
"Serius ya kamu akan mendukungku?" tanya Nathan sambil menatap sahabatnya yang masih tetap berbaring, bahkan dia mulai menaikkan kembali selimutnya untuk menutupi wajah.
"Iya, iya...!" jawab Abduh seolah tidak terlalu peduli dengan apa yang dibicarakan oleh sahabatnya.
"Kalau kamu mau mendukung sahabatku ini. aku minta tolong sama kamu."
"Iya?" Jawab Abduh tetap singkat, seolah tidak peduli dengan sahabatnya.
"Jangan ya iya doang, Dengerin dulu aku mau ngomong dengan serius." ujar Nathan sambil menarik tubuh sahabatnya untuk duduk agar dia bisa menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya.
"Apaan sih... ini udah malam, mau tidur." Gerutu Abduh yang hendak membaringkan kembali tubuhnya namun dengan segera Nathan menahan.
"Dengerin dulu aku mau ngomong serius dan semuanya bisa sukses, kalau kamu mau membantu."
"Halah merepotkan saja... kamu yang memiliki keinginan tapi sahabatmu yang harus berjuang?"
"Nah itulah gunanya sahabat."
"Cepat mau ngomong apa Aku ngantuk."
"Besok Aku tidak akan ikut menjemput Jasmine, agar kamu bisa memperkenalkanku terhadap dia. jadi aku tidak harus repot-repot mengungkapkan siapa diriku, karena aku sudah memiliki sahabat yang sudah menjelaskan."
"Maksudnya," tanya Abduh dengan sedikit.
"Kalau aku tidak ikut, kamu bisa ajak ngobrol dengan Jasmine secara leluasa dan kamu ceritakan tentang kebaikanku yang sudah Setia menjadi sahabatmu, pokoknya kamu tinggikan harkat derajatku agar dia tertarik."
Oh jadi aku harus membagus-bagus kan kamu di hadapannya
"Nah itu pintar!" ujar Nathan sambil mengangkat ibu jarinya.
__ADS_1
"Tapi maaf... aku nggak mau... lagian kan besok Jasmine dijemput menggunakan mobil sayuran, jadi tidak mungkin aku bisa punya waktu untuk mengobrol dengannya."
"Kamu jangan bodoh, kamu cari kesempatan terbaik untuk bisa mengobrol dengan adikmu. nanti aku kasih kamu hadiah."
"Maaf Nathan... aku nggak bisa soalnya keselamatan adikku lebih penting daripada membanggakan kamu." ujar Abduh sambil memberikan kembali tubuhnya seolah tidak peduli dengan kesusahan yang dirasakan oleh sang sahabat seperti sedang mau mengetes keseriusan Nathan yang hendak berkenalan dengan adiknya.
"Tolong ya! Abduh Please jangan seperti itu, karena kesuksesanku itu ada di kesiapanmu yang mau membantuku. Soalnya kalau kamu tidak mau mungkin Rencanaku untuk mendekati Jasmine akan berantakan." ujar Nathan yang menghiba namun sekarang dia tidak membangunkan Abduh, Dia berbicara sambil menatap ke arah sahabatnya yang mulai memejamkan mata.
"Kalau kamu tidak menolong, aku mau minta tolong sama siapa lagi, karena kamulah sahabatku satu-satunya yang terbaik di dunia ini. memang ada sahabat kita yang bernama Shakila, tapi itu sangat jauh sehingga aku hanya bisa meminta tolong sama kamu Please Tolong ya!"
Abduh tetap tidak bergeming, Bahkan dia tidak menyahuti seolah dia tidak peduli dengan apa keinginan sahabatnya, Padahal dalam hal lain dia adalah sahabat yang terdepan ketika sahabatnya membutuhkan pertolongan, namun berbeda dengan kali ini karena Nathan menginginkan adiknya untuk dijadikan kekasih, sehingga Aduh memutuskan untuk melihat sampai mana keseriusan Nathan. karena dia tidak mau kalau adiknya jatuh ke tangan orang yang salah. dia bukan tidak mendukung Nathan karena dia sangat tahu kalau Nathan itu sangat baik tapi dalam masalah percintaan Nathan, belum teruji karena selama di adik kampus Dia tidak pernah menyukai wanita manapun Meski banyak wanita yang menyukainya.
"Jangan tidur dulu! Tolong lah sahabatmu ini karena jasmine adalah cinta pertamaku dan aku harus mendapatkan cintanya. izinkan aku untuk membahagiakan adikmu, aku berjanji tidak akan menyia-nyiakannya lanjut." Nathan sambil menggemingkan tubuh sahabatnya, agar dia mau mendengar keluh kesahnya.
"Iya, iya tapi aku nggak janji?"
"Harus kamu harus berjanji agar kamu mau menolong ku?"
