Terjebak Cinta Gadis Konflik

Terjebak Cinta Gadis Konflik
Mencari Mobil


__ADS_3

"Halah kamu bicara semakin melantur saja, Kenapa pembahasannya sampai ke sana. padahal kita hanya membahas kesukaan Jasmine dan apa yang tidak disukai olehnya." Gerutu Nathan dengan menekuk wajah, beruntung dia sudah menatap ke arah langit-langit kamar sehingga wajah imutnya tidak terlihat.


"Beneran Nathan kalau periang itu sangat ceria, kalau pengganggu itu sangat menyebalkan. Sudah mendingan kamu tidur besok kita bantu kang Dadang mencari mobil untuk menjemput Jasmine." ungkap Abduh sambil memalingkan tubuhnya, agar membelakangi Nathan. selimutnya sudah diangkat untuk menutupi kepala agar tidak mendengar lagi ocehan ocehannya.


Nathan tidak bergeming, dia tetap menatap ke arah langit-langit sambil membayangkan kembali bagaimana Jasmine yang sedang berbicara, yang selalu dipenuhi oleh senyuman manis yang menghiasi bibirnya, tidak akan bosan melihat gadis itu ketika dia berbicara, ketika dia mengadu tentang keluh kesahnya. dia berjanji akan menjadi penjaga Setia, supaya Jasmine merasa senang dan betah berdekatan dengannya.


Suasana malam pun semakin larut, dari arah samping rumah terdengar suara kodok dan katak saling bersahutan. dari kolam ikan dan pesawahan di timpali oleh suara jangkrik yang tak mau kalah menunjukkan eksistensinya sebagai hewan malam. sesekali terdengar suara motor yang lewat, namun itu sangat jarang mungkin kalau dihitung tidak satu jam satu kali. Nathan yang terus membayangkan keindahan kehidupan bersama Jasmine, hingga lama-kelamaan pun matanya mulai tertutup, karena Abduh sudah tidak menyahuti terjebak dengan mimpi-mimpi indahnya, sehingga Nathan pun mulai terlelap khayalan dan angan-angan yang dia pikirkan terbawa ke alam impian


*****


Keesokan paginya. kira-kira pukul 08.00 Nathan diajak oleh kang Dadang untuk jalan-jalan mengelilingi kampung yang begitu asri dan menawan. kampung sagaranten terlihat begitu Elok dengan berbagai persawahan yang membentang seluas mata memandang, diselingi oleh kebun-kebun sayuran, air-air terlihat mengalir dari setiap irigasi untuk mengairi sawah, warnanya sangat bening membuat siapa saja ingin menceburkan tubuhnya untuk merasakan kesegaran air murni itu. Pak Tani dan Bu Tani terlihat mereka sedang bekerja dengan begitu giat karena mereka beranggapan kalau pengurusannya sangat baik, maka hasilnya pun tidak akan jauh berbeda. seperti pepatah perjuangan yang sangat keras tidak akan menghianati hasil.


Nathan yang ikut di dalam mobil yang dibawa oleh kang Dadang, dia semakin merasa salut dengan keluarga Jasmine, karena kang Dadang selama dia di perjalanan dia terus disapa hingga beberapa kali dia harus berhenti, karena walaupun tanah mereka sangat subur itu bukan berarti tidak ada masalah, sehingga kang Dadang yang diangkat sebagai ketua harus mendengarkan aspirasi mereka, supaya masalah yang sedang dihadapi bisa cepat ditanggapi dan bisa dicarikan solusi.


Kang Dadang menghadapi masyarakatnya dia penuh dengan senyuman, sehingga para warga pun merasa senang ketika memiliki pemimpin seperti itu. seperti ada pelarian Ketika menghadapi masalah, baik masalah pertanian atau masalah kehidupan Kang Dadang selalu Sigap dan tanggap untuk memberikan pertolongan. Itulah kenapa dia sangat dicintai dan dihormati oleh masyarakatnya.


Mobil yang dikendarai terus melaju di jalan yang membelah sawah, sehingga jalanan itu terlihat seperti ular yang sedang berjalan meliuk-liuk seperti penari yang sedang mendalami peran. Setelah melewati pesawahan mobil pun tiba di perkebunan, itu adalah batas dari kampung Sagaranten dan kampung curug kembar, kampung yang akan dimintai pertolongan untuk menjemput Jasmine.


Lama di perjalanan, akhirnya mobil itu berhenti di salah satu halaman rumah yang lumayan sangat luas, kemudian kang Dadang yang diikuti oleh Abduh dan Nathan Mereka pun turun lalu mengikuti berjalan mendekat ke arah teras setelah berdiri kang Dadang pun mengucapkan salam.

__ADS_1


"Assalamualaikum...!" ujar kang Dadang yang menatap ke arah pintu yang tertutup, sedangkan Nathan Dia terlihat memandangi keadaan sekitar yang tak kalah Asri dari kampung Sagaranten. rumah itu dikelilingi oleh tanaman-tanaman sayuran yang berbeda dengan Kampung Sagaranten yang dikelilingi oleh persawahan, karena kampung curuggembar mereka bertani di bidang sayuran sehingga mereka setiap hari akan pergi ke luar kota atau ke pusat kota untuk menjual hasil pertaniannya.


