
"Hahaha. ayo bangun lagi Sial4n, habiskan tenagamu dan kemampuanmu agar kamu tidak menyesal ketika kamu menyusul orang tuamu ke neraka." Tantang Darman dengan menyongkan satu sudut bibirnya.
Orang yang ditantang tidak memberikan respon apapun, dia terlihat mengatur nafas yang sangat memburu, menyetabilkan keadaan yang terasa berputar. Butuh Waktu lumayan lama untuk kembali pulih, sehingga Darman yang sudah tidak terlalu capek dia pun mendekat sambil mengayun Mengayunkan golok yang dipegangnya, menakut-nakuti musiknya dengan senjata yang ia bawa.
"Sekarang baca doa mampus terlebih dahulu! agar malaikat mau menerima orang yang banyak berdosa." ujar Darman yang terus Semakin mendekat ke arah Dadang, membuat orang itu hanya bisa pasrah menerima kejahatan Karena untuk selamat sangat mustahil, karena dia yang sudah lemah ditambah tidak memiliki senjata.
Darman pun bersiap-siap Mengayunkan goloknya hendak membabat kepala Dadang. namun Manta yang sudah kembali sadar dengan keadaan, dia pun tidak rela melihat ketua kampungnya harus meninggal dan kehilangan untuk yang kedua kali, sehingga dengan sisa-sisa tenaga dia menubruk Darman sampai terjatuh.
Buallla!
Teriak Darman yang terdorong oleh kekuatan Manta, golok yang tadi dipegang jatuh entah ke mana. sehingga dia pun Kehilangan kesadaran untuk beberapa saat, karena serangan itu begitu mendadak dan mengagetkannya.
Melihat musuhnya yang sedang kebingungan, Manta pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dia mendudukkan tubuhnya di atas dada Darman, kemudian Mengayunkan serangan demi serangan menggunakan tinju mengarah kepala musuh. namun entah setan apa yang merasuki Darman, walaupun sudah disiksa begitu rupa, dia masih bisa melawan. dia yang sudah terlentang dengan menggunakan tenaganya yang kuat, dia membangkitkan tubuhnya sehingga Manta yang sekarang giliran terjungkal ke belakang.
"Kurang ajar kamu ban9sat! beraninya hanya menyerang dari belakang. kalau beneran memiliki jiwa Ksatria Serang dari depan !" Teriak Darman sambil Mengayunkan tinju yang sebesar buah kelapa, menghujan ke arah wajah musuhnya.
Bugh! bugh! bugh!
__ADS_1
Wajah Manta terus dipukuli oleh Darman, sehingga kesadarannya pun mulai hilang akibat rasa sakit yang tidak terkira. namun Dadang beserta Adang dan Heri yang sudah mengalahkan Sutardji sampai-sampai kakaknya Darman itu lari entah ke mana, tadinya mereka berdua hendak mengejar, tapi melihat keadaan Manta yang mengkhawatirkan Mereka pun mengurungkan niatnya, Mereka ingin membantu warga kampung yang sedang disiksa.
Adang yang datang duluan, dengan segera dia pun hendak Mengayunkan parangnya, namun Heri melarang sehingga mereka pun menggunakan kedua kakinya untuk menendang agar Darman menjauh dari tubuh Manta. bukannya mereka tidak mau mengakhiri nyawa Darman, tapi yang memutuskan Darman untuk hidup atau tidak adalah Dadang sebagai ketua Kampung sagaranten.
Dagh!
Satu tendangan tepat mengenai punggung Darman, sehingga dia yang tidak bersiap menerima serangan terjungkal ke arah depan melewati kepala Manta yang terlihat sangat kepayahan, mungkin semenit lagi dibiarkan manta akan tidak sadarkan diri atau berpindah alam ke alam baka.
Darman yang merasa kesal, dengan segera membangkitkan tubuhnya dengan begitu cepat, lalu menatap ke arah kedua orang yang sedang bertolak pinggang, sambil mengulum senyum sinis terhadapnya.merasa dia terus dicurangi karena niatnya untuk menghabisi lawannya selalu digagalkan oleh orang lain. tadi ketika dia mau menghabisi Manta dia diserang oleh Dadang, ketika dia mau menghabisi Dadang Manta yang sudah bangkit menyerang dirinya kembali, sekarang dia ingin menuntaskan semuanya, ada dua orang yang baru datang mencampuri urusannya.
"Dasar kampung curang, Kampung licik...! Puih! beraninya main belakang, beraninya Keroyokan. Apa kalian tidak ada kemampuan untuk menghadapi kegagahanku." tanya Darman sambil bertolak pinggang matanya yang mengalahkan tajamnya mata elang, membagi tatap ke arah dua musuhnya.
