
"Memang benar ketika kita tidak memiliki perkembangan atau keselamatan, kita terancam tatkala kita tinggal di suatu kampung ataupun daerah, maka dianjurkan untuk berhijrah. karena sabar itu adalah menerima semua kenyataan sambil berusaha mencari jalan keluarnya. Sabar itu bukan diam Tanpa bergerak, tapi terus bekerja keras terus berusaha sampai semuanya membaik." jelas Karsa yang mendukung keluarga Kampung Sagaranten untuk pindah ke kampung yang jauh, agar hidup mereka bisa nyaman dan tenang tidak ada lagi pertikaian, tidak ada lagi konflik pertumpahan darah yang selalu menghantui.
"Kalau pindah, Kita mau pindah ke mana?" tanya Adang yang merasa khawatir meninggalkan harta benda yang sudah ia miliki.
"Kurang tahu, tapi kalau ada kesempatan kita akan usahakan itu semua kita akan tinggalkan Kampung terkutuk itu." jawab Manta dengan menghela nafas karena secara tidak langsung sekarang beban yang dipikul oleh Dadang sudah berpindah ke pangkuannya.
Mereka terus mengobrol mencari solusi dari masalah yang sedang dihadapi merencanakan apa yang terbaik untuk kehidupan kedepannya, mengalihkan rasa pilu karena banyak saudara dan tetangga yang menjadi korban konflik yang tidak diketahui bagaimana nasibnya sekarang, mereka hanya menunggu dan menunggu kabar dari orang yang bisa diandalkan.
Hari itu Manta dan warga Kampung Sagaranten lainnya mereka beristirahat di rumah Karsa, dijamu dengan begitu baik seperti seorang tamu yang sudah lama tidak berkunjung. sedangkan tuan rumah ketika sudah melaksanakan salat asar dia mengendarai motornya menyusuri jalan Besar hendak menuju suatu tempat.
Suasana kala itu terasa begitu indah, langit terlihat bersih tak Berawan, matahari sudah mulai tidak terasa terik membakar kulit, apalagi ketika berjalan menggunakan sepeda motor angin pun berhembus menerpa tubuh memberikan kesegaran. suasana yang begitu Asri burung-burung terdengar berkicau dari arah pohon-pohon kecil mungkin mereka sedang mempersiapkan bekal untuk tidur dan malam, di Sauti dengan suara gerapung yang selalu hadir ketika musim kemarau tiba, namun keindahan itu berbanding terbalik dengan kenyataan yang dialami oleh manusianya. waktu itu meski Kampung Curug Kembar tidak ikut berkonflik tapi mereka merasakan hal yang menakutkan karena selintingan-selintingan kabar orang yang menjadi korban Terdengar sangat banyak, bahkan yang mereka kenal dan hormati Dadang termasuk salah satunya.
Karsa kalau tidak ingat dengan tanggung jawab dan berbalas Budi terhadap Dadang yang sudah mampu merubah kampungnya menjadi Kampung pertanian produktif, dia tidak mau ikut campur, hati kecilnya lebih memilih untuk tinggal di rumah menyayangi keluarganya, karena apa yang dia kerjakan itu sangat beresiko dengan kehidupan selanjutnya. tapi Karsa sudah berjanji akan membantu kesusahan Dadang meski Orangnya sudah meninggal
Jalan-jalan yang dilalui nampak sepi, tidak ada anak-anak yang bermain di halaman rumah, mungkin orang tua mereka melarang anak-anaknya untuk keluar dengan kondisi yang sangat genting seperti sekarang. bahkan jangankan anak-anak orang tua pun hanya beberapa yang Karsa temui sepertinya Kampung Sagaranten dan beberapa Kampung tetangga menjadi kampung yang mati
Lama di perjalanan akhirnya Karsa tiba di salah satu bangunan yang lumayan besar dan luas, di depan pintu gerbang terlihat banyak aparat yang berseragam sedang berjaga, ketika Karsa mau masuk ke halaman Karsa pun ditahan.
"Mau ke mana?" tanya salah seorang penjaga dengan wajah tegas.
__ADS_1
"Mau menjenguk orang yang sedang sakit?" jawab Karsa dengan tenang,
"Siapa yang sakit dan Bapak dari mana?"
"Keluarga saya dari kampung curug kembar?"
"Sebentar Saya cek dulu, karena keadaannya yang sedang Genting Tidak semua orang bisa masuk ke rumah sakit. siapa tahu saja Bapak ini adalah pengacau dari kampung Sagaranten ataupun Kampung Cisaga, kami berjaga di sini untuk mengamankan situasi, apalagi ini adalah rumah sakit yang harus dinetralkan meski dalam keadaan perang."
