Ryuki nya terbangun"
"Tidak apa - apa, kalian segera pergi saja... Aku sudah tahu" gumamku pelan
"Baik nona" gumam Wan menutup kembali teleponnya
"Hmmm.." desahku memasukkan kembali handphoneku
"Kamu tidak tidur Sani?" gumam Rian yang sedang ada di depanku
"Tidak, tidurlah kalau ingin tidur..." gumamku menyandarkan kepalaku di jendela helikopter, Sony beranjak dari tempat duduknya dan berpindah di sampingku. Sony menarikku sehingga kepalaku bersandar di bahu Sony yang bidang itu
"Tidurlah Sani, aku tidak ingin kamu sakit" gumam Sony mengelus lembut rambutku
"Hmmm ..." desahku pelan
Seberapa aku berusaha tidur tapi aku tidak bisa untuk tidur, cuma aku akui bersandar di bahu Sony membuatku teringat dimasa lalu saat kami menatap matahari tenggelam di pantai tempat aku bertemu dengan Sony itu dan teringat kenangan itu membuatku tertawa
"Apa yang membuatmu tertawa?" gumam Sony terkejut
"Tidak ada, melihat pantai itu membuatku teringat masa lalu kita" gumamku tertawa
"Ya benar, aku juga mengingatnya" desah Sony
"Andaikan dulu tidak ada masalah itu, pasti aku sudah menikahimu" gumam Sony pelan
"Hahaha sayangnya terjadi masalah itu kan" sindirku dingin
"Ya benar, sangat menjengkelkanku" gerutu Sony kesal
"Tunggu... Maksud kalian kejadian saat Sani memergoki Sony sekamar dengan Sasha dan waktu itu Sasha tidak memakai baju sama sekali ya?" gumam Rian mengingatkanku masalah yang menyebalkan itu. Aku menundukkan kepalaku dan terdiam
"Riaaaaannn... Kenapa kamu mengingatkan masalah yang gak benar itu!!!" protes Sony kesal
Aku mendorong Sony dan mengarahkan pedangku kearah Sony
"Menjauhlah dariku..." gumamku dingin
"Kamu ingin melawanku? Aku ladeni" gumam Sony mengarahkan pedangnya
"Siapa takut" gerutuku kesal
"Heeei kalian jangan berantem di dalam helikopter tahu!!!" gumam Rian panik dan menarik pedangku dan pedang Sony dengan senjata miliknya
Taaannnggg
__ADS_1
Suara pedang terjatuh di lantai helikopter, aku dan sony menatap Rian dengan dingin
"Kamu tidak perlu ikut campur" gumamku dingin
"KIta ada di helikopter tahu, kalau kalian bertengkar di helikopter bisa - bisa jatuh juga ini helikopternya tahu... Jadi duduk baik - baiklah!!!" teriak Rian menatap kami dengan tatapan dingin
"Heemmpp..." gerutuku kesal dan terduduk di tempatku sedangkan Sony kembali terduduk di samping Rian
"Kamu juga memancing emosi Sani!!" protes Sony memukul Rian
"Aduh sakitlah!!"
"Salah kamu memancing emosi Sani" gerutu Sony kesal
"Mmm ya maaf, aku hanya mengatakannya saja bukan maksudku untuk mengingatkan kejadianmu dengan Sa... Mmmm" gumam Rian tapi dengan cepat Sony membungkam mulut Rian dengan cepat
"Sudah ku bilang jangan mengatakan itu!!" protes Sony kesal
"Jauhkan tangan kotormu dari bibirku!!!" protes Rian menarik tangan Sony dengan kesal
"Hmmp.." desahku mengambil senjataku dan memasukkannya kembali ke tempatnya
Perkataan Rian mengingatkanku saat kami masih punya rasa satu sama lain apalagi aku sangat senang punya tunangan yang tampan seperti Sony apalagi Sony banyak yang menyukainya.
