Tangan Kanan Tuan Muda Mafia

Tangan Kanan Tuan Muda Mafia
Episode 48 : Mendapatkan Identitas Lanlan


__ADS_3

Pagi ini suara telepon berbunyi sangat keras, aku membuka kedua mataku dan mengangkat telepon dari Wan.


"Halo Wan ada apa?"


"Maaf mengganggu tidur anda nona muda..."


"Tidak apa, ada apa?"


"Ini nona saya sudah mendapatkan identitasnya."


"Bawa ke balkon kamar."


"Baik nona muda..." gumam Wan menutup teleponnya. Aku menatap sekitarku ternyata Alan tidak ada di dalam kamar.


"Kemana dia pergi?" gumamku bingung, di balkon kamar aku melihat Wan yang berdiri sambil membawa setumpuk kertas bersama dengan Fians di sampingnya. Melihat mereka berdua, aku menguncir rambutku dan terduduk di kursi balkon.


"Mohon maaf nona muda saya mengajak Fians, takutnya..."


"Tidak apa, lalu apa yang kamu dapatkan Wan?"


"Ini nona muda, ternyata pria yang di jendela itu benar-benar Lanlan, Lanlan kakak kembar Alan. Lanlan dulu pergi dari rumah karena tidak terima anda menjadi istri Alan dan juga tidak terima posisi kepala polisi militer diserahkan kepada Alan yang jauh dari Lanlan. Pembunuhan keluarga anda dan pembunuhan tuan Liu itu karena Lanlan sangat dendam, apalagi Lanlan merasa kalau dia tidak dianggap ada oleh ayah anda dan ayahnya sendiri..." jelas Wan serius.


"Lalu kenapa dia sangat dendam?"


"Tuan Lanlan menginginkan jabatan itu dan juga menginginkan anda yang merupakan ketua mafia terhebat sejak dahulu nona muda!" ucap Fians serius.


"Hanya karena itu?" tanyaku terkejut.


"Benar nona muda, walaupun menurut anda sepele tapi tuan Lanlan benar-benar seperti dianak tirikan nona muda, apa-apa tuan Alan sampai tuan Lanlan benar-benar kesal. Saya masih ingat malam itu Lanlan mengatakan akan mencelakai Alan agar anda membenci Alan dan juga tidak sungkan-sungkan membunuh anda kalau anda tidak mau menjadi istri Lanlan. Sebenarnya tuan muda mengetahui hal itu yang membuatnya benar-benar terpuruk. Dia tahu kakak kembarnya yang selalu mencelakai tuan Alan, tapi tuan Alan berusaha tidak menyalahkan Tuan Lanlan dan berusaha untuk kuat dan melindungi anda nona muda!" jelas Fians serius, aku membaca dokumen rahasia itu dan terkejut kalau Lanlan adalah ketua umum mafia misterius.


"Mafia misterius ya? Wan cari tahu dimana markas mereka ya?"


"Anda ingin mencari markas mereka untuk apa nona muda?" tanya Fians terkejut.


"Hanya ingin tahu, tidak lebih dari pada itu."


"Tapi nona muda mereka sangat kuat nanti nona ..."


"Tenang saja, Lanlan setara denganku. Aku pernah melawan dia dahulu, yang terpenting keselamatan Alan saja dulu. Jadi minta Zaki untuk mencari lokasinya Wan." gumamku serius.


"Baik nona muda."


"Oh ya... dimana Alan?"


"Tuan muda sedang berlatih nona muda."


"Berlatih? Untuk apa?" tanyaku terkejut.


"Setiap pagi tuan muda selalu berlatih fisik dan menembak nona muda."


"Apa dia sudah sarapan?"


"Tuan muda tidak pernah sarapan nona, terkadang sehari hanya makan sekali saja. Tuan muda lebih memilih meminum wine dari pada makan nona muda."


"Kenapa kamu tidak melarangnya minum wine setiap hari?"


"Hanya wine pelampiasan kekecewaan dan kesedihan tuan muda nona. Saya sebenarnya kasihan dengan hidup tuan muda, bawahannya yang dulu meninggalkan tuan muda karena tuan muda sangat lemah dan merepotkan, apalagi kalau penyakit tuan muda kambuh nona."


"Ya...aku sudah merasakannya, seperti anak kecil sih kalau penyakitnya kambuh."


"Benar nona muda, itulah kenapa bawahnnya tidak tahan dan memilih mengabdi dengan tuan Lanlan."


"Lalu kenapa kamu masih bertahan Fians?"


