Terjebak Cinta Gadis Konflik

Terjebak Cinta Gadis Konflik
Mancing


__ADS_3

Suara Deru mesin terus menderu, bercampur dengan suara mesin-mesin lainnya, mobil-mobil terus berseleweran menuju ke tempat tujuan, sesekali terdengar suara Kelakson ketika ada mobil yang menghalangi. Nathan yang berada di belakang kemudi dia terus terfokus menatap ke arah jalan yang mau dipijak takut ada motor Yang menyalip dengan tikungan tajam atau hal-hal yang tidak diinginkan lainnya.


Mobil yang dikendarai oleh Nathan terus melaju menuju ke sebelah barat kabupaten bogor melewati Dermaga dan kampus IPB sehingga akhirnya mereka pun tiba di salah satu Kecamatan. mobil itu terus melaju namun ketika ada belokan ke arah kanan mobil pun berbelok, kemudian menyusuri jalan dengan kecepatan pelan karena jalan yang dilalui aspalnya lumayan sangat jelek, sehingga beberapa kali mobil Nathan harus beradu dengan batu yang menonjol.


Orang-orang yang berada di dalam, Mereka terlihat memegangi hand Grip yang berada di atas pintu mobil, mungkin takut kepalanya terbentur atau terjatuh dari kursi duduk. beruntung perjalanan itu tidak terlalu lama karena setelah 15 menit berlalu akhirnya mobil Nathan pun tiba di salah satu Villa yang lumayan luas. suasananya begitu Asri Namun sayang waktunya kurang tepat karena masih musim kemarau, sehingga keasriannya kurang nampak Begitu Terasa. daun-daun terlihat berubah warna menjadi kecoklatan, Begitu juga dengan rumput-rumput yang tidak mau tumbuh, tidak kuat menahan teriknya matahari.


Setelah mobil parkir dan mereka pun sudah keluar, ada salah seorang laki-laki yang menghampiri dengan manggut memberi hormat. "Selamat pagi Pak Susanto dan den Nathan." Sapa orang itu dengan tersenyum ramah.


"Assalamualaikum Mang Oji, Bagaimana sehat?" jawab Susanto sambil mengulurkan tangan mengajak bersalaman.


"Alhamdulillah sehat pak. Bagaimana sebaliknya. saya lihat semakin kesini bukan semakin sepuh, tapi semakin segar-bugar aja." jawab Oji tersipu malu.


"Alah. kamu memuji pasti ada maunya, pasti belum ngopi kan?"


"Nggak kok, saya tidak bilang seperti itu. tapi memang benar sekarang Pak Susanto lebih segar, Apa itu Rahasianya Pak?"


"Jangan banyak berbicara, Buatkan kopi sekalian belikan rok0k. setelah itu siapkan tempat duduk untuk mancing ikan.?" Jawab Susanto yang terlihat merogoh kantong celana, kemudian mengeluarkan uang Rp100.000.


"Bukannya Bu Rahmi sudah melarang bapak untuk merok0k?"


"Melarang sih, melarang. tapi dia tidak berani membentak. sudah jangan banyak tanya, nanti setelah itu kamu ke pasar atau ke warung Beli perlengkapan untuk membuat nasi liwet, ikannya kita mancing dulu."


"Beres Pak, tapi bagaimana barang-barang Bapak mau dibantu diturunkan."

__ADS_1


"Tidak usah, ada Nathan ini." jawab Susanto sambil mendelik ke arah Nathan.


"Siap laksanakan?" jawab Nathan dengan bercanda.


Oji pun berpamitan untuk keluar membeli pesanan kakek Susanto, sedangkan Nathan dibantu oleh Jasmine mengeluarkan seluruh perbekalan yang dibawa dari rumah, baik untuk mereka ataupun untuk Oji, karena orang itulah yang menunggu Villa mereka.


Kakek Susanto yang diikuti oleh Nathan dan Jasmine Mereka pun masuk ke salah satu bangunan berbentuk rumah, memang ukurannya Tidak besar paling 5 Kali 7 meter, karena di dalam rumah itu hanya ada ruang tamu dan satu kamar tidur, ditambah kamar mandi dan dapur. namun sebenarnya tidak hanya ada satu rumah melainkan ada beberapa rumah yang biasa disewakan.


Nathan membawa seluruh barang-barangnya ke meja kemudian memindahkan pakaian ganti ke dalam kamar, setelah itu dia pun keluar terlihat kakek Susanto sudah mulai memainkan joran dengan benarkan posisi senar beserta memasang kail dan menyiapkan umpan yang dibawa dari rumah.


"Nggak istirahat dulu kek?" tanya Nathan sambil duduk di sofa yang berada di hadapan kakek Susanto, bersebelahan dengan Jasmine yang sudah duduk dari tadi.


