Terjebak Cinta Gadis Konflik

Terjebak Cinta Gadis Konflik
Nathan Kurang Fokus


__ADS_3

Suasana malam pun semakin sunyi tidak ada suara kendaraan yang berlalu-lalang seperti di kota-kota besar. di kampung sagaran hanya berbisik dengan suara hewan-hewan malam yang suka mengeluarkan suara, mulai dari suara kodok dan katak yang terdengar dari arah kolam, di sahuti dengan suara jangkrik yang berada di keluar lubang tempat tinggalnya.


Nathan yang merasa bingung bagaimana caranya mendekati Jasmine, dia terlarut dalam pemikiran-pemikiran yang sangat sengit karena mendapatkan hati orang yang sangat periang akan sangat susah dibanding dengan hati yang sepi. Nathan terlihat menarik nafas dalam dan membuangnya begitu pelan, matanya terus menatap ke arah kolam memperhatikan ikan-ikan yang terus beriringan seperti tidak ada kesusahan di dalam hidup mereka.


"Kamu memang benar-benar cantik Jasmine, aku tidak salah mencintaimu. tapi aku bingung bagaimana aku mengungkapkannya bagaimana agar aku bisa mengenalmu lebih dekat, dan sebaliknya kamu bisa mengenalku lebih dalam, agar hati kita yang semula jauh bisa dekat hingga benih-benih cinta pun akan tumbuh. tapi kalau melihat keadaan kita yang seperti ini itu akan sangat sulit terwujud. Jasmine Kenapa kamu sangat cantik, Kenapa kamu terus menari-nari di otakku yang sangat lemah, sehingga aku tidak bisa berpaling dari keindahan ciptaan tuhan yang ada dalam tubuhmu." gumam Nathan dalam lamunannya.


Nathan terus mengatur strategi agar dia bisa mendekati Jasmine, minimal untuk sekarang dia bisa mengobrol dengannya. Nathan semakin terlalut dalam lamunan lamunannya, hingga akhirnya dia pun memutuskan untuk membaringkan tubuh menyusul Abduh yang sudah mendengkur dengan keras, mungkin karena dia sangat kecapean setelah menjemput adiknya dari bandara.


Nathan membaringkan tubuh di samping sahabatnya, matanya menatap ke arah langit-langit berharap malam itu berlalu dengan begitu cepat, karena dia sudah tidak sabar untuk melihat paras cantik Jasmine, hingga lama-kelamaan matanya pun mulai merasa lelah dengan perlahan mulai tertutup, meninggalkan kehidupan nyata untuk masuk ke dunia impian.


Nathan yang sedang dimabuk cinta oleh Jasmine, di dalam impiannya ia sudah menikah dengan adik sahabatnya, dan melahirkan anak-anak yang lucu serta imut. mungkin begitulah mimpi yang akan hadir ketika kita sedang terobsesi dengan suatu perkara, seperti alam bawah sadar tidak ingin membiarkan hidup kita untuk tenang.


Selesai melaksanakan salat subuh berjamaah di Masjid, Nathan bersama keluarga Abduh mereka mengobrol di ruang tamu. mata Nathan terus menatap ke arah pintu kamar Jasmine, berharap Gadis itu bangun kemudian menyapanya kalaupun tidak menyapa dia bisa memandangi paras cantiknya meski hanya seketika.


"Orang tua kamu tidak menelepon Nathan?" tanya Dadang di sela-sela Obrolan.


Namun sayang orang yang ditanya hanya melirik ke arah salah satu pintu kamar yang ada di rumah itu, sehingga ketika mendapat pertanyaan dia tidak merespon seperti alam bawah sadarnya masih berada di alam impian. Abduh yang melihat sahabatnya hanya melongok seperti orang yang tidak memiliki kesadaran, dengan segera menyikut dadanya.


"Aduh....!" desis Nathan tertahan matanya mendelik ke arah Abduh seolah tidak suka kalau khayalannya diganggu.


"Ada apa sih! kebiasaan kamu nyikut-nyikut." lanjut Nathan menggerutu.


"Lagian Kamu kayak orang cengok, ditanya malah tidak merespon."


"Emang siapa yang nanya?" ujar Nathan dengan wajah masamnya dia masih merasa kesal karena khayalan indahnya diganggu.

__ADS_1


"Kang Dadang."


Wajah Nathan berubah memerah seketika, merasa malu dengan calon kakak ipar tertuanya. dengan segera dia pun menghadapkan muka lalu menganggutkan kepala sebagai tanda permintaan maaf.


"Maaf kang Dadang, kang Dadang bertanya apa?"


Sebelum Nathan menjawab pertanyaan, kang Dadang pun mengulum senyum merasa lucu dengan tingkah laku Nathan, kadang Nathan terlihat sangat pintar tapi kadang Nathan terlihat sangat polos, namun tetap tidak melupakan kesopanan.


