
Ketika Dadang sampai ke rumah, alangkah terkejutnya ketika melihat di halaman rumah terbesar di kampung sagaranten sudah dipenuhi oleh banyak orang, membuat Dadang dan Sarah berlari membelah kerumunan melihat siapa yang sedang dikerumuni.
Tangis Dadang pun seketika pecah, ketika melihat kedua orang tuanya terbaring di tanah dengan berlumuran darah, hanya ditutupi oleh kain jarik karena belum ada orang yang berani memindahkan. Dadang memeluk tubuh bapaknya sambil berteriak melepaskan kekecewaan, karena sudah terlalu lama berjuang namun akhirnya harus kecewa juga, karena selama ini dia berjuang demi membanggakan keluarganya, namun perjuangan terasa sia-siap ketika kedua orang tua yang sudah bersusah payah membesarkannya sudah duluan meninggalkan.
Bukan hanya Dadang yang menangis, melainkan Sarah, Jasmine dan Abduh. Mereka terlihat berteriak histeris meratapi nasib yang begitu memilukan. harta yang melimpah, ilmu yang banyak tidak mampu mengobati rasa pilu kala itu. namun Setelah lama meratapi nasib akhirnya Dadang pun bangkit lalu membagi tatap kepada orang-orang yang berkerumun, seolah bertanya kenapa mereka membiarkan orang tuanya dibunuh dengan begitu keji.
"Siapa yang melakukan semua ini?" tanya Dadang dengan suara yang sedikit bergetar akibat amarah yang memenuhi dada.
Orang-orang yang ditanya tidak memberikan jawaban, karena mereka yakin Dadang sudah mengetahui siapa biang keladinya, karena permusuhan di kampung mereka bukan dari kemarin sore, melainkan sudah turun temurun mungkin bisa disebut sebagai tradisi yang menyesatkan, karena pertumpahan darah setiap tahunnya selalu terjadi, baik dari kampung Cisaga ataupun Kampung sagaranten.
"Siapa yang melakukan semua ini?" tanya Dadang sambil menarik kerah baju manta yang tertunduk penuh kesedihan.
"Darman dibantu bapaknya!" jawab Manta yang terdengar pelan.
Mendengar kedua nama itu disebut amarah Dadang yang sudah memenuhi dada, akhirnya meletus juga. Dadang berteriak sekencang-kencangnya membuat orang-orang yang berada di situ merasa sedih dan merasa kasihan dengan keluarga ketua Kampung mereka.
"Kumpulkan semua warga yang laki-laki yang sudah dewasa."
"Baik Kang, tapi kayaknya semua orang sudah berkumpul di sini, ikut berbeda sungkawa dengan apa yang menimpa keluarga kang Dadang." Jawab manta memberikan penjelasan.
__ADS_1
"Suruh pulang Mereka, ambil persenjataan yang lengkap, Kita serang Kampung Cisaga." perintah Dadang sama anak buahnya.
Manta dengan segera memberikan komando terhadap seluruh warga Kampung Sagaranten untuk pulang terlebih dahulu mengambil perlengkapan untuk berperang, sedangkan Dia membantu Dadang memindahkan tubuh orang tuanya masuk ke dalam rumah
Sarah yang sudah berhenti menangis, dia bangkit dari tempat duduk kemudian mendekat ke arah suaminya, karena dia tidak setuju dengan apa yang hendak dilakukan oleh Dadang yang ingin membalaskan dendam terhadap warga Kampung Cisaga. Sarah takut terjadi sesuatu yang buruk yang menimpa Dadang.
"Maaf Kang, sebaiknya akang pikirkan terlebih dahulu Apa yang hendak akang perbuat, jangan terbawa emosi nanti takut menyesal di kemudian hari." ujar Sarah mengingatkan.
"Terima kasih, aku mengerti. aku sudah memikirkan semuanya kalau aku tetap diam membiarkan semua ini terjadi, berarti aku termasuk anak yang durhaka yang tidak berbakti kepada orang tua, yang tidak mampu membalaskan kepedihan yang diderita oleh Bapak dan Ibu."
"Kalau akang membalas serangan warga kampung Cisaga, pasti pertikaian ini akan terus berlanjut Dan Kita tidak bisa tenang menjalankan cita-cita kita yang ingin membangun Kampung ini menjadi kampung yang lebih maju. Jadi tolong Akan pikirkan dulu sebelum semuanya terlambat dan pikirkan berapa banyak yang harus menjadi korban demi kesombongan kita."
"Sudah siap?" tanya Dadang ketika sudah berdiri di dekat Manta.
"Siap, mungkin ada beberapa orang yang belum kembali, karena rumah mereka agak jauh. tapi akang nggak usah khawatir karena saya yakin mereka akan menyusul."
"Ya sudah suruh diam! Saya mau berbicara terlebih dahulu." pinta Dadang memberikan komando.
