
Sesampainya di rumah, Nathan bersama Jasmine Mereka terlihat bermain di ruang tengah yang sangat besar bersama keponakan-keponakan yang baru pulang dari sekolah, candaan demi candaan terus terlontar sehingga senyum pun selalu menghiasi kedua bibir pasangan muda-mudi itu, meski belum ada ungkapkan perasaan suka dari satu sama lain, mereka tetap menikmati momen-momen indah ketika bersama.
Hari-hari berikutnya Nathan terus menghibur Jasmine sehingga senyum yang awalnya menghilang sekarang mulai nampak kembali, membuat dirinya semakin terlihat sangat cantik dan menawan, apalagi Jasmine yang sangat ramah dan ceria secepatnya bisa berbaur dengan keluarga Nathan yang begitu baik. namun kesenangan mereka mungkin tidak akan bertahan lama karena musuh mereka tidak pernah diam untuk terus mencarinya.
****
Di kampung Cisaga, kala itu terlihat banyak orang yang berkumpul, meski mereka sudah berjanji tidak akan membuat onar bersama kampung segaranten, tapi mereka masih menyimpan dendam yang belum terbalaskan karena Darman adik dari Sutardji sudah meninggal dibunuh oleh orang yang belum diketahui tempat tinggalnya di mana.
Waktu itu mereka sedang berada di halaman belakang yang diisi oleh peralatan-peralatan olahraga dan tempat-tempat latihan bertempur, sepertinya mereka memang sangat menyiapkan diri ketika bertarung dengan warga Kampung sagaranten. sebagai ketuanya Dia terlihat sedang memukul samsak yang digantung, sampai kain samsak pun jebol akibat kerasnya pukulan.
Agrrrrrrh!
Teriak sutarji sambil menendang samsak yang mengalirkan pasir yang berada di dalamnya, kemudian dia mengambil barbel ukuran 100 kilo kemudian dia mengangkatnya sampai melewati kepala lalu melemparkannya ke arah depan.
Blugh!
Suara besi yang menimpa tanah membuat orang-orang yang sedang berlatih terlihat berhenti meski sebagian warga sudah sadar dengan apa yang mereka lakukan adalah kesalahan, tapi tidak sedikit orang yang masih setia ikut dengan Sutardji.
Sarman yang sangat dekat dengan pemimpin warga Kampung Cisaga, dia pun mendekati karena sutarji sudah duduk di bangku yang disediakan, keringat mengucur membasahi tubuh diseka menggunakan handuk kecil yang melilit di lehernya.
"Kumpulkan semua orang!" Pinta sutarji sambil melirik ke arah Sarman yang baru datang.
__ADS_1
Melihat Tatapan yang begitu menyeramkan, mata yang merah dipadukan dengan wajah yang sangat kusam berwarna hitam dan kulit yang terlihat banyak ditumbuhi dengan luka-luka kecil, membuat Sarman tidak berani membantah. dia pun bertepuk tangan tiga kali sehingga orang-orang yang sedang berlatih menghentikan aktivitas, melirik ke arah datangnya suara. Kemudian mereka pun bergegas mendekat ke arah Sutardji yang sedang duduk di atas bangku panjang, sedangkan mereka duduk di tanah tidak beralaskan apapun.
Orang-orang yang sudah duduk mereka tidak berani berbicara, hanya saling menatap satu sama lain mungkin sedang bertanya kenapa mereka dikumpulkan.
"Terima kasih kalian masih setia bergabung dengan saya, meski beberapa warga sudah memilih berhenti untuk bertikai dengan Kampung sagaranten karena mereka menganggap bahwa kita sudah tidak memiliki musuh besar, hanya tinggal keronco-keronco yang tidak berguna, seperti si Manta, Heri dan si Adang. itu bukan masalah besar bagi kita, namun meski begitu kita masih memiliki dendam yang belum terbalaskan, karena adik saya yang bernama Darman menjadi pahlawan saat pertempuran. kita yang masih hidup harus merasakan sakit yang sama dengan membalaskan rasa sakit itu kepada pelakunya." ujar Sutardji mulai menyampaikan kekesalan yang memenuhi dada, karena dia sekarang ruang geraknya dibatasi oleh ketentuan yang sudah berlaku, dia tidak bisa semena-mena berbuat kasar terhadap warga Kampung sagaranten, soalnya dia bisa meringkuk di penjara, seperti beberapa warga Kampung Cisaga lainnya yang masih ngeyel ingin melanjutkan pertikaian.
Mendengar penjelasan dari Sutardji anak buahnya pun terlihat manggut-manggut seolah merasakan hal yang sedang dirasakan oleh pemimpinnya namun mereka tidak berani berucap sebelum diminta.
"Apakah kalian sudah tahu siapa yang membunuh adik saya?" tanya sutarji sambil membagi Tata ke arah orang-orang yang sedang duduk di halaman belakang rumah.
"Belum kang Sutardji. namun menurut selintingan kabar ketika saya mengejar Dadang yang sedang menjemput Abduh dari terminal bis Sukabumi, pemuda itu sudah terlihat bersamanya mungkin dia adalah teman adiknya Dadang." jawab salah Seorang warga menjelaskan.