"Saya kasihan dengan tuan Alan nona, sebenarnya tuan Alan kuat tapi hanya karena penyakitnya yang membuat tuan Alan terlihat lemah."


"Apa penyakitnya bisa disembuhkan?"

__ADS_1


"Menurut dokter tidak bisa nona, hanya darah anda yang bisa digunakan tuan Alan untuk hidup. Tuan Alan mencoba seluruh cara tapi tidak ada satupun yang bisa menggantikan darah anda."


"Oh begitu ya aku mengerti." gumamku meminum obat penawar khusus milikku dan beranjak dari tempat duduk.


"Dimana Alan sekarang?"


"Tuan muda ada di ruang latih bawah tanah nona muda, anda bisa menuruni tangga di gudang belakang."


"Oh baiklah...terimakasih..." gumamku berjalan ke dapur membuatkan beberapa masakan dan mengantarkan sarapan untuk Alan.


Aku menuruni tangga yang menuju ke arah bawah, aku melangkahkan kakiku masuk ke sebuah pintu. Di dalam ruangan itu aku melihat Alan yang sedang berlatih fisik sendirian. Aku berjalan ke arah Alan dan terduduk ditanah sambil menatap Alan berlatih.


"Seharusnya kamu melangkahkan kaki kananmu dulu baru kaki kiri!" teriakku yang membuat Alan terkejut.


"Sani...kenapa kamu bisa ada disini?" tanya Alan terkejut.


"Hanya ingin mengantarkan sarapan untukmu."


"Aku tidak terbiasa sarapan, nanti aku akan memakannya."


"Aku tidak mau tahu, masakanku kemarin tidak kamu makan apa sekarang juga tidak kamu makan?" tanyaku kesal.


"Tapi Sani...."


"Kalau tidak mau ya sudah, aku akan pergi!!" protesku kesal, Alan menahan tanganku dan menciumku lembut.


"Baik aku akan memakannya... tapi kita makan bersama ya..." desah Alan tersenyum ke arahku.


"Ya, tidak masalah. Mau aku suapin?" tanyaku pelan, Alan mengangguk pelan dan mengajakku duduk bersama. Aku menyuapi Alan yang seperti anak kecil yang minta suap ibunya.


"Enak kah?"


"Ya, enak banget. Rasanya seperti masakan kakak."


"Masakan Lanlan?"


"Oh benarkah, mulai sekarang aku yang akan menyuapimu apa kamu mau?"


"Yaaa aku mau!" teriak Alan senang.


"Baiklah nanti setiap pagi aku suapin ya.." gumamku menyuapi Alan dan Alan tersenyum senang.


"Kamu kenapa berlatih disini sendiri?"


"Ya aku ingin kuat saja."


"Hanya itu?"


"Ya...hanya itu. Aku ingin melindungimu Sani."


"Hmmm baiklah, tapi jangan paksakan dirimu ya sayang..."


"Aku tahu kok...Kamu mau makan?" tanya Alan menatapku.


"Aku sudah makan tadi kok.."


"Kamu jangan membohongiku Sani. Kamu juga harus makan juga..." gumam Alan merebut sendok yang aku pegang dan menyuapiku.


"Kamu yang seharusnya makan banyak kak Alan, kamu kan berlatih pagi ini."


"Kan aku bilang makan bersama jadi kamu juga makan!"


"Hmmm baiklah..."


"Oh ya. Apa Fians yang memberitahukanmu kalau aku disini?"


"Tidak, bawahanku yang memberitahukanku."

__ADS_1


"Oh benarkah? Aku tadi tidak bertemu siapapun."


"Tidak tahu sih, cuma memang bawahanku yang memberitahukannya.." gumamku merebut sendok itu dan menyuapi Alan sampai makanan yang aku bawa habis.


"Haah kenyangnya aku..." desah Alan pelan.


"Syukurlah, kamu harus makan banyak mulai sekarang. Kunci brankas wine aku yang bawa!"


"Eeeh jangan aku nanti..."


"Sayang... sekarang aku bersamamu, sekarang aku hidup denganmu. Kalau kamu butuh pelampiasan kamu boleh minta darah padaku atau kamu boleh memukulku, aku istrimu, aku milikmu. Jangan kebanyakan wine kasihan kesehatanmu!"


"Aku tidak akan mungkin bisa Sani, hanya wine yang..."


"Alan...apa kamu sedih dan kecewa karena Lanlan?" tanyaku serius.


"Tidak, aku hanya..."


"Katakan yang sejujurnya Alan!" tanyaku serius.


