
Setelah dari gedung pertemuan itu, Lanlan mengajak kami kembali ke rumah keluarga Shinju. Sebelumnya aku memang sudah mengamankan tuan Shinju dan tuan Kim pergi dari gedung itu untuk keselamatan mereka jadi mereka berdua aman dari penyerangan yang tidak jelas di sela-sela acara itu.
Saat melihat Tian, tuan Shinju begitu senang sama seperti seorang ayah yang sudah lama tidak bertemu dengan anaknya, sedangkan aku hanya terdiam dan pergi ke dalam kamar. Bisa bertemu dengan kakak kandung memang benar-benar membuatku senang tapi jika teringat kalau aku saja yang merasakan banyak penderitaan membuatku benar-benar benci saudaraku entah tiri atau kandung tapi aku benar-benar membenci mereka.
"Hmmm..." desahku meminum wineku dan melamun menatap tanah lapang di depanku.
"Ada apa sayang?" tanya Lanlan di belakangku.
"Tidak ada, kamu kan di panggil ayah kenapa kamu kemari?"
"Nanti. Mereka sedang mengobrol dengan Tian."
"Oh..."
"Kenapa kamu terlihat membenci Tian? Seharusnya kamu sangat senang bukan bertemu kakak kandungmu?"
"Hanya sedikit kecewa saja."
"Kecewa? Kecewa kenapa?"
"Ya kecewa pada dunia yang tidak pernah adil saja..." gumamku meminum wine di tanganku.
"Tadi rame-rame orang berjubah hitam siapa?" tanya Lanlan serius.
"Tidak ada, bukan hal yang penting..." desahku pelan.
"Apa yang kamu sembunyikan dariku sayang?" tanya Lanlan serius.
"Tidak ada, aku belum tahu tugasku jadi apa yang harus aku beritahukan padamu..." desahku pelan.
"Tugas? Tugas dari siapa?"
"Pemimpin mafia tertinggi."
"Tunggu... bukannya itu raja mafia?" tanya Lanlan terkejut.
"Ya, kami menyebutnya tuan X. Dia juga yang memerintahkanku dan Fiyoni dalam perang mafia di masa lalu dan sampai sekarang mafiaku menjadi mafia kepercayaannya.
"Benarkah? Bagaimana kamu bisa...berada dibawah raja mafia?"
"Mmm aku sendiri, tidak ingat sih.." gumamku berbohong, aku tidak mungkin menjelaskan detail kepada Lanlan apalagi masalah bagaimana bergabung ke mafia kepercayaan tuan X itu.
"Astaga tidak aku sangka, kamu sangat hebat ya sayang. Kamu bisa menjadi mafia kepercayaan orang penting .." desah Lanlan memelukku erat.
"Hebat ya? Tidak juga, aku hanya gadis biasa saja."
"Kau selalu saja merendah ya."
"Ya itu kenyataannya, aku tidak sehebat yang kalian kira."
"Hmmm, nanti tugasnya apa beri tahu aku ya."
"Kenapa kamu ingin tahu? Tugas itu rahasia lah!" gumamku dingin.
"Aku hanya ingin tahu saja, aku tidak mau kamu mendapatkan tugas yang berbahaya."
"Tugas berbahaya sudah biasa untukku, lagi pula untuk apa kamu mengkhawatirkanku?" gumamku pelan.
"Kamu istriku, aku tidak ingin istriku terluka sedikitpun!" gerutu Lanlan menatapku dingin.
"Hmmm...jangan khawatir aku bisa menjaga diriku sendiri..." gumamku memeluk Lanlan erat.
__ADS_1
"Kalau kamu terluka atau terbunuh bagaimana!" gerutu Lanlan kesal.
"Yaah seperti perkataanku sebelumnya, kalau aku terluka kamu boleh membunuhku kalau aku terbunuh, kau boleh membunuh kakak kandungku. Adil kan?" gumamku pelan.
"Hmmm..." desah Lanlan memelukku erat.
"Jangan khawatir, aku benar-benar bisa menjaga diriku kok."
"Baiklah, aku percaya padamu sayang..." desah Lanlan pelan.
"Permisi tuan muda, anda di panggil tuan..." gumam seorang pria berjubah di belakangku dan langsung pergi.
"Oh baiklah, aku kesana dulu ya sayang." Lanlan melepaskan pelukannya dan berjalan keluar kamar.
"Hmmm..." desahku meminum wineku.
Saat aku terduduk di pagar, tiba-tiba datang seorang pria berjubah hitam dengan lencana emas di dada kirinya. Aku melihat lencana itu ternyata dia mafia kepercayaan Tuan X yang benar-benar dipercaya.
"Apa kamu...Sani?" tanya pria itu dingin.
"Ya, ada apa?" gumamku meletakkan gelasku di pinggir pagar.
"Dapat undangan dari tuan X." pria itu memberikanku sebuah kertas yang berisi kertas undangan yang ditujukan kepada mafiaku.
"Oh baiklah terimakasih. Mmm ngomong-ngomong kamu agen apa?" tanyaku memasukan undangan itu ke dalam saku pakaianku.
"Untuk apa kamu bertanya?"
"Ya bertanya saja, ya mana tahu satu agen..." gumamku meminum wineku kembali.
"Emangnya kamu agen apa?" tanya pria itu dingin.
"Agen A ya? Aku ketua agen A."
"Oh benarkah?" tanyaku terkejut.
"Ya begitulah..."
"Oh ya mumpung aku bertemu dengan ketua agen A, aku ingin bertanya...apa tugasnya dan akan melakukan apa?" tanyaku pelan.