Aku masih ingat saat kami masih berada di markas pusat untuk melatih kemampuan kami. Saat itu seperti biasa dipagi hari aku selalu membangunkan Sony di kamarnya. Saat aku membuka pintu kamarnya, aku terkejut melihat Sony tidur seranjang dengan Sasha bahkan sata itu Sasha tidak memakai pakaian sama sekali dan hanya memakai selimut untuk menutupi dirinya
Duuuaaaakkk
Suara pintu yang aku dorong dan menabrak dinding dengan keras, tetua organisasi yang berada tidak jauh dari kamar Sony datang menghampiriku
"Ada apa Sani?" gumam tetua menatapku
"Tetua lihat saja sendiri" gerutuku kesal dan tetua melihat di depan kami
"Sony... Apa yang kamu lakukan?" terik tetua terkejut
"Emmm... Aku tidur tetua masih mengantuk" gumam Sony kembali tertidur
Aku mengambil pedangku dan menebas tiang tempat tidur itu dan tiang itu menimpa Sony dan Sasha sehingga mereka berdua terbangun
"Aaauuu.. Siapa sih yang melemparkan kayu kearahku? Sakit tahu" gerutu Sony kesal
"Kamu ya yang melempar kayu ini ke arahku Sani!!" protes Sony menatapku, aku mengarahkan pedang ke arah Sony dengan emosi memuncak
"Ke... Kenapa kamu mengarahkan pedangmu kepadaku Sani?"
"A.. Apa maksudmu?"
"Hoooaamm... Apa sih berisik!!" protes Sasha terbangun dari tidur nynyaknya
"Sa.. Sasha, kenapa ... Kenapa kamu disini?" tanya Sony terkejut
"Kamu tidak ingat semalam Sony?" gumam Sasha polos
"Apa yang kalian lakukan!!!!" teriakku kesal dan menebas barang - barang disekitarku
"Sani, aku beneran tidak melakukan apapun kepada Sasha sumpah!!!" gumam Sony menatapku
"Aku tidak percaya denganmu sialan" teriakku kesal dan mengayunkan pedangku kearah leher Sony tapi tetua langsung menghentikan tanganku
"Masalah ini biar aku yang menanganinya...Sony, Sasha, kalian ikutlah denganku di ruanganku" gumam tetua berjalan keluar dari kamar dan aku mengikuti tetua dari belakang dengan perasaan marah
DI ruangan tetua mafia, Sony dan Sasha duduk di depan kami dengan terus menundukkan kepala mereka
"Kalian berdua bisa jelaskan apa yang terjadi?" gumam tetua pelan
"Kami tidak melakukan apapun tetua" gumam Sony serius
"Benarkah itu Sasha?" tanya tetua menatap Sasha yang tertunduk
"Benar tetua"
"Lalu kenapa kamu tidak memakai pakaian sehelaipun?"
"Saya memang kalau tertidur tidak memakai pakaian tetua"
"Halah alasan!!!" teriakku kesal
"Coba ceritakan awal mula kalian bisa sekamar?"
"Semalam aku minum bersama di sebuah bar, di bar aku melihat Sony yang sedang mabuk berat jadi aku membantunya kembali ke kamarnya. Tapi saat aku akan pergi tangan Sony menggenggam tanganku dan berkata jangan pergi, jadi aku tidur di kamar Sony tetua" gumam Sasha pelan
"Halah bilang aja kamu modus. Kamu juga suka dengan Sony kan!!!" teriakku kesak
"Apa benar yang dikatakan Sani, Sasha?"
"Mmm iya tetua, aku menyukai Sony. Tetapi aku benar - benar tidak melakukan apapun kepada Sony hanya..." desah Sasha malu
__ADS_1
"Tapi apa?" tanya tetua terkejut
"Saya hanya mencium Sony saja tidak lebih tetua"
"AAAPPAAA!!!!" teriakku sangat kesal
"Apa yang kamu cium Sasha?"
