
Mereka berdua pun memilih kamar yang paling dekat dengan dapur, karena biasanya orang tua lebih memilih kamar seperti itu soalnya berdekatan dengan toilet yang Pasti akan sangat mereka butuhkan untuk membuang kebutuhan ketika sudah tua.
Ceklek! ceklek! ceklek!
Handle pintu pun ditarik ke bawah, Namun sayang pintu itu tidak bergerak sama sekali, menandakan pintu kamar itu dikunci dari luar. tanpa berpikir panjang Darta pun mengeluarkan kembali goloknya kemudian membongkar pintu kamar itu, sehingga terlihatlah seisi di dalam kamar yang begitu rapi, kasur busa masih terhampar dengan selimut yang ada di atasnya, bantal-bantal pun tersusun rapi di atas bagian kepala, di bawah kaki ranjang terlihat ada lemari besar.
"Bongkar lemarinya!" seru Sarman sambil melirik ke arah Darta.
Orang yang disuruh pun tidak membuang waktu dengan segera dia pun mencongkel lemari, dengan sangat mudah pintunya pun terbuka menampilkan seluruh tumpukan baju yang masih tersusun rapi, Mereka pun mengangkat tumpukan itu mencari sesuatu yang berada di bawahnya, namun benda yang mereka cari tidak ketemu sehingga mereka pun membuka pintu yang satunya lagi.
Di kamar Dadang tidak menemukan apapun Hanya berkas-berkas tanah dan surat-surat penting lainnya tidak ada keterangan tentang Abduh membuat mereka pun membiarkan kamar itu berantakan, Kemudian Sarman dan Darta masuk ke kamar lainnya dengan cara mencongkel pintu namun di kamar yang kedua sama seperti di kamar yang pertama mereka tidak menemukan apapun, tidak menemukan berkas-berkas yang berhubungan dengan Abduh
Barulah di kamar ketiga mereka menemukan berkas-berkas yang berhubungan dengan Abduh, mulai dari ijazah SD sampai SMA, Bahkan di situ masih ada berkas-berkas yang belum sempat dibuka.
"Jangan dibuka sekarang, nanti saja kita buka di rumah kita, karena ini sangat berbahaya kita sudah terlalu lama berada di rumah ini." saran Sarman memperingatkan.
"Ya sudah, ayo bawa semua berkasnya!" Jawab Darta sambil memasukkan berkas itu ke dalam tas yang tergantung di balik pintu, tanpa membuang waktu lagi Mereka pun keluar dari kamar langsung menuju ke arah dapur untuk melarikan diri.
Wanto yang melihat kedua temannya sudah keluar dengan segera dia pun menghampiri, kemudian mereka bertiga kembali ke Jalan Sawah untuk pulang ke kampung Cisaga, pekerjaan mereka sangat lancar tidak ada gangguan sedikitpun. warga kampung dagaranten yang masih dalam keadaan berkabung dan berduka, mereka sedikit lalai menjaga keamanan kampungnya.
Tadi ceritakan lamanya di perjalanan, Karena perjalanan ketiga maling yang sudah berhasil itu tidak menemui kendala apapun sehingga mereka pun sudah tiba di rumah Sutardji dengan membawa berkas yang didapat dari kamar Abduh.
"Syukur kalau kalian sudah datang dengan selamat, Bagaimana hasilnya?" tanya Sutardji setelah mempersilahkan anak buahnya untuk beristirahat, Dia sangat senang dan sangat bijak ketika memperlakukan orang yang selalu patuh terhadapnya, meski Dia sangat keras kepala dia sangat menjunjung tinggi Apa yang disebut pengorbanan.
__ADS_1
"Berhasil Kang, ini buktinya!" jawab Darta sambil mengeluarkan beberapa tumpukan berkas yang berada di dalam tas.
"Apa ini" tanya Dadang yang belum mengerti, matanya sayang seperti elang menatap tajam ke arah Orang yang memberikan tas.
"Ini semua berkas milik Abduh, Siapa tahu saja di dalamnya ada informasi mengenai kampus ketika dia kuliah."
"Oh begitu Kenapa kalian tidak buka saja di sana dan Jangan membawa barang bukti ke sini?"
"Takut tidak sempat Kang karena ketika kita berdua berada di dalam rumah, beberapa kali dari arah jalan terdengar orang yang sedang berpatroli, sehingga kami pun bergegas memasukkan semuanya agar leluasa ketika mencari."
"Ya sudah kalian cari sekarang, Jangan membuang waktu. kemudian semua berkali bekas ini harus dibakar agar tidak menimbulkan masalah kedepannya."