Para warga Kampung tidak membantu pertarungan antar ketua, mereka hanya terdiam sambil mengistirahatkan tubuh yang terasa lelah atau mengobati orang yang terluka. begitupun dengan warga Kampung Cisaga yang sebagian orang yang selamat melarikan diri entah ke mana, seperti yang Sutardji lakukan.
Lagi asik saling memandang, saling menunjukkan taring masing-masing. dari belakang Adang dan Heri muncullah Dadang yang sudah kembali pulih dari serangan yang dilancarkan oleh Darman. membuat pemuda Kampung Cisaga itu sedikit ketakutan karena warga kampungnya sudah tidak ada yang menemani, bahkan orang tua dan kakaknya sudah tidak terlihat bertarung, Darman dikepung oleh orang satu kampung.
"Dasar pecundang beraninya main keroyokan!" hanya kata itu yang terus dilontarkan oleh Darman, untuk mengobati ketakutan yang mulai menyeruak memenuhi dada karena walau sehebat apapun seseorang ketika dihadapkan dengan segerombolan manusia maka mereka pun akan kalah.
__ADS_1
"Jangan banyak bacot Darman! ini salah warga kampungmu yang tidak memiliki kemampuan untuk melawan Kampung kami, kalau kamu memang benar-benar hebat Ayo kita selesaikan permasalahan ini di sini, Kita bertarung sampai meninggal." Tantang Dadang dengan membalas tatapan tajam musuhnya.
"Halah kamu yang banyak bacot, dari tadi kamu bilang Kita bertarung sampai mati, Kita bertarung sampai mati. Tapi ketika aku akan membunuhmu selalu saja ada orang yang mengganggu, sekarang kalau kamu laki-laki Kita bertarung secara Ksatria, tanpa ada orang yang mengganggu." Sanggup Darman menyanggupi tantangan musuhnya dia mengajukan syarat yang ingin bertarung tanpa ada gangguan karena memang begitulah kenyataannya, para warga Kampung Sagaranten selalu membela orang yang sedang terluka.
"Untuk kali ini aku tidak akan berbohong. Kang Adang, Kang Heri, tolong kalian mundur. saya akan menyelesaikan Apa yang harus saya selesaikan." pinta Dadang dengan menggerakkan tangannya agar Adam dan Heri keluar dari medan pertempuran.
"Ini pertempuran Kampung Kang, Bukan pertempuran pribadi. kalau pertempuran Kampung maka berapapun orangnya yang terpenting berasal dari kampung konflik, mereka boleh bertarung berapapun lawannya. satu lawan satu, atau dua lawan satu, atau satu orang lawan satu kampung. karena yang di bawa bukan nama orangnya tapi nama kampungnya." jawab Heri yang tidak setuju dengan pendapat Dadang.
"Udah kalian jangan banyak berbicara, tolong kalian mundur!" pinta Dadang dengan nada tegas membuat kedua orang itu dengan berat hati meninggalkan Medan laga.
Kedua orang yang berbeda umur itu saling menatap, saling mengadu keberanian, saling mencari kelemahan musuhnya. setelah agak lama Darman yang sudah yakin kalau dia akan mudah mengalahkan Dadang, karena tadi pun sudah hampir kalah bahkan udah hampir dia lenyapkan. dengan cepat dia pun berlari menerjang tubuh Dadang sambil Mengayunkan sebuah tinjuan mengarah ke arah pipi. Dadang yang diserang tak gentar sedikitpun dia hanya memundurkan satu langkah ke belakang, ketika serangan itu datang dengan segera Dadang menahan menggunakan kedua tangan, Bahkan bukan hanya ditahan serangan itu dia tangkap, lalu tangan Darman dipelintirkan ke arah belakang, membuat pemuda Kampung Cisaga itu terlihat meronta-ronta ingin melepaskan genggaman itu.
Dadang yang berada di belakang, dia pun mendorong tubuh Darman ke arah depan sehingga tubuh pemuda itu tersungkur mencium tanah.
"Bangkit lagi Darman jangan hanya membesarkan omongan." Tantang Dadang yang selalu berwaspada.
Dengan segera Darman bangkit kemudian menepuk-nepuk baju yang sudah sangat kotor akibat pergulatan yang tidak dihindarkan, Dia terlihat mengulum senyum seperti merendahkan musuhnya.
__ADS_1
"Jangan sombong dulu Dadang, baru bisa mendorong tubuhku saja kamu Sombongnya kelewat tanggung. Sekarang rasakan seranganku!" jawab Darman sambil berlari kembali untuk menyerang musuhnya.