
"Ayo cepatlah masuk." ucap arsenio mendorong Aqila masuk ke dalam sebuah kamar mewah di hotel itu lalu segera mengunci pintu nya.
"Tuan kau kenapa?" ucap aqila yang sudah merasa ketakutan.
Arsenio perlahan telah kehilangan kesadaran nya,kini hanya hasrat yang menggebu yang ada di dalam dirinya, mata arsenio perlahan telah berangsur menjadi merah layaknya orang yang sedang mabuk,suaranya menjadi berat dan apa yang nada dari setiap perkataan nya berubah menjadi sedikit kasar.
"Aku sudah tidak sabar untuk menikmati tubuh mu sayang,,,,," ucap arsenio sembari membuka satu persatu pakaian di tubuh nya.
******
"Aku tidak ingin bermalam lagi di sini,aku ingin pulang." ucap Rahel dengan memasang wajah yang kesal.
"Besok,aku akan mengantarmu pulang sekarang kau turuti saja apa kata dokter,kau harus masih di rawat di sini." jawab David dengan santai.
"Memangnya kau siapa mengatur ngatur hidup ku hah?" tanya Rahel dengan sangat jengkel.
Mendengar itu David hanya tersenyum dan mendekatkan wajah nya dengan wajah Rahel hingga jarak mereka sangatlah dekat.
Melihat David yang berada sangat dekat dengan nya membuat Rahel sangat gugup dan langsung terdiam tanpa berbicara apa apa.
"Aku tidak suka gadis pembangkang,malam ini aku akan menemanimu di sini kau mengerti?" ucap David dengan nada dingin.
Rahel hanya terus menatap David dengan tatapan sedikit ketakutan,hingga akhirnya dia tidak membantah lagi untuk meminta David mengantar kan nya pulang.
***********
DI HOTEL..
"Tuan,,, apa yang akan kau lakukan ." ucap Aqila dengan sangat ketakutan.
Namun, arsenio yang sudah tampak kacau akibat efek dari obat perangsang itu kini sudah tidak lagi bisa mengontrol tubuhnya, hasrat yang ada pada dirinya sudah sangat menggebu gebu dan itu harus segera terlampiaskan atau akan membuatnya sangat tersiksa.
Aqila yang melihat arsenio tampak berbeda seperti orang yang sedang dalam pengaruh obat, berusaha keras untuk menyadarkan nya namun tidak satupun perkataan Aqila yang di dengar oleh arsenio.
Arsenio menarik tangan Aqila yang berusaha ingin keluar dari kamar itu, namun dengan kerasnya arsenio menarik tangan Aqila hingga tubuh Aqila terhempas ke lantai.
__ADS_1
Aqila berusaha bangun dan lari menghindar dari arsenio,namun semua usaha nya hanya sia sia, arsenio dengan mudahnya menyeret tubuh mungil Aqila ke tembok dan mengunci nya dengan tubuh besar berotot yang arsenio miliki.
"Kau mau kemana sayang,,,," ucap arsenio dengan nada berat.
"Tuan,,ku mohon lepaskan aku,,,kau sedang tidak sadar,." ucap Aqila yang meminta pada arsenio untuk melepaskan nya.
"Jangan panggil aku tuan,,,panggil aku sayang." ucap arsenio yang kemudian melahap bibir ranum Aqila dengan brutal,dan itu membuat Aqila sangat kesakitan.
Aqila berusaha dengan sekuat tenaganya untuk mendorong tubuh kekar arsenio agar menjauh dari dirinya namun,tenaga Aqila tidak ada apa apa nya di banding kan dengan arsenio hingga pemberontakan yang Aqila lakukan hanya seperti penolakan kecil bagi arsenio.
Arsenio melepaskan ciuman itu untuk memberi kan udara pada Aqila , dan benar saja ketika arsenio melepaskan ciuman nya,Aqila bernapas dengan tersengal sengal.
Tanpa memberi waktu untuk Aqila berbicara, arsenio menggendong tubuh Aqila ala ala bridal dan menghempaskan nya pada ranjang kamar itu.
Tubuh arsenio pun segera menindih tubuh Aqila yang kecil.
"Tuan,,jangan,,,,apa yang akan kau lakukan." teriak Aqila dengan putus asa.