Manta mengangkat parangnya, sehingga membuat orang-orang yang berkumpul di halaman rumah Dadang terdiam seketika, memberikan keleluasaan untuk orang yang hendak menyampaikan pidatonya.
__ADS_1
"Saya ucapkan terima kasih atas kesetiaan kalian terhadap keluarga saya. namun saya minta keridhoan dan keikhlasan hati kalian untuk membalas rasa sakit kita terhadap warga Kampung Cisaga karena kalau mereka terus tetap hidup maka kehidupan kita tidak akan pernah damai. Mereka selalu mencari gara-gara untuk terus mengobarkan api permusuhan yang dampaknya bukan hanya keluarga saya yang menjadi korban, orang yang tidak memiliki dosa seperti keluarga Kalian pasti sudah ada yang pernah menjadi korban, ataupun tetangga kalian. semua ini gara-gara warga Kampung Cisaga yang ketuai oleh Maja dan keluarganya tetap keras kepala tidak mau berdamai, sehingga beginilah keadaannya orang tua saya dan beberapa warga lain menjadi korban akibat keganasan mereka. untuk itu kita harus berjuang bersama-sama untuk menciptakan kampung yang aman dan damai gemah ripah loh jinawi aman Sentosa Kerto Raharjo." pidato sang ketua membakar semangat para warga Kampung sagaranten.
"Sekarang bulatkan tekad, kuatkan keyakinan bahwa kita akan terus berjuang sampai tetes darah penghabisan. Kalau di antara kalian yang memiliki perasaan Setengah Hati, merasa takut sekarang kalian mundur dan pulang ke rumah. kami titip anak istri kami ketika kami tidak pulang kembali ke kampung sagaranten, Sayangi Mereka layaknya menyayangi keluarga sedarah kalian."
"Kami akan terus maju bersama, demi terwujudnya kampung yang aman Kami bukan pengecut yang akan bersembunyi di balik ketidak mampuan, tapi kami akan terus berjuang di Garda terdepan menemani Kang Dadang." teriak manta yang selalu setia dengan keluarga Dadang karena keluarga itu adalah keluarga yang sangat dihormati dengan kebaikan yang tak terhingga, yang dirasakan oleh seluruh warga kampung.
"Kalau tidak ada yang mau pulang, ayo kita berangkat sekarang!" ajak Dadang sambil berjalan membelah kerumunan.
Akhirnya para warga Kampung Sagaranten mereka berbondong-bondong menuju ke kampung Cisaga, orang-orang yang tadi belum datang Mereka pun ikut bergabung dan berjalan bersama, saling menguatkan, saling bahu-membahu demi menciptakan kampung yang aman dan damai.
Ketika sampai ke perbatasan Kampung Cisaga, mereka dihadang oleh puluhan orang namun itu semua bisa diatasi karena warga Kampung Sagaranten bertarung menggunakan sepenuh hati , mereka tidak sedikitpun terlihat Gentar, mereka bertarung dengan gagah dan berani sehingga penghalang itu bisa dilumpuhkan. ketika ada warga Kampung Cisaga yang terluka dan mau dibunuh, Dadang menahan Karena tujuan Dadang mendatangi Kampung Cisaga bukan untuk bertarung dengan warga yang tidak memiliki dosa. Dadang menginginkan membalaskan dendam kepada Darman dan Maja beserta keluarganya.
Pasukan warga Kampung Sagaranten terus menyerang masuk ke dalam Kampung Cisaga, hingga akhirnya mereka pun tiba di rumah Darman. Dadang yang sudah diliputi oleh amarah dia pun mengamuk meluluh lantahkan orang-orang yang hendak melindungi ketua Kampung mereka hingga akhirnya dia pun bertemu dengan Maja, saling berhadapan sambil memamerkan keberanian masing-masing.
"Hahaha, Mau ke mana Kamu bocah tengik, mau menyusul orang tuamu ke neraka?" ujar Maja dengan sombongnya. karena memang begitulah keadaannya, Dia sangat keras kepala sehingga ketika diajak dan dilakukan perdamaian dia selalu menolak.
"Dosamu sudah terlalu banyak tua bangka, diajak berdamai kamu selalu menolak, dibiarkan kamu malah melunjak, bahkan menghilangkan nyawa kedua orang tuaku. kalau kamu tetap dibiarkan hidup kamu akan terus menjadi perusak tatanan dunia, maka untuk itu sekarang Cepat kamu baca doa mampus agar kamu bisa diterima oleh sang pencipta dunia ini."
"Banyak bacot kamu Dadang! kamu tidak pantas berbicara dengan orang tua seperti itu. Kamu lebih pantas berbicara dengan golokku." ujar Maja yang berlari sambil membubatbabitkan golok ke samping kanan dan kiri ingin segera menghabisi nyawa musuhnya.
__ADS_1