"Ya istirahatlah sambil mancing, mancing tidak lari-lari Hanya duduk bersantai, mengopi sambil menunggu umpan dimakan oleh ikan." jawab Kakek Susanto tanpa menoleh sedikitpun.


"Iya sih, tapi beristirahat di sofa dan duduk di tepian kolam itu sangat berbeda."


"Siap laksanakan!" jawab Nathan sambil membangkitkan tubuh kemudian mengambil joran untuk menyetel ulang. Oji yang disuruh dia membeli kebutuhan dia sudah datang dengan membawa pesanan yang diminta oleh kakek Susanto, kemudian menyiapkan tempat duduk agar para pemancing ikan merasa nyaman.


Setelah semuanya selesai, Oji memberitahu kakek Susanto bahwa semuanya sudah disiapkan. mereka bertiga pun berjalan menuju ke tepian kola. dengan membawa joran masing-masing. Jasmin yang awalnya hanya ingin ikut tapi kakek Susanto mengajaknya untuk ikut mancing. Karena dia sudah membawa tiga joran, sedangkan Susanto kembali ke dapur untuk menyeduh kopi dan menyiapkan cemilan-cemilan lainnya.


Ketiga orang itu mereka duduk berjajar rapih di tepian kolam kakek Susanto berada di samping kanan Nathan sedangkan Jasmine berada di samping kiri. gelembung-gelembung air terlihat bertebaran di atas permukaan air kolam menandakan bahwa di kolam itu ikannya sangat banyak, udara yang mulai sedikit menyengat tidak begitu terasa, karena tepian kolam dipasangkan atap agar waktu memancing, tidak terganggu hembusan angin mulai bertiup memberikan udara sejuk di tengah perkampungan.


"Yang kalah harus nyebur." ujar Susanto sambil mengaitkan Koja, wadah hasil tangkapan ikan ke paku yang berada di tembok tepian kolam.

__ADS_1


"Nggak usah aneh-aneh deh. kayak dulu saja aku yang menang tapi kakek tidak mau nyebur." jawab Nathan yang melakukan hal yang sama, sedangkan Jasmine tidak diberikan koja karena dia hanya pemanis saja.


"Kapan kakek pernah kalah dari kamu?" jawab Susanto pura-pura tidak ingat.


"Dua kali sebelum terakhir kita ke sini, kakek kalah kakek tidak mau nyebur alasannya, tiba-tiba badannya menggigil."


"Cuma baru sekali wajarlah gak nyebur, kalau sekarang Kakek berjanji akan menyebur ke kolam.


"Benar Ya, Nggak usah bohong."


"Ya sudah, ayo kita mulai."


Kakek dan cucu pun mulai menempelkan umpan ke kail masing-masing kemudian ditekan-tekan agar menjadi membulat, supaya tidak mudah pecah ketika berada di dalam air. setelah memberikan umpan terhadap kailnya Nathan pun memasangkan umpan untuk Jasmine kemudian dia memberitahu Bagaimana cara melempar kail ke tengah kolam.


Suasana pun seketika hening, mata mereka menatap ke arah pelampung yang berada di tengah kolam, hanya terdengar gemericik air yang mengalir di sahuti dengan suara burung-burung yang masih tetap berkicau dari arah kebun belakang, sesekali terdengar suara gerakan air ketika ada ikan yang loncat.


Beberapa saat berlalu pelampung Nathan terlihat bergerak-gerak sehingga lama-kelamaan pelampung itu terlihat ditarik masuk ke dalam air, dengan segera Nathan pun memecutkan jorannya ke arah atas, namun kail yang sudah dimakan oleh ikan tidak bisa tertarik, hanya bergerak-gerak di atas kolam sampai joran Nathan terlihat melengkung.


"Ehem! ehem! ada yang nyebur nih?" ledek Nathan sambil mengulum senyum ke arah kakeknya.


"Halah baru dapat satu saja sudah sombong, ingat itu masih banyak waktu memancing sampai nanti Adzan Dzuhur berkumandang." jawab Susanto sambil menarik jorannya namun kayaknya belum dimakan oleh ikan sepenuhnya sehingga ikan itu terlepas kembaliĀ  Hanya menyisakan kail yang terbang ke udara.


"Hahaha Strike angin Yeh." ujar Nathan sambil memasukkan ikan hasil tangkapannya ke dalam Koja.

__ADS_1


Kakek Susanto tidak menjawab namun wajahnya terlihat menjadi masam, karena kalah cepat oleh sang cucu. dia mulai memasang kembali umpannya kemudian melemparkan kail ke tengah.


"Haduh, haduh. bagaimana ini, ini bagaimana?" tanya Jasmine yang terlihat memegang kuat joran yang melengkung, senarnya sudah kencang seperti ada ikan yang ingin melepaskan diri.


__ADS_2