"Nanti tuan X yang akan memberitahukanmu."
"Menunggu tuan X mengatakannya padaku? Kalau tuan X bertanya rencanaku sedangkan aku tidak tahu apa-apa kan...gak lucu juga. Mungkin kau tidak tahu kalau tuan X selalu meminta rencana semua penyerangan dariku..." gumamku dingin.
"Oh benarkah? Bukannya tuan X selalu meminta rencana dari mafia penguasa ya?" gumam pria itu mengangkat alisnya.
"Kau kira aku ketua mafia apa?" ucapku dingin.
"Tunggu, jadi kamu ketua mafia penguasa?" tanya pria itu terkejut.
"Ya begitulah...memikirkan rencana itu benar-benar membuatku lelah, terkadang aku berpikir...kenapa mafia lainnya juga tidak memikirkan rencana? Kenapa harus aku yang melakukannya?" desahku menundukkan kepalaku.
"Alasannya, tidak ada yang bisa menggantikan semua rencanamu. Sebelum ada kamu, semua rencana gagal total."
"Kenapa bisa?" tanyaku terkejut.
"Karena tidak ada yang bisa memikirkan rencana lainnya dengan mendadak, jadi berbeda banget denganmu yang bisa memikirkan rencana dengan cepat. Ya mungkin itu yang menjadikan kamu ditempatkan di agen A...oh ya bukannya kamu sudah diberitahu Fiyoni?"
"Belum, makanya aku bertanya."
"Kau sebagai ketua seharusnya tanyalah... haish baiklah..." gumam pria itu memberikanku secarik kertas.
__ADS_1
Aku membaca kertas itu dan terkejut kalau ketiga saudara tiriku bersama dengan keluarga Liu dan beberapa mafia yang aku kenal bersama-sama berada di suatu kelompok mafia musuh yang diketuai Hasan Shi sedangkan Linshi bersama dengan beberapa mafia tertinggi yang diketuai dengan beberapa mafia yang aku kenal juga membentuk suatu kelompok mafia yang lainnya bahkan mafia terkuat juga membuat kelompoknya sendiri bersama dengan mafia terbesar.
"Kelompok mafia? Apa itu semacam aliansi?" tanyaku terkejut.
"Ya bisa dikatakan...seperti itu. Mereka ingin melakukan perang mafia dan menantang tuan X yang membuat Tuan X murka. Ya begitulah intinya."
"Oh begitu ya..."
"Lalu tuan X ingin apa?" tanyaku pelan.
"Ya melakukan perang mafia juga untuk melawan mereka."
"Emangnya menantang bagaimana?"
"Entah, aku sendiri tidak tahu. Cuma kata mafia lain sih begitu."
"Oh begitu ya, makasih ya informasinya, ngomong-ngomong siapa namamu ketua?"
"Nama ya? Mmm nanti pas pertemuan saja aku beritahu, oh ya aku balik dulu ya..." gumam pria itu membalikkan tubuhnya.
"Baiklah, oh ya semoga aku tidak menjadi beban kalian di agen A ya..." gumamku pelan dan pria itu hanya tersenyum dingin lalu pergi.
"Karena ditantang ya..." gumamku meletakkan gelasku dan kembali menikmati cuaca di pagi hari ini.
Di bawah aku melihat Tian dan beberapa saudaraku bermain bersama, Tian nampak sesekali mengajari mereka berlatih. Ya melihat saudaraku senang membuatku ikut senang, walaupun aku ingin ikut mereka tapi aku harus merencanakan rencana dengan wakil dan bawahanku. Aku memanggil ketiga bawahanku dan mereka berempat berdiri di belakangku.
"Ada apa kamu memanggil kami Sani?" tanya Fiyoni mengusap kedua matanya yang masih mengantuk.
"Kak Fiyoni dapat informasi dari agen A kan?"
"Ya, lalu?"
"Tadi barusan aku bertemu ketua agen A, dia menjelaskan sedikit padaku dan aku akan mengajak kalian memikirkan beberapa rencana yang pastinya Tuan X akan meminta hal itu."
"Oh ya aku mengerti...di tempat biasa saja, disini banyak orang takut di dengarkan oleh mereka..." gumam Fiyoni menganggukkan kepalanya pelan.
"Baiklah..." desahku turun dari kamar melewati pagar balkon kamar yang membuat beberapa saudaraku terkejut.
"Kak Sani akan kemana?" tanya Wildan menatapku.
"Mmm akan keluar sebentar dengan kak Fiyoni saja."
"Keluar kemana?"
"Mmm...ya mau ke..."
"Udah ah kau anak kecil gak perlu kepo!" ucap Fiyoni meneruskan ucapanku.
"Idih aku cuma bertanya saja!" gerutu Wildan kesal.
"Tidak perlu dengarkan dia, oh ya kalau ada yang mencariku bilang saja mereka sedang ada urusan..." gumamku pelan.
"Oh baik kak Sani."
"Terimakasih ya..." gumamku tersenyum manis.
"Ya selama yang meminta kak Sani jadi tenang saja hehe." tawa Wildan pelan.
"Mmm baiklah..." gumamku memakai tudung jaketku dan pergi cepat meninggalkan rumah dengan Fiyoni menuju ke tempat biasanya.
Tempat biasa yang dimaksud itu adalah tempat persembunyian milik Fiyoni yang letaknya lumayan jauh dari rumah. Lokasi itu kami akan gunakan sebagai pembahasan kami berlima apalagi jadwal ke Amerika membutuhkan waktunya tidak lama lagi.
__ADS_1