Petugas pun membalikan tubuh kemudian menghampiri ruang informasi untuk menanyakan apakah ada pasien yang sedang dirawat dari kampung Curug kemar. kebetulan kala itu tidak ada orang yang sedang sakit, karena kebiasaan para petani kalau hanya sakit meriang dan panas mereka akan mengobatinya secara tradisional, tidak langsung pergi ke pusat kesehatan. setelah mendapatkan informasi petugas itu pun kembali menemui Karsa yang masih menunggu dengan tenang.
"Coba tolong tunjukkan kartu pengenal bapak?" tanya petugas itu dengan bijak dia tidak langsung memvonis Karsa sebagai mata-mata atau orang jahat.
Tanpa ada jawaban karsa pun mengeluarkan kartu identitasnya, kemudian diberikan terhadap petugas itu, setelah membaca dan memperhatikan petugas itu pun mengembalikan kembali.
"Memang keluarga saya adalah orang sagaranten, jadi saya datang ke sini ingin mengetahui keadaan mereka. Saya ingin tahu apakah saudara-saudara saya yang belum diketahui kabarnya berada di sini, Apakah mereka masih hidup atau sudah meninggal?"
"Oh begitu, kebetulan kita masih mencari pemimpin dari warga Kampung sagaranten. Siapa tahu saja Bapak kenal?"
"Saya sangat mengenalnya tapi sekarang beliau sudah." Karsa tidak melanjutkan lagi pembicaraannya.
__ADS_1
"Apakah ada pengganti Pak Dadang?"
"Kurang tahu, tapi kalau orang kepercayaannya saya tahu. yaitu Pak manta."
"Oh iya, pak Mantoa sekarang di mana, Apakah Pak Karsa mengetahuinya?" Tanya penjaga itu seperti sangat sudah kenal dengan orang-orang yang berada di kampung sagaranten.
Mendapat pertanyaan seperti itu karena saya memindai keadaan sekitar, takut pertanyaan itu adalah pertanyaan jebakan, takut ada orang yang mengetahui Di mana tempat bersembunyi warga Kampung sagaranten yang melarikan diri, Karsa merasa khawatir kalau warga kampung Cisaga yang belum puas menyusul dan menyerang ke rumahnya.
"Bapak tidak usah takut karena kami hadir bukan untuk memperkeruh suasana, tapi kami hadir untuk mendamaikan kedua kampung yang sedang berkonflik." Ujar orang itu seolah mengetahui kekhawatiran Karta.
"Saya tahu mereka sedang berada di mana, tapi saya takut kalau rahasia ini bocor ke pihak Kampung Cisaga. seperti yang Bapak tahu kedua Kampung ini tidak bisa didamaikan, meski ada aparat yang sedang berjaga."
"Ya sudah kalau begitu ayo ikut saya!" ajak aparat itu sambil berjalan masuk ke dalam rumah sakit, diikuti oleh Karsa yang merasa senang karena dia bisa mendapatkan informasi yang sedang dibutuhkan.
Sesampainya di dalam halaman terlihatlah orang-orang yang sedang berbaring di bangsal-bangsal rumah sakit, hanya menggunakan alas seadanya, karena rumah sakit yang berada di kampung tidak akan mampu menampung orang yang begitu banyak. anak-anak terdengar menangis ditenangkan oleh ibunya yang sedang berduka karena suami atau saudaranya sedang terkena musibah.
Karsa menarik nafas sambil mengusap wajahnya menggunakan telapak tangan kanan, merasa ngeri menyaksikan kejadian yang memilukan. orang-orang yang terluka terlihat mengaduh merintih menahan rasa sakit. Ada pula yang terdiam sambil meratapi nasib yang menimpa diri ataupun keluarganya.
Sambil berjalan Karsa terus memindai keadaan sekitar untuk dijadikan laporan terhadap Manta yang sedang tinggal di rumahnya, karena ini akan sangat berguna bagi keputusan yang akan diambil kedepannya, agar wakil pemimpin Kampung Sagaranten bisa mengambil keputusan yang bijak ketika mereka hendak pergi meninggalkan kampung sagaranten kalau melihat kondisinya separah itu.
__ADS_1
Sesampainya di dalam ruangan yang terlihat tak berpenghuni namun sering keluar masuk para perawat untuk mengambil perlengkapan pengurusan pasien. Karsa dipersilakan untuk duduk di salah satu kursi.
"Perkenalkan nama saya Deni, saya kebetulan orang yang ditugaskan untuk menjaga keamanan rumah sakit. Saya mengajak bapak ke sini Saya ingin mengetahui keadaan Pak Manta dan orang-orang yang belum diketahui kabarnya, karena ketika saya bertanya dengan warga warga yang sedang dirawat mereka menyarankan untuk bertanya dengan Manta karena beliaulah pengganti pemimpinnya yang sudah meninggal."