Terjebak Cinta Gadis Konflik

Terjebak Cinta Gadis Konflik
Keputusan


__ADS_3

Malam pun semakin larut, suasananya terasa sangat dingin apalagi di dalam mobil angkot yang terbuka, membuat Heri memasukkan telapak tangannya ke kantong baju gamis putih yang ia kenakan. tidak ada pembicaraan di dalam mobil itu hanya terdengar suara deru mesin angkot yang terus melaju membelah keheningan malam. sesekali mobil itu beberapa pasang dengan mobil-mobil yang lain yang memancarkan cahaya lampu yang semerebak menerangi Jalan, bahkan masuk ke dalam mobil memperlihatkan wajah Heri yang kedinginan.


Mbah keramat menghentikan mobil itu ketika berada di pertigaan jalan, kemudian dia pun turun lalu membayar ongkosnya. setelah menurunkan penumpang angkot itu melanjutkan perjalanannya Kembali menuju ke tempat pemberhentian terakhir trayeknya. sedangkan Heri masih diam menunggu angkot yang lewat dengan jurusan menuju rumah Sunan aksara.


Lumayan agak lama menunggu, karena waktu sudah lewat dari sepertiga malam, namun meski begitu Heri tetap terdiam sambil kedinginan menunggu mobil yang lewat. beruntung kala itu terlihat ada angkot yang memancarkan lampu depan untuk menerangi jalannya, dengan segera Heri pun mengangkat tangan untuk menghentikannya.


"Aduh Mohon maaf Pak. kami lagi bawa sayuran, tapi kalau bapak mau, Bapak Boleh Ikut penumpang." jawab sopir angkot sambil menengok ke arah belakang memperlihatkan mobilnya yang sudah penuh.


"Tidak apa-apa Pak, daripada saya menunggu mobil yang lain, mendingan saya ngikut dengan bapak.


"Ya sudah kalau begitu ayo naik!"


Tanpa membuang waktu Heri pun naik ke mobil angkot yang dipenuhi oleh sayuran, meski dia tidak bisa duduk di jok tapi itu lebih baik daripada kedinginan menunggu mobil yang biasa ngangkut penumpang lewat.


Mobil itu terus melaju membelah heningnya malam, membawa Heri yang berglumul dengan sayuran-sayuran. di perjalanan Mereka terlihat mengobrol, namun tidak dengan obrolan yang serius mereka, hanya membahas tentang sayuran yang akan dikirim ke pasar.


Setelah berada di gang rumah Sunan aksara, Heri pun dengan segera menghentikan mobil itu, kemudian dia membayar ongkosnya, lalu dia turun. meski awalnya sopir angkot menolak pembayaran karena dia ingin bersedekah tapi Heri tetap memaksa sehingga uang itu diambil.


Heri melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki, menyusuri Jalan Gang yang hanya bisa dilalui oleh satu mobil. kalau ada mobil yang berpapasan mereka harus mengalah untuk mencari tempat, agar mobil itu bisa lewat. Heri terus berjalan Sampai akhirnya dia tiba di salah satu rumah yang di halamannya dipenuhi oleh pohon mahoni, dengan segera dia pun masuk ke dalam halaman rumah itu, tak lupa dia pun mengkunci pintu gerbangnya kembali agar tidak ada orang yang berani masuk ke dalam rumahnya.


Heri membuka pintu rumahnya, dengan kunci yang selalu ia bawa, kemudian dia pun menyimpan makanan yang dibawa di atas meja, lalu menuju ke ke kamar untuk mengganti bajunya terlebih dahulu. ketika dia keluar Sunan aksara pun sudah duduk di kursi yang biasa ia duduk.


"Bikin kopi terlebih dahulu!" pinta Sunan aksara sesuai dengan kebiasaannya.


Heri tidak menjawab, Dia hanya menganggukkan kepala. kemudian dia pun pergi ke dapur untuk membuat pesanan gurunya. tak lama dia pun kembali dengan membawa dua cangkir kopi yang terlihat masih panas, karena baru saja diseduh dengan air yang sangat mendidih.

__ADS_1


"Kelapanya sudah kamu buang?" tanya Sunan aksara sambil menyeruput kopi dengan perlahan-lahan.


"Sudah Kanjeng Sunan." jawab Heri dengan melakukan hal yang sama dengan gurunya, menyeruput kopi panas secara perlahan untuk membasahi perut yang terasa dingin.


"Terus bagaimana Apakah kamu sudah menyampaikan perihal tentang penarikan uang gaib terhadap Lisna?"


"Sudah Kanjeng Sunan, semuanya sudah saya sampaikan sesuai dengan arahan Kanjeng Sunan."