Arsenio dengan perlahan melepaskan sehelai demi sehelai pakaian yang Aqila pakai hingga hanya tersisa pakaian dalam saja yang Aqila kenakan.
Aqila merasa sangat hina dan sakit hati mendapatkan perlakuan buruk dengan tiba tiba dari arsenio hingga dengan sekejap rasa benci mulai tumbuh kembali di hatinya.
Arsenio menghisap buah dada Aqila dengan sangat kasar hingga membuat Aqila merasa kesakitan.
"Tuan jangan,,,,,aku tidak mau lepaskan..."teriak Aqila dengan putus asa.
Namun arsenio tidak sedikitpun mendengarkan nya.
Setelah puas bermain dengan buah dada Aqila Arsenio memaksakan tubuh nya berada di antara kedua kaki Aqila.
"Ini akan terasa sedikit sakit sayang."bisik arsenio.
Tidak lama setelah mendengar perkataan itu,Aqila merasa sesuatu yang memaksa masuk pada dirinya,dan itu membuatnya merasa jika tubuhnya akan terbelah dua.
Aqila hendak berteriak karena merasa Sangat menderita,namun dengan sigapnya tangan kekar arsenio membekap mulut Aqila. tidak ada rasa nikmat yang Aqila rasakan melainkan rasa sakit yang luar biasa yang dia dapatkan.
__ADS_1
"Ahhhh kau sangat nikmat sayang." ucap arsenio sembari menikmati aqila yang sangat sempit.
********
Malam telah berganti, pagi ini terlihat Amara yang sudah mulai kembali ceria.
"Pagi ayah...ibu..." ucap Amara menyapa kedua orang tua nya yang tengah menunggu nya di meja makan.
"Selamat pagi putri ibu yang cantik,ibu dan ayah mu sangat senang kau sudah kembali ceria seperti biasanya." ucap ibu Amara memeluknya.
"Hari ini hari libur kan bagaimana jika ayah mengajak kalian untuk pergi liburan." ucap tuan Toni.
"Wahhh boleh ayah,aku juga sangat bosan jika terus berada di rumah ini,sesekali kita harus menghabiskan waktu bersama sama iya kan Bu."Ucap Amara.
"Tentu saja sayang." jawab ibu Amara dengan mengelus rambut Amara.
"Bagaimana jika kita pergi ke pantai saja ayah aku sangat ingin kesana .." ucap Amara .
"Jika itu yang putriku ingin kan ayah dan ibu mu tidak bisa menolak." jawab tuan Toni yang bahagia melihat putri satu satunya itu kembali ceria.
**********
Pagi itu Roy terus saja mengotak ngatik handphone nya,dia berharap jika Amara akan membuka blokiran kontak nya, bagaimana pun Roy ingin berusaha menjelaskan pada amara apa yang sebenarnya terjadi,dan itu tidak sama dengan apa yang dia lihat dengan mata kepalanya.
"Huahhhh ini sudah pagi." Selina menguap dan menggeliatkan tubuhnya saat dia baru membuka matanya.
Tiba tiba Selina teringat pada peristiwa semalam ,dia merasa sedikit tidak tenang karna takut jika perbuatannya itu akan menimbulkan masalah bagi arsenio,dan sayangnya apa yang Selina khawatir kan itu benar benar sudah terjadi.
Arsenio yang perlahan membuka matanya merasakan kepalanya yang sedikit pusing, dia melihat ruangan sekeliling nya yang bukan merupakan kamar di mansion nya seketika itu juga arsenio tersadar dengan apa yang telah di lakukan nya semalam.
Arsenio segera berbalik dan terlihat aqila tanpa mengenakan busana dengan beberapa luka ditubuhnya,Aqila nampak masih menutup matanya entah dia tertidur ataupun pingsan yang jelas sekarang arsenio sangat sangat merasa bersalah ketika melihat luka luka itu di tambah dengan adanya bercak darah di atas sprei yang mereka kenakan.
"Astaga...maapkan aku...sialan."ucap arsenio mengacak ngacak rambutnya dengan frustasi.
HAY PEMBACA SETIA NOVEL JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SUPAYA AUTHOR SEMANGAT TERUS BERKARYA TERIMAKASIH 🙏🥰🥰
__ADS_1