Ketiga orang yang baru saja pulang melaksanakan misi Mereka pun disibukkan dengan membuka lembaran demi lembaran kertas-kertas yang berada di dalam tumpukan, mulai dari ijazah, akta kelahiran, bahkan surat cinta dari Yanti ada di dalam berkas itu, suatu ketika mereka pun menemukan bahwa Abduh sedang berkuliah di salah satu universitas yang berada di Bandung.
"Apa itu ITC?" Tanya Sutardji sambil menatap penasaran ke arah orang yang memberitahu.
"Institut Teknologi cosmic."
"Institut Apa itu?"
"Kurang tahu, ya terpenting ini adalah amplop penerimaan bahwa si Abduh diterima di kampus itu, dan alamatnya pun ada di kop suratnya."
"Ya sudah amankan semuanya kalau bisa tulis alamat kampus dan yang lainnya, Besok kita atur rencana lagi."
__ADS_1
"Kalau sudah ditulis terus diapakan Kang?"
"Sesuai rencana awal semua berkas ini harus dibakar agar tidak menjadikan barang bukti tindakan ceroboh kalian. Aku mau kalian untuk mencari tahu di mana Abdul berkulia, bukan membawa masalah ke tempat ini."
"Maafkan kami Kang yang ceroboh."
"Ya sudah jangan buang waktu, Nanti keburu ada orang yang menyusul."
Wanto yang paling kecil dia pun bangkit dari tempat duduknya sambil membawa seluruh berkas yang diambil dari rumah Dadang, kemudian mendekat ke arah api unggun yang berada di tempat latihan. tanpa berpikir panjang dia pun memasukkan semua berkas itu ke dalam api yang sedang berkobar, sehingga kobaran api pun terlihat semakin membesar menari-nari melahap seluruh berkas tentang Abduh.
Setelah semuanya dirasa aman, Wanto pun duduk kembali bergabung dengan keempat orang yang masih berdiskusi untuk membahas kelanjutan rencananya.
"Kapan kita pergi ke Bandung untuk menelusuri tentang sahabatnya?" Tanya Sarman sambil menyeruput kopi yang disuguhkan, suasana malam yang semakin terasa dingin membuat tubuhnya sedikit mengkerut. Beruntung ada api unggun yang masih menyala, membuat suasananya lumayan begitu hangat.
"Nanti setelah semuanya aman karena aku yakin dengan kecerobohan kalian pasti akan ada ekornya yang akan membahayakan keselamatan kita. sekarang kita jangan bepergian dulu sebelum situasinya benar-benar aman, Kita harus pandai berakting agar perbuatan kotor kalian tidak terendus oleh pihak keamanan dan pihak warga kampung sagaranten."
"Waduh kayaknya sulit kalau untuk tidak terendus oleh warga Kampung Sagaranten Kang, soalnya kita benar-benar ceroboh dan teledor kita mendatangi rumah itu bukan untuk merampok harta ataupun perhiasan melainkan kita hanya mencari tahu tentang sosok Abduh yang sudah meninggal, pasti ini akan menimbulkan kecurigaan bagi mereka."
"Yah nasi sudah menjadi bubur, tidak apa-apa mereka curiga terhadap kita yang penting mereka tidak memiliki bukti untuk menuduh kita melakukan pencurian, karena semua barang bukti sudah dibakar.
Suasana pun menjadi hening membayangkan apa yang sudah mereka lakukan. Sarman terlihat bergidik ngeri membayangkan ketika dia berada di rumah Dadang tahu-tahu ada segerombolan orang yang masuk ke dalam lalu mengeroyoknya, memukulnya, membunuhnya tanpa ampun, namun itu hanya khayalan dan. dia pun menerka-nerka Apa yang akan terjadi selanjutnya Apakah permusuhan antara warga Kampung Sagaranten dan Kampung Cisaga akan terus berlanjut atau sudah sampai di situ, karena kobaran-kobaran api terus dinyalakan oleh Sutardji bersama warga Kampung Cisaga.
Setelah lewat tengah malam mereka bertiga pun berpamitan untuk kembali pulang ke rumah masing-masing, namun sebelum pergi Sutardji membagi uang terhadap mereka dengan jumlah yang begitu lumayan banyak cukup untuk bertahan hidup selama seminggu. itulah yang membuat para anak buahnya selalu Royal terhadap Sutardji meski sangat jarang namun Sutardji sangat menjunjung tinggi sebuah pengorbanan.
__ADS_1