"Terus bagaimana hasilnya?" tanya Sunan aksara sambil menatap ke arah Heri ingin segera mengetahui apa yang muridnya bicarakan dengan pasiennya.


"Alhamdulillah Ibu Lisna mau mengikuti acara ritual yang akan kita jalankan, namun yang jadi permasalahan sama seperti warsiman yang harus berusaha untuk menyiapkan uang sebagai salah satu syarat ritual."


"Dia juga mau Menjual sawah seperti si warsiman?"


"Tidak Kanjeng Sunan karena Bu Lisna tidak memiliki sawah namun Dia mau menggadaikan rumahnya ke bank."


"Kalau warungnya sih sudah lumayan maju, soalnya warung saingannya sudah tutup, mungkin mereka tidak kuat bersaing sehingga mereka tidak terlalu lama membuka usaha."


"Itu tidak penting. yang terpenting dia sudah berhasil atau tidak menjual sawahnya?"


"Belum tahu Kanjeng Sunan, saya belum ke rumahnya lagi setelah memesan nasi untuk ritual Ibu Rahmi."


"Ya sudah besok tolong pastikan agar semuanya bisa cepat dilaksanakan."


"Baik Kanjeng Sunan, Besok saya akan main ke rumahnya."

__ADS_1


"Iya kalau dia masih belum berhasil, jual saja sawahnya itu dengan harga murah, karena nanti juga uangnya akan dilipat gandakan, dan kalau dia masih tidak mau menjual dengan harga murah, kamu bilang saja kalau tidak sekarang dia harus menunggu sampai ada orang lain yang mau melakukan ritual pengambilan hadiah dari alam gaib."


"Yah Kanjeng Sunan, Terus bagaimana dengan Nyimas Rahmi?"


"Itu urusan saya, dia pasti mau mengikuti semua kemauan saya, Karena dia sudah merasakan hasil dari apa yang sudah saya perjuangkan."


"Akhirnya kedua orang pintar itu terus mengobrol membahas hal-hal yang penting ataupun yang tidak penting, mereka membahasnya sampai adzan subuh berkumandang. Setelah itu mereka pun masuk ke kamar masing-masing untuk melaksanakan salat seperti yang sudah biasa mereka lakukan. Mereka melaksanakan kewajibannya itu tidak pernah di masjid, karena menurut Sunan aksara banyak ajaran sesat yang berkeliaran di luar sana sehingga ketika beribadah lebih baik di rumah, demi mempertahankan aqidah yang dianutnya.


Siang hari Heri, sudah bersiap-siap untuk menjalankan rencana semalam yang sudah dimatangkan, bahwa hari itu Heri akan bertamu ke rumah warsiman orang yang pernah ditolong karena warung nasinya di ambang kebangkrutan. Heri sekarang dia tidak pernah mengemis lagi karena uang pemberian dari Sunan aksara sudah lebih dari cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-harinya, Bahkan dia masih memiliki tabungan membuat Heri semakin yakin bahwa orang yang diikutinya adalah seorang Wali, karena bisa memberikan keberkahan kepada kehidupan orang lain.


Setelah semuanya dirasa rap,i Heri pun berpamitan dengan gurunya, kemudian dia pun keluar dari rumah menuju ke jalur angkot untuk mempermudah perjalanan ke tempat tujuan.


Ta kdi ceritakan lamanya di perjalanan Heri pun akhirnya sampai di warung warsiman, kebetulan waktu itu warung sudah buka karena ketika hari datang sudah menunjukkan pukul 11.00.


Melihat guru spritualnya datang, warsiman dan istrinya pun menyambutnya dengan penuh hormat, karena berkat Heri usahanya menjadi ramai kembali, mereka semakin percaya dengan ilmu yang dimiliki oleh orang pintar itu.


"Kopinya bah!" tawar tuminah sambil menyodorkan gelas yang diisi dengan air berwarna hitam.


"Terima kasih banyak, Bagaimana keadaan kalian sehat-sehat saja kan?"


"Alhamdulillah Mbah, sekarang tubuh kami sangat sehat apalagi usaha kami sangat lancar."


"Syukur kalau begitu berarti perjuangan saya dan Sunan aksara tidak sia-sia."


"Yah Terima kasih banyak atas semua pertolongan yang diberikan oleh Mbah dan Sang Guru Besar, semoga kebaikan kalian dibalas oleh Allah subhanahu wa ta'ala."

__ADS_1


"Amin....! Tapi kalian tidak seharusnya mengucapkan terima kasih, karena itu semua sudah menjadi tugas kami sebagai orang yang berilmu tinggi yang harus menolong sesama makhluk hidup, agar bisa hidup dengan layak dan bahagia."


__ADS_2