Terjebak Cinta Gadis Konflik

Terjebak Cinta Gadis Konflik
Berangkat Kebogor


__ADS_3

Sarman pun melirik ke arah Darta. membuat orang itu paham dengan apa yang dimaksudĀ  dengan segera dia merogoh kantong jaketnya kemudian mengeluarkan bungkusan plastik kecil lalu diserahkan kepada sutarji.


"Apa ini?" tanya ketua pemimpin Kampung Cisaga dengan mengerutkan dahi.


"Pesanan yang akan minta."


"Ya apa?" Sutardji kembali bertanya dengan membulatkan mata.


"Data si Nathan, orang yang akang cari." Jawab Sarman menjelaskan.


Meski merasa aneh, Sutardji pun membuka bungkusan plastik yang diberikan ternyata di dalamnya adalah sebuah kertas yang dilipat-lipat kecil. dengan segera dia pun melebarkan bungkusan itu hingga nampaklah biodata seseorang.


Sutardji memperhatikan kertas itu dengan begitu teliti, mungkin takut ada yang terlewat. Setelah selesai membaca semuanya dia pun mengulum senyum seperti menemukan kebahagiaan.


"Jadi si Nathan itu orang Bogor?" ungkap Sutardji sambil membagi tatap ke arah anak buahnya.


"Yah Kang, Lantas kenapa Kang Sutardji tersenyum?"


"Kalau data ini adalah data failed, maka aku bisa meminta bantuan kepada temanku yang berada di kota Bogor, sehingga kita tidak usah susah-susah mencarinya cukup mengeluarkan modal sedikit orang yang akan kita cari pasti sudah bisa ditemukan."


"Siapa Kang orang itu?"

__ADS_1


"Nanti juga kalian tahu. sekarang ayo kita bergegas menuju ke kota Bogor."


"Nggak nunggu besok aja?" jawab Sarman seolah tidak terlalu semangat menjalankan perintah dari atasannya, karena tubuhnya masih merasa capek dan was-was akibat penyergapan Nur Halimah ketika mencari data Nathan


"Semakin cepat semakin baik. tapi kalau kalian mau istirahat. istirahat saja nanti sore setelah hari Mulai gelap kita akan pergi, sekarang aku akan mengcopy data ini agar tidak mudah hilang, sekalian sambil mencari sewa mobil agar kita bisa beristirahat di jalan."


Mendengar penjelasan dari atasannya membuat ketiga orang itu menarik nafas lega karena mereka masih mengantuk akibat kurang tidur tadi malam. setelah itu sutarji tidak membuang waktu dia sangat menghormati pengorbanan anak buahnya dia membiarkan orang yang baru pulang mencari keterangan. Dia tidak mengandalkan mereka, sutarji menyuruh orang lain untuk meng-copy data Nathan dan kalau bisa foto yang berada di pojok kiri bawah diperbesar, agar nanti dia bisa memudahkan ketika mencari orang itu.


Suasana siang pun terlihat sangat damai tidak ada pergerakan-pergerakan yang menakutkan, soalnya beberapa hari terakhir Sutardji tidak mengajak anak buahnya untuk berolahraga dan berlatih di tempatnya, dia lebih fokus mencari orang yang sudah melenyapkan nyawa adiknya.


~


Malam hari mereka berempat pun dengan mengendap-ngendap menuju tempat parkiran mobil yang disewa, setelah sampai tanpa membuang waktu mobil itu mulai melaju menuju Kota Sukabumi, dilanjutkan berjalan ke arah timur untuk mencari orang yang sudah membawa pergi Jasmine, soalnya Sutardji merasa tidak akan hidup tenang kalau masih ada keturunan Ali, pasti kedepannya permusuhan akan terus berlanjut.


Orang yang berjaga setelah mengetahui kedatangan Sutardji bersama anak buahnya mereka tidak terlalu banyak berbicara, karena atasannya sudah mewanti-wanti ketika orang itu datang agar mereka menyambutnya dengan baik. Sutardji bersama ketiga anak buahnya ditempatkan di salah satu kamar untuk beristirahat terlebih dahulu, karena orang yang akan ditemui sudah tidur lelap.