"Saya hanya mencium bibir dan dada Sony saja tetua" gumam Sasha dengan wajah memerah. Sony segera membuka pakaiannya dan terdapat tanda merah di dada Sony bekas ciuman Sasha
"Berani - beraninya kamu Sony!!!" teriakku kesal dan mengarahkan samuraiku ke arah Sony
"Sani tenanglah, jangan emosi dulu" gumam tetua menenangkanku
"Hummpp..." gerutuku kesal
"Sony, kamu tahu kan kamu itu tunangan Sani tapi kenapa kamu melakukan hal itu?" tanya tetua serius
"A... Aku tidak melakukannya tetua ini hanya jebakan Sasha"
"Aku tidak menjebakmu, kamu sendiri yang memintaku untuk tidak pergi" gumam Sasha pelan
"Udah tahu aku mabuk seharusnya kamu tidak anggap itu serius!!!" teriak Sony kesal
"Sudahlah kalian berdua jangan bertengkar" gumam tetua menatap Sony dan Sasha
"Sony karena kamu sudah melakukan kesalahan seharusnya kamu harus memutuskan hubunganmu dengan Sani.." gumam tetua serius
"Tidak, aku tidak mau... Aku sayang dengan Sani" protes Sony
"Tapi Sony kamu melakukan kesalahan"
"Aku ingin menikah dengan Sani tetua" ucap Sony serius
"Heeeh menikah denganmu aku tidak sudi" gumamku dingin
"Kalau kamu tidak memutuskan hubunganmu, kamu akan membuat dia menderita Sony"
"Tidak, aku akan membahagiakan Sani. Aku berjanji tetua"
"Tapi Sony"
"Aku serius dengan Sani tetua, berikan aku hukuman apapun tapi jangan putuskan hubunganku dengan Sani" rengek Sony dengan mata berkaca - kaca
"Baiklah aku akan memberikanmu hukuman" desah tetua mengalah
"Hukuman? Hanya hukuman? Aku tidak terima itu!!" protesku kesal tapi tetua dan Sony tidak memperdulikanku
"Apapun itu tetua aku akan melakukannya"
"Tapi apa kamu sudah siap untuk dibenci oleh Sani seumur hidupmu?"
"Ya aku siap. Yang terpenting aku bisa menikah dengan Sani" gumam Sony memohon
"Menikah denganmu? Ogah, menikahlah dengan Sasha. Aku keluar dari mafia pusat!!!" teriakku kesal dan beranjak dari tempat dudukku tapi tetua langsung memegang tanganku
"Jangan kemanapun Sani, tetua akan memberikan hukuman yang adil untukmu juga" gumam tetua meyakinkanku
"Huummpp..." gerutuku kesal
"Baiklah Sony, karena kamu dan Sani adalah orang terpenting yang aku punya dan aku tidak mau kehilangan kalian berdua jadi aku akan menghukum Sasha untuk keluar dari mafia pusat.." gumam tetua dengan tatapan dingin
"APA? Aku baru saja masuk ke mafia pusat, tetua langsung mengusirku!!!" protes Sasha kesal
"Ya karena kesalahanmu membuat orang terpenting di mafia pusat marah bahkan dia ingin keluar dari mafia pusat. Aku tidak ingin kehilangan orang terpentingku apalagi Sani dan Sony sangat berbakat berbeda denganmu yang hanya bisa membuat malu mafia pusat dengan kelakuanmu.." protes tetua menatap Sasha dengan tatapan dingin dan Sasha hanya menundukkan kepalanya
"Dan untukmu Sony, kamu harus menjauh dari Sani sejauh mungkin agar Sani bisa melupakan kejadian ini. Tapi dengan konsekuensi kalian akan terus bertengkar bahkan bertarung, jadi kamu harus lebih kuat dari Sani agar kamu bisa menahan kekuatan Sani yang emosi itu"
"Menjauh dari Sani? Hmmm baiklah tetua, saya akan melakukannya yang terpenting saya bisa menikah dengan Sani" gumam Sony serius
"Tidak mau, aku tidak setuju itu tetua!!" protesku kesal
"Itu sudah hukuman terbaik untuk kalian" ucap tetua tersenyum
"Heeeh? Terbaik, terbaik dari mana" gerutuku kesal
"Kamu bicara dengan siapa Sani?" tanya Rian menatapku bingung
"Aku berbicara sendiri"
"Berbicara sendiri?" tanya Rian terkejut
"Ya, aku jadi keingat masalah itu... Heeh hukuman Sony adalah hukuman terbaik menurutku hukuman terburuk" gerutuku kesal
"Hei aku menderita ya selama ini"
"Bodo amat, itu deritamu. Tapi sampai kapanpun aku akan mencari Sasha dan membunuhnya. Ingatlah sampai kapanpun aku tetap membencimu!!" gerutuku kesal
__ADS_1
Aku menatap keluar jendela helikopter, aku melihat matahari yang akan terbit dari ufuk timur, langit mulai berwarna putih dan pagi akan segera tiba. Teringat masa lalu itu membuatku sangat kesal dan hal yang sangat menyebalkan bagiku diseumur hidupku