"Assalamualaikum!" ujar kang Dadang untuk yang kedua kalinya.


Tak lama menunggu, terdengar suara dari langkah kaki yang menginjak papan, karena kampung itu meski orang yang sangat mampu mereka tetap melestarikan adat istiadatnya, tidak meninggalkan rumah papan Padahal kalau dihitung antara membuat rumah papan dan rumah tembokan itu tidak jauh berbeda, karena kayunya sangat mahal tapi mereka lebih memilih mempertahankan adat istiadat. salah satunya adalah rumah yang terbuat dari papan atau rumah panggung.


"Waalaikumsalam!' jawab suara seorang perempuan setelah pintu terbuka.


"Ceu Ranti Kang karsanya ada?" tanya Dadang sambil manggut memberi hormat.


"Lagi panen di kebun sawi, untuk pengiriman Nanti sore." jawab orang yang bernama Ranti agak sedikit Ketus seperti tidak suka dengan kedatangan Dadang.


"Kurang tahu, coba telepon saja!" Jawab Ranti dengan singkat seperti kurang suka dengan kehadiran Kang gadang. bagaimana tidak suka karena Ranti sangat tahu kalau orang itu bertamu pasti akan membawa masalah dengan keluarganya, soalnya sudah menjadi rahasia umum bahwa Kampung Sagaranten memiliki musuh dengan Kampung Cisaga, sehingga ketika ada Kampung lain yang mendekati maka akan disamaratakan.


Kang Dadang pun manggut kemudian dia merogoh saku bajunya lalu mengeluarkan telepon untuk memanggil Karsa setelah ketemu nomor kontaknya, tak lama menunggu telepon itu terhubung dan diangkat.


"Halo Ada apa Kang Dadang?" Sapa orang di ujung telepon sana.


"Saya ada di rumah Kang Karsa, bisa pulang dulu sebentar tidak?"

__ADS_1


"Oh sudah ada di rumah, sebentar saya akan pulang." jawab orang Yang ditelepon menyanggupi.


"Alhamdulillah Kang Karsa, mau pulang jadi nggak apa-apa Kalau kami nunggu di sini?" Tanya Dadang sambil menatap ke arah Ranti.


"Tidak apa-apa, kalau Kang Dadang bisa menjamin keselamatan keluarga kami." jawab Ranti dengan Ketus.


"Saya ke sini datang dengan baik-baik dan membawa niat yang baik, jadi tolong jangan berprasangka buruk terlebih dahulu." ujar kang Dadang yang merasa tidak enak ketika mendapat sambutan seperti itu.


"Walaupun akang datang dengan baik-baik tapi orang lain, tidak akan beranggapan seperti itu. apalagi warga Kampung Cisaga yang pasti akan menuduh Kang Karsa bersekongkol, dengan kang Dadang Bukannya itu sangat mengancam keselamatan keluarga kami." tanya Ranti dengan menatap wajah Dadang membuat pria itu sedikit memalingkan karena merasa tidak enak ditatap seperti itu.


"Ya sudah kalau tidak boleh kami akan menunggu Kang Karsa di jalan?"


"Itu lebih bagus...!" jawab Ranti sambil menutup pintu, Kemudian dia masuk ke dalam tak memperdulikan ketiga tamunya yang terlihat menganga seolah tidak percaya dengan penyambutan yang kurang baik. tapi meski begitu Dadang yang sudah memakan asam manis kehidupan, dia pun mengajak Nathan dan Abduh untuk berteduh di jalan yang ada di hadapan rumah Karsa.


"Kok yang punya rumah sangat kurang sopan seperti itu? Bukannya orang kampung sangat sopan sopan." tanya Nathan berbisik sama sahabatnya.


"Sebenarnya semua warga kampung itu sangat baik, namun seperti yang kamu ketahui Kampung kita adalah Kampung konflik. sehingga tidak kampung yang lain yang dekat mungkin mereka takut terkena getahnya, karena kalau sudah bermusuhan sama seperti kampung Sagaranten dan Kampung Cisaga yang tidak bisa didamaikan, sehingga banyak korban yang berjatuhan." jawab Abduh yang duduk di salah satu batu yang berada di bawah pohon mahoni yang sengaja ditanam agar rumahnya terasa sejuk.


"Benar...! Tidak sedikit penolakan dari warga kampung yang lainnya karena kampung Sagaranten adalah kampung yang memiliki musuh, sehingga para Kampung Tetangga nggak yang mau berbisnis dengan Kampung kita. mereka berpikir beberapa kali, soalnya bukan hanya masalah perut tapi sudah mencapai level nyawa, sehingga kalau salah melangkah mungkin mereka juga akan ikut menjadi korban. tapi beruntung warga Kampung sagaran masih Solid masih bisa bertahan hidup di tengah-tengah Konflik." Tambah Dadang membenarkan perkataan adiknya.

__ADS_1


__ADS_2