"Apakah kamu yakin Darta, kalau pemuda itu adalah sahabatnya si Abduh?" tanya sutarji sambil menatap lekat ke arah orang yang menjawab.
Mendengar penjelasan dari anak buahnya Sutardji pun terdiam, seolah berpikir mencerna Apa yang sebenarnya terjadi, membuat suasana pun terasa sepi hanya terdengar suara burung-burung yang berkicau dari arah kebun, mungkin mereka sedang mencari makan, matahari kala itu tidak terlalu terik karena suasana sudah memasuki musim hujan.
Setelah agak lama terdiam Sutardji pun menyimpulkan bahwa memang benar pemuda itu adalah temannya Abduh ketika berkuliah, sehingga dia pun berucap kembali. "apakah kalian tahu si Abduh kuliah di kampus mana?"
Mendapat pertanyaan dari atasannya, para warga pun terdiam karena tidak ada yang mengetahui jelas tentang seluk beluk keluarga Dadang, soalnya semuanya dirahasiakan agar Abduh dan Jasmine bisa kuliah dengan tenang, namun kejadian naas tidak bisa dihindarkan. Abduh dibunuh ketika hendak melangsungkan pernikahan, sedangkan Jasmine sampai sekarang belum diketahui keberadaannya ada di mana.
"Untuk apa kita mencari tahu tentang kampus orang yang sudah meninggal?" tanya Sarman memberanikan dirimu.
__ADS_1
"Dasar bodoh! kalau kita tahu tempat kuliah si Abduh, maka secara tidak langsung kita sudah menemukan di mana pemuda itu berkuliah, dan kita bisa mendapat keterangan dari kampusnya, kita bisa mengetahui Di mana tempat tinggal pemuda itu." jelas Sutardji sambil mendelik.
"Kalau begitu kita cari tahu saja dari warga Kampung Sagaranten, pasti mereka ada yang tahu di mana Abduh berkuliah." ujar Darta memberikan saran.
"Baiklah kalau begitu, tapi saya rasa itu akan sangat sulit karena mereka pasti akan menutup rapat di mana adik si Dadang itu berkuliah."
"Menurut saya kalau mencari tahu dari warga itu akan sangat sulit, tapi kalau kita curi data-data keluarga Dadang pasti kita akan menemukan."
"Caranya bagaimana?" tanya Sutardji sambil menatap ke arah Wanto teman Darman yang dulu pernah disiksa oleh warga Kampung sagaranten.
"Kita masuk saja ke rumahnya, aku dengar bahwa rumah Dadang dibiarkan kosong begitu saja, namun rumah itu tetap dirawat oleh warga Kampung sagaranten, tapi tidak berani ditinggali mungkin mereka takut arwah arwah keluarga Dadang gentayangan."
"Cerdas sekali kamu Wanto! Baiklah nanti malam Siapa yang mau mencuri data-data di rumah si Dadang?" tanya Sutardji sambil membagi tatap ke arah anak buahnya.
"Biarkan saya saja yang ke sana, karena saya sangat mengetahui lokasi rumah itu." jawab Wanto yang masih memiliki dendam terhadap warga Kampung Sagaranten, meski sekarang pergerakan mereka sudah dibatasi, tapi kalau untuk mengejar orang yang di luar Kampung maka itu tidak akan terikat oleh hukum yang berlaku.
"Baiklah! tapi jangan sendirian. Darta dan kamu serman, antar si Wanto untuk mencuri data-data di rumah si Dadang, tapi kalian harus tetap berhati-hati jangan sampai perbuatan kalian menimbulkan masalah baru, soalnya pihak yang berwajib sedang memantau gerak-gerik Kampung kita dan Kampung sagaranten."
Akhirnya musyawarah itu berakhir dengan keputusan bahwa nanti malam mereka akan mendatangi rumah Dadang yang sudah lama kosong, karena tidak ada penghuninya. Kemudian mereka pun melanjutkan latihan seperti hari-hari biasa, meski mereka sudah berjanji tidak akan melanjutkan permusuhan dengan kampung Sagaranten tapi mereka tetap berjaga-jaga, takut ada serangan balasan dari warga Kampung musuh Yang pastinya memiliki dendam.
Suasana pun semakin lama semakin siang, bahkan sudah berganti menjadi sore. langit pun tidak terlihat begitu cerah banyak gumpalan-gumpalan hitam yang menutupi matahari ketika menyinari bumi, menandakan akan ada hujan turun. namun itu tidak menghalangi niat ketiga orang yang sudah mematangkan permusyawarahan, bahwa mereka akan mencari identitas Nathan pembunuh Darman.
__ADS_1
Ketika malam sudah mulai gelap, Ketiga orang itu sudah bersiap-siap dengan berkumpul di rumah Wanto setelah sampai dengan waktu yang ditentukan Mereka pun pergi meninggalkan kampung Cisaga, menyusuri aliran sungai cimandiri. karena setiap jalan yang berbatasan dengan Kampung musuh selalu ada penjaga takut hal-hal yang tidak diinginkan terjadi kembali.