Sutardji yang sudah paham dengan karakteristik orang yang akan dimintai tolong, dia tidak mempermasalahkan hal itu, karena masih memiliki waktu yang banyak untuk menyampaikan keluh kesahnya. dia tidur dengan nyenyak sampai jam 08.00 pagi baru dia bangun.


Sutardji terlihat meregangkan otot-otot yang terasa kaku setelah semalaman menjalani Perjalanan yang sangat jauh, ketika dia keluar dia sudah ditunggu oleh Sarman dan kedua temannya, karena orang yang mereka ingin temui sudah berada di tempat makan untuk sarapan.


Mendengar keterangan itu Sutardji dengan segera mencuci muka kemudian dia berjalan menuju salah satu bangunan, karena tadi malam dia tidur di salah satu Paviliun yang berada di area rumah yang sangat luas. melihat orang yang datang berkunjung ke rumahnya orang yang sedang duduk di meja makan pun bangkit kemudian menghampiri sambil meregangkan tangan.

__ADS_1


"Sutarji, Sutardji.... kamu semakin gemuk aja sutarji...!" teriak orang itu sambil memeluk tamunya dengan begitu erat.


"Kamu yang semakin segar saja joned bukannya semakin lama semakin tua tapi kamu semakin terlihat tampan dan berkarisma." puji Sutardji dengan membalas pelukan teman lamanya.


"Sudah kita jangan banyak berbicara mendingan kita sarapan dulu, kasihan sejak dari tadi pagi istri saya sudah menyiapkan dengan begitu baik." Ajak joned dengan meregangkan tangan ke arah depan mengajak Sutardji untuk menuju ruang makan.


Darta, Sarman dan Wanto. mereka diajak ke tempat yang lain karena mungkin mereka bukan levelnya untuk makan bersama dengan para pimpinan atau mungkin juga memberikan keleluasaan orang yang sudah lama tidak bertemu kangen.


Jonet dan Sutardji Mereka pun duduk di kursi masing-masing, kemudian mengambil nasi goreng bersama lauk pauk yang begitu mewah, mereka berdua terlihat lahap menyantap makanan masing-masing. belum ada pembicaraan yang lebih serius meski kemarin Sutarji sudah menjelaskan tentang maksud dan tujuannya ingin bertemu.


Setelah makan bersama Jonet pun memberikan cerutu ciba yang sudah dipotong mereka belum pindah tempat duduk dari ruang makan, karena menurut Jonet makanan harus dibiarkan terlebih dahulu agar bisa tenang tinggal di dalam perut.


"Semakin gagah aja kamu Net, rokok saja sudah hitam seperti ini." Puji Sutardji membuat hidung Janet terlihat kembang kempis seperti mau terbang.


"Yah beginilah hidup ketika kita berjuang dengan begitu gigih maka kebahagiaan pun akan menghampiri. Dulu ketika kita di kampus kita sering dijuluki dua serigala Tanpa tanding. namun ketika kita pulang ke kampung masing-masing julukan itu tidak pernah pudar dari diri kita. yang ada kita semakin gagah dengan memiliki banyak anak buah." jawab joned sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kepalanya mendongak ke atas, menghempaskan asap tebal yang berada di dalam mulut.


"Hebat, Terima kasih kamu tidak melupakan perjuangan kita di masa lalu, maaf kalau aku tidak pernah mengunjungi karena kita memiliki kesibukan masing-masing."


"Tidak apa-apa yang dulu biarlah menjadi kenangan yang sekarang kita harus terus berjuang demi menghidupi Keluarga dan para orang-orang yang bekerja di bawah tangan kita. Tapi walau begitu Aku tidak akan pernah mengingkari janji waktu dulu kita akan saling membantu ketika kita ada kesusahan."


"Yah benar, sekarang bagaimana kabar usahamu apakah masih berjalan dengan baik atau ada hambatan lagi, kalau ada hambatan nanti akan aku bawa lagi seluruh warga kampung untuk membantu."

__ADS_1


"Semenjak pertempuran melawan geng sedulur yang dibantu oleh kamu, sekarang tidak ada geng-geng lain yang menghantui, usaha saya di pasar di terminal bahkan di jalanan lancar jaya. genggeng kecil mereka lebih memilih bergabung dengan geng saya, sehingga kekuatan saya semakin besar Terima kasih atas semua bantuannya."


"Syukurlah kalau begitu, aku senang mendengarnya."


__ADS_2