Orang tua Nathan tidak menelepon karena Nathan tidak langsung pulang ke rumah


"Nggak Kang, soalnya saya sudah berjanji sama mereka bahwa saya akan membawakan calon istri untuk diperkenalkan." jawab Nathan yang mengulum senyum mungkin merasa bahagia dengan apa yang dia bicarakan.


"Waduh, hebat siapa tuh wanita yang beruntung yang akan mendapatkan cinta dari sang ahli teknik sipil."


Nathan yang merasa keceplosan, dengan segera menutup mulutnya menggunakan jari jemarinya, dia merasa malu karena mulutnya tidak bisa dikontrol, mungkin kalau bisa dia ingin menarik kembali ucapannya.


"Nggak apa-apa, Kalau benar juga. nanti kalau menikah Jangan lupa undang-undang kami, karena kami juga ingin tahu bagaimana orang kota ketika menikah. menurut slentingan kabar Kalau mereka di kota itu bisa habis ratusan juta bahkan miliaran."


"Pasti kang, pasti saya akan undang." jawab Nathan yang sebenarnya di dalam hatinya mengulum senyum, karena wanita yang akan dinikahinya adalah adik Dadang sendiri.


"Terus bagaimana kabar orang tua Nathan di Bogor, Sehat semua kan?" lanjut Dadang berbicara kembali.


Ceklek!


Tiba-tiba terdengar pintu kamar yang dibuka, membuat Nathan dengan segera menoleh ke arah datangnya suara. terlihatlah Jasmine yang membawa matras yoga pergi ke dapur, sehingga Nathan tidak menjawab kembali pertanyaan Dadang.

__ADS_1


"Aduh..." desis Natan kembali karena sikut Abduh menyarang kembali di dadanya.


"Kenapa sih kamu nyikut-nyikut terus."


"Ya karena kamu ketika ditanya malah bengong, kalau ngobrol itu harus fokus, apalagi sama orang tua ujar Abduh yang menasehati sahabatnya."


"Tapi nggak harus pakai nyikut-nyikut segala, kan dicolek juga bisa."


"Emangnya aku cowok Apakah, pakai nyolek-nyolek segala." jawab Abduh yang sangat tahu dengan Nathan yang sedang dimabuk cinta terhadap adiknya.


Suasana di ruang tamu pun terdengar begitu riuh dengan suara ketawa karena Nathan terlihat sangat lucu ketika dia kebingungan.


"Kayaknya Nathan kurang fokus Apakah malam tidak bisa tidur nyenyak di sini. maaf kalau penyambutannya kurang begitu berkenan?"


"Saya sangat pulas Kok Kang, namun selimut saya selalu diambil oleh Abduh. jadi saya selalu terbangun." jawab Nathan berbohong untuk menyembunyikan rasa malu.


"Memang udara di kampung terasa sangat dingin, apalagi cuaca sedang musim kemarau. tapi kalau bisa tidur nyenyak syukurlah. Oh iya tadi Bagaimana dengan keluarga kamu Semuanya sehat kan?"


"Alhamdulillah semuanya sehat kang." jawab Nathan yang matanya terus menatap ke arah pintu dapur berharap Jasmine kembali lagi, sehingga dia yang duduk menghadap ke arahnya bisa dengan leluasa memperhatikan wajah Jasmine ketika baru bangun dari tidur karena Nathan ingin mengetahui bahwa Jasmine akan tetap cantik, meski dia baru bangun dari tidur soalnya menurut keterangan yang ia dapat wanita itu akan sangat berubah, ketika dia bangun dari tidurnya.


Pantat Nathan terlihat bergerak-gerak, sepertinya ada bisul yang tumbuh di tempat itu, dia tidak nyaman berada di ruang tamu, ingin segera menyusul Jasmine yang sejak dari tadi tidak kunjung keluar dari dapur. beruntung kang Dadang yang mempunyai janji dengan para warga kampungnya, dia pun berpamitan untuk pergi meninggalkan rumah karena menurut keterangannya pekerjaan itu, harus dilakukan secepat mungkin agar tidak menumpuk. Soalnya kalau sudah menumpuk pekerjaan akan berantakan dan kitanya pun akan lelah.


Dadang pergi, dan istrinya masuk ke dapur untuk menyiapkan sarapan, membuat Nathan merasa lega dengan segera dia pun bangkit dari tempat duduknya, meninggalkan Abduh yang mengajaknya mengobrol.


"Mau ke mana kamu Nathan?" tanya Abduh yang merasa kesal karena dia sedang mengobrol dengan serius.

__ADS_1


"Aku mau ke WC dulu, soalnya ada Panggilan alam nih!" jawab Nathan yang terus ngeloyor pergi menuju ke arah dapur.


__ADS_2