"Hmmm baiklah aku memang sedih dan kecewa tapi bukan hanya karena kakak kembarku..." desah Alan pelan.


"...Aku akui aku memang sedih karena Lanlan sangat amat membenciku padahal kami kembar. Selain itu, aku benar-benar sedih dengan tubuhku yang lemah ini, aku merasa aku akan menjadi beban untuk Lanlan dan bahkan untukmu. Lanlan pergi dari rumah karena dia tidak terima ayah menjodohkanku denganmu dan jabatan kepala polisi militer jatuh ke tanganku. Ayah memang tidak mengizinkan Lanlan menjadi kepala polisi militer karena Lanlan memiliki sifat angkuh dan sombong, itulah kenapa ayah menyerahkan kepadaku. Tapi setelah itu ayah bilang akan memberikan jabatan itu kepada Sann atau Hassan karena aku yang terlalu lemah jika aku sebagai kepala polisi militer..." jelas Alan pelan.


"Alan apa kamu menduga kalau selama ini kakak kembar yang menjebakmu?"


"Ya, Lanlan yang menjebakku dengan wanita lain agar kamu marah dan membenciku. Dia memang membenciku tapi dia tidak bisa membunuhku itulah sebabnya dia mencelakaiku agar kamu marah dan membunuhku."


"Oh begitu ya...kamu tahu kan Alan, aku tidak bisa membencimu. Walaupun kamu sering membuatku kesal saat kita pacaran dulu, tapi aku sama sekali tidak bisa membunuhmu. Kecuali kamu yang menjadi otak pembunuhan keluargaku."


"Ya aku tahu Sani, cuma...itulah yang dipikirkan Lanlan untuk menjatuhkanku, kalau kamu membunuhku pasti Lanlan yang akan merebut jabatan ini dan dia akan menyalahkanmu. Agar kamu tidak pergi menghilang pasti dia akan mengikatmu seperti seorang budak agar dia bisa mengendalikanmu Sani!" ucap Alan serius.


"Tenang saja kak Alan, aku tahu kok. Aku akan menjagamu, kamu memang bukan setara dengan Lanlan tapi aku yang bisa melawannya jadi jangan khawatir."


"Mmm maaf aku tidak bisa diandalkan..." desah Alan pelan.


"Jadilah suamiku dan pemimpinku yang kejam sudah cukup membuatku menjagamu sayangku..." gumam ku menarik pakaian Alan yang basah karena keringat dan menciumnya lembut.


"Eeh mmm aku bau badan Sani nanti kamu..."


"Aku juga belum mandi kok, tidak masalah kamu tetap tampan bagiku suamiku tercinta..." gumamku mencium Alan kembali.


"Oh ya, apa tidak ada cara lain agar penyakitmu sembuh?"


"Sebenarnya ada, aku hanya butuh..." gumam Alan menunjuk leherku.


"Kamu butuh darah?"


"Ya...jika aku bisa mendapatkan darahmu lebih banyak untuk melelehkan darahku yang beku penyakitku akan sembuh."


"Apa itu benar-benar sembuh?" tanyaku terkejut.


"Kemungkinan, yang terpenting aku harus melelehkan darah bekuku...lihatlah telapak tanganku sudah berwarna kuning setelah selama ini aku meminum darahmu." gumam Alan menunjukkan telapak tangannya.


"Oh baguslah, kalau itu bisa mengurangi penyakitmu kambuh...minumlah Alan..."


"Nanti saja, kamu nanti..."


"Tidak apa, mulai sekarang kamu harus meminum darahku tiap hari apa kamu mengerti."


"Tapi nanti kamu akan kekuarangan darah!"


"Tidak, tenang saja. Minumlah suamiku..." gumamku memeluk Alan dan Alan menggigitku kuat.


"Terimakasih istriku, kamu sungguh perhatian kepadaku yang lemah ini..." desah Alan pelan.


"Ini sudah menjadi tanggungjawabku. Aku tidak ingin kamu merasakan hal yang sama sepertiku dahulu Alan. Cukup aku saja yang merasakan penderitaan dicaci maki orang lain dan kamu jangan merasakannya suamiku..." desahku mengusap lembut rambut Alan dan Alan hanya terdiam sambil memelukku erat.

__ADS_1


Aku pernah merasakan di hina, dicaci maki bahkan di panggil sampah oleh satu kota gara-gara kematian keluarga besarku. Aku sudah muak melihat orang lemah di injak-injak seperti itu apalagi Alan, aku tidak ingin siapapun menginjak-injak harga diri Alan yang begitu polos ini.


__ADS_2