"Tapi kamu mau kan membantuku?" tanya Nathan dengan memasang wajah yang menatap nanar."
"Iya tapi kalau ada kesempatan."
"Terima kasih ya. memang kamu sahabat terbaikku." ujar Nathan sambil membaringkan tubuhnya untuk tidur di samping sahabatnya, dia merasa lega karena Abduh yang awalnya menolak mau membantunya, membuat hati Nathan sedikit lega karena rencananya berjalan dengan baik.
"Ya sudah tidur ini waktu sudah malam."
"Mana Baru pukul 09.00 malam juga, masa kamu sudah ngantuk sih. ayo ngobrol dulu kamu ceritakan tentang apa yang disukai oleh Adik kamu dan apa yang tidak disukai oleh Jasmine."
"Aku ngantuk Nathan, Emang ini baru jam 09.00 tapi di sini sudah tidak ada orang yang mengobrol. Ayo tidur besok aku aja kamu main."
__ADS_1
Mendengar perkataan Abduh, Nathan pun terdiam. matanya menatap ke arah langit-langit kamar membayangkan momen ketika dia bertemu dengan Jasmine. gadis yang akhir-akhir ini mengganggu sel otak kirinya. khayalannya mulai terbang jauh menerka-nerka Apa yang akan terjadi jika dia sudah bisa hidup berdampingan dengan wanita pujaannya itu, membuat kedua sudut bibirnya terangkat.
"Jasmine memang aku belum pernah bertemu denganmu. Tapi entah mengapa hatiku sangat bahagia ketika membayangkan tentang gerak-gerik mu yang sangat menggemaskan. Apa aku benar sedang jatuh cinta dengan orang yang belum ketemu, apa aku salah mencintaimu Padahal kita belum pernah saling menyapa." gumam Nathan dalam hati.
"Kalau aku sudah mendapatkan cintamu, akan ku ajak kamu tinggal di Bogor agar kamu terhindar dari marabahaya yang seperti sekarang. Kasihan gadis cantik seperti kamu harus menderita dengan dosa-dosa orang tua yang sudah tiada." lanjut Nathan sambil memiringkan tubuh menatap wajah Abduh yang ditutupi oleh selimut. namun itu tidak lama karena dengan segera dia pun membalikkan tubuhnya untuk membelakangi Abduh.
Entah mengapa meski dia merasa bahagia karena sebentar lagi akan bertemu dengan Jasmine, hatinya terasa gelisah Soalnya dia belum tahu penyambutan adik sahabatnya itu seperti apa. Nathan merasa minder kalau nanti Jasmine tidak menerima cintanya, alangkah sakit hatinya kalau hal itu terjadi, karena dari dulu dia tidak pernah menaruh hati terhadap seorang wanita namun ketika dia menyukai seorang gadis tapi gadisnya tidak memberikan respon yang positif.
Nathan terdengar menarik nafas dalam, seolah enggan membayangkan hal-hal buruk yang akan terjadi menimpanya. namun Nathan yang memiliki pemikiran realistis dia memikirkan sampai hal sedetail itu, karena kalau tidak dibayangkan sebelumnya dia tidak bisa mempersiapkan diri sehingga rasa kecewa akan semakin bertambah.
Nathan terus bergerak-gerak berguling-guling ke samping kanan dan kiri, membuat Abduh yang sejak dari tadi tidak bisa tidur sedikit merasa kesal hingga dia pun menendang kaki Nathan yang berada di sampingnya.
Aduh!
Desis Nathan tertahan matanya menatap heran ke arah Abduh yang masih ditutupi oleh selimut, membuat rasa jahilnya pun mulai timbul, hingga akhirnya Nathan menarik selimut yang menutupi wajah sahabatnya membuat Abduh sedikit mendengus.
"Ngapain kamu narik-narik selimut, bukannya tidur." Gerutu Abduh dengan ada kesal.
"Kamu yang ngapain pakai nendang-nendang kaki aku segala?"
"Lagian kamu nggak mau diam, aku jadinya nggak bisa tidur."
"Daripada tidur mendingan kamu ceritakan tentang kesukaan Adik kamu minta Nathan yang selalu seperti itu!"
"Jasmine tidak suka dengan orang yang rese yang tidak bisa diperingatkan."
"Contohnya?" tanya Nathan dengan antusias.
"Contohnya orang yang suka mengganggu waktu istirahat orang lain."
__ADS_1
"Masa sih seperti itu. Aku kira Jasmine sangat senang dengan orang yang periang seperti dirinya."
"Memang Jasmine sangat periang, tapi dia tidak suka dengan pengganggu. ingat ya antara orang yang periang dan orang yang pengganggu itu sangat berbeda Jauh